
...Episode 16...
Setelah lelah bermain air dengan Kak Dini, aku bergegas mandi. Ayah kemudian pergi menemui sahabatnya yang ada di Tokyo. Sedangkan Kak Dini masih bermesraan dengan Kak Andri.
Selesai mandi, aku hanya berdua dengan Nenek. Menonton TV tiduran di pangkuannya, sambil melepas rindu. Aku bertanya dengan isyarat, "Nek, setelah ini aku tetap disini atau pulang ke rumah?"
Nenek menjawab, "Nenek tidak tau, nanti Hani tanyakan dengan ayah ya...."
"Aku mencari ibu disini, tapi tidak pernah ketemu, Nek," ucapku masih menggunakan isyarat.
"Mungkin ibumu sudah tidak disini lagi, jangan cari dia lagi."
Aku bingung, dulu Nenek mendukungku untuk bertemu ibu, sekarang seperti tak suka aku bertemu dengan ibu. Setelah itu aku hanya diam.
Bosan menonton TV, Nenek ku ajak jalan-jalan ke taman. Melanjutkan lukisan Kak Dini. Begitu senangnya Nenek melihat kebun buah di sana. Nenek masuk ke kebun itu sedangkan aku masih melanjutkan melukis.
Ayah pulang bersama temannya, aku bersalaman dan berkenalan. Orang itu juga asli orang Indonesia. Pekerjaannya adalah sebagai pengacara, beliau juga adalah orang kepercayaan Ayah.
Singkat cerita semua urusan hukum baik di Indonesia atau di Jepang orang ini yang akan mengurusnya. Aku mulai membereskan semua peralatan lukis, menaruhnya di dalam ruangan khusus. Hanya aku yang boleh masuk ruangan ini.
Hari sudah mulai gelap, kamu berkumpul di dalam rumah. Ayah mengajak kami mengadakan pesta kecil-kecilan di taman bunga. Semuanya berkumpul bersama, membakar sosis, daging, dan minum soda bersama.
Justru Kak Dini dan Kak Andri lah yang terlihat sangat menikmati malam ini. Mereka bernyanyi, berdansa, dan tertawa-tawa. Aku berharap hari berikutnya aku selalu mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti malam ini.
__ADS_1
Semua sudah lelah, akhirnya memutuskan untuk istirahat karena besok akan menghadiri acara pameran dan pemberian penghargaan yang akan aku terima dari salah satu tokoh pelukis terkenal di dunia. Aku tidur dengan Nenek. Niatku ingin mengajak ngobrol, ternyata Nenek langsung ngorok. Aku pun, ikut tidur.
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke acara pemeran, suasana rumah sangat ramai. Ayah yang teriak-teriak mencari sepatunya dan marah-marah dengan pelayan, Nenek yang mencari gigi palsunya, Kak Dini yang mencari kekasihnya.
Aku tidak seperti mereka, semua sudah siap hanya tinggal berangkat. Setelah semua sudah siap kami berangkat bersama, saat di perjalanan kami bernyanyi bersama. Kebetulan jarak tempat yang kami tuju tidak jauh dari rumahku.
Sesampainya di sana, ternya sudah sangat ramai pengunjung. Padahal pameran dibuka pukul 08.00 sedangkan sekarang masih pukul 07.30. Aku senang karena banyak yang berantusias datang ke acara ini. Semua lukisanku akan di pajang disini.
Kami keluar dari mobil, tiba-tiba para pengunjung mendekat ke arahku. Memanggil-manggil namaku, aku melambaikan tangan dan tersenyum kepada mereka. Ada juga yang meminta foto bareng, dan meminta tanda tangan. "Cie... Artis..." ucap Kak Dini.
Aku tersenyum ke arah Kak Dini dan melet. Dalam hatiku berkata, "Sirik."
"Anak siapa dulu ini," ucap Ayah mengelus kepalaku.
Karena terlalu banyak, aku disuruh langsung masuk ke dalam ruangan tempat acara akan dimulai. Di sana aku sudah disediakan kursi khusus.
