BISU

BISU
#18


__ADS_3

...Episode 18...


Ibu yang susah payah ingin menemui anaknya di luar negeri, harus pulang tanpa hasil. Anggapan tentang dirinya yang ingin memanfaatkan karir anaknya bisa jadi benar, bisa jadi salah. Tapi, setelah wanita itu pergi, security juga bilang, "Wanita itu berbicara sambil meneteskan air matanya, Bu."


Aku sangat bingung sebenarnya apa yang dia inginkan, memang tulus ingin bertemu denganku, atau hanya berpura-pura agar mendapat belas kasih. Pergi ke taman untuk menenangkan diri, sambil menikmati secangkir teh hangat.


Kak Dini waktu itu sedang keluar rumah, berbelanja kebutuhan dapur bersama pelayan lainnya. Hari ini aku sedang tidak ingin melukis, aku hanya ingin menikmati udara segar dan pemandangan yang ada di sekitarku.


Aku pikir-pikir, meski ibu berprilaku buruk terhadap keluarganya tapi, ibu tetap ibu yang sudah mengandung dan melahirkan ku. Aku ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan semua masalah, tapi percuma saja hanya suara kecil seperti tikus yang keluar dari mulutku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata, berdoa, dan berusaha untuk lebih tegar. Kak Dini tiba-tiba duduk di sampingku, "Hani kenapa nangis?" tanya Kak Dini.


Aku menulis di buku, "Sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengan ibu."


Wajah Kak Dini terlihat bingung, setelah membaca tulisan itu, diam sejenak, kemudian Kak Dini berkata, "Kak Dini doakan agar Hani bisa bertemu dengannya. Jangan menangis lagi, disini ada kakak yang selalu menemani Hani." Kak Dini memelukku sambil mengusap punggungku.


"Nenek tadi nelpon. Katanya, setelah Hani lulus SMA, kita pulang ke rumah dan Hani diminta menggantikan posisi ayah di beberapa cabang perusahaannya," ucap Kak Dini.


"Masih lama, 1 tahun lagi aku baru lulus," tulis ku.


"Karena masih 1 tahun lagi, Nenek dan ayah ingin mempersiapkan Hani, agar lebih siap dalam mengelola perusahaan. Selain belajar pelajaran sekolah, setahun ini Hani akan difokuskan untuk belajar sebagai Bos perusahaan," kata Kak Dini.

__ADS_1


Mendengar itu sebenarnya aku merasa gugup, bagiku anak yang masih terlalu muda sepertiku apa sudah bisa menjadi CEO perusahaan. Ditambah aku yang kesulitan berkomunikasi, ya meski ada asisten penerjemah pribadi.


Caraku berkomunikasi dengan isyarat dan akan diterjemahkan, caraku berkomunikasi dengan menulis, apa aku akan mendapat wibawa layaknya pemimpin. Disisi lain aku tak mau mengecewakan ayah, ayah yang paling berharga.


Intinya aku akan berusaha selama 1 tahun ini. Pengobatan yang aku jalani disini masih belum memberikan hasil yang diharapkan.


Singkat cerita setelah hari itu, aku menghabiskan 1 tahun, belajar dengan giat, mentor management bisnis selalu datang terus menerus, memberikan pelatihan serta teori menjadi CEO yang baik dan benar.


Terkadang aku dibawa langsung ke cabang perusahaan milik ayah di Jepang, magang di perusahaan itu. Asisten penerjemah sekaligus sekertaris pribadiku adalah Kak Dini.


Aku yang memberikan kebijakan, Kak Dini yang menyampaikan. Sungguh tidak menyangka, Kak Dini yang terlihat lucu saat di rumah, ketika di perusahaan sangat tegas dan berwibawa.


Selain mentor, Kak Dini juga ikut mengajariku caranya memimpin. Aku magang di perusahaan itu selama 6 bulan, dengan semua pemikiran yang ku miliki serta kebijakan yang ku buat, perusaan itu sekarang menjadi perusahaan yang maju.


