Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Arya Tri Widiarto.


__ADS_3

"Ini semua karena kamu. Kalau bukan kamu, Irwan pasti sudah bersama Clara, dan ayahnya tidak akan menarik semua investasi yang sudah masuk." Kembali mengetatkan rahang hingga gigi bergemelatuk. Menatap penuh amarah pada Reka yang hanya berjarak dua puluh meter darinya.


"Kamu yang udah bikin aku bangkrut. Sekarang mati pun aku tak takut. Untuk apa hidup jika aku terlilit hutang." Arya menyeringai. Tatapan matanya berapi-api. Ia injak pedal gas itu seraya berucap, "Ayo, kita pergi sama-sama."


Dari seberang jalan, Irwan melambaikan tangan. Membalas Reka yang tersenyum hangat padanya. Baru kali ini dia merasa begitu sempurna. Siapa sangka umur yang sudah lumayan tua membuatnya menjadi ABG lagi karena cinta. Ck, takdir Tuhan memang penuh rahasia.


Irwan turun dari bahu jalan. Sedangkan bibir masih saja terkembang. Tapi, baru saja hendak melangkahkan kaki menyeberang jalan, mata Irwan nanar sempurna. Sebuah mobil melaju dengan tak terkendali. Ia panik berteriak memanggil nama sang istri. "Rekaaa awasss!"


Brakh!


Semua orang terkejut. Suasana taman yang tadinya tenang berubah mencekam. Reka terduduk, napas tak teratur bersamaan dengan ritme jantung yang berdetak cepat. Ia perhatikan asap yang keluar dari sebuah mobil yang hampir menabraknya. Untuk beberapa detik Reka shock. Tapi dengan cepat dirinya menyadarkan diri seraya berteriak, "Ambulan, tolong panggilin ambulan!"


"Sayang, kamu gak pa-pa?" Irwan membantu Reka berdiri. Tanpa mengindahkan sebuah mobil yang ringsek tak jauh dari dirinya berdiri.


"Gak pa-pa, Mas. Cepat tolongin orang itu," ucap Reka. Menunjuk mobil yang kapnya sudah terbuka karena manabrak kumpulan sepeda moror yang terparkir. Tampak pula asap tipis keluar dari mobil yang sudah ringsek di bagian depannya.


Irwan berlari. Menghampiri tersangka, atau mungkin sudah menjadi korban. Ia gedor-gedor pintu kaca mobil yang berwarna hitam. Tapi yang di dalam tak merespon. Panik, semua orang yang ada di sana berinisiatif untuk memecah kaca dan, degh! Jantung Irwan kembali terpompa cepat. Dengan sigap ia buka sabuk pengaman dan meraih tubuh pria yang sudah tak bergerak. Menepuk-nepuk wajah tua yang berdarah hanya di bagian pelipis. "Papi, bagun! Bagun, Pi!" Irwan berteriak. Membopong tubuh sang ayah dan meletakkannya di jalan. Mengecek tanda vital untuk melakukan pertolongan pertama. Tapi sayang, takdir berkata lain. Sang ayah sudah tak bernyawa.

__ADS_1


****


Mega mendung terhampar menyelimuti cakrawala. Gelap, hawa dingin pun menyeruak menyelimuti tempat pemakaman Arya. Memberikan sensasi gigil untuk tubuh yang hanya terbalut kain putih. Dan tak lama, rintik-rintik air gugur setetes demi setetes. Menghantam tubuh para pelayat yang datang untuk mengantar mendiang ke tempat terakhirnya.


Menggenggam tanah yang basah, Irwan kembali megingat kenangan tentang sang ayah. Kenangan yang begitu ingin ia lupakan kini terlintas jelas di ingatan. Kenangan betapa keras Arya mendidiknya. Dari hukuman yang tak pantas ia dapatkan sampai hinaan yang tak seharusnya seorang ayah katakan. Hampir tak ada kenangan manis yang terlintas. Tapi tetap saja, kepergian orang kejam itu memberikan jejak kesedihan dan penyesalan di diri Irwan. Bagaimana mungkin dua orang yang berjasa dalam hidupnya berakhir mengenaskan begitu? Ibunya bunuh diri, sedangkan ayahnya mati tanpa menyesali kesalahan.


Berjongkok, Reka merangkul dan mengusap pundak bergetar Irwan. Ia tau sang suami pasti menangis dalam tunduknya. "Mas, ayo kita pulang."


