
...~Perjuangan Baru Dimulai~...
Aku pun bingung kenapa Ibu pergi setelah banyak mengatakan sesuatu yang aku belum pahami. Kuasa hukum ayah ikut dengannya pergi, bagaimana bisa mendapat surat wasiat ayah?
"Mau bagaimana lagi, kita sudah kehilangan surat wasiat itu. Sekarang yang terpenting membuktikan kejahatan pak Roy yang telah mencelakakan ayahmu. Orang-orang yang terlibat, sudah diketahui semua identitasnya. Hanya tinggal mendapatkan bukti-bukti," ucap Kak Andri.
Aku hanya mengangguk, setelah itu telpon dimatikan. Sebenarnya aku tau, dari dulu kamu perlu bukti, tapi alangkah sulitnya mencari bukti-bukti. Menguatkan hati, agar tidak gampang putus asa. Aku harus fokus dan berjuang lebih keras lagi agar kebenaran terkuak.
Setelah kepergian ibu, sembari menjalankan tugasku di restauran, aku menyuruh salah satu mata-mata, untuk mencari informasi dan bukti terkait kecelakaan ayah.
Kak Andri juga sudah menyuruh bawahannya untuk selalu merekam pembicaraan pak Roy, kebetulan orang suruhan kak Andri adalah sekertaris pak Roy.
Sudah berjalan satu minggu kamu berusaha mencari bukti, tapi belum ada kemajuan. Setelah restauran tutup, aku pergi duduk di depan pantai sendirian. Meratapi nasib, seketika terlintas di pikiranku wajah Firo. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
Aku ingin meminta maaf atas perlakuanku yang kasar kepadanya, mungkin saja dia sibuk, tapi tidak menutup kemungkinan ia sedang marah denganku. Wajar kalau dia marah.
Terlalu sibuk mencari bukti, aku sampai lupa dengannya. Kenapa aku merasa rindu, apa mungkin aku benar-benar jatuh cinta dengannya. Suara klakson terdengar, aku menoleh ke belakang.
Mobil itu bukan milik kak Andri atau Firo. Tak lama, keluar seorang pria, pria itu adalah anak pak Roy yang waktu itu mengacau di restauran. Aku mendekat ke arahnya, dengan rasa emosi, aku ingin mengusirnya.
Sampai di depan wajahnya, Pria itu malah berkata, "Maafkan aku, aku hanya ingin mencari perhatian denganmu waktu itu. Aku tertarik dengan wajahmu yang cantik itu."
Sombong sekali Pria ini, beraninya mengatakan itu. Muak mendengar perkataannya, aku menunjuk ke arah jalan, isyarat bahwa aku mengusirnya.
Pria itu berseru, "Lihat saja, walau harus menggunakan segala cara, kamu pasti akan menjadi milikku!"
Pria itu masuk ke dalam mobilnya lagi, sebelum pergi Pria tersebut mengatakan, "Daa... sampai berjumpa lagi," Ia tersenyum.
Aku ingin sekali muntah melihat senyum yang sok manis darinya. Melihat wajahnya saja malas, apalagi memiliki hubungan dengannya. Jangan harap.
Tidak lama Pria itu pergi, aku masuk kedalam rumah. Nenek sedang masak untuk makan malam. Aku pergi mandi, saat sedang berendam aku selalu kepikiran Firo. Aku harus segera menelponnya dan meminta maaf.
__ADS_1
Setelah mandi,terlebih dahulu aku membantu nenek memasak. Nenek menanyakan Firo, "Hani, kenapa Firo sudah lama tidak kesini?"
Aku hanya menggelengkan kepala, Nenek berkata, "Sedang marahan?" Nenek tersenyum.
Masih menjawab dengan menggelengkan kepala, Nenek tertawa melihatku. "Kangen dengan Firo?" tanya Nenek.
Tak sadar aku mengangguk, kemudian salah tingkah. Aku ulangi dengan menggelengkan kepala. Tawa Nenek semakin keras.
"Kalau suka bilang suka, nanti menyesal loh kalau tidak jujur," ucap Nenek.
Aku pergi masuk kedalam kamar, mengambil ponselku dan Video call Firo. Telponnya masuk tapi tidak diangkat, aku telpon lagi tapi di reject. Sepertinya Firo sangat marah dan tidak mau mengenalku lagi.
