BISU

BISU
#11


__ADS_3

...Episode 11...


"Nanti kak Dini yang urus semua anak-anak nakal itu," ucap Kak Dini.


Kami tak langsung pulang, Kak Dini menunggu anak-anak yang selalu menggangguku di kelas. Mereka pulang dijemput oleh orang tuanya masing, bagi Kak Dini tidak masalah. Aku menunjuk salah satu anak yang menggangguku.


Kak Dini langsung mendatangi anak itu, dan ngomel-ngomel di depan orang tuanya. Orang tua anak itu tidak terima anaknya dimarah-marah, "Kamu ini siapa berani-beraninya marah-marah dengan anak saya sampai ketakutan gitu!" bentak Ibu anak itu.


"Anak Ibu yang sudah keterlaluan, menghina adik saya!" balas bentak Kak Dini.


"Namanya anak-anak!"


"Tolong ajarkan ke anak Ibu cara menghargai orang lain!" bentak lagi oleh Kak Dini.


Ibu anak itu semakin emosi, Kak Dini berbisik di telinga Ibu anak itu, "Anak yang dihina oleh anak Ibu adalah anak Pak Hendri, pemilik perusahan tempat suami ibu bekerja."


Ibu anak itu seketika diam, meminta maaf, yang tadinya marah-marah dan tak terima anaknya dimarahi sekarang justru membantu Kak Dini memarahi anaknya sendiri.


"Ayo ikut ibu, minta maaf!" Tangan anak itu di seret dan dipaksa meminta maaf denganku.


Anak itu menangis ketakutan melihat ibunya sangat marah, takut, akhirnya meminta maaf denganku. Ibunya berprilaku sangat baik, kata-katanya sangat manis di depanku.


Ternyata Kak Dini sudah tau dari awal kalau ibu anak itu bekerja di salah satu perusahaan milik ayah. "Jika ini terulang kembali saya akan laporkan ke Pak Hendri, bahwa anaknya dihina oleh anak karyawannya sendiri!" ancam Kak Dini.


Ibu anak itu seketika diam, terlihat keringat mulai keluar dari wajahnya, Ibu itu hanya berkata, "Maaf, saya jamin tidak akan terulang lagi."


Aku dan Kak Dini kemudian pulang, Sesampainya di rumah, aku langsung mengambil alat lukis. Semua yang ku rasakan hanya bisa ku tuangkan dalam sebuah gambar. Nenek yang melihatku masih menggunakan seragam sekolah dan belum makan siang, mulai berbicara panjang lebar.

__ADS_1


"Hani... ganti pakaian dulu, makan, istirahat, baru boleh melukis," ucap Nenek.


Aku tak menghiraukan kata-katanya. Nenek mulai marah, marahnya tidak menyeramkan, aku pun, biasa saja. Nenek sangat geram, dan mendekat ke arahku. "Nenek jewer ya, kalau tidak menurut." Tangannya mengangkat jarinya seperti mau menjewerku.


Aku tertawa-rata, dan berlari menghindar dari Nenek. "Cucu Nenek sudah berani nakal ya sama nenek." Nenek mengejar aku.


Aku tertangkap, tetapi tak di jewer, Nenek menggendongku pergi ke kamar dan membantuku berganti pakaian. Sedangkan Kak Dini menyiapkan makan siang.


Seandainya semua anak disekolah sama baiknya dengan keluargaku, pasti aku bersemangat pergi ke sekolah. Sayang anak-anak itu selalu senang menghina, dan menyakitiku .


Tapi tak masalah, aku masih punya keluarga yang selalu menyayangiku. Melihat senyum Nenek, seketika aku sangat termotivasi, aku harus kuat apapun yang terjadi, aku harus sekolah, dan bisa membanggakan Ayah dan Nenek.


Tak peduli perkataan anak-anak itu, aku harus terus berjalan meski terlalu banyak air mata yang sudah aku keluarkan. Aku berkata dengan bahasa isyarat, "Nek setelah makan, Hani boleh melukis ya?"


"Istirahat dulu sayang, nanti setelah bangun tidur Hani boleh melukis sesukanya," ucap Nenek.


