
...~Hilangnya Kekuasaan~...
Sampai disalah satu rumah sakit, kami langsung menuju resepsionis, "Mas, apakah ada korban kecelakaan barusan masuk, ciri-cirinya berkulit putih, tingginya sekitar 175 cm, menggunakan kemeja putih berjas hitam?" tanya Kak Ica.
Aku hanya bisa menangis, menggenggam tangan Kak Ica, tak bisa membayangkan jika ayah harus ikut pergi meninggalkan aku sendirian di dunia yang sangat kejam ini.
"Maaf, hari ini tidak ada korban kecelakaan masuk di rumah sakit ini," jawab petugas resepsionis.
Kami langsung bergegas pergi menuju rumah sakit berikutnya, setelah masuk kami langsung bertanya lagi, tapi hasilnya nihil, begitu pula dengan rumah sakit lainnya, tidak ada yang merawat ayah.
Setelah seharian mencari ayah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, karena bingung tak tau apa yang harus ku lakukan, Kak Ica selalu menyemangati, "Hani, sabar ya... kita pasti menemukan ayahmu, dan ayahmu pasti baik-baik saja," ucap Kak Ica, memelukku.
Aku pulang sudah larut malam, Nenek sudah tidur, jangankan memberitahukan apa yang terjadi dengan ayah, membangunkannya pun aku tidak berani. Takut Nenek terkejut, panik, dan darah tingginya kambuh.
Sudah cukup aku sedih karena kondisi ayah, jangan sampai Nenek kenapa-kenapa. Kak Ica, ku suruh ke kantor polisi, nanti setelah pulang dari sana dia akan menghubungiku.
Lelah, lapar, haus, tak terasa saat memikirkan ayah sekarang. Tak tau bagaimana kondisinya, keberadaannya, yang benar-benar ku takutkan adalah ayah sudah meninggal. Membayangkannya pun tak sanggup, apalagi lagi harus menerima kenyataan seperti itu.
Duduk di kasur, hati yang hancur, air mata tak mau berhenti, di kepalaku selalu memikirkan ayah. Memandangi lukisan ayah di dinding kamar, aku seperti orang stres. Mataku mulai bengkak, tak ada teman yang bisa menghiburku lagi saat seperti ini. Suara ponsel berbunyi, melihat ternyata Kak Dini video call.
Langsung ku angkat, tangisanku pecah saat melihat wajah Kak Dini. "Hani, jangan nangis Kak Dini udah denger semua dari Ica. Jangan khawatir, ayah pasti baik-baik saja. Besok Kak Dini dan Kak Andri pulang ya, sekarang Hani tidur, Kak Andri sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan ayah. Enggak usah dimatikan biar kakak temani."
Mendengar sudah ada tim yang disuruh Kak Andri mencari keberadaan ayah, hatiku sedikit tenang. Aku mengangguk kepada Kak Dini dan mulai berbaring. "Sekarang pejamkan mata, jangan berfikir yang enggak-enggak doa dan percaya saja ayah tidak apa-apa dan bisa ditemukan," ucap Kak Dini.
Mataku yang sudah lelah mengeluarkan air mata, terasa sangat berat. Aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Sesekali aku melihat ponsel untuk memastikan video call tidak dimatikan, setiap melihat wajah Kak Dini di ponsel, Kak Dini selalu tersenyum.
"Hani... Hani... bangun sudah subuh," ucap Nenek.
__ADS_1
Aku terbangun, langsung memeluk Nenek. Dalam hati berkata, "Ternyata hanya mimpi."
"Hani, kenapa kok tiba-tiba memeluk nenek dan menangis?" ucap Nenek.
Aku bertanya kepada Nenek dengan isyarat, "Dimana Ayah?"
Nenek menjawab, "Ayahmu tidak pulang, Loh bukannya kemarin kamu bekerja bareng ayahmu?"
Jantungku berdebar kencang saat mendengar perkataan Nenek, ternyata kejadian itu bukanlah mimpi. Pelukanku semakin erat, air mataku menetes derasnya. Nenek yang bingung, hanya mengatakan kenapa, kenapa, dan kenapa.
Harus bagaimana aku memberitahukan Nenek, aku bingung mengatakannya. Akhirnya aku pergi mengambil air wudhu dan Sholat bersama Nenek. Wajah Nenek terlihat sangat bingung. Di dalam doaku aku berharap tidak terjadi apa-apa dengan ayah, dan ayah bisa cepat diketemukan.
