
Kejam. Ketika tangan ingin meraih kebahagian. Tapi takdir lagi-lagi mempermainkan. Membolak-balik duka Reka. Baru saja bahagia, dirinya kini harus merelakan semua rasa itu. Menelan pil pahit kehidupan yang tak pernah bersikap manis padanya. Haruskah kufur? Haruskah murka pada Tuhan? Atau, haruskah mengiris pergelangan tangan agar nestapa itu benar-benar enyah? Tidak. Jawabnya tidak. Reka tak berani menantang Tuhan. Dirinya hanya gumpalan debu yang terombang ambing tertiup angin. Menikmati getirnya jalan hidup yang sudah digariskan. Reka berpasrah, rela akan cobaan yang tak ada habisnya.
"Kamu jahat. Kamu brengsek, mas. Kamu ... kamu ...." Reka tak bisa menyelesaikan lisan. Sakit hati membuat mulutnya melemah. Tak tau harus berkata dan berbuat apa. Menangis? Oh, Reka bosan menangis. Tapi kenapa air itu seakan tak pernah habis? Ia ingin setegar batu karang. Ingin melawan orang yang menyakitinya. Tapi kenapa? Kenapa ia harus tercipta lemah?
Meluap, bongkahan air mata Reka membasahi selimut. Suaranya meredam dalam kain tebal yang menutup wajah. Marah dan kesal, mengentak-entakkan ponsel Reza yang ada di tangan. Meremas-remas gawai hitam yang memberikan informasi tentang pertunangan Irwan. "Dasar jahat, baru tadi mengatakan 'maaf' sekarang malah mau bertunangan. Kamu benar-benar tega. Apa bener gak ada rasa cinta untukku. Apa kamu gak ada niat buat berubah dan memperjuangkan aku?" Deras, air mata Reka makin merembes. Dan Dewi yang berada dalam kamar tak sengaja mendengar gumaman lirih sang anak.
Apa kamu masih mencintainya. Dia itu penjahat, Reka. Dewi mengembuskan napas dan kembali membalik tubuh. Meninggalkan Reka yang sepertinya memerlukan waktu untuk sendiri.
Dua minggu berselang.
Reka langkahkan kaki menyusuri jalanan komplek. Berniat membeli sayuran pada Asep, si penjual sayur keliling. Moga aja mang Asep masih nunggu di depan.
Reka percepat langkahnya, namun mendadak menghentikan kaki ketika mendengar gunjingan tentang dirinya. Dua orang ibu-ibu sedang kasak-kusuk bercerita tanpa menyadari ada Reka di belakang mereka.
Seorang ibu berusia lima puluhan berpostur pendek dan berdaster oren menyenggol temannya yang sedang menyuapi balita. "Eh, tau gak. Reka itu habis dicerai suaminya, loh."
Wanita yang disenggol langsung menutup mulutnya yang menganga. Meletakkan sendok ke dalam mangkuk padahal sang anak sudah siap untuk disuap. "Lah, kok bisa? Kenapa?" Menatap serius teman satu gibahannya.
"Katanya, Reka itu selingkuh. Aku aja sempet beberapa kali ngeliat laki-laki bertamu kerumahnya. Tapi laki-laki itu jelas bukan suaminya."
"Ah, yang bener?"
__ADS_1
"Ye ... gak percaya. Aku ini loh saksinya." Si ibu berbaju oren berlenggang bahu kemudian menyilangkan lengan di dada. "Udah kaya perempuan gak bener dia. Bayangin, suami yang cakep gak ketulungan gitu masih aja diselingkuhin. Gak bersukur. Kelakuan mines gitu kok bisa jadi guru."
Lagi, air mata itu terpancing untuk keluar. Tapi sekuat hati Reka tahan agar air itu tidak terjun. Malu bila harus menangis di jalanan. Jahat. Menahan kesedihan saja seakan tak cukup. Sekarang ia malah disuruh menahan malu. Dunia benar-benar kejam mempermainkannya
Reka berjalan hampir setengah berlari. Tetap melangkah maju ke tujuan awalnya. Menemui mang Asep.
"Itu matanya kenapa atuh, Neng?" tanya Asep disela kesibukannya memasukkan belanjaan Reka ke dalam keranjang.
Melemparkan senyum getir kemudian menggeleng pelan. "Gak kenapa-napa, kok, Mang."
"Alah, bohong itu," sela seseorang dari arah samping. Memilin kangkung seraya melirik sinis pada Reka. "Kamu nyesel 'kan karna udah selingkuh."