Sedangkan bagiku, karyawan marketing adalah ujung tombak bagi suatu perusahaan, semakin banyak karyawan marketing yang berkualitas semakin banyak pula barang yang dapat dijualnya.


Masalah itu sudah terselesaikan, keuntungan perusahaan ini naik 100%. Mentor ku bangga dan meluluskan anak didiknya ini. Laporan tentang pekerjaanku sampai ke telinga ayah. Ayah video call, mengatakan bangga terhadap anaknya ini.


Kata ayah, perusahaan itu sebenarnya sudah akan di tutup, karena hasil dari penjualannya sangat minim, bisa dibilang perusaahan ini sudah lama bangkrut.


Di sela-sela waktu bekerja, aku melukis. Di ruangan ku ada tempat khusus yang memang disediakan untuk melukis. Aku sering sekali mendengar banyak karyawan yang mengatai aku di belakang, padahal aku ini atasan mereka.

__ADS_1


Ada karyawan yang sengaja diperintahkan untuk memata-matai kinerja karyawan lain. Banyak yang menggerutu dan mengeluh dengan kebijakan yang ku buat. Mereka jadi tidak bisa bekerja dengan santai, bahkan ada yang sampai mengatakan aku bisu tak pantas memimpin perusahaan.


Bagiku tak ada masalah dengan perkataan mereka, aku tak peduli selagi kinerja mereka masih baik dan melaksanakan semua peraturan yang ku buat. Aku bukan tipe orang yang mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.


Biarkan saja mereka mengatakan aku bisu, biarkan saja mereka mengatakan aku tak pantas memimpin, tapi masalah bagiku jika mereka sudah tidak beres dalam pekerjaannya.


Tak terasa sudah 1 tahun aku memimpin perusahaan, semua sudah sangat berubah, bahkan perusaan yang ku pegang menjadi perusahaan terbaik yang ada di wilayah itu.


Keuntungan yang sangat melimpah, karyawan yang semakin banyak, dan namaku sebagai CEO semakin diakui. Aku sudah menyelesaikan sekolah, mendapat banyak penghargaan melukis, seta dikenal sebagai CEO perusahaan yang hebat.


Semua prestasi ini tak membuatku besar kepala, aku hanya ingin menikmati hidup yang telah Tuhan berikan kepadaku. Hinaan, cacian, sudah sering aku terima, dengan caraku menangis dan sakit hati justru membuatku semakin terpuruk.


Sekarang aku sudah tidak memperdulikan perkataan-perkataan buruk itu, iya mungkin dulu aku masih bisa merasakan sakit hati, sedih, menangis. Mungkin karena kesedihan-kesedihan itulah yang membuat hatiku menjadi kebal.


Lihat akan ku tunjukan kepada orang-orang yang menghinaku, mereka yang harusnya malu, karena sudah diberikan kesempurnaan fisik dan tidak cacat, tapi kalah dengan aku yang bisu ini.


Setelah aku lulus, perusahaan yang ku pegang juga sudah bisa berjalan sendiri dengan pemimpin baru, pemimpin ini adalah orang kepercayaanku. Orang yang sudah lama mengabdi, tapi dulu dikucilkan karena orang ini memiliki kinerja yang baik, ulet, dan sigap.


Selain itu jujur, jika Kak Dini adalah tangan kananku, maka orang ini adalah tangan kiriku. Semua sudah ku percayakan dengannya, jalan tidaknya perusahaan tergantung dirinya.


Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu tiba, hari dimana aku bisa pulang ke rumah. Meski sudah banyak pekerjaan yang menungguku, tapi tak masalah, yang penting bisa berkumpul dengan ayah dan nenek lagi.

__ADS_1


Kak Dini juga akan mempersiapkan pernikahannya dengan kak Andri. Sesuai dengan perkataannya jika aku lulus SMA, kak Dini akan menikah. Aku sangat bahagia melihat kak Dini bahagia karena akan menikah. Tetapi, aku pun merasa sangat sedih, karena setelah menikah kak Dini tidak bisa tinggal bersama denganku lagi.


__ADS_2