BISU

BISU
#10


__ADS_3

...Episode 10...


Aku mulai takut, mencoba mengelak dan ingin berlari, tapi tidak bisa. Menangis hanya mengeluarkan air mata, suaraku tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara Kak Dini.


"Hani... Hani... Hani dimana?" Teriak Kak Dini.


Wanita itu kemudian melepaskan tangannya dan berlari. Aku masih menangis di kursi taman, masih gemetaran, tak lama Kak Dini melihatku dan menghampiri.


"Hani kenapa?" Wajah Kak Dini terlihat panik.


Aku hanya menangis, kemudian Kak Dini menggendongku masuk ke dalam mobil. Memeluk sambil menenangkan aku, pelan-pelan Kak Dini bertanya, "Hani kenapa keluar dari mobil?"


"Tadi ada wanita yang melambai dan ditangannya ada permen, aku mendekat, kemudian wanita itu memaksa dan menarik tanganku, pergi bersamanya," tulis ku dibuku.


Kak Dini terlihat sangat khawatir, berkata, "Maafin kak Dini meninggalkan Hani sendirian. Lain kali jangan mau di ajak orang yang tidak di kenal ya...."


Aku hanya mengangguk, Kak Dini memberikanku permen. "Kita berangkat ke panti, oke?" ucap Kak Dini. Tersenyum dan terlihat sangat bersemangat.


Kami melanjutkan perjalanan, Kak Dini yang fokus menyetir dan aku yang fokus makan permen. Selama di perjalanan Kak Dini selalu menasehati tentang jaga jarak dengan orang asing.


Sesampainya di panti, seperti biasa kami membagi-bagikan makanan dan minuman untuk anak panti. Melihat begitu ramainya anak panti yang menghampiri, aku tak melihat Erik.


Aku pergi menemui ibu panti dan bertanya dimana Erik, Ibu panti menjawab bahwa Erik sudah pergi di adopsi keluarga lain. Mendengar perkataan Ibu panti, aku tidak paham apa itu adopsi.


Ibu panti mengatakan, "Erik sudah pindah dengan keluarganya."


"Pindah kemana?" tulis ku.

__ADS_1


"Pindah ke luar negeri, Oiya... Erik menitipkan ini untuk Hani," Ibu panti memberikanku surat dari Erik.


Aku pergi ke taman yang pernah aku kunjungi dengan Erik, duduk di kursi, dan membaca surat itu. "Maaf Hani, aku harus pergi dengan keluarga baruku, suatu saat pasti aku akan kembali." Hanya itu yang ditulis Erik.


Aku merasa sangat kehilangan, karena untukku Erik adalah teman terdekatku. Niatku yang ingin melukis bersama Erik tak bisa ku wujudkan hari ini.


Padahal aku ingin menghadiahkan lukisan itu untuknya. "Jangan sedih Hani, Erik kan janji nanti akan kesini lagi," ucap Kak Dini yang di belakangku.


Aku menengok ke arahnya, meminta Kak Dini menggendongku. "Cup cup cup, kita doakan saja Erik bisa sukses di sana, Hani jangan sedih kan masih ada anak-anak panti lainnya yang bisa di ajak main," ucap Kak Dini.


Singkat cerita mulai hari itu, aku selalu menunggu kepulangan Erik. Setiap minggu datang ke panti dan bermain dengan anak-anak panti lainnya. Terkadang aku melukis di sana, ada 1 lukisan wajah Erik.


Lukisan itu aku titipkan dengan ibu panti, dan memintanya memberikan kepada Erik jika suatu saat pulang ke sini.


Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Aku sedikit canggung dan gelisah. Tak ada satupun anak yang aku kenal di sekolah itu. Jalan masuk ke dalam sekolah di temani Ayah dan Kak Dini.


Hari pertamaku sekolah masih terasa sangat membosankan, karena aku tak mengenal anak-anak lainnya. Tapi ada yang membuatku sedih, saat maju ke depan disuruh memperkenalkan diri.


