
"K-kencing?" Reka mengulang perkataan Irwan. Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Karena memang selama ini Reka hanya mengurus makannya saja. Dan soal yang bersifat pribadi, cuma pak Marno saja yang boleh menyentuhnya. Supir yang sudah bekerja di keluarganya selama tiga puluh empat tahun. Seumuran dengan Irwan.
Irwan gusar. Ego tak sejalan dengan kenyataan. Tak tau harus menjawab pertanyaan Reka yang jelas terkejut akan perintahnya. Ia mencoba menyembunyikan rasa malu yang menjalar memenuhi wajah. Serasa menebal, berdenyut-denyut.
"Ayo cepat!" titah Irwan dengan suara agak meninggi. Menutupi perasaan yang sebenarnya.
Dengan terpaksa, Reka pun melangkah maju mendekati ranjang king size Irwan.
Tenanglah Reka. Dia tidak akan macam-macam padamu.
Reka memantapkan hati dalam setiap langkahnya. Reka bantu Irwan untuk bangun dari kasur. Memapah tubuh itu ke kursi roda dengan perlahan. Sedangkan Irwan berjinjit dengan kaki kanan. Sesekali melompat kecil, agar bisa lebih mudah bergerak.
"Pelan-pelan dong!" sungut Irwan sensi, Reka tak sengaja menyentuh lengan kirinya yang terluka.
Reka mendelik kesal. Istigfar dalam hati.
"I-iya," jawab Reka terbata-bata.
Bagaimana ini? Apa aku harus membuka celananya? Tapi ... tidak tidak. Dia tidak akan memperkosaku lagi, kan? Batin Reka berkecamuk. Memikirkan apakah dia harus membuka bokser selutut yang Irwan kenakan atau membiarkannya.
Sungguh, demi apapun. Ingin rasanya Irwan masuk ke dalam kobaran api. Harga dirinya benar-benar tercoreng. Malu, geram dan rasa sakit menyatu. Ia benar-benar tak berdaya.
Sial! Kenapa aku harus menjadi pesakitan begini!
Lagi-lagi Irwan membatin, merutuki nasib buruk yang menimpa. Memandang kesal pada paha kirinya yang bengkak.
****
Seminggu sudah cerita tengah malam itu berlalu. Dan keangkuhan Irwan kembali terkoyak ketika ia harus buang hajat. Dan sialnya, pak Marno sedang tak ada di tempat.
Reka yang awalnya risih dan aneh, lama-lama terbiasa juga. Dirinya yang semula takut bila berdekatan dengan Irwan, mulai kebal akan hinaan dan tatapan tajamnya. Ia lakukan kewajibannya. Melayani dan mengurus suaminya dengan sabar, telaten dan ikhlas.
Sebenarnya terbuat dari apa hati perempuan ini? Kenapa dia begitu baik?Tidakkah dia dendam padaku karena telah menghancurkan hidupnya? Sebenarnya dia bisa saja berlaku kasar ataupun membalas dendam padaku di saat aku tak berdaya seperti ini.
Batin Irwan bertanya-tanya. Kembali teringat kecelakaan yang lalu. Bagaimana Reka yang gemetaran tapi tetap menyelamatkan dirinya. Bagaimana perlakuan Reka merawat dirinya. Selalu patuh akan perintah tanpa pernah membantah.
Irwan kunyah makanan yang ada di mulut. Ia pandang lekat wajah Reka yang sedang duduk berhadapan dengannya di meja makan.
"K-kenapa, Mas?" tanya Reka was-was. Takut melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa," sahut Irwan tanpa ekspresi.
Dislokasi bahu membuat tangan kiri Irwan tak bisa bergerak. Karena tulang lengan atas keluar dari soket belikat. Ia harus menggunakan penyangga selama tiga minggu. Dan harus menggunakan kursi roda hingga bengkak di paha sembuh.
"Antar aku berkeliling. Aku bosan," kata Irwan setelah meneguk hingga tandas air minumnya.
Reka menurut. Mendorong pelan kursi roda, mengelilingi taman belakang mansion yang super luas. Hamparan rumput Swiss yang hijau menghiasi setiap penjuru mata memandang. Tatanan bunga dan air mancur serta kolam ikan mas, menambah begitu asri kerajaan yang Irwan bangun.
"Berhenti," ucap Irwan seraya mengangkat tangan kanannya.
Reka hentikan dorongan. Mengernyitkan dahi ketika melihat Irwan menatap satu bunga di dalam pot berukuran sedang. Irwan putar roda kursinya mendekat ke arah bunga yang berwarna putih, kuncup bunga kecil bulat dan berkelopak kuning.
Kenapa dia?
Reka keheranan. Tatapan Irwan begitu lembut untuk sekedar bunga. Begitu berbeda bila memandangnya.
