
...~Hari Bahagia Kak Dini~...
Hari ini Ayah sengaja meluangkan waktunya untuk menemaniku. Padahal, aku tau setiap hari Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Selesainya makan, kami pergi ke tempat pohon durian itu berada.
Kagumnya aku, melihat pohon durian yang tidak tinggi, tapi buahnya begitu lebat. Setiap ranting berbuah, ukurannya pun, besar-besar. Kami ditemani petugas kebun, Nenek menyuruh petugas itu untuk memilihkan durian yang jatuh.
Semua buah durian yang ada di pohon sudah diikat, jadi setiap jatuh akan menggantung di pohon. Kak Dini terlihat sudah tak sabar ingin memakannya, "Cepat Pak, ambil. Sudah lama enggak makan durian disini!" ucap Kak Dini.
Petugas kebun mulai memanjat, mengambil semua durian yang sudah jatuh dari rantingnya. Kebetulan jumlahnya cukup banyak. Setelah selesai, Kak Dini langsung berlari mendekati durian itu.
Kami membawa semua durian yang sudah di ambil ke kursi taman, petugas kebun langsung membukakan satu persatu durian. Wanginya sangat menggoda, aku pun sampai menelan air liur. Saat dibuka buahnya berwarna kuning, dan saat di makan dagingnya sangat tebal.
Rasanya benar-benar tidak mengecewakan, manis bercampur sedikit pahit. Kak Dini dan Kak Andri sangat lahap makan durian itu, aku yang memang tidak bisa terlalu banyak makan durian, hanya memakan beberapa potong saja.
Nenek pun sama denganku, bahkan bukan hanya tidak boleh terlalu banyak, harusnya Nenek sudah tidak boleh makan durian lagi. Bukan Nenek namanya kalau menurut, Nenek makan sepotong setelah itu berkata, "Kepala nenek pusing," Aku langsung mengantarkannya ke kamar, dan Ayah mengambil obat Nenek.
Aku mengambil buku menulis, "Nenek, besok-besok jangan makan durian lagi!"
"Nenek enggak bisa nahan kalau durian, tapi iya deh besok enggak makan durian lagi," ucap Nenek.
Aku mengacungkan jempol, baru ini Nenek mau nurut perkataan ku, biasanya kalau dilarang makan durian pasti marah-marah. Setelah minum obat Nenek tertidur. Badanku pun merasa panas, padahal aku baru makan sepotong.
Ayah yang berada di sampingku juga merasa heran, Nenek mau menurut tidak makan durian lagi. "Anak ayah hebat, bisa menaklukan bos di rumah ini haha," ucap Ayah.
Aku tersenyum kemudian menulis di buku, "Yah, badanku terasa panas."
"Waduh... ayo ikut ayah."
__ADS_1
Ayah mengajakku ketempat kami makan durian, di sana aku melihat Kak Dini dan Kak Andri masih lahap memakan durian. "Jangan banyak-banyak makannya, nanti mabuk," ucap Ayah kepada mereka berdua.
"Kita udah kebal, Pak," ucap Kak Andri.
Ayah hanya menggelengkan kepala. Kemudian ayah mengambil kulit durian dan menuangkan air minum dalamnya. Sedikit di goyang-goyang, setelah itu aku disuruh meminumnya.
Merasa jorok meminum itu, aku menolaknya, tapi ayah memaksa. Akhirnya aku meminum air tersebut. "Habiskan," kata Ayah.
Setelah menghabiskan air itu, aku langsung bersendawa. Rasa panas yang aku rasakan di badan seketika hilang, perut juga terasa nyaman. Aku yang heran langsung bertanya dengan ayah lewat tulisan, "Badanku sudah tidak terasa panas, kok bisa, Yah?"
Ayah menjawab, "Bisa dong, itu yang di ajarkan kakek dulu waktu ayah mabuk durian."
Setelah itu terlihat Kak Dini dan Kak Andri terkapar, mabuk durian. Mereka langsung diberikan air minum yang dituangkan ke dalam kulit durian. Sama sepertiku mereka berdua bersendawa sangat keras, dan sembuh.