Acara segera dimulai, terlihat di sampingku sudah ada pelukis terkenal yang akan memberikan penghargaan. MC mulai memanggilku, jantungku berdebar kencang saat berdiri dan mendekat ke podium utama.
Berdiri di sana, MC mulai membacakan biografi tentang aku. Semua penonton berteriak memanggil-manggil namaku. Kemudian aku melihat banyak penonton yang meneteskan air mata ketika kata bisa keluar dari mulut MC.
Semua orang terharu, mendengar anak bisu yang mampu, dan bisa berprestasi sangat baik. Entah mengapa aku selalu melihat ayah, mataku pun ikut meneteskan air mata. Karena mu Ayah aku bisa sejauh ini, kasih sayang dan kerja kerasmu yang memberikan aku jalan yang indah.
Penghargaan yang sudah ku terima, ku persembahkan untuk ayah dan nenek. Semua yang ingin ku ucapkan di atas panggung sudah semuanya aku tulis. aku memberikannya kepada MC agar bisa membacakannya.
__ADS_1
"Pertama ku ucapkan terimakasih untuk keluargaku, ayah, nenek, kak Dini, yang sudah menemaniku dan menyayangiku selama ini, terimakasih kepada semua orang yang telah mendukungku. Kedua, penghargaan ini aku berikan kepada ayah dan nenek, tanpa mereka berdua aku tidak akan menjadi pelukis. sekali lagi terimakasih ayah... nenek..." ucap MC itu.
Ayah terlihat di kursinya berdiri kemudian bertepuk tangan. Semua penonton ikut berdiri dan bertepuk tangan. Ayah berjalan ke arahku, kemudian memelukku dan mencium ku.
Gemuruh tepuk tangan semakin terdengar keras, setelah pemberian penghargaan itu, ayah menggandeng tanganku dan duduk kembali ke kursi yang sudah disediakan. Acara itu selesai dan dilanjutkan pameran karya yang ku punya.
Banyak sekali pengunjung yang antusias melihat semua lukisan itu, tak jarang mereka mendatangiku dan mengajak foto bersama. Aku merasakan kebahagian yang mungkin orang lain tidak bisa dapatkan. Hanya ucap syukur kepada Tuhan yang bisa ku lakukan.
Setelah semua acara selesai kami bergegas pulang, merayakan semuanya. Saat diperjalanan pulang, ayah mengajak semua pergi ke tempat wisata. Sekali lagi yang paling bersemangat adalah Kak Dini.
Entah kenapa kepalaku terasa sangat pusing, badanku mulai demam. Mungkin karena terlalu lelah, Ayah membatalkan pergi ke tempat wisata dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, dokter langsung datang, memeriksa kondisiku dan berkata, "Hani tidak papa, hanya kelelahan."
Dokter memberikan resep obat kepada Ayah, Kak Dini langsung dipanggil dan disuruh menebus obat itu. Aku lihat sepertinya banyak sekali jenis obat yang akan ditebus. Kepalaku tambah pusing, bukan karena sakit, tapi karena mikir harus minum obat banyak.
Aku malas mendengar mulut ayah yang cerewet banget kalau menyuruhku minum obat, Aku langsung berpura-pura tidur malas minum obat. Aku tau cerewet ayah karena sayang denganku, tapi lama-lama mendengarkannya berbicara terus kepalaku malah tambah pusing.
Ini aja aku memejamkan mata, ayah sudah ngomong terus, "Hani jangan tidur, makan dulu terus minum obat."
Aku tetap saja terpejam pura-pura tidak dengar, mungkin karena lelah berbicara Ayah pergi ke depan. Aku mengintip di kamarku sudah tidak ada orang, tiba-tiba ayah langsung membuka pintu dan berkata, "Hayo, ketauan pura-pura tidur. Ayah sudah paham pasti malas mau minum obat kan."
Aku kesal, menyuruh Ayah keluar. Malah mendekatiku, "Hani obatnya sudah datang, ayo minum dulu," ucap Ayah.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berkata dengan isyarat, "Pahit."
__ADS_1