"Apa kau tau bunga apa ini?" tanyanya dengan suara datar yang terdengar dalam.
Itu kan bunga Edelweis jenis Anaphalis Javanica. Bunga yang melambangkan keabadian.
Reka makin bingung akan tingkah Irwan. Reka rebahkan bokongnya di kursi kecil yang terbuat dari batang kayu yang besar. Sedikit menikmati bunga-bunga yang berwarna warni.
Reka tercenung sesaat. Tak paham akan perubahan sikap Irwan. Irwan yang biasa acuh. Yang hanya menganggap Reka babu. Kini berbicara tentang orang tuanya.
"Apa kau pernah dengar cerita tentang ibuku?" tanyanya seraya menolehkan wajah. Menatap tepat ke arah Reka. Pandangan yang berbeda dari biasa. Seolah menyiratkaan seribu luka di manik matanya.
Reka menggeleng pelan. Karena memang tak pernah mendengar seorang pun membahas kedua orang tua Irwan.
"Ibuku melompat dari atap gedung rumah sakit jiwa. Dia depresi selama setahun dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri."
Mata Reka langsung membulat. Ia refleks menutup mulutnya yang setengah menganga. Tak percaya akan yang ia dengar. Dan lebih aneh lagi, Irwan sama sekali tak berkedip menceritakan kemalangan yang menimpa ibunya.
Sekian detik Reka terdiam. Ia tak tau harus apa. Apakah menghibur ataukah acuh. Reka sungguh bingung. Bagaimana cara menghibur orang yang selalu bertingkah kejam padanya.
"M-maaf ...."
Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Reka. Ia tak tau harus mengatakan apa.
Irwan menarik sedikit ujung bibirnya. Senyuman yang benar-benar berbeda. Bukan seringaian yang biasa Reka lihat.
__ADS_1
"Untuk apa kau meminta maaf?" ucap Irwan. Ia hembuskan napas perlahan. Seulas senyum tadi, hilang dari bibirnya. Irwan palingkan wajah. Kembali menatap bunga edelweis yang ada di dekat kakinya.
"Sebenarnya aku yang harus minta maaf. Aku tidak tau kamu begitu menderita karena ulahku yang memperkosamu."
Reka kembali dibuat tercekat. Tak tau harus berkata apa. Yang jelas hatinya kembali sakit. Mengingat kejadian lalu selalu sukses membuat air matanya kembali luruh.
"Maaf, tak seharusnya aku berbuat begitu. Tak semestinya aku membuat wanita baik sepertimu menderita seperti ibuku. Tak sepantasnya aku berbuat brutal menuruti gen panas ayah yang mengalir di nadiku."
Irwan kembali menghembuskan napas berat. Sedangkan Reka, tetap menutup rapat mulutnya. Mencurahkan segala beban dan luka yang kembali terbuka. Ia biarkan derai air mata bebas mengaliri pipi.
"Aku tak seharusnya menyamakan dirimu dan Siska. Semakin ku lihat kalian memang berbeda. Hanya saja mataku sudah buta kalau melihat milikku disentuh apalagi direbut orang," terang Irwan jujur.
*****
Enam bulan berlalu. Dan selama itu juga Reka selalu setia mengurus suaminya. Melayani dan menemani Irwan bolak balik rumah sakit, sekedar kontrol maupun melakukan fisiotetapi bahunya.
Semenjak permintaan maaf itu. Keduanya semakin canggung. Reka yang memang pendiam, semakin sungkan. Sedangkan Irwan yang merasa bersalah, memilih bungkam.
Tibalah hari terakhir melakukan fisioterapi. Hari keputusan apakah Irwan harus melanjutkan terapi atau tidak.
"Selamat, cedera anda sudah sembuh. Tapi berhati-hatilah, dislokasi bahu bisa kembali kambuh," ucap seorang fisioterapis yang selama ini menangani dirinya.
"Iya, Dok. Terima kasih banyak," tutur Irwan seraya menyambut tangan fisioterapis yang selama ini merawatnya. Fisioterapis yang direkomendasikan oleh Romi. Teman sekaligus dokter ortopedi-nya.
Senyum sumringah Irwan begitu mengembang. Bahagia karena akhirnya bisa sembuh setelah berusaha berbulan-bulan.
Irwan yang ditemani Reka pun keluar dari rumah sakit rehabilitasi medik dengan wajah lega.
"Hari ini tidak perlu masak. Kita makan siang di luar saja," ucap Irwan kepada Reka yang berjalan mengikutinya.
Reka mengangguk pelan. Tetap mengikuti langkah lebar Irwan menuju parkiran rumah sakit.
"Irwan!"
Suara teriakan seorang wanita menghentikan langkah keduanya.
Mata Irwan langsung membesar. Mengatupkan rahang, geram.
"Siska!"
__ADS_1
****