Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Kembali


__ADS_3

Di kediaman Ady.


Reka duduk di teras depan rumahnya. Memutar-mutar cincin pernikahan yang masih tersemat di jari. Tanpa diharapkan, sekelebat bayangan terlintas diingatan Reka. Bagaimana ekspresi tak berdaya dan perkataan memelas Irwan. Perbincangan yang sedikit menggoyahkan keteguhan hatinya--bercerai.


Keluar dengan nampan yang berisi due gelas teh hangat, Dewi berjalan mendekati Reka yang sedang menatap cakrawala hitam. "Kamu kenapa, Kak?" ucap Dewi. Meletakkan barang bawaannya di tengah mereka.


Menipiskan bibir seraya menggeleng. "Gak pa-pa, Buk. Cuma gak bisa tidur aja." Reka berucap pelan dan tanpa sadar tangan masih memainkan perhiasan yang terbuat dari berlian.


"Apa memikirkan Irwan?"


Tertegun. Reka makin memutar laju cincin yang sedikit longgar di jarinya. Pertanyaan yang entah mengapa membuatnya merasa sedang diintrogasi.


"Gak kok, Buk."


Mengembuskan napas panjang. Tampak semburat kesedihan di wajah wanita berdaster payung itu. "Jangan bohongi Ibuk, Kak." Dewi berucap lirih. Terdengar nada kekecewaan yang keluar bersamaan dengan helaan napas.


Berkaca, netra kembali menunjukkan ketidakberdayaan Reka. Ia yang sedari awal berusaha menutupi kegundahan hati bahkan mampu berbohong, kini mencurahkan segalanya. Hanya dengan satu kalimat sanggahan dari sang ibu membuatnya merasa menjadi anak paling durhaka sedunia. "Buk, maafkan Eka ... Eka ...." Tak mampu berucap lebih, Reka pun memeluk tubuh kurus sang ibu. Sesenggukan, menunjukkan betapa dalam kesedihannya.


"Apa kamu masih mengharapkan dia?"


Isakan Reka makin menjadi. Ia kecewa, kecawa pada diri sendiri. Dirinya yang berniat teguh untuk berpisah, langsung luluh hanya dengan sekali bertemu. Kenapa hati begitu cepat berubah? Berubah atau dipaksa berubah? Entahlah, tapi yang jelas Reka tidak ikhlas bila berakhir begitu saja. Apalagi setelah melihat kesungguhan Irwan. Sungguh, Reka terperdaya oleh gumpalan berwarna merah di dada. Kepingan kama yang kembali berulah. Ingin bercerai, tapi hati kembali merindu. Otak dan hati benar-benar berkelahi.


"Eka gak tau, Buk. Eka sayang sama dia. Tapi Eka takut buat memberinya kesempatan lagi." Lirih, Reka berucap disela tangisnya. Melepaskan pelukan dan menghapus jejak air matanya. Melihat iris coklat sang ibu yang juga sudah berkabut kesedihan. "Eka harus gimana, Buk?"


Membelai rambut tergerai Reka. "Jangan tanya ibuk, Kak. Solatlah. Minta petunjuk sama Allah." Menipiskan bibir yang terlihat ambigu, Dewi kembali melanjutkan katanya, "Ibuk sebenarnya gak suka anak ibuk menderita. Tapi melihat kamu kaya gini. Ibuk juga merasa sakit," ucap Dewi


Kembali memeluk tubuh Reka dalam dekapannya. Anak dua puluh lima tahun yang masih serasa bayi baginya.


****


Tibalah hari persidangan.

__ADS_1


Reka keluar rumah diikuti oleh kedua orang tuanya.


Menggenggam tangan Reka dari arah belakang, Dewi melepaskan sorot mata penuh tanya. "Kamu yakin, Kak?"


"Iya, Buk. Eka yakin." Memungkiri isi hati yang sebenarnya tidak rela bila berpisah. Tapi rasa takut akan sikap Irwan yang tidak terduga membuatnya menekan kuat rasa itu. Bercerai, Reka mantap untuk itu.


Eldi yang sedang menyandarkan punggung di tiang kayu rumah mereka langsung membetulkan posisi. Merapikan kemeja yang sedikit kusut. Sengaja datang lebih awal untuk menjadi saksi dipersidangan pertama Reka. "Berangkat sekarang?" tanyanya. Menoleh kedua orang tua Reka seraya menipiskan bibir. Kecut, Eldi tersenyum canggung tatkala yang diberi senyuman tak merespon. Siapa yang bisa tersenyum disaat anaknya akan menjadi janda?


"Ayo, berangkat?" ucap Reka. Melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam mobil. Namun, sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahnya.


"Irwan!" Eldi menggeram, ingin menghajar wajah pria tak tau malu itu. Mengingat carita Reka, membuat naluri bar-barnya meronta. Ingin memberi pelajararan pada pria kasar seperti Irwan. "Untuk apa lo ke sini!"


