
...~The End~...
"Kenapa dari awal kamu enggak bilang kalai kamu adalah Erik?" tulis ku.
"Enggak papa, aku ingin memberikanmu kejutan." Firo tersenyum.
"JAHAT!" ku tulis dengan tebal.
Firo menggenggam erat tanganku, ia berkata sambil menatap wajahku, "Maukah kamu menikah denganku?"
Mendengar kata-katanya jantungku berdebar kencang. Mungkin ini yang dikatakan cinta yang sebenarnya. Aku tersipu malu, mengangguk.
"Serius?" Wajah Firo terlihat sangat bahagia.
Aku mengangguk lagi kemudian tersenyum kepadanya. Tiba-tiba Firo berteriak, "Alhamdulillah!"
Aku cubit tangannya, "Aduh... kenapa mencubit?"
"Ini rumah sakit jangan berteriak!" tulis ku.
"Cie... cie...." Kak Dini masuk bersama Nenek dan lainnya.
"Cinta cintaannya nanti dulu ya... sekarang kita bahas tentang perusahaan milik ayahmu. Semua aset dan saham sudah dialihkan ke tangan Hani, jadi... Hani sekarang resmi menjadi presdir perusahaan. Selain itu, mengenai Pak Roy, ia sudah ada di dalam tahanan, dengan bukti yang kita punya bisa dipastikan ia bersalah karena sengaja mencelakakan ayah Hany dan membuat dokumen palsu," kata Kak Andri.
Aku melihat Nenek terus meneteskan air mata, Nenek mendekat dan memelukku. "Nenek sayang denganmu, terimakasih telah merawat Nenek."
Entah kenapa mendengar perkataan Nenek, hatiku merasa sangat bahagia. Air mataku ikut menetes, akhirnya perjuanganku selama ini sudah selesai. Bukan hanya Nenek yang menangis, tapi semua orang di situ terlihat sedih.
"Nek, aku ingin pergi ke makam ibu dan ayah," ucapku dengan isyarat.
"Pasti, setelah Hani sudah boleh pulang dari rumah sakit kita pergi ke makam mereka."
"Dimana makam ibu Hani?" tanya Nenek pada kuasa hukum ayah.
"Ada di Belanda. Saya bisa mengantarkan Anda."
Singkat cerita, satu minggu kemudian aku sudah sembuh. Semua ku ajak pergi ke Belanda, kecuali Kak Andri dan Kak Dini. Kak Dini tidak ikut karena masih hamil tua sedangkan Kak Andri harus meng-handle semua urusan kantor. Kak Dini ku angkat menjadi asisten pribadiku. Kak Andri sebagai direktur perusahaan.
__ADS_1
Firo tidak bisa ikut karena pekerjaannya sebagai dokter, kebetulan ada pasien yang harus ditanganinya.
"Cie... yang mau ke Belanda," ucap Kak Dini.
"Cerewet!" Ku jawab dengan isyarat.
"Masih aja galak Bu Bos satu ini."
Semua orang tertawa, "Sudah waktunya kita berangkat," ucap kuasa hukum ayah.
Aku berjalan menggandeng Nenek ke depan, pintu mobil sudah terbuka. Sebelum berangkat, aku memandangi rumah. Rumah peninggalan ayah, banyak sekali kenangan indah di rumah ini.
"Hati-hati di jalan," ucap Kak Dini.
Kak Dini ku peluk dan berkata dengan isyarat, "Terimakasih banyak."
"Tolong jangan menangis mataku...." Tapi tetap saja air mata menetes dari mata Kak Dini.
Aku tersenyum, Nenek tertawa mendengar kata-kata Kak Dini. "Yasudah kamu berangkat." Nenek masuk ke dalam mobil, sebelum aku masuk ke dalam mobil, aku mengelus perut Kak Dini.
"Tante jangan lupa oleh-olehnya," kata Kak Dini.
Aku masuk kedalam mobil, kami berangkat ke bandara. Jika di pikir-pikir sebenarnya aku ini pergi untuk ziarah ke makam ibu, tapi perlakuan Kak Dini seperti aku pergi berlibur saja.
Saat di perjalanan tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan dari Firo alias Erik.
"Jangan lama-lama di Belanda, aku bisa merindukanmu. Saat kamu sudah pulang nanti aku ingin berbicara soal pernikahan kita."