Terakhir aku chat Firo, "Maafkan aku, jika aku terlalu kasar."
Setelah itu aku keluar menemui Nenek, banyak bertanya tentang jatuh cinta. Nenek yang sudah tua sangat berpengalaman, banyak sekali ilmu yang ku dapat darinya.
Nenek berpesan, wanita boleh saja jatuh cinta dengan seorang pria, tapi jangan cintanya itu lebih dari harga dirinya. Saat sudah menjadi istri, baru kamu serahkan semua yang dimiliki oleh wanita. Pesan yang sangat melekat di hatiku.
Keesokan harinya, saat jam istirahat aku pergi meninggalkan restauran menuju rumah sakit tempat Firo praktek. Sesampainya di sana, bertanya dengan petugas administrasi, ternyata Firo sudah tidak bekerja di sana lagi.
Firi sudah benar-benar pergi dariku, aku harus menerima kenyataan ini. Kembali ke rumah dan bekerja lagi. Sesekali menghubungi mata-mata yang ku sewa.
Siang hari, anak pak Roy datang lagi ke restauran. Berbeda dengan sebelumnya ia terlihat sopan, memesan makan. Pelayan menghampiriku, "Maaf Bu, pengunjung itu memberikan surat untuk Ibu."
Aku membuka surat darinya, isi surat itu adalah, *Maafkan aku, I love You*
Pria itu memandangiku sambil tersenyum, saat matanya masih melihatku, ku sobek surat itu. Dia tetap tersenyum kemudian menikmati makanan yang ada di mejanya.
Terbesit rencana jelek di pikiranku, aku memiliki rencana untuk memanfaatkan anak pak Roy ini untuk mendapatkan barang bukti. Tapi, tingkah dari Pria ini benar-benar membuatku muak.
Bagaimana mungkin aku bisa dekat dengannya, jika wajahnya saja sudah menjijikkan. Aku mencoba mengurungkan niat tersebut. Kembali bekerja.
__ADS_1
Saat akan pulang, Pria itu memberikan surat lagi kepada pelayan, dalam surat itu berisi namanya. Nama dari Pria itu adalah, Jeri.
Jeri pergi, memberikan uang tip kepada pelayan. Tak lama dari kepergian Jeri, tiba-tiba Firo masuk ke dalam restauran. Aku terkejut, dia duduk memesan makanan.
Aku yang memberikan pesanannya, wajahnya cemberut, marah seperti anak kecil. Aku menulis, "Maafkan aku."
Firo menjawab, "Kamu tidak salah jadi jangan meminta maaf lagi, aku hanya sedang sibuk."
Aku tau dia sedang berbohong, dalam hatinya pasti sangat dongkol denganku. Aku menulis lagi, "Salahku apa?"
"Sudah ku bilang, kamu tidak ada salah. Oiya tadi aku lihat ada pria yang selalu memandangi mu, " ucap Firo.
"Kamu cemburu?" Aku tersenyum kepadanya.
"Sapa juga yang cemburu, enggak lah."
"Tadi pria itu memberikan surat, dia berkata kalau menyukaiku," tulis ku.
Setelah membaca tulisanku Firo berkata, "Kurang ajar!"
Aku kaget mendengar suaranya yang begitu keras, Firo terlihat marah. "Jangan dekat-dekat dengannya, sepertinya pria itu bukan pria baik," ucap Firo.
Aku memegang tangannya, sebenarnya aku sadar kalau aku benar-benar mencintainya. Firo tampak terkejut setelah aku menggenggam tangannya, Firo berkata lagi, "Aku mencintaimu, jangan dekat-dekat dengan pria lain."
Aku tersenyum kepadanya, baru akan menulis di buku, Jeri masuk berlari ke arah Firo. Jering langsung memukul wajah Firo.
"Jangan sentuh, Dia!" Tangan Jeri menunjuk ke arahku.
"Siapa kamu, aku ini kekasihnya!" jawab Firo, tak lama ia membalas pukulan Jeri.
Baku hantam tidak terhindarkan, pengunjung lainnya ikut berdiri menonton perkelahian mereka. Kesal aku pegang keduanya, ku tendang Jeri dan ku puku Firo. Jeri ku usir dari restauran.
__ADS_1