
Dalam sekejap, kendaraan mahal itu rusak parah dengan kap mobil terbuka dan keluar asap tipis dari sana. Tercium juga aroma bensin yang menyeruak, memenuhi mobil irwan yang sudah ringsek. Situasi perkampungan yang sepi, ditambah jalanan gelap serta hujan lebat, membuat tak ada yang menyadari kecelakaan naas yang mereka alami.
Antara sadar dan tidak. Reka bergerak mengumpulkan tenaga dan pikiran. Merasa sakit di sekujur tubuh yang mendera tak tertahankan.
Kenapa badanku sakit semua?
Reka mengerjap, mengangkat wajahnya yang terbenam di air bag. Kepalanya berdenyut kuat, dan kaki terasa dihimpit sesuatu yang berat. Reka fokuskan penglihatannya yang buram.
"Di mana ini?" lirih Reka dengan suara bergetar. Ia sentuh pelipisnya.
"Ya Allah, darah!" Reka shock. Dengan mengumpulkan keberanian yang ada ia kembali mengedarkan pandangan. Mata Reka kembali membulat sempurna, melihat Irwan tak sadarkan diri di sebelahnya. Irwan terluka, kondisinya lebih parah dibanding Reka. Kepalanya seperti keran bocor yang terus saja mengeluarkan darah.
"Mas, bangun!"
Wajah Reka pias. Melihat Irwan yang biasa menatap tajam padanya, kini terpejam tak berdaya. Pikirannya langsung kosong. Tidak tau harus berbuat apa.
Reka pun melepaskan sabuk pengamannya yang sedikit melekat. Ia goyang bahu Irwan seraya terus menyeru namanya.
"Ya Allah, bagaimana ini?"
Dalam sekejap ketakutan makin merajalela di pikiran. Meninggalkan sensasi horor yang membuat gigil di sekujur tubuh Reka. Reka sentuh hidung Irwan dengan jari telunjuknya
Alhamdulilllah, dia masih bernapas.
Reka lepaskan seat belt Irwan, namun tak bisa. Tali karet itu begitu melekat kuat melingkari tubuh Irwan.
"Mas Irwan, bangun."
Entah yang keberapa kali Reka menyebut nama suaminya itu.
"Agh!"
Erangan kecil keluar dari bibir lebam Irwan.
Reka tersenyum lega, ternyata suami beringasnya itu masih hidup.
Tanpa mereka sadari bahaya mengancam nyawa keduanya. Mobil yang rusak parah beberapa kali memercikkan api.
"Mas, bangun. Ayo cepat kita keluar dari sini," ajak Reka yang wajahnya terlihat panik. Kembali ia tarik sabuk pengaman yang macet namun tetap tak bisa. Reka keluar dari mobil dengan membungkuk. Berjalan perlahan mengitari mobil seraya menahan nyeri di kaki dan perut. Ia membuka pintu untuk mengeluarkan Irwan yang masih setengah sadar. Ia pandangi Irwan yang mengelinjang lemah, berbalut darah.
"Mas, ayo."
"Aku tidak bisa bergerak. Sabuknya melekat, Reka." Irwan kembali merintih. Bahkan keringat dingin mulai keluar dan menyatu dengan darah di wajahnya.
Reka panik. Melihat irwan kesakitan membuatnya semakin bingung.
"Bagaimana ini? Kenapa bisa? Aku harus apa?" ucap Reka gusar. Kemudian keduanya melihat percikan api dari belakang mobil.
"Mas, cepetan! Ada api di belakang sana," seru Reka yang semakin kacau. Ia tarik terus tali sabuk pengaman mobil dengan sekuat tenaga. Namun, tak ada hasilnya.
"Gak bisa. Aku terjebak. Kakiku juga gak bisa digerakin," lirih Irwan yang terdengar begitu putus asa. Terlihat jelas ketakutan akan maut di wajah angkuhnya.
__ADS_1
"Tapi, kalo gak keluar nanti mobilnya meledak!"
Suasana semakin mencekam. Irwan tak bisa bergerak bahkan percikan api makin besar. Sebesar ketakutan yang menyelimuti pikiran keduanya.
"Sudahlah, pergi! Cepat lari. Mobilnya akan terbakar," suruh Irwan seraya mendorong kuat tubuh Reka hingga gadis itu terjungkal ke belakang.
"Gak bisa, Mas. Ayo kita sama-sama pergi dari sini," ucap Reka tak mau menyerah. Ia berdiri dan masih saja melakukan apapun yang ia bisa. Ia berupaya menahan perasaan takut dan cemas yang menyertai kegiatannya melepaskan Irwan yang terjebak.
"Pergilah! Percuma saja," ucap Irwan yang sudah melemah.
"Tidak Mas. Kita pergi sama-sama. Jadi kita juga harus pulang bersama."
"Bukankah kalau aku mati kau bisa bebas dari siksaanku?" Suara putus asa itu keluar begitu saja dari mulut Irwan.
"Aku memang tidak mau disiksa. Tapi kamu tetaplah suamiku. Dan aku tidak ingin jadi pembunuh."
Klek
Seat belt Irwan langsung lepas. Keduanya saling bertatap sekilas. Senyum tersungging di bibir keduanya yang sama-sama ada jejak darah di sana.
"Bisa Mas, ayo."
