Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Tua dan jelek


__ADS_3

Irwan mendengkus kesal, ia biarkan kakak adik itu melepas rindu. Sedangkan dirinya memilih mengitari rumah. Menenangkan diri, duduk santai di taman belakang yang dipenuhi dengan berbagai macam warna dan jenis bunga.


"Ck, apa salahnya menjadi tua?" gumam Irwan, jengkel. Ia keluarkan rokok dari saku celana, menghidupkan pantik lalu mulai membakar ujung kertas bertembakau itu, menghisap dalam kemudian mengembuskannya perlahan hingga nampaklah kumpulan asap mengepul, keluar dari hidung juga mulutnya.


"Walaupun aku tidak seemuran kakaknya, paling tidak aku masih sehat, masih strong. Seenaknya aja aku dibilang tua. Sialan!" Irwan kembali menggerutu. Disinggung terang-terangan seperti itu membuatnya dongkol, harga dirinya tercoreng ketika dibilang 'tua'. Padahal usahanya untuk menjaga penampilan dan kebugaran bukanlah abal-abal. Dari mengkonsumsi suplemen, vitamin hingga olahraga. Ia lakukan semua itu dengan teratur agar tubuhnya tetap dalam kondisi prima.


"Kenapa cemberut, Bang?" tanya seseorang dari arah belakang. Irwan memutar badan dan mendapati seorang pria seumuran dengannya sedang membawa nampan. Melangkah pasti dan tersenyum ramah ke arahnya. Pria itu menata dua cangkir kopi serta sepiring cemilan di atas meja bulat di dekat Irwan berada.


"Kamu suami Rianti?" terka Irwan ragu. Ia pun berdiri dan memperhatikan dengan seksama lelaki itu. Bagaimana mungkin pria dewasa ini menjadi suami gadis kecil kurang ajar tadi? Batin Irwan penasaran, mengernyitkan dahi, tak percaya.


"Iya, namaku Ardi." Mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.


"Irwan Syahputra. Panggil Irwan saja, jangan ada embel-embel 'Abang,' karena aku rasa usia kita hampir sama," terang Irwan bernada tegas. Ia sambut tangan Ardi yang terulur dengan hangat, menggenggamnya erat.


Ardi menggeleng, tidak setuju. "Walaupun usia kita tidak jauh beda, tapi tetap saja, Abang ini Abang Ipar Riri. Jadi aku harus sopan," jawab Ardi ramah kemudian mempersilakan Irwan untuk kembali duduk.


"Terserah kamu sajalah."


"Diminum dulu, Bang," tawar Ardi, mendorong cangkir kecil bertelinga bewarna putih susu.


Irwan pun menyeruput kopi hangat itu sedikit, kemudian kembali mengisap gulungan tembakaunya. "Rokok." Irwan mendorong kotak kecil beserta pantiknya.


"Gak, Bang." Ardi menolak dengan sopan. Mendorong kembali kotak berwarna merah putih bermerk Marl*oro itu ke arah Irwan.


"Kenapa?" Irwan menautkan kedua alisnya, heran.


"Aku mau berumur panjang, Bang. Aku gak mau kalau inna lillahi duluan. Kasian Riri dan anakku. Abang 'kan tau, kita sudah tidak muda lagi. Sedangkan umur istri-istri kita jauh di bawah kita. Jadi, kalau tubuh tua kita tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, ya bisa-bisa kita lebih cepat berpulang," ucap Ardi mengingatkan, namun tatap dengan cara yang santun.


Degh!


Serasa ditampar, Irwan bergeming sesaat, kemudian membuang puntung rokok di tangan dan menginjaknya dengan kuat. "Aku sebenarnya bukan perokok aktif. Aku ngerokok jika sedang kesal saja." Irwan menatap ke depan. Mencerna kembali perkataan Ardi barusan. Ya, aku memang sudah tua, di saat yang lain terlihat bahagia dengan istri dan anak, aku malah ... ah sial!

__ADS_1


Irwan buyarkan lamunannya sendiri. Menatap wajah Ardi yang terlihat tak ada beban, begitu tenang, asyik mengedarkan pandangan kesekeliling, menatap bunga seraya menikmati kopi. Aku penasaran, bagaimana dia bisa tahan hidup dengan istrinya yang kekanakan itu? Irwan membatin. Masih kesal akan tingkah polah Rianti yang bertolak belakang dengan Ardi maupun istrinya.


"Apa kamu tidak kewalahan menghadapi istrimu itu?" tanya Irwan to the poin, tiba-tiba ia penasaran ingin mengorek kehidupan rumah tangga birasnya.


Ardi tersenyum, kembali menyeruput kopi, kemudian mengembalikannya ke atas meja. "Enggak, malah aku bersyukur bisa mendapatkanya. Aku tidak peduli jika orang lain mengejekku 'bucin' atau apalah. Ya, karena kenyataannya aku memang begitu." Ardi tetawa renyah, seolah telah mengingat hal yang lucu. "Maka dari itu, aku harus sanggup menjaga diri biar bisa hidup lebih lama," terang Ardi lagi dengan ujung bibir yang masih terangkat.