Kembali, darah Reka berdesir hebat. Tapi sebisa mungkin ia redam emosi itu. Percuma menjelaskan. Toh, mereka sudah terlanjur terkontaminasi dengan kabar yang jelas tidak berdasar. Ha! Selingkuh, ingin rasanya kujambak rambutmu.
"Kenapa diem? Tebakan aku bener, 'kan?" Mencebik, perempuan seusia Reka mencemooh dalam tatapan matanya. Perempuan yang Reka kenal bernama Nunik. Teman SD-nya yang kini sudah mempunyai dua anak.
"Tentu saja tidak." Suara rendah seseorang mengejutkan keduanya. Suara yang membuat bulu kuduk Reka meremang sempurna. Mas Irwan. Reka menyebut lantang nama itu dalam hatinya. Tak senang melihat Irwan berjalan mendekat dan merangkulnya erat.
"Reka ini masih istriku. Kenapa juga dia harus memikirkan perceraian?" Irwan menautkan alis. Menatap aneh pada Nunik dari ujung kaki sampai kepala.
"Tapi gosipnya---"
__ADS_1
"Itu cuma gosip. Berita gak bener yang sengaja kalian gosok biar makin sip." Menyeringai. Irwan menghina Nunik dalam tarikan sebelah bibirnya. "Oh, iya. Saran saya, lebih baik kamu urusin penampilan kamu dulu. Jangan hobinya ngurusin gosip," tandas Irwan. Tanpa basa-basi ia hina Nunik di depan ibu-ibu yamg sudah berkumpul. Kemudian tanpa malu merangkul pundak Reka, menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Apaan, sih." Reka berbisik, meredam suaranya agar tidak menjadi perhatian orang lain.
"Udah, ikut aja."
Irwan kendarai mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata. Melirik berkali-kali pada Reka yang membuang wajahnya ke arah luar jendela. "Kamu udah sarapan?" Bernada lembut. Irwan membuka obrolan pada wanitanya. Wanita yang sudah mengisi seluruh relung hati. Menyisakan hampa saat tak bersamanya.
Mendengkus, Reka malas meladen Irwan dan hanya merespon pertanyaan itu dengan kata, "Udah."
Tak tahan. Irwan pun menepikan mobilnya di bahu jalan. Tepian jalan yang tertutup pohon berdaun rindang. Begitu asri, membuat Reka terlena hingga tak sadar Irwan telah membuka seatbealt. Menangkup paksa wajahnya yang semula melihat arah luar jendela. Irwan menekan gemas pipi itu.
Mengernyitkan dahi, Reka keheranan. Tampak manik mata Irwan yang begitu liar. "K-kenapa?" Reka membuka mulut dengan bibir yang sedikit mengerucut. Lucu, Irwan tersenyum melihatnya.
"Mas kangen kamu." Lalu mendaratkan bibirnya. Meraup pinggir mulut bagian bawah Reka. Mengesap dengan geram karena mendapat penolakan. Napas yang memburu, menjadi bumbu pemaksaan yang Irwan lakukan. Reka terus saja mendorong dadanya, meronta. Akan tetapi Irwan malah makin memperdalam lu*atan. Menekan kuat tengkuk Reka dan mamakan makin dalam bibir yang sudah lama ia rindukan. Gumpalan daging manis yang menjadi candu untuknya.
Plakk!
Tangan Reka melayang tepat di pipi kiri Irwan. Harga pantas yang harus Irwan bayar karena memaksanya. "Kamu brengsek!" umpat Reka dengan mata yang sudah berkaca. Ia lap bibirnya dengan punggung tangan. Menatap nyalang pada Irwan yang tersenyum puas.
"Kamu benar-benar jahat! Teganya kamu begini. Kita sudah bercerai!" Histeris. Suara Reka menggema dalam mobil. Meluapkan amarah atas kelancangan Irwan. Bagaimana mungkin Irwan menciumnya padahal mereka sudah bercerai secara agama? Reka kepalkan tangan dan mengalihkan pandangan. Membiarkan air mata keluar karena kekesalan yang semakin mengakar kokoh.
__ADS_1
"Tidak, Sayang." Menarik pundak Reka dan melihat jelas muka murka Reka. "Selembar kertas dari pengadilan agama ini gak bisa memisahkan kita." Irwan mengepal kuat kertas bertulisan itu. Surat pemberitahuan sidang untuk kasus perceraian yang Reka ajukan. "Aku masih sayang kamu," lanjutnya. Membuang kertas itu ke luar jendela. Kembali mengunci netra risau Reka dengan matanya.
"Berilah aku kesempatan lagi, emb."