Setelah Sholat, hatiku mulai merasa tenang. Mengambil buku dan pena, menulis semua yang terjadi untuk ku perlihatkan kepada Nenek. Selainya menulis, langsung ku berikan kepada Nenek.
Nenek yang membaca tulisanku terlihat sangat terkejut, menangis, dan memegang dadanya. Aku berlari mencari semua pelayan, untuk membantuku mengurus Nenek. Saat kembali, Nenek terlihat sudah pingsan. Sopir langsung menyiapkan mobil, sebagian ada yang mengangkat Nenek.
Kami langsung menuju rumah sakit terdekat. saat sedang diperjalanan, kepala nenek yang ada dipangkuan ku, selalu ku usap-usap. Sesampainya di rumah sakit, Nenek langsung dirawat dan diperiksa dokter. "Tidak papa, hanya tensi darahnya sedikit naik. Cukup dengan istirahat nanti normal lagi."
Berdiri langsung memeluk Kak Dini, Kak Dini mengelus punggungku sambil berkata, "Sabar ya, Hani."
"Hani... Hani...."
Terdengar suara Nenek memanggil, mendekati Nenek, memegang tangannya. "Bagaimana kondisi ayahmu?" tanya Nenek.
Aku menggeleng, Kak Dini langsung mengatakan, "Jangan khawatir Nek. Semuanya sudah di urus Andri."
"Dini ya?" tanya Nenek, suaranya lirih.
__ADS_1
"Iya Nek, ini Dini."
"Din, tolong cari ayah Hani semaksimal mungkin, kasian Hani," ucap Nenek.
"Pasti Nek. Nenek sekarang istirahat aja, jangan mikir yang enggak-enggak. Disini ada Hani sama aku yang menemani Nenek," jawab Kak Dini sambil mengelus kening Nenek.
Aku yang masih tak percaya semua ini akan terjadi hanya bisa menangis, menangis, dan menangis.
"Hani... jangan menangis lagi, kalau Hani menangis Nenek juga ikut sedih," ucap Nenek. Terlihat dari matanya meneteskan air mata.
Air mata yang masih ingin terus keluar aku paksa berhenti dan menghapusnya. Kemudian aku tersenyum dengan Nenek. Senyum yang benar-benar kebohongan, sebenarnya hatiku sangat hancur.
"Din, maaf mengganggu bulan madumu," ucap Nenek.
"Nek, sudah kewajiban ku menjaga dan membantu menyelesaikan maslah yang menimpa keluarga ini. Sama seperti Andri juga," jawab Kak Dini.
Singkat cerita Nenek istirahat, Kak Dini mengajakku setelah mendapat telpon dari Kak Andri. Aku tidak tau apa yang dibicarakan mereka. Sebelum kami pergi Kak Ica di hubungi untuk menemani Nenek sementara.
Datang Kak Ica, kami langsung pergi. Sepertinya Kak Dini membawaku ke kantor. Kondisi kantor yang ramai, mereka sibuk membicarakan ayah. Tak lama Kak Andri menghampiri kami berkata, "Hani cepat ikut kakak."
Kami mengikuti Kak Andri, dibawa keruangan ayah, pintu di tutup rapat agar tidak ada karyawan lain mendengar obrolan kami.
Di ruangan itu Kak Andri mengatakan, "Semua petinggi perusahaan akan mengadakan rapat, membahas penggantian posisi Pak Hendri. Orang yang memegang wasiat Pak Hendri tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku sudah menyuruh orang mencarinya, tapi tidak ditemukan."
"Meski tanpa surat wasiat itu, saham Pak Hendri bukannya mutlak tidak bisa di gantikan orang lain, karena Pak Hendri pemilik perusahaan," ucap Kak Dini.
"Masalahnya tadi aku dengar ada yang memegang wasiat lainnya, dan di dalam wasiat itu di tandatangani Pak Hendri. Isinya menyerahkan semua saham kepada petinggi-petinggi perusahaan secara penuh agar di bagi rata, dan parahnya tidak tertulis penerima saham pihak keluarga."
__ADS_1
Emosiku memuncak, langsung menuju ruang rapat itu, menggebrak meja. Semua mata tertuju ke arahku, aku berkata dengan isyarat, "Surat wasiat itu palsu!" lihat saja saat ayahku kembali akan ku depak kalian dari perusahaan ini."
Kak Dini menerjemahkan isyarat itu, mereka tertawa, di ruangan itu juga ada Pak Roy. Pak Roy berkata, "Haha... kamu bocah tau apa, ngomong aja enggak bisa enggak usah sok mewarisi perusahaan sebesar ini, kamu tidak punya hak!"