Irwan bergeming, mengangkat wajah membiarkan air hujan membasahi kulitnya. Memandang Reka yang juga sudah menatapnya dengan lekat. "Kenapa begini?" Irwan kembali tertunduk, mengepal kuat tanah itu dan menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Reka.


"Semua udah takdir Allah, Mas."


Setelah kepergian Arya, Irwan begitu sibuk mengurus perusahan yang berada diambang kebangkrutan. Ayahnya pergi meninggalkan utang yang sangat banyak. Sebenarnya dia bisa saja mengabaikan perusahaan yang sudah dibangun oleh sang kakek. Tapi mengingat bagaimana Arya mendedikasikan seumur hidupnya untuk menjalankan perusahaan itu, ditambah setelah melihat wajah-wajah putus asa para pegawai dan staf, membuatnya nekat mengambil alih. Ia berusaha meyakinkan dewan direksi bahwa dirinya sanggup menjalankan Kinara Grup. Irwan bahkan menjual semua aset yang ia hasilkan dari jerih payahnya sendiri dan juga menjual harta sang ayah hingga tak bersisa.


"Kamu yakin mau ngasih ini?" Irwan memegang map coklat di tangan kanan. Kemudian melihat Reka yang tersenyum tanpa beban.


Mengangguk yakin, "Em, aku yakin, Mas. Lagian aku gak butuh itu."

__ADS_1


"Tapi ini milik kamu, Reka." Menyodorkan kembali map itu.


"Untuk apa aku butuh rumah itu, Mas. Kita seharusnya tinggal sama-sama." Menggengam tangan Irwan. Metakinkan laki-laki itu melalui sorot matanya.


Mengangguk pelan seraya mengembuskan napas. "Baiklah, terima kasih, ya. Mas beruntung punya kamu."


Irwan menggenggam tangan Reka. Menggenggam tangan juga hatinya. Bidadari berwujud manusia. Ya, itulah gambaran yang pas untuk Reka. Ia bahkan rela memberikan rumah seharga 20 Miliyar. Mas kawin ketika menikah dulu.


Suasana sunyi disertai perasaan syukur memiliki Reka di sampingnya membuat Irwan terpedaya dan lupa. Lupa bahwa dia belum menikah kembali. Kepergian sang ayah yang mendadak, ditambah mengurus perusahaan yang hampir gulung tikar, mengharuskan mereka untuk mengundur pernikahan. Pernikahan mewah yang Irwan janjikan. Tapi lagi-lagi terhalang keadaan.


Tak sabar, Irwan tatap lekat mata Reka. "Kamu sangat baik, kamu juga cantik. Mas mau ...." Tersenyum. Mendekatkan tubuh, ingin meraih bibir Reka yang sedari tadi menipis. Bibir yang makin dipandang makin ingin Irwan mencicipnya. Irwan dekatkan wajah, memiringkan kepala sedikit demi sedikit mendekati daging tak bertulang itu. Memajukan kepala, hampir sampai ... sedikit lagi ... sesenti lagi ... dan brakh! Suara keras dari hempasan daun pintu membuyarkan keduanya.


"Mau ngapain itu?" Ady berada di belakang mereka. Kesal akan pemandangan yang tak sengaja ia lihat. Pemandangan yang membuatnya menggelengkan kepala dengan berkacak pinggang. Ia hampiri Irwan dan Reka yang sedang duduk di kursi rotan kemudian berkata, "Belum halal." Ucapan yang penuh dengan penekanan. Menarik Reka mengarahkan ke belakang punggung. Menatap nyalang Irwan seakan mampu menelannya. "Kalau udah selesai, cepetan pergi."


Tersenyum siput Irwan menggaruk tengkuk, malu. "Iya, Om. Saya pamit." Berjalan membungkuk melewati Ady yang sudah bermuka masam. Melirik Reka sekilas dan memberikan kedipan genit. "I love you," bisiknya yang masih terdengar jelas oleh Ady.


"Kamu!" Ady menggeram.

__ADS_1


Sementara Reka, tersipu malu. Apalagi ada sang ayah di situ. "Astaga, dia puber lagi kayaknya." Ady bergumam. Menggelengkan kepala, heran akan tingkah Irwan yang seperti ABG labil.


"Ya, udah. Kita masuk."


__ADS_2