BISU

BISU
#43 ~Hilang Tanpa Jejak~


__ADS_3

...~Hilang Tanpa Jejak~...


Ada rasa berat hati ketika akan pergi dari rumah ini, tapi aku harus kembali kepada nenek. Setelah mandi dan sarapan, aku menulis untuk Ibu,


"Aku benar-benar bingung dengan semua ini, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Apa yang telah kamu lakukan selama ini, jika memang kamu tidak mencelakakan ayah dan mau-maunya berhubungan dengan pak Roy?"


Setelah Ibu membaca semuanya, Ibu menjawab, "Ibu belum bisa menjelaskan semuanya, nanti pasti kamu akan tau semuanya. Saran ibu jangan masuk ke dunia seni lukis dulu sebelum waktu yang ibu maksud tiba."


"Aku membencimu!" tulis ku.


Ibu hanya tersenyum, kemudian memanggil sopirnya. "Tolong antarkan anakku pulang ke rumah neneknya," ucap Ibu kepada sopir.


"Baik, Nyonya."


Pelayan membawakan barang-barang milikku ke dalam mobil. Kata terakhir ibu sebelum aku pergi adalah, "Aku sangat sayang denganmu, Nak."


Aku tidak menghiraukan perkataan itu, masuk kedalam mobil, sopir ku suruh langsung tancap gas. Saat di perjalanan banyak pertanyaan yang ku tulis untuk sopir, tapi sopir hanya menjawab tidak tau.


Sungguh setia orang-orang ibu, bahkan sedikitpun aku tidak mendapat informasi dari orang-orang yang bekerja untuk ibu. Perjalanan masih sangat panjang, aku tertidur.


Sesampainya di rumah, aku langsung mencari Nenek. Aku sangat rindu dengannya, banyak hal yang ingin ku ceritakan kepada Nenek. Masuk kedalam rumah, Nenek langsung memelukku.


"Enggak ada yang terluka kan?" Nenek memegang dan mengecek semua badanku.


Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala. "Apa yang ibumu lakukan kepadamu?"


"Dia tidak melakukan apapun, nanti akan ku ceritakan semuanya," jawabku dengan isyarat.


"Kemarin restauran ramai sekali, Dini dengan Andri sampai membantu," ucap Nenek.


"Terus, Nenek bilang apa dengan Kak Dini soal kepergian ku," ucapku dengan isyarat.

__ADS_1


"Nenek bilang kalau kamu di paksa ikut dengan ibumu tinggal selama sehari. Awalnya Dini dan Andri langsung akan mendatangi rumah ibumu, tapi Nenek bilang jangan."


Aku mengacungkan jempol kepada Nenek. Seandainya kak Andri dan kak Andri datang ke rumah ibu, semuanya akan berantakan. Aku pergi karena untuk melindungi mereka berdua.


Baru di bicarakan, mobil kak Andri datang. Keluar Kak Dini, ia langsung masuk ke dalam rumah. "Hani, kamu enggak papa kan? ucapnya terlihat panik.


"Enggak papa, jangan khawatir," jawabku dengan bahasa isyarat.


"Ngapain aja kamu di sana?" tanya Kak Dini.


Kak Dini, Kak Andri, dan Nenek ku ajak duduk. Aku akan menceritakan semua yang terjadi di rumah ibu. Bercerita dengan bahasa isyarat, Kak Dini menerjemahkan semua kata-kataku agar Kak Andri paham.


"Awalnya aku datang ke sana karena ibu mengancam jika aku tidak ikut, ibu akan membuat Kak Andri di pecat dari perusahaan. Pergi dengan rasa kesal, saat di sana aku diperlakukan sangat baik. Bahkan aku di ajari teknik melukis yang sangat luar biasa. Ibu berkata maaf dan maaf atas kesalahannya."


"Jangan mau di tipu, itu hanya alibinya saja agar kamu mau tinggal bersamanya, " ucap Nenek.


"Seandainya memeng itu tujuan ibu, dengan ancamannya itu aku tidak akan kembali hari ini. Ibu menangis, mengatakan kalau ibu tidak pernah mencelakakan ayah, ibu juga berkata kalau bukan dia yang menghalangi karirku. Saat aku bertanya tentang kuasa hukum ayah yang memegang surat wasiat ibu menjawab kalau tidak usah mencarinya, jika waktunya sudah tepat orang itu akan datang sendiri kepada kita."


Kak Andri terlihat terkejut, "Apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya sambil memegang kepala.


"Dia bilang, melakukan itu semua karena bingung dengan cara apa lagi bisa mengajakku pergi dengannya."


"Kenapa dia pergi ketika kamu masih bayi?" tanya Nenek.


"Aku menanyakan itu, tapi ibu hanya menjawab, nanti jika sudah waktunya kamu akan mengetahui semuanya. Terakhir ibu berkata, aku disuruh menahan diri agar tidak masuk kedalam dunia seni lukis."


"Benar-benar di buat gila aku," ucap Kak Andri.


"Jangankan kamu, aku pun ikut gila memikirkan masalah ini," saut Kak Dini.


Nenek berseru kepadaku, "Jangan pernah percaya dengan orang yang pernah mengkhianati ayahmu!"

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kita membatasi pergerakan mengawasi ibumu, kita fokus kepada pak Roy saja. Ibumu mengetahui setiap pergerakan kita," kata Kak Andri.


Aku mengangguk, wajah Nenek terlihat masih cemas. "Jangan khawatir, Nek. Aku akan selalu bersama Nenek."


Nenek tersenyum dan menjawab, "Iya, nenek enggak khawatir, kok."


Setelah obrolan itu, aku segera mengganti pakaian, seperti biasa aku akan bekerja fi restauran. Kak Dini dan Kak Andri pulang, ternyata kedatangan mereka hanya ingin memastikan kalau aku baik-baik saja.


Restauran sudah buka, sudah banyak pengunjung yang berdatangan. Aku harus banyak berterimakasih dengan kepala koki, karena sudah banyak membantu. Oiya... belum aku kenalkan nama kepala koki di restauran ini, namanya adalah Fandi.


Aku mendatangi pak Fandi, kemudian menulis, " Terimakasih atas bantuannya selama aku tidak bisa masuk, pekerjaan bapak sungguh luar biasa."


"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugas saya," jawab Pak Fandi.


Niatku jika target penjualan tercapai semua akan ku berikan bonus, kerja keras mereka harus aku hargai.


Aku tersenyum, kemudian pergi ke depan menyambut para pengunjung yang datang. Benar kata Nenek, restauran sangat ramai. Pelayan kewalahan mengantarkan makanan, sepertinya aku harus ikut turun tangan.


Kembali ke dapur, aku siap mengantarkan makanan. Salah satu pelayan berkata, "Jangan, Bu. Biar kita saja yang mengantarkan makanan ini, Ibu duduk di ruangan saja."


Aku tetap mengambil makanan, kemudian mengantarkan makanan itu ke pemesan. Setelah mengantarkan makanan, aku menulis untuk pelayan yang baru saja berbicara kepadaku,


"Saya berharap semua bisa saling bekerja sama di sini, tidak hanya memikirkan diri sendiri. Lihat kondisi jika ada yang kesulitan dalam bekerja bantulah. Sepertiku membantu kalian, walau aku adalah atasan kalian."


Pelayan itu menjawab, "Baik Bu, saya akan bekerja lebih keras lagi."


Aku menjawab dengan tulisan, "Bukan kerja kerasmu yang saya nilai, tapi kekompakan kalian yang saya nilai. Sampaikan kata-kataku kepada yang lainnya."


"Siap, Bu," jawab Pelayan sambil tersenyum.


Suara ponselku berbunyi, Kak Andri Video Call. Ku angkat, Kak Andri langsung berkata, "Hani gawat, ibumu pergi entah kemana. Tadi kakak telpon orang suruhan yang mengawasi ibumu untuk pulang, jangan mengawasinya lagi tapi, orang itu malah berkata ibumu pergi entah kemana."

__ADS_1


Ponsel ku taruh sebentar, aku menulis, "Masa iya, orang suruhan kakak enggak tau ibu pergi kemana?"


Setelah membaca tulisanku, Kak Andri menjawab, "Terakhir orang suruhan kakak hanya lihat ibumu pergi bersama dengan kuasa hukum ayahmu, saat dibuntuti mobilnya melaju sangat kencang dan orang suruhan kakak kehilangan jejaknya."


__ADS_2