Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
benih


__ADS_3

Semakin lama langkah itu semakin dekat. Dup dup, dup dup. Reka bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keringat makin mengucur deras, jemari mati rasa sedangkan hati tak henti mengucapkan doa.


Irwan pun tiba. Tanpa menyibak, tanpa membentak, ia berdiri tepat di dekat tubuh Reka yang hanya kelihatan pucuk kepalanya saja.


"Ini, pakailah! Jam setengah delapan malam nanti ikut aku ke suatu tempat." Irwan berkata dengan suara rendah yang khas. Suara yang mampu membuat jantung Reka seakan terjun bebas, menukik dari angkasa. Setelah beberapa saat, Irwan pun melangkahkan kakinya. Meninggalkan Reka yang masih menggulung diri dalam selimut.


Merasa sudah cukup aman, barulah Reka memberanikan diri membuka balutannya. Ia embuskan napas dengan perlahan. Reka lega dan membetulkan posisi, duduk memandangi dua bag paper yang diletakkan Irwan di atas nakas.


"Apa ini?" Meraih tas kertas itu dan membuka isinya.


"Gaun ... untuk apa?" Reka bergumam heran, mengingat begitu banyak pakaian yang memenuhi salah satu ruangan di dalam kamarnya yang besar.


Reka lihat dan belai baju yang ia pegang. Lembut, menenggelamkan baju itu ke wajah, menghirupnya dalam-dalam, terlena sesaat dengan kain yang pasti harganya lebih besar dari gajinya mengajar selama satu bulan. Tak lama, Reka tersadar. Kemewahan tak menjamin kebahagiaan.


Sungguh, ingin ia pergi dari kehidupan yang baru sehari dimulainya. Akan tetapi, ancaman Irwan bukanlah gertakan belaka. Frustrasi? Ya, Reka merasakan itu. Buntu, tak ada jalan keluar selain tetap tinggal di istana rasa neraka yang Irwan ciptakan.


Reka mengembuskan napas dengan lirih. Terasa ada batu berat menimpa dada. Begitu sesak. "Baiklah, jika aku bersikap patuh, mungkin dia tidak akan menyakitiku." Reka menata hati. "Aku harus mencoba menerima takdir, entah buruk atau baik, akan aku jalani dengan sepenuh hati," gumamnya kemudian.


Reka kembali meraih bag paper satunya. Berisi sebuah kotak berpita merah. Mata Reka membelalak sempurna ketika melihat yang ada di dalamnya.


"Heels, bagaimana aku bisa menggunakan ini?" Reka kembali memucat. Kekhawatiran menyelimuti pikiran ketika melihat sepatu yang lumayan tinggi berwarna gold di tangan. Kening berkerut dan sesekali ia gigit pelan bibir bagian bawah.


Aku mana bisa pake ini ... kalo aku terjatuh bagaimana? Bisa-bisa dia marah. Tapi kalau kutolak, dia pasti murka. Astaga ... aku harus apa?


****


Tibalah waktu yang ditentukan Irwan.

__ADS_1


Setelah selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat. Reka duduk di depan cermin. Menatap tampilannya yang terlihat mengerikan, kantung mata yang menghitam dan bibir yang kering, mengelupas. Reka buka kotak make up yang sudah tersedia di meja. Memoles sedikit wajahnya yang pucat dengan riasan natural. Lipstik berwarna merah muda ia bubuhkan di bibirnya yang tipis. Baiklah Reka, semua akan baik-baik saja, batin Reka seraya tersenyum getir.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Reka. Ia beranjak dari tempat duduk kemudian berjalan perlahan untuk membukanya. "Siー" Reka terlonjak, tak bisa menyelesaikan lisan.


Ya, dia adalah Irwan. Orang yang mengetuk pintu kamarnya. Sosok pria gagah nan tegap. Wajah putih bersih dengan rahang tegas dan hidung yang mancung. Begitu sempurna ciptaan Tuhan. Apalagi dengan setelan jas yang ia kenakan, memperjelas betapa berwibawanya seorang Irwan Syahputra.


Untuk sesaat Reka terlena, dengan cepat menelan ludah agar tidak terlihat jelas kalau dirinya terpesona pada Irwan, si raja iblis yang tengah berdiri di hadapannya. "Ekhem ...." Reka berdehem, mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba memeluknya, erat.


Sementara tanpa Reka sadari, Irwan pun sedikit terpana dengan penampilannya yang terlihat anggun. Berbalut dress brokat selutut berwarna nude, berlengan pendek dan ada pita di bagian leher. Cantik .... Irwan terpukau. Namun, harga diri dan kesombongan yang telah mendarah daging menghalanginya untuk menerima kenyataan kalau sang istri memang sempurna.