Di depan kelas aku melihat ada anak yang sibuk dengan mainannya, ada yang sibuk berlari-lari, bahkan ada yang diam saja. Kebanyakan di kelas itu anak-anak normal bukan anak-anak kebutuhan khusus sepertiku.


Aku diam di depan, Ada anak yang berteriak, "Siapa namamu, masa diam aja!" Anak itu tertawa.


Bu guru berbicara di sampingku, "Namanya Hani, Sayang. Hani ada kendala pada suaranya, Hani akan menulis semua yang ia akan bicarakan, Oke."


"Oh... enggak bisa ngomong ya, Bu?" ucap temannya itu.


"Oh... bisu!" teriak anak lainnya.

__ADS_1


Mendengar suara anak itu, seketika anak-anak lainnya tertawa. Aku di bully, Aku merasa sangat marah, dan membenci anak-anak itu. tapi, aku melihat ada yang hanya diam dan menatapku dengan senyuman.


Senyumnya terlihat bukan menghinaku. "Tenang jangan tertawa, Hani teman kita, dan enggak boleh berkata seperti itu," ucap Bu Guru.


Semua anak di kelas seketika diam mendengar perkataan Bu Guru. Aku duduk disebelah anak yang tersenyum tadi. "Salam kenal, aku Hani," tulisanku untuk anak itu.


"Aku Tirta." Tirta mengajakku berjabat tangan.


Sejak saat itu, aku selalu bermain dengan Tirta. Tirta adalah temanku yang paling galak di kelas, semua takut dengannya. Ada suatu kejadian dimana aku benar-benar merasa sangat lemah dan terkucilkan.


Waktu itu... aku berjalan menuju kelas, sampailah aku dan perlahan masuk. Aku melihat kelas sudah penuh kecuali Tirta. Tirta yang pada saat itu terlambat. Aku berjalan menuju kursi, semua anak teriak-teriak, "Bisu... Bisu... Bisu!"


Kepalaku hany menunduk, berjalan melewati anak-anak yang berada di sampingku. Hatiku sangat hancur, emosiku memuncak, air mata yang tak bisa ku bendung lagi. Jika aku melawan mereka akan semakin senang, "Diam semua!" Terdengar suara bentakan itu dari arah pintu.


Ternyata Tirta yang berteriak. Kelas menjadi hening, semua anak yang ada di kelas diam dan duduk di bangkunya masing-masing. Terlihat Tirta yang matanya melotot ke arah anak-anak lainnya.


Aku yang sebelumnya tidak banyak mengenal orang, tidak ada yang membenciku, bahkan sekalipun belum ada yang mengatakan kalimat kasar yang mengatakan aku bisu, sekarang harus menghadapi ini semua.


Saat Tirta tidak masuk sekolah aku selalu dihina oleh teman-teman yang lain. Mereka teriak-teriak mengatakan aku bisu, perlakuan mereka membuatku merasa tidak ingin sekolah lagi. Sedih, hancur, dan marah bercampur aduk.


Aku hanya bisa menangis saat mereka melontarkan kata-kata kasar kepadaku. "Ayah apa ini sekolah?" ucapku di dalam hati.


Semenjak aku sekolah, ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya, jarang sekali di rumah. Sesekali hanya menelpon, menanyakan kabarku. Hanya kepada nenek dan kak Dini aku bercerita. Peraturan sekolah yang tidak memperbolehkan wali murid ikut masuk, jadi kak Dini hanya bisa menunggu di luar sekolah.


Tidak bisa melindungi, dan membelaku. "Kalau ada yang nakal di dalam langsung banting aja," pesan kak Dini. Ramainya anak yang menghinaku justru membuatku takut dan bingung.


Jangankan melawan, bergerak sedikit saja mereka justru lebih kompak mengeroyok. Dihari itu, saat pulang sekolah, aku bercerita dengan Kak Dini, tentang perlakuan anak-anak di kelas. Terlihat dari wajahnya, Kak Dini benar-benar marah.

__ADS_1


__ADS_2