Menahan tangan Eldi yang sudah membentuk tinju. Reka tatap mata emosi Eldi dengan sorot matanya yang sayu. "Tenanglah." Melangkah melewati Eldi dan mendekati Irwan yang sedang berjalan ke arahnya. Memperhatikan dari kaki hingga wajah. Semakin tak terurus dari sebelumnya. Pakaian kusut dan rambut ikalnya pun rerlihat berantakan.


"Untuk apa ke sini? Seharusnya langsung saja ke pengadilan." Reka berucap tegas. Menahan diri agar tidak memeluk tubuh Irwan.


"Reka ...."


Asli, hati Reka kembali bertingkah. Tadi sudah bisa menguasai diri kini berbalik mempermalukan diri. Ia balas pelukan Irwan dengan mata yang juga sudah berkaca. Melihat Irwan seperti itu membuatnya lupa akan perpisahan. Tangisnya pun pecah dan makin mengeratkan pelukan itu. Sesenggukan dalam dekapan pria yang sudah mentalaknya. Dosakah? Ya Tuhan. Ampuni mereka.


Sementara Eldi yang tadinya siap berperang, menjadi lemah dalam satu tatapan. Kecewa, ya, siapa yang tak kecewa pujaan hati kembali rujuk dengan suami. Dirinya bahkan belum sempat mengutarakan isi hati---rela menjadi pengganti.


"Ibuk, itu ...." Ady melangkahkan kaki diikuti Dewi dari belakang.


Mendekati kedua insan yang sedang meluruhkan segala beban. Ady dan Dewi sedikit risih melihatnya. Menarik paksa tubuh Reka dari dekapan mantan menantu. Ah, ya, sekarang akan menjadi menantu kembali.


"Bukan muhrim," ucap Ady dengan mata menghujam.


Tersenyum, euforia menjadi akhir kegelauan hatinya. Reka kini memaafkan dan menerimanya kembali. Dengan cepat Irwan meraih tangan sang calon mertua. Mencium punggung tangan keriput itu seraya mengucapkan terima kasih yang entah sudah berapa kali. Bahagia, itulah yang mereka rasa.


Tanpa mereka sadari, sesosok mata tua mengawasi dari kejauhan. Tajam, menyiratkan ketidaksukaan. "Dasar bodoh!"

__ADS_1


****


Reka dan Irwan menyusuri kota Jogja yang bertabur bintang di atasnya. Seakan alam semesta merestua rujuknya mereka berdua.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Reka. Menarik tangan yang masih dalam genggaman tangan Irwan.


Bibir yang tak henti terkembang akhirnya mengeluarkan kata, "Malam mingguan." Irwan mengedipkan mata yang langsung merubah warna muka Reka menjadi merona.


"Ish, apaan, sih." Menyentuh pipi yang lagi-lagi menghangat hanya dengan satu kalimat. Reka arahkan pandangan ke luar jendela seraya mengatur degupan di dada. "Mas, kita makan di sana, yuk." Reka menunjuk sebuah tenda yang terpangkal di dekat taman. "Aku mau makan pecal lele."


Tersenyum, Irwan mengiyakan permintaan Reka.


"Kamu tunggu di sini, yah. Mas mau parkir mobil di sana." Irwan berucap dengan kepala sedikit menunduk. Melihat Reka sedang berdiri di tepi jalan, sedangkan dirinya masih di balik kemudi.


"Iya, Mas."


Lagi, sosok mata yang berada di sebuah mobil memancarkan aura kebencian. Arya ternyata mengikuti mereka sadari awal. Ia geram. Menggenggam kuat tongkat kayu yang selalu ia bawa. "Tabrak wanita itu," perintahnya.


Sang supir membeliak sempurna. "Apa, Tuan? Tabrak?" Mengulang pertanyaan seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Melirik sang Tuan dari kaca tengah mobil.


"Em." Mengangguk mantap.


Wajah supir itu menjadi kesi seketika itu juga. Dia yang baru bekerja dengan Arya mendadak gemetar. Membalik diri memandang Arya dengan tatapan tak terbaca. "Maaf, Tuan. Saya memang memerlukan pekerjaan. Tapi saya tidak mau jadi pembunuh dan berakhir dipenjara." Si supir muda beralis menyatu itu memantapkan kata. Melepas ID card yang terkalung di lehernya. Tanda pengenal bahwa dia bekerja di Kinara Grup.


"Kamu."


"Saya permisi, Tuan." Membuka pintu mobil dan meninggalkan Arya sendirian di sana.


Menggetatkan rahang, Arya menjadi lebih murka. Ia beranjak dari kursi penumpang dan beralih di balik kemudi. Menggenggam kuat setir mobil dan berniat malancarkan aksi jahatnya. "Dasar penyihir."


***

__ADS_1


Hayo. Kencengin vote nya. Heheheh


__ADS_2