"Sudah siap?" tanya Irwan, membuyarkan atmoster aneh yang tercipta diantara mereka.


Reka mengangguk pelan, lalu kembali menunduk. Walaupun terlihat tampan tapi tetap saja mata Irwan masih mengeluarkan tatapan tajam. Reka tak ingin memulai perkelahian.


Irwan membalik badan. Melihat gelagat jalan Reka yang aneh. "Kamu kenapa? Gak bisa pake heels?" tanyanya dengan tatapan sinis. Nada suaranya jelas sedang mengejek Reka.


Reka tertegun. Wajahnya kembali pasi. Ia pun mengangguk dalam, tak berani menjawab atau sekedar menatap mata Irwan.


Irwan mendengkus kesal. Ia dekati Reka dan menarik tangan Reka untuk disilangkan ke lengannya. Reka kembali kaku, kesulitan menelan saliva. Dengan memberanikan diri, ia tatap manik mata tajam Irwan. Sekilas, terlihat ada kehangatan di sana.


"Kampungan! Peganglah! Kalau kamu sampai jatuh, aku juga yang malu," cerca Irwan secara gamblang yang tentu saja melukai perasaan siapa saja yang menerimanya.


Reka menghela napas. Malu juga sakit hati atas hinaan yang keluar dari mulut jahat Irwan. Dengan langkah perlahan tapi pasti, ia ikuti langkah Irwan. Lumayan nyaman karena bisa bertumpu pada lengan Irwan yang berotot. Lagi-lagi perasaan aneh merasuki Reka. Stop Reka! jangan mikir yang bukan-bukan!


Di mobil.

__ADS_1


Hawa dingin menyeruak, memenuhi sudut kendaraan yang mereka gunakan. Setiap berdekatan dengan Irwan membuat Reka membayangkan yang tidak-tidak. Selalu teringat akan perilaku kasar Irwan ketika mereka bersama.


"Kau sudah makan malam?"


Reka tersentak, mendapat pertanyaan dari Irwan membuat pikirannya mendadak kosong. Hanya anggukan pelanlah yang menjadi respon atas pertanyaan pria itu.


Keduanya kembali terdiam. Hanya suara pelan radio yang menengahi keheningan di antara mereka.


Dalam kebisuan, Reka berpikir keras atas perilaku Irwan yang tidak terduga. Kenapa dia semalam ke kemar dan menciumku? Mungkinkah dia mencintaiku? Tidak! Dengan cepat ia usir pemikiran unfaedah yang muncul entah dari mana. Stop Reka, jangan berpikir yang aneh-aneh. Dia ini monster. Lagian, pria tidak akan pernah melukai dan mengancam orang yang dia suka. Kamu tidak ingat atas perilakunya kepadamu selama ini. Reka kembali menarik napas panjang.


"Kanapa? Apa yang sedang kau pikirkan?"


Terdengar kembali suara rendah Irwan yang seperti sengatan petir. Reka gugup, mematung untuk beberapa detik, kemudian menggelang dengan pelan.


"Kamu punya mulut, 'kan! Kenapa tidak bicara!" Suara itu kembali naik satu oktaf, membuat Reka mendapat sensasi senam jantung dadakan. Keberanian menciut, Irwan memang fokus menyetir. Namun, suara tinggi Irwan mengisyaratkan kalau pria itu sedang memarahi dirinya. Membuat tubuh Reka mendadak kaku, lidahnya juga terasa kelu. Terdengar suara samar keluar dari bibir tipisnya yang bergetar. "T-tidak ada apa-apa, T-tuan," jawab Reka terbata-bata. Ia lirik sekilas wajah Irwan, senyum devil masih setia di wajah orientalnya.


"Hahahah ...." Suara tawa Irwan hambar, menggelagar, memojokkan Reka yang sudah tersudut. "Kenapa pakai 'Tuan'? Kau ingin mengumumkan pada semua orang kalau aku telah memaksamu untuk menikahiku, iya!"


Reka terdiam, hanya keringatlah yang keluar dari pori-pori telapak tangan. Ia meremas-remas jemarinya yang terasa mati rasa.


"Panggil aku,Mas. Ingat itu!" perintah Irwan mutlak.


Setengah jam sudah berlalu. Tibalah mereka di sebuah mansion megah. Irwan parkirkan mobil mewahnya di halaman yang sudah terparkir banyak mobil indah nan mahal di sana.


"Ini adalah acara reuni sekolahku. Jadi jangan buat ulah dan jangan bikin malu. Kau cukup tersenyum, jangan bicara. Paham!" Reka kembali mengangguk. Irwan pun membuka sabuk pengamannya dan berjalan membukakan pintu mobil untuk Reka.


****

__ADS_1


__ADS_2