Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Cie ... cie ....


__ADS_3

Di mobil.


'Sialan!'


'Brengsek!'


'Bedebah!'


Kata-kata kasar itu terus saja keluar ketika ada orang yang menghalangi laju kendaraannya. Tak lupa pula ia tekan klakson berkali-kali hingga orang-orang menatap aneh pada mobil mereka yang melaju di atas rata-rata. Umpatan? Ya, mungkin itulah yang pengendara lain ucapkan mengingat betapa egoisnya Irwan meguasai jalanan.


"M-mas, pelan-pelan, bahaya." Reka mengingatkan. Cara menyetir Irwan yang ugal-ugalan membuatnya beberapa kali menahan napas. Takut kalau menimbulkan kecelakaan.


"Mas Irwan!" seru Reka yang sudah memucat. Menggenggam erat hand grip yang ada di atas kepala.


"Hm, kenapa?" tanya Irwan ketus. Matanya fokus memandang depan, tetapi terlihat jelas kalau sedang berusaha menahan kemarahan. Bagaimana tidak marah? Irwan yang begitu menjunjung tinggi harga diri, hari ini terpatahkan, terinjak-injak di lumpur yang kotor. Tua dan jelek? Hah! Alasan cukup kuat buat Irwan mengamuk.


"Kita menepi dulu, Mas." Reka memberanikan diri, menyentuh bahu Irwan seraya mengembangkan senyuman yang terlihat jelas meninggalkan jejak kecanggungan.


Tanpa banyak bertanya, Irwan pun menepikan mobilnya di sebuah taman pinggir jalan. Membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Bamb! Hempasan pintu itu membuktikan bahwa level kemarahan yang ada pada diri Irwan sudah mencapai puncaknya. Ia berkali-kali menarik napas dan membuangnya perlahan. Meredam kekesalan yang tak berlawan.


"Mas ...." Reka memanggil dengan suara lembut. Menghampiri Irwan yang sedang berdiri dengan mata terpejam.


"Mas, sini." Reka pegang tangan Irwan dan menariknya perlahan. Mengajaknya duduk di kursi besi dan saling berhadapan.


Irwan yang masih belum bisa meredam emosinya memalingkan wajah, tak ingin Reka terkena imbasnya.


"Mas Irwan, tolong lihat aku," pinta Reka dengan suara penuh kasih. Menggenggam tangan kanan Irwan yang sudah membentuk tinju.


Merasa tak direspon, Reka pun menangkup paksa wajah masam Irwan dengan kedua belah tangannya. "Mas, tenanglah," ucap Reka lagi, menatap intens bola mata Irwan yang bergerak liar, penuh kebencian.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang? Mereka mengejekku, Reka. Mereka secara terang-terangan mencemoohku. Tua dan jelek? Hah, sialan!" Irwan kembali menggeram, mengetatkan rahang dan napas mulai terdengar memburu.


"Mereka itu masih kecil, Mas. Jadi jangan diambil hati. Lagian, menurutku Mas itu tampan, kok."


Gleg! Reka telan ludahnya. Terkejut dengan ucapannya sendiri. Gila, aku pasti sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa aku bicara seperti itu. Reka membatin, sesal. Pikiran tak sejalan dengan ucapan.


Irwan tergelak hambar. "Tampan? pembohong!" Irwan tepiskan tangan Reka dari wajahnya. "Kalau aku memang setampan itu, kenapa kamu tidak mau aku sentuh?"


Reka terdiam. Tak tau bagaimana menjawab pertanyaan Irwan. Ia tertunduk dalam, memikirkan jalan keluar agar suaminya bisa tenang dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.


"Jujurlah, apa aku semenjijikkan itu hingga kalian menghinaku tanpa berkedip," cecar Irwan. Pikiran sempit mendominasi dirinya. Hanya gara-gara disebut 'jelek' oleh anak kecil, dirinya langsung berang.


"Tidak, bukan seperti itu." Reka angkat kepalanya, memejamkan mata sejenak serta mengeluarkan napas dengan pelan. Baiklah, aku akan mengikuti saran bik Sum. Semua orang berhak mendapatkan kesepatan kedua. Allah saja maha pengampun. Reka kembali menarik napas panjang, bismillah.


"Mas Irwan, lihat aku," panggil Reka lagi. Namun Irwan bergeming, masih memunggunginya. Reka tarik pelan bahu tegap Irwan hingga mata mereka bersitatap.


"Kenapa? Masih ingin menghiー" Irwan mengerjap, tak bisa melanjutkan kata karena Reka telah lebih dulu bermain di bibirnya. Permainan amatir yang membuat api kemarahan Irwan mati seketika itu juga.


Lima detik, ciuman yang mendarat cuma lima detik, namun mampu membuat Irwan serasa terombang-ambing di lautan lepas, ia ingin segera berlabuh. Tapi sayang, Reka sudah terlebih dahulu meninggalkan dirinya masuk ke dalam mobil.


