
...~Hari Pertama Bekerja Sebagai Pelayan~...
"Maaf, pasien masih dalam kondisi drop. Tapi operasinya berhasil," ucap Dokter itu kemudian tersenyum.
Aku sudah sangat khawatir mendengar kata maaf dari Dokter, seketika kaki dan tubuh lemas, duduk di kursi tunggu, sangat bersyukur atas operasi yang berhasil. "Alhamdulillah," ucap Kak Dini.
Kami menunggu Nenek dipindahkan ke ruang perawatan, operasi yang dijalani Nenek sebenarnya sangat beresiko, dan tingkat keberhasilannya sangat rendah. Nenek di pindahkan ke ruang ICU. Aku dan Kak Dini hanya bisa melihat secara bergantian.
Tidak lama kemudian Kak Andri datang, menanyakan kondisi Nenek. Kak Andri tidak diperbolehkan masuk oleh perawat, mungkin supaya ruangan tetap steril. Di samping Nenek yang sedang berbaring.
Aku memikirkan bagaimana cara membayar biaya perawatannya, sedangkan semua uang yang kami punya sudah untuk membiayai operasi. Sedangkan aku tidak tau sampai kapan Nenek akan siuman, Hal yang sangat sulit jika, aku meminjam uang dengan Kak Dini.
Meski Kak Dini akan mengusahakan, tapi aku tau berapa gajih yang diterima Kak Andri. Jumlah gajinya memang besar, tapi kebutuhan mereka juga besar. Terlintas di pikiranku pekerjaan yang kemarin aku terima, upahnya mungkin tidak banyak tapi sepertinya bisa sedikit meringankan.
Di luar ruangan Kak Dini memanggilku, Aku keluar dan menghampirinya, "Hani jangan khawatir tentang biaya perawatan Nenek, Kak Andri dan Kak Dini akan membantu, doakan Nenek cepat siuman dan sehat kembali," ucap Kak Dini.
"Kak, aku sudah diterima kerja di restauran sebagai pelayan, uang upahku mungkin tidak cukup untuk menutupi biaya perawatan Nenek. Di samping itu aku tidak mau merepotkan Kak Dini, Bagaimana kalau aku pinjam saja uang Kak Dini, nanti kalau aku sudah ada uang, aku akan kembalikan," jawabku dengan isyarat.
"Ngomong apa kamu ini! Kakak dan Kak Andri sudah banyak dibantu oleh keluarga ini, sudah tanggung jawab kami membantu Hani!" Mata Kak Dini melotot terlihat sangat marah denganku.
Aku sedikit lega karena sudah dibantu oleh Kak Dini, tapi aku harus tetap bekerja untuk mendapatkan uang. "Boleh aku minta sesuatu?" tanyaku kepada Kak Dini.
"Apa?"
"Selama aku bekerja, Kak Dini bisa enggak menjaga Nenek?" tanyaku dengan isyarat.
__ADS_1
"Bisa, Hani. Selama Nenek belum siuman, Kak Dini akan tinggal bersama Hani," ucap Kak Dini.
"Iya, untuk sementara biar Kak Dini tinggal bersama Hani. Kak Andri nanti sering-sering kesini untuk menjenguk kalian semua," ucap Kak Andri.
Malam ini aku dan Kak Dini menjaga Nenek sedangkan Kak Andri, pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, Kak Dini dan aku kembali ke rumah. Aku segera bersiap-siap untuk berangkat kerja, hari ini adalah hari pertamaku bekerja, merasa gugup karena sebelumnya aku belum pernah menjadi pelayan.
"Yakin kamu mau bekerja sebagai pelayan?" tanya Kak Dini.
Aku mengangguk, "Yasudah, semangat kerjanya. Jangan dengarkan perkataan buruk dari orang lain, banting saja jika ada pria yang berani melecehkan Mu," kata Kak Dini.
Kemudian Kak Dini juga membereskan semua barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Semua suah siap, kami berangkat, Kak Dini mengantarkan aku ke restauran tempatku bekerja, setelah itu kembali ke rumah sakit menjaga nenek.
Ketika baru sampai di depan pintu masuk aku sudah di sambut baik dengan Bos, "Pagi, Hani. Sudah siap kan bekerja hari ini?" ucap Bos.