Reka kembali mengalungkan lengan Irwan. Mereka menjauh dari mobil itu. Berjalan tertatih menyeimbangkan tubuh dengan saling bertumpu satu sama lainnya.
Satu detik.
Dua detik.
Keduanya terpental, tak sadarkan diri.
Mobil mewah Irwan meledak. Api besar berkobar membakar kendaraan besi itu. Awan galap makin pekat karena kepulan asap yang begitu tebal.
****
Angin sepoi menerpa wajahnya, membuat rambut-rambut halusnya ikut tersimbak lembut. Irwan edarkan pandangan kesekeliling. Tempat asing yang ia tidak tau di mana itu. Tidak ada siapapun di sana. Tak ada orang untuk bertanya dan juga tak ada jalan untuk keluar.
Di mana ini? Kenapa aku di sini? Bagaimana aku ke sini? Kenapa badanku jadi kecil begini? Batinnya keheranan.
Irwan begitu bingung, tiba-tiba saja dia sudah berada sebuah atap gedung yang menjulang tinggi beratapkan langit biru yang terang. Ditambah tubuhnya menjadi kecil. Persis ketika dirinya masih duduk di kelas tiga SD. Bahkan masih lengkap dengan seragam putih merah dan ransel power ranger, film kesukaannya di kala kecil dulu.
"Irwan, Sayang."
Suara lembut itu menyadarkan kebingungan irwan. Ia cari arah suara itu. Suara lembut yang sudah begitu lama ingin ia dengarkan kembali.
"Mam ...."
Mata Irwan langsung berkaca, melihat sosok orang yang memanggilnya adalah ibunya. Ibu yang sudah meninggal ketika umurnya menginjak sepuluh tahun. Ibu tercantik yang selalu tersenyum dan menyayanginya. Irwan rindu ibunya. Rindu belaian tangan hangat ketika dirinya mendapat hukuman dari sang ayah. Rindu masakan rumahan sederhana namun mampu memberikan sejuta rasa bahagia.
"Mami, kah itu?" tanyanya dengan suara yang bergetar. Air mata tak terbendung lagi. Irwan sambut kehadiran sang ibu dengan perasaan suka cita.
"Iya, Nak. Ini Mami kamu, Sayang," sahut sang ibu dengan senyuman tipis di bibirnya. Sosok yang terlihat lesu, bermata sayu, dan nampak beberapa memar di wajah pucat itu.
__ADS_1
"Aku merindukan Mami. Kenapa Mami baru hadir sekarang?" lirih Irwan. Ia ingin mendekati sang ibu yang berjarak tiga meter darinya. Akan tetapi, kakinya tak bisa di angkat. Ia tak mampu bergerak sedikitpun.
"Jadilah anak yang baik, Irwan. Mami tidak menyukai anak nakal. Kamu menyayangi Mami, kan?"
Irwan mengangguk cepat. Secepat bulir air yang terus saja mengalir di pipinya.
"Kalau begitu Mami bisa tenang. Anak baik itu pasti disukai orang. Kalau sudah disukai, kamu gak akan kesepian. Inget itu, ya."
Lagi-lagi Irwan mengangguk. Ia begitu ingin memeluk tubuh hangat ibunya yang sedang memakai baju tidur berwarna putih. Tapi tetap tak bisa. seolah ada banyak tangan menahan kakinya.
"Bagus, itu baru anak Mami. Anak kesayangan Mami," ucap sang ibu yang masih setia dengan senyuman lembut di bibir.
"Mam, Mami mau ke mana? Bahaya Mam," ucap Irwan ketika melihat ibunya berjalan menuju tepian atap gedung.
Namun, ibunya tak menghiraukan. Sang ibu tetap berjalan maju hingga benar-benar berada dibatas bahaya.
Irwan panik. Ia kembali meronta hendak menghampiri sang ibu.
"Mam ... jangan ke sana!"
Sang ibu menatap lembut pada Irwan. Ia tersenyum seraya merentangkan tangan.
"Mami menyayangimu."
"Mami!!!"
Irwan berteriak nyaring. Menggema di dalam ruang VIP rumah sakit.
Bik Sumi dan pak Marno yang sedang duduk menonton TV, sontak saja kaget mendapati sang majikan sudah tersadar di atas ranjang rumah sakit.
"Tuan tidak apa-apa?" tanya Sumi yang terlihat cemas melihat Irwan yang bersimbah peluh.
"Tidak apa-apa," ucap Irwan yang masih mencelos, mengingat mimpinya barusan. Mimpi yang terasa begitu nyata. Membuat luka lama kembali terbuka.
"Di mana dia?" tanya Irwan yang baru sadar kalau tidak ada sosok Reka di sana. Irwan mencoba duduk dan di bantu oleh pak Marno. Ia geser tubuhnya hendak turun dari ranjang.
"Aku ingin menemuinya."
Mendengar perkataan sang majikan, Bik Sumi pun menggeser tubuh. Membiarkan Irwan dengan jelas melihat Reka terbaring di atas ranjang yang tak jauh dari dirinya.
"Kenapa dia? Apakah lukanya parah? Kenapa dia belum bangun?"
****
Nah loh ....
Jeng jeng jeng ....
Hayuk di like dulu, komen sama Vote.
Hehehe ....
__ADS_1