Aku membalas pesannya, "Tunggu aku pulang, jangan ke lain hati!"
Erik membalas lagi, "Oke."
Entah kenapa aku sangat kesal membacanya, panjang lebar aku mengetik hanya di balas oke. Pagi yang cerah aku terbang ke Negeri belanda.
Sesampainya di Belanda, aku langsung mengunjungi makam ibu. Di sana aku bercerita panjang lebar tentang perjuanganku bertahan hidup tanpa seorang ibu, aku meminta maaf karena sudah berprasangka buruk terhadapnya.
Satu pelajaran yang ku dapat, ibu tetaplah ibu. Seburuk apa pun ibu, tetap memiliki naluri sebagai ibu. Berani berkorban hanya untuk anaknya.
__ADS_1
Setelah mengunjungi makam ibu, Aku tidak menyia-nyiakan waktu. Aku dan Nenek memuaskan diri berlibur di Belanda. Banyak tempat-tempat wisata ku kunjungi. Tak lupa membeli banyak oleh-oleh untuk semuanya.
Singkat cerita tak terasa aku sudah 2 minggu di Belanda. Erik setiap malam mengirim pesan agar aku cepat pulang. Semua beban terasa sudah hilang semua. Sebelum aku pulang, aku ingin melukis di samping makam ibu.
Semua alat sudah ku persiapkan, langsung menuju ke makam ibu bersama Nenek. Seandainya ibu masih ada, pasti ia akan menemaniku melukis dan mengajarkan aku tentang banyak hal di dunia seni lukis.
Kali ini aku melukis keluarga lengkap yang hidup bahagia. Matahari mulai tenggelam, lukisanku akhirnya selesai juga. Besok aku akan pulang.
Aku dan Nenek mengemasi semuanya, bergegas pulang ke hotel. Sesampainya di hotel kami mengemasi semua barang-barang. Setelah lelah dengan kegiatan hari ini, aku dan Nenek tidur.
Keesokan paginya, kami langsung berangkat ke bandara. Di dalam pesawat, mataku memandangi indahnya langit dan awan.
Terbesit di pikiranku ingin fokus melukis, biarlah urusan kantor di pegang sepenuhnya oleh Kak Andri. Aku hanya memantau saja. Aku ingin membuka banyak pameran lukisan. Membuat sekolah khusu melukis untuk anak-anak berbakat yang tidak mampu dalam hal ekonomi.
Sesampainya di rumah semua sudah menunggu. Kak Andri, Erik, dan Kak Dini ada di taman rumah.
"Akhirnya pulang juga, " ucap Erik.
"Dingin sekali di sana," kata Nenek.
"Ada yang ingin ku sampaikan," ucapku dengan isyarat. Aku memberikan selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan. Isinya mengenai rencana pembuatan sekolah khusus melukis dan pembukaan pameran setiap kota yang ada di negeri ini.
Kertas itu ku berikan pada Kak Andri. Semuanya di bacakan dengan lantang dan jelas. Setelah Kak Andri selesai membacakannya. Semua kompak menjawab, "Baik Bos."
Setelah itu mereka tertawa bahagia. "Oiya bagaimana tentang pernikahan kita?" tanya Erik.
"Tunda!" ucapku dengan isyarat.
Erik menepuk keningnya, terlihat kecewa. "Aku hanya bercanda, kapanpun itu aku siap," kataku dengan isyarat.
Setelah momen bahagia hari ini, kami mempersiapkan acara pernikahan. Malam ini adalah malam terakhirnya berstatus gadis, besok aku akan melangsungkan pernikahan. Malam yang indah, malam ini aku sangat bahagia karena bisa menceritakan hidupku dengan kalian.
Sekian terimakasih telah menyimak ceritaku.
...----------------...
Hidup bukan tentang seberapa banyak penderitaan atau kebahagiaan yang kita miliki, tapi hidup adalah seberapa kalian menikmati di setiap prosesnya. Satu pesan untuk kita semua, tidak semua manusia dilahirkan sempurna, maka hargailah dan bantulah mereka yang membutuhkan.
__ADS_1
Jangan anggap suatu kekurangan adalah sesuatu kecacatan, karena kita tidak tau masa depan yang kita akan jalani, bisa jadi hidup kita terpuruk setelah menghina orang-orang dengan kebutuhan khusus. ~R.A~
...****************...