BISU

BISU
#9


__ADS_3

...Episode 9...


Ayah masuk bersama dengan bawahannya dan membantu Ayah membawakan barang-barang itu. "Lihat Sayang, ayah bawakan banyak peralatan melukis," ucap Ayah. Ayah membuka satu persatu peralatan melukis itu.


Senangnya aku melihat semua peralatan melukis yang di bawa Ayah. Makanan belum habis ku makan, aku berlari ke Ayah dan menciumnya. Terlihat senyum bahagia Ayah.


Ayah menggendongku, Ayah berkata, "Sebentar lagi Hani, sekolah ya, biar ada temen banyak dan enggak bosan di rumah."


"Hendri, apa enggak papa Hani sekolah di sekolah umum?" tanya Nenek.


"Enggak papa Bu, sekolah yang aku pilih juga berstandar internasional, banyak guru-guru ahli di sana. Sekolah ini juga mendidik anak-anak seperti Hani," ucap Ayah.


"Oh yasudah," jawab Nenek.


"Nanti Hani di temani Kak Dini, biar kalau ada yang nakal langsung di tinju sama Kak Dini." Ayah tertawa.


"Mana ada yang berani sama Hani, Hani kan jago karate," ucap Kak Dini.


Aku hanya mengacungkan jempol, tak memperdulikan sekolah, yang aku tau hanya melukis dan melukis. Aku hanya bertanya 1 hal tentang sekolah itu, "Apa aku bisa melukis di sekolah?" tanyaku dengan bahasa isyarat.


"Bisa banget, bahkan di sekolah ada guru melukisnya," jawab Ayah.


"Sini Hani dengan Nenek, biar Ayahmu mandi dulu. Jorok pasti belum mandi," ucap Nenek.


Aku tertawa tanpa mengeluarkan suara, Ayah pun berkata, "Ayah enggak mandi juga wangi, ya kan Sayang?" Ayah melihatku. Aku menutup hidung.


"Jahatnya anak ayah." Ayah mencium-mencium ku.


"Yasudah Ayah mandi dulu," Ayah menurunkan aku dari gendongannya.


Sekertaris ayah kemudian keluar dari rumah, dan aku melanjutkan makan malam. Kak Dini menutup pintu, tapi terlihat senyum dengan sekertaris Ayah.


"Hayo... Dini, kenapa senyum-senyum sendiri," ucap Nenek sambil tertawa-tawa.


"Enggak papa kok Nek hehe," jawab Kak Dini.


"Lihat Kak Dini, Hani. Senyum-senyum sendiri haha," Nenek menertawakan Kak Hani.

__ADS_1


"Ih... Nenek." Kak Dini berlari ke arahku dan mencubit pipiku, "Manisnya..." ucap Kak Dini.


"Sini Din, ikut makan," kata Nenek.


Jawab Kak Dini, "Enggak Nek, aku masih kenyang, Mau ke belakang dulu."


Setelah mandi, Ayah ikut makan malam bersama denganku. Ayah terlihat sangat sibuk dengan hp nya, hp nya berbunyi terus, berbicara tentang pekerjaannya.


Disela-sela makan malam, aku mengatakan dengan bahasa isyarat, meminta izin besok pergi ke panti asuhan dan melukis di sana. Ayah mengizinkanku, karena besok Ayah juga harus pergi ke luar kota.


Aku berniat melukis bersama dengan Erik. Sudah biasa aku di tinggal oleh Ayah pergi ke luar kota untuk urusan kerja. Tapi, tak masalah bagiku karena ada Nenek di sampingku.


Malam ini aku tidur bersama Ayah. Ayah terlihat sangat lelah. Tidur dan memelukku, melihat lukisan di atas dinding bertanya, "Hani, yang melukis?"


Aku mengangguk, Ayah bertanya lagi, "Kalau ayah boleh tau, siapa yang dilukis Hani?"


Aku mengambil buku dan pena di sampingku dan menulis, "Ibu."


Ayah tersenyum denganku kemudian berkata, "Cantik sekali lukisannya, Kita tidur ya. Hani pejamkan mata." Ayah mencium keningku.


Setelah itu aku tidak mengingat apa yang di katakan Ayah. Keesokan harinya, mata yang terpejam terasa sangat menyilaukan. Aku membuka mata ternyata matahari mulai muncul.