Hening, mobil kembali sunyi. Keduanya bergelayut dalam pikiran masing-masing. Sudah setengah jam sejak Reka mendaratkan bibirnya, akan tetapi efek dari lima detik itu sungguh luar biasa. Dada Irwan seperti di jatuhi bom atom, bertalu kuat hingga ia bisa merasakannya dengan jelas. Sial, kenapa aku jadi grogi begini?


"Mas, kita cari masjid terdekat, ya. Aku mau solat magrib," ucap Reka menengahi kebisuan di antara mereka. Wajahnya memerah menahan malu karena telah bertingkah agresif.


Tibalah mereka di halaman masjid. Masjid yang tidak terlalu besar namun dipadati para jamaah yang hendak menunaikan kewajibannya. "Aku solat dulu, Mas," pamit Reka setelah mengambil mukena yang ada di laci dasbor. Kemudian melangkah meninggalkan suaminya yang sedang menyandarkan diri di jok mobil. Irwan melihat ke arah luar jendela, memperhatikan raut muka tenang orang-orang yang masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba terlintas jelas perbincangannya dengan Ardi. Obrolan ringan yang mampu membuat Irwan membenci masa lalunya. Di mana dulu dirinya begitu sibuk dengan urusan dunia, tapi sialnya tidak pernah sekalipun merasakan bahagia. Hyuf .... Irwan embuskan napas panjang, mengusap wajah gusar dengan sebelah tangan.


Tak lama kemudian azan pun berkumandang, suara muazin menggema merdu, menyeru umat islam untuk melaksanakan kewajibannya. Panggilan yang entah mengapa bisa menggetarkan hati Irwan. Menyisakan senyar kenyaman juga kesedihan dalam setiap nada yang terdengar. "Aku rindu mami." Irwan kembali menghela napas seraya memejamkan mata. Menahan rindu tak sampai pada sosok wanita yang selalu menasehati dan mengajarinya tentang agama, berbicara tentang surga dan neraka, tentang kebaikan Tuhan dan sebagainya. Tapi, ketika sosok itu tiada, Irwan menjadi lupa, ia kufur nikmat dan melakukan dosa yang teramat banyak. Ya Tuhan, ampuni aku. Dengan langkah ringan Irwan masuk ke dalam masjid.


****

__ADS_1


Di meja makan.


Reka tak henti-hentinya mencuri pandang, melirik penuh selidik pada Irwan yang tengah menikmati makan malam.


Kenapa dia jadi aneh begitu. Habis digampar malaikat maut atau apa? batin Reka. Heran akan penampilan Irwan yang di luar dugaan. Dia yang biasa menggunakan kaos polos, kini menggunakan gamis berwarna coklat tua. Tak ketinggalan juga kopiah di kepala.


"Kenapa menatapku seperti itu? Tidak pernah ngeliat orang pake jubah? Atau, terpesona dengan ketampananku?" ucap Irwan meninggi, tapi tetap dengan nada datar.


Degh!


Jantung terpompa cepat, membuat nasi yang baru setengah jalan terpaksa keluar, "Uhuk, uhuk, air ... air."


Reka memukul dadanya. Wajahnya merah padam, mencoba menghentikan batuk yang membuatnya kesulitan mengambil napas.


"Ck, makanya makan tu pelan-pelan." Irwan beranjak dari kursi, menuang air ke dalam gelas dan memberikannya pada Reka yang tersedak, "Minumlah."


Reka tenggak habis airnya. Mendorong makanan yang masih tersangkut di tenggorokan. "Itu gara-gara kamu, Mas." Reka mengomel dengan mata yang sudah memerah dan berair.


"Lah, kok aku yang salah. Yang suruh kamu makan terburu-buru, siapa?" Irwan tak kalah sengit.


"Itu karena omongan Mas yang enggak masuk akal," balas Reka tak mau kalah. Ia beranjak dari kursi dan menatap Irwan dengan berani.


"Gak masuk akal gimana?" Irwan mengulang perkataan Reka.


Reka tak menjawab, ia hanya memalingkan wajah ke arah samping.


"Ayo jelasin, bagian yang 'gak pernah liat orang pake baju gamis' atau bagian 'tampan'?" Irwan menyipitkan mata, menjadi tertarik saat melihat perubahan ekspresi Reka. Raut wajah yang tadinya hendak menantang berubah menjadi gelagapan. Begitu menggemaskan, pikir Irwan, terukir seulas senyum di wajahnya yang tegas.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku pria tampan?" goda Irwan dengan merendahkan suara. Mendekati wajah Reka dengan menarik sebelah bibirnya. "Apa kamu lupa? Atau ... apa perlu aku ingatkan?" Tatapan mesum terlihat jelas di bola mata Irwan. Ia semakin mendekatkan wajah, berancang-ancang untuk mencium bibir Reka.

__ADS_1


"Ih apaan, sih!" Reka dorong tubuh Irwan. Memasang wajah galak tapi terlihat jelas kalau sedang tersipu. "Aku mau balik ke kamar. Mas lanjutin aja makannya," ucap Reka datar, berjalan cepat meninggalkan Irwan yang berdiri di dekat meja makan.


"Pergilah, aku pastikan malam ini aku bisa memeluk tubuh juga hatimu." Irwan bergumam penuh percaya diri.


__ADS_2