Irwan menghela napas. Membenarkan perkataan Ardi yang tak pernah melintas di benaknya. Selama ini kesibukan sebagai dokter serta aksi balas dendamnya yang tak berkesudahan membuat ia lupa tentang masa depan maupun kematian.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut yang berasal dari teras. Irwan dan Ardi sekilas saling pandang, bingung secara bersamaan.


"Den, ada tamu di depan," ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat ngos-ngosan.


"Siapa, Bik?" tanya Ardi keheranan, karena memang tidak lagi menunggu siapapun selain Reka dan Irwan.


"Kalau tidak salah, namanya Eldi, Den. Dia datang bersama seorang anak kecil."


Irwan seperti mendapat sengatan listrik. Tegang serta meradang. Mendengar nama Eldi benar-benar membuatnya naik pitam. "Eldi Wijaya?" timpal Irwan, geram. Memandang sekilas wanita itu kemudian beralih menatap Ardi.


Irwan tidak menjawab. Ia beranjak kursi, emosi jelas sedang meronta, teringat bagaimana Eldi menatap istrinya tempo hari. Sialan! Kebetulan macam apa ini? Dengan tergesa Irwan langkahkan kakinya. Manahan marah membayangkan kelancangan apa yang akan Eldi lakukan kali ini.


Tibalah Irwan dan Ardi di teras depan. Keributan nampak sudah terkendali, namun perasaan Irwan lah yang kini sedang berperang. Tak senang melihat istrinya sedang dipeluk anak orang lain. Terlebih lagi anaknya Eldi.


"Eldi, tumben ke sini? Ada apa?" tanya Ardi.


"Ini, gue cuma mau balikin berkas lo yang ketinggalan," jawab Eldi seraya menyerahkan map coklat ke tangan Ardi.


"Cuma itu doang, kenapa ribut-ribut?" sela Irwan datar. Menahan ketidaksukaannya terhadap Eldi.


"Itu karena Aji gak mau pulang." Rianti menimpali.


"Kenapa?" Ardi menatap sekilas istrinya kemudian menatap Eldi yang tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Aji gak mau pulang! Aji mau sama Tante cantik," jawab Aji polos, memeluk erat kaki Reka sebelah.


Eldi semakin canggung, mengurut pelipisnya yang mendadak nyeri. Ia pun berjongkok agar sejajar dengan tubuh kecil anaknya. "Aji, jangan bandel. Kasian Tante Reka kalau kamu pegangin terus kakinya," bujuk Eldi yang dibalas wajah cemberut dari sang anak. "Gak mau!"


Eldi usap mukanya dengan gusar, tak tau harus bagaimana lagi membujuk anaknya agar mau pulang.


"Makanya, Pak. Cepetan nikah. Cari ibu baru buat Aji," celetuk Rianti tanpa beban.


Semuanya terdiam, saling melirik. Hanya Rianti saja yang tak tau bahwa atmosfer telah berubah total.


"Aji maunya Tante Reka aja yang jadi ibunya Aji. Tante mau, yah," pinta Aji seraya mendongakkan kepala. Menatap dengan mata polosnya.


Satu sisi Reka takut, karena beberapa kali mendapat lirikan tajam dari Irwan. Tapi di sisi lain ia kasihan pada Aji, bocah tujuh tahun yang tak sempat mendapatkan kasih sayang ibu kandungnya.


"Aji ... Tante enggak bisa jadi ibu kamu. Tante sudah nikah sama Om yang itu," ujar Reka dengan lemah lembut, menunjuk Irwan yang berdiri dengan wajah masam.


"Sama Ayah aku aja, Tante. Om itu 'kan jelek."


Mendengar ejekan anak kecil itu membuat api gejolak Irwan makin tak terkendali. Dengan langakah lebar ia hampiri Reka. Menjauhkan tubuh Aji dengan mudah dan mengantarnya kepelukan Eldi tanpa ada perlawanan.


"Aji, Tante Reka itu istri Om. Jadi gak akan mungkin jadi ibu kamu." Irwan berkata penuh penekanan. Membuat anak kecil itu tak berani membantah dan hanya mengangguk pelan.


"Anak pinter." Irwan mengusap pucuk kepala Aji yang tentunya dengan menahan geram.


"Kalau gitu kami permisi pulang dulu," pamit Irwan dengan menggenggam tangan Reka.


Ardi mendekati tubuh sahabatnya. Mensejajarkan diri seraya melihat mobil Irwan yang menjauh. "Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Bagaimana kalian bisa saling kenal?"


"Dia itu abang kelas gue di SMA dulu. Dan waktu reunian, gue gak sengaja meluk bininya yang hampir jatuh." Eldi menjelaskan dengan senyum mengembang, meninggalkan jejak ketidaknyamanan.


"Yah dasar. Pates aja dia begitu." Ardi menoyor pundak Eldi hingga yang punya pundak sedikit oleng.

__ADS_1


__ADS_2