Mau tidak mau aku harus tidur siang dari pada tidak boleh melukis lagi. Makan siang sudah selesai, aku bergegas pergi ke kamar dan tidur siang. "Hani... Hani... Hani..." baru saja terlelap aku sudah mimpi wanita yang ingin menculik aku waktu itu, ia memanggil. Duduk dan badanku gemetaran, rasa takut yang berlebihan, aku menangis.


Kebetulan Kak Dini masuk ke kamar, "Hani kenapa Hani... lihat Kakak!" ucap Kak Dini yang panik.


Aku memeluk Kak Dini, "Hani mimpi buruk ya...? Yasudah Kak Dini temani ya, jangan takut, sini tidur lagi bareng Kak Dini." Kak Dini ikut tidur di sampingku.


Terasa sangat nyaman pelukan Kak Dini, terasa seperti ada yang melindungi. Setelah mimpi itu, aku tak kunjung bisa tidur. Aku selalu memikirkan siapa wanita itu, teganya ingin menculik anak sepertiku.


Melihat ke arah lukisan yang ku buat di atas dinding kamar, tentang ibu. Aku merasa sedih lagi, aku sangat ingin bertemu dengannya. Begitu teganya ibu pergi meninggalkanku.


Tiba-tiba Nenek masuk "Hani... kenapa belum tidur?" tanya Nenek.

__ADS_1


Jawabku dengan isyarat, "Aku pingin bertemu Ibu."


"Ayuk ikut nenek."


Aku turun dari tempat tidur, dan mengikuti Nenek. Nenek pergi ke kamarnya, seperti mencari barang yang hilang. "Nah ini dia...," kata Nenek.


Nenek menghampiri aku, memberiku selembar kertas. Melihat ada foto di kertas itu, Nenek berkata, "Nenek boleh minta Hani lukis wanita yang ada di foto itu."


Aku yang tak tau siapa wanita yang ada di foto ini, hanya mengangguk. Pergi menuju ruang khusus melukis milikku. Di ruangan itu semua peralatan melukis sudah lengkap, aku hanya tinggal melukisnya saja.


Aku mulai melukis, Nenek memegang foto wanita itu di depan, agar aku bisa melihatnya dengan jelas. Goresan demi goresan mulai terlihat, karena ini permintaan Nenek aku melukis sangat berhati-hati. Tak mau ada kesalahan dan terlihat jelek hasilnya.


Awal aku menyelesaikan pola bentuk mukanya terlebih dahulu, setelah itu mata, alis, mulut dan rambutnya mulai ku lukis. Tak terasa sudah 6 jam aku melukis. "Istirahat dulu Hani... besok lagi. Kita makan malam terus, belajar, dan Hani tidur ya, besok kan sekolah," ucap Nenek.


Aku menggelengkan kepala, hanya sedikit lagi aku menyelesaikan lukisan itu. "Sebentar lagi Nek." Aku berkata dengan bahasa isyarat.


Nenek hanya tersenyum dan mau menunggu sebentar lagi. Setelah lukisan itu hampir selesai, aku merasa pernah melihat wanita ini, aku memikirkan dan mencoba mengingatnya, ya... aku ingat wanita ini pelukis terkenal yang pernah aku lihat di Tv, tapi aku lupa namanya siapa.


Cepet-cepet ku selesaikan, dan goresan terakhir telah menyempurnakan lukisan wanita itu. Aku bertanya dengan Nenek, "Nek, apakah wanita ini pelukis terkenal yang pernah masuk Tv?"


"Yang mana, Nenek lupa," jawab Nenek.


"Sekarang kita copot lukisan wanita yang ada di kamar Hani, kita ganti dengan lukisan ini," lanjut kata Nenek.


Aku tambah bingung, kenapa lukisan wanita yang ku anggap ibu dicopot dan digantikan dengan lukisan ini, "Tapi sebelumnya biar Kak Dini bingkai yang indah dulu," lanjut lagi kata Nenek.


Nenek memanggil Kak Dini dan menyuruhnya membingkai lukisan yang baru aku selesaikan. "Hani, tau siapa sebenarnya wanita yang Hani lukis barusan?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala, "Sebenarnya wanita ini adalah ibu Hani."


__ADS_2