Setelah hari itu, kami sibuk mempersiapkan acara pernikahan Kak Dini. Tapi, Ayah tidak bisa membantu karena sibuk dengan pekerjaannya. Nenek yang sudah tua, ikut sibuk mempersiapkan acara pernikahan.
Terdengar suara kak Dini memanggilku, biasanya kalau manggilnya seperti itu ada maunya. Aku sengaja diam di kamar, pura-pura tidur. "Hani...."
Terdengar lagi suara Kak Dini, tapi kali ini sambil mengetuk pintu. "Hani...!" bentak Kak Dini.
Nadanya sudah terlihat sangat kesal denganku, aku tetap diam pura-pura tidak mendengarnya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, aku bergegas menutup mata. Aku lupa kalau pintu kamar belum aku kunci.
Kak Dini masuk, berlari langsung melompat di kasurku. "Ayolah bangun, temenin kaka ke Mall yuk."
Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi ku tahan-tahan, tetap memejamkan mata. Kak Dini menarik pipiku, sambil berkata, "Bangun enggak! kakak tau kamu berpura-pura tidur."
Karena sudah tak tahan lagi akhirnya aku membuka mata, membalas menarik rambutnya. Kami berkelahi menggunakan bantal, saat sedang asik berkelahi Nenek masuk, marah-marah denganku dan Kak Dini. "Kalian ini sudah besar, kaya anak kecil aja!"
__ADS_1
Aku menunjuk ke arah Kak Dini, isyarat yang mengatakan Kak Dini yang salah dan mulai duluan. Kak Dini enggak terima berkata, "Mana ada, Hani yang salah, aku masuk langsung dipukul pakai bantal."
Aku yang kesal karena difitnah, langsung memukul lagi dengan bantal, Kak Dini membalas. "Diam!" teriak Nenek.
Kami seketika diam, kali ini Nenek benar-benar marah. "Sini kalian berdua!" ucap Nenek.
Kami berjalan mendekati nenek, dengan wajah menunduk, rambut kami berantakan. Sampai dihadapan Nenek, kami langsung dijewernya, terasa sangat sakit, bahkan Kak Dini pun menjerit kesakitan.
"Kalian sama saja, di Jepang apa setiap hari kelakuan kalian seperti ini?"
Aku menggelengkan kepala, Kak Dini berkata, "Enggak kok, Nek. Kami akur terus."
Akhirnya tangan Nenek lepas juga dari telinga kami, sambil mengelus-elus telinga, aku dan Kak Dini meminta maaf dengan Nenek. Nenek berkata, "Sudah besar jangan berantem-berantem. Kamu juga Din, orang sudah mau menikah masih saja seperti anak kecil."
"Iya Nek, maaf," jawab Kak Dini.
"Sudah, nenek mau kebelakang dulu, awas ya kalau ribut lagi." Kemudian Nenek pergi kebelakang.
Kami hanya bertatapan saja. Tatapan ku sangat tajam sama Kak Dini juga menatap tajam ke arahku. Lama saling menatap, kami berdua malah tertawa terpingkal-pingkal.
Inilah yang membuat kami seperti saudara, dan inilah yang menghiburku saat sedang kesepian. Setelah puas tertawa, aku menangis sambil memeluk Kak Dini. Merasa sangat sedih, orang yang selama ini tinggal bersamaku dan selalu menemaniku sebentar lagi tidak tinggal bersamaku lagi.
Kak Dini ikut menangis, "Hani jangan menangis, kakak ikut sedih," ucap Kak Dini.
Setelah hari itu, tak terasa tibalah hari pernikahan Kak Dini. Hari yang sudah ditunggu-tunggu olehnya. Saat acara berlangsung, aku menahan tangis sekuat yang aku bisa, agar Kak Dini tidak sedih.
Aku tidak mau dihari bahagianya, Kak Dini malah menangis sedih. Kak Dini masuk ke ruang resepsi, wajahnya sangat cantik, ditambah gaun yang digunakan sangat indah. Akad nikah segera dimulai, Kak Andi mulai mengucapkan, "Saya terima nikahnya dan kawinnya Dini alya binti Idris, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
__ADS_1
Semua orang berteriak, "Sah...."