Saat Bos yang langsung memberikan pengarahan, karyawan lain melihatku seperti heran, dan ada yang melihat sinis seperti tak suka. Aku tidak peduli dengan sikap mereka. Ada juga yang baik denganku. Kami berkenalan, namanya Elma.
Elma memperingati ku untuk lebih berhati-hati dengan bekerja di sini. Aku tidak paham dengan perkataannya, saat aku bertanya apa yang harus aku khawatirkan bekerja disini, Elma tidak mau menjawab. Pelanggan pertama mulai datang, aku mulai melayaninya.
Membawakan makanan dan minuman yang ia pesan, tanganku masih sangat kaku membawa piring, saat menaruh makanan di meja pengunjung itu berkata, "Mbak baru ya?"
Aku mengangguk, kemudian ia bertanya lagi, "Suara Mbak kenapa, kok hanya mengangguk?"
Aku mengambil buku yang ada di kantung celana kemudian menulis, "Maaf saya tidak bisa bicara."
Kemudian pengunjung itu berkata, "Maaf, Mbak. Saya enggak tau kalau Mbak ada gangguan di suaranya. Semangat ya Mbak." Pengunjung tersenyum denganku dan memberikan uang tips.
__ADS_1
Aku menolak pemberiannya, tapi pengunjung itu tetap memaksa agar aku mau mengambilnya. Akhirnya aku menerima uang pemberian itu dan menulis "Terimakasih."
Aku kembali ke dapur. Sungguh orang yang sangat baik hati, "Lihat karyawan kesayangan Bos, sok cantik banget," ucap salah satu karyawan wanita di sebelahku.
Elma mendekat dan berkata, "Jangan dengarkan perkataannya, kelakuannya memang seperti itu."
Aku menulis dalam buku, "Oke." Elma mengacungkan jempolnya berkata, "Sip."
Pengunjung berikutnya datang, kali ini tidak hanya 1 pengunjung tapi ada 5 orang yang datang bersamaan. Pengunjung itu memesan sangat bnyak makanan dan minuman, aku harus bersiap-siap membawa pesanan mereka.
Saat pesanan mereka sudah siap, satu per satu ku bawakan ke mejanya. Tanganku terasa sangat pegal karena harus bolak balik membawakan pesanan. Saat semua sudah ku antarkan, pengunjung itu bertanya, "Siapa namanya Mbak?"
Seperti biasa, aku menulis, "Maaf saya bisu, nama saya Hani."
Pengunjung yang bertanya itu kebetulan pria, sepertinya pria ini tertarik dengan wajahku, aku harus menjaga sikap agar tidak dilecehkan. Bergegas pergi kembali ke dapur, para pengunjung itu melihatku dengan heran. "Mbak!" Pria itu memanggil.
Aku pura-pura tidak mendengar dan masuk ke dapur. Sebenarnya Pria itu sangat tampan, sepertinya ia adalah dokter. Duduk di dapur, karyawan yang berkata kasar tadi mendatangiku, kemudian berkata, "Hei Bisu, jangan sombong kamu ya disini, jangan sok kecantikan."
Sebenarnya aku sangat ingin memukul mulutnya itu, tapi demi pekerjaan ini aku harus bersabar. Tiba-tiba datang Bos dan berkata, "Jaga mulutmu!" bentak Bos keada karyawan itu.
Nama karyawan yang berkata kasar denganku adalah Sofi. Kat Elma sih, Sofi ini sudah lama bekerja di restauran ini, ya mungkin merasa iri karena aku selalu dapat perhatian khusus dari Bos, ditambah rasa senioritas Sofi. Singkat cerita, restauran ini dari tadi banyak sekali pengunjung. Tanganku sampai sangat sulit digerakkan karena terlalu pegal.
Aku perhatikan pengunjung Pria yang memanggilku tidak kunjung pergi, padahal teman-temannya sudah pergi semua. Pria itu memesan minuman lagi, aku yang harus mengantarkannya.
Ku taruh minumanny di atas meja, Pria itu memintaku untuk duduk di sampingnya, "Maaf, jangan takut. Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin berkenalan dengan Mbak. Namaku Firo," ucap Pria itu.
__ADS_1