Melihat Nenek yang membuka jendela kamarku. Meraba sebelah, ayah sudah tidak ada. "Hani bangun sudah pagi," ucap Nenek.


Aku di bantu duduk, "Dimana ayah, Nek?" aku bertanya dengan bahasa isyarat.


"Setelah subuh, Ayah sudah berangkat ke luar kota," jawab Nenek.


Merasa sedikit marah, aku merasa ayah tidak berpamitan denganku. Mulutku terlihat cemberut dan mataku melotot. "Ayah tadi terburu-buru karena sudah ditunggu teman kerjanya, sebelum berangkat tadi udah pamit sama Hani, mencium Hani juga, " kata Nenek.


Mendengar perkataan Nenek, marahku hilang. Aku berdoa untuk keselamatan ayah saat di perjalanan. "Nek, hari ini kita ke panti asuhan," tulis ku di buku.


Nenek menjawab, "Iya jadi dong, tapi nenek enggak ikut. Nanti ditemani Kak Dini ya...."


Sedikit kecewa karena Nenek tidak ikut, tapi tidak papa, mungkin Nenek sibuk dengan kebunnya. "Sekarang Hani mandi, dan sarapan. Setelah itu baru boleh pergi ke panti," kata Nenek.


Aku beranjak dari kamar, pergi ke dapur untuk mengambil minum. Setelah minum aku mengambil handuk dan pergi mandi. Enggak tau kenapa, hatiku merasa sangat gelisah.

__ADS_1


Selesainya mandi, aku sarapan bersama Nenek dan Kak Dini. "Oiya Din, nanti sebelum berangkat, kamu beli makanan untuk anak-anak panti dulu ya..." ucap Nenek dengan Kak Dini. Nenek membuka dompet memberikan uang kepada Kak Dini.


Kak Dini menjawab, "Iya Nek."


Aku menulis di buku, "Kak, jangan lupa bawa peralatan melukis."


"Siap Bos," Tangan Kak dini hormat denganku.


Kemudian Kak Dini tertawa-tawa, begitu pula Nenek. Aku hanya tersenyum. Setelah sarapan, aku dan Kak Dini mulai memasukkan peralatan melukis ke dalam mobil.


"Din, hati-hati di jalan. Jaga cucu nenek," ucap Nenek.


"Siap Nek," ucap Kak Dini.


Kami berangkat menuju panti asuhan, saat sedang diperjalanan, Kak Dini tiba-tiba berhenti dan menepuk jidatnya sendiri, kemudian berkata, "Kak Dini lupa beli makanan, Sebentar ya Hani, kita mampir dulu ke minimarket."


Aku ditinggal sendirian di dalam mobil. Terlihat ada wanita menggunakan masker melambai-lambai seperti menyuruhku mendekatinya.


Aku keluar dari mobil dan pergi ke arahnya, tak ada rasa takut atau curiga dengan wanita ini, karena membawakan aku bunga dan permen. Aku ingin memakan permennya, itu tujuanku mendatangi wanita ini.


Sampai di dekatnya, wanita itu berkata, "Ikut dengan tante sebentar, nanti tante kasih permen."


Aku di gandeng dan berjalan menuju taman di dekat situ. Taman itu terlihat sangat sepi, dan tidak ada orang yang melintas. Wanita itu duduk di kursi taman, aku juga duduk di kursi itu.


"Kamu cantik sekali, tante boleh mencium mu?" ucap wanita itu.


Aku menganggukkan kepala, wanita itu kemudian mencium dan memelukku. Terlihat air mata keluar dari matanya. Aku menulis di buku, "Kenapa Tante menangis?"


"Melihatmu, tante teringat dengan anak tante yang sudah tidak ada lagi," jawab wanita itu.


"Anak cantik... Namamu siapa?" tanya wanita itu.


Aku menulis, "Hani."


"Hani mau tinggal dengan tante, nanti tante kasih semua apa yang Hani mau." ucapnya sambil memegang tanganku.


Aku menggelengkan kepala. Tiba-tiba wanita itu terlihat sangat seram, tangannya memegang tanganku sangat erat, berkata, "Hani harus mau!" ucapnya dengan nada memaksa dan menarik-narik tanganku.

__ADS_1


__ADS_2