
...~2 Episode Terakhir~...
Malam ini terasa sangat menyakitkan bagiku, pria yang benