BISU

BISU
#26 ~Hidup Seperti Diasingkan~


__ADS_3

...~Hidup Seperti Diasingkan~...


Kehidupan baruku dimulai, semua kenangan buruk dimasa lalu ingin ku lupakan, menjalani hidup ini dengan tenang bersama nenek. Soal saham ayah, jika ada kesempatan kami akan mengambilnya kembali, jika memang harus hilang dan menjadi milik mereka, kami pun mencoba untuk mengikhlaskannya.


Aku memang membenci mereka dan ingin sekali membalas dendam, tapi jika aku terus larut dalam kesedihan dan emosi hidupku akan tambah terbebani, sekarang aku harus berfikir untuk hidupku ke depan bersama nenek. Bayangkan saja hidup penuh kebencian, pasti aku akan terfokus dengan mereka dan menghilangkan semua keindahan yang harusnya ku dapatkan di masa depan.


Cukup melihat senyum Nenek yang penuh kebahagian, sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin melihat Nenek sedih, sakit, apalagi menghilang dari hidupku, hanya dia satu-satunya keluarga yang ku miliki, meski ada Kak Dini. Hidup seperti diasingkan tak masalah bagiku, yang penting masih bersama Nenek.


Hari pertama di rumah ini ku habiskan waktu bermain dan menikmati indahnya alam di sekitar rumah bersama Kak Dini, dan Nenek. Hari mulai gelap, Kak Andri datang untuk menjemput Kak Dini. Sebelum mereka pulang, Kak Andri berkata denganku, "Hani, kita harus menunggu waktu yang pas untuk mengambil kembali perusahaan, Akan ku kumpulkan semua barang bukti, dan kita bisa mengambil alih perusahaan."


Aku hanya mengangguk. Perbuatan yang paling tidak bisa ku maafkan dari mereka adalah berani mencelakakan ayah. Harta bagiku sudah tak masalah. Aku hanya ingin mereka mendapat hukuman dari perbuatan mereka yang berani mencelakakan orang yang paling berharga bagiku.


"Hani Kakak pulang dulu ya, besok kesini lagi boleh kan?" ucap Kak Dini.


"Pasti boleh dong," jawab Nenek.


Aku memeluk Kak Dini, kemudian berkata dengan isyarat, "Aku ingin melihat bayi darimu."


Kak Dini terlihat malu-malu, menjawab, "Doakan saja ya Hani haha...."


Nenek berkata, "Amin...."


Kak Dini dan Kak Andri akhirnya pergi, hanya tinggal aku dan Nenek. "Hani, kita makan malam dulu tadi nenek sudah masak," ucap Nenek.

__ADS_1


"Ih Nenek, aku enggak diajak memasak juga," ucapku dengan isyarat.


"Tadi nenek mau memanggil, tapi lihat Hani dan Dini sedang asik mandi-mandian di laut, nenek gak tega mau ngajak kalian ikut masak," jawab Nenek sambil tersenyum.


Kebetulan ruang makan berada pas di depan pantai, dinding yang terbuat dari kaca menjadikan aku bisa makan sambil menikmati keindahan laut. Kami makan bersama, walaupun pemandangan yang memanjakan mata, tapi rumah ini terasa sangat sepi sekali, hanya ada suara angin dan gemericik air.


Setelah hari itu, aku sibuk melukis. Meski lukisanku belum bisa ku pamerkan sendiri, belum bisa menghasilkan uang seperti dulu, tapi aku tak menyerah, karena melukis adalah nyawaku yang kedua. Tangan yang sudah mulai kaku karena lama tak melukis, sekarang mulai lemas kembali.


Waktu itu aku duduk di depan pantai, melukis semua yang ku lihat di hadapanku. Gunung, air laut yang begitu biru, ranting pohon, semuanya ku tuangkan dalam bentuk gambar. Di hari itu sudah hampir 6 bulan aku tinggal di rumah ini. Kami hidup hanya mengandalkan uang dari penjualan rumah.


Jika terus-terusan begini, uang itu akan habis. Sedangkan, kami harus bertahan hidup disini. "Nek selain melukis aku akan mencoba mencari kerja dan mendapatkan uang," ucapku dengan isyarat.


"Jangan, biar Nenek saja yang bekerja."


Nenek kemudian mengangguk, berkata, "Jika Hani sudah dapat pekerjaan, hati-hati saat bekerja, kamu ini cantik, Nenek takut kamu dilecehkan orang."


"Santai aja Nek, jika ada orang yang berani melecehkan, aku banting." Aku memeluk Nenek.


Sejak aku kecil ternyata ayah sudah paham tentang ini, ayah berharap aku harus bisa melindungi diriku sendiri sehingga mengirim Kak Dini untuk melatih beladiri. Selain itu alasan Ayah dulu mengizinkanku melukis, mungkin karena ayah tau, bakat terbesarku adalah melukis, dengan melukis diharapkan aku bisa mendapatkan uang dan bisa menghidupi diriku sendiri.


Ayah juga membekali aku dengan ilmu dan pengalaman tentang bisnis. Semua sudah dirancang dan direncanakan ayah, semuanya dilakukan untuk mengantisipasi seandainya ayah sudah tidak bisa menemani aku dan nenek.


Nenek yang menemaniku melukis, masuk kedalam rumah. Tiba-tiba terasa pelukan dari belakang, aku menengok dan melihat, ternyata Kak Dini. Kak Andri juga ikut ternyata. "Wow... indah sekali lukisannya," ucap Kak Dini sambil memelukku.

__ADS_1


Sudah 2 minggu ini mereka tidak datang, aku dengar dari Nenek, selama 2 minggu ini mereka melakukan program kehamilan. Mereka sudah kembali, aku penasaran, kemudian bertanya dengan isyarat, "Bagaimana hasilnya?"


Kak Dini tersenyum, melepas pelukannya kemudian mengelus perutnya, berkata, "Berhasil."


Mendengar itu, aku merasa sangat bahagia. Sebentar lagi, aku memiliki keponakan. Aku memeluk Kak Dini. Selain ingin memberitahukan kabar gembira ini, Kak Dini dan Kak Andri juga ingin memberikan informasi terkait situasi di kantor.


"Semua sudah kak Andri pantau, sangat sulit untuk bisa merekam pembicaraan Pak Roy dengan rekan-rekannya, dari apa yang kakak lihat tentang data keuangan kantor, petinggi perusahaan saling menjatuhkan satu sama lain. mereka saling ingin merebutkan dan bisa menguasai perusahaan. Di tambah Pak Roy yang sering menggelapkan uang perusahaan."


Aku sangat heran dengan mereka, apa yang mereka rebutkan, padahal mereka tak punya hak sama sekali. Mendengar tentang penggelapan uang yang dilakukan Pak Roy, aku sangat marah sebenarnya, memang benar sekarang dia adalah pemegang perusahaan tapi apa yang dia lakukan merugikan karyawan lain.


Kak Andri melanjutkan, "Pak Roy melakukan pengurangan gaji karyawan dengan alasan yang tidak masuk akal, jika ada yang melawan dan tak patuh dengannya, akan dipecat."


Aku menulis, "Kita belum bisa melakukan apapun, Jadi yang kita bisa hanya menunggu, sampai semua bukti sudah cukup."


"Iya benar, kakak akan berusaha sekeras mungkin agar bisa mendapatkan bukti yang cukup dan perusahaan bisa kembali ke tangan Hani," ucap Kak Andri.


Aku menulis lagi, "Bagaimana dengan keberadaan ayah?"


"Orang yang kaka tugaskan mencari keberadaan Pak Hendri masih mencari, sampai sekarang belum ada informasi pasti tentang keberadaan Pak Hendri," jawab Kak Andri.


"Aku heran kenapa orang yang memegang surat wasiat bisa menghilang," ucap Kak Dini.


"Sepertinya, hilangnya orang yang memegang surat wasiat itu ada kaitannya dengan Pak Roy. Oiya... nama orang yang memegang surat wasiat itu adalah, Rio. Usianya 35 tahun, bekerja dengan ayahmu belum lama, tapi sudah mendapat kepercayaan sebagai tim ahli hukum perusahaan. Orang ini memang sangat cerdas, tak ada pekerjaan yang tidak diselesaikan. Tapi setau kaka, Rio sangat setia dengan Pak Hendri," ucap Kak Andri.

__ADS_1


"Namanya juga orang yang, sapa tau Pak Roy menyuapnya dengan uang yang sangat banyak untuk melakukan apa yang Pak Roy mau," jawab Kak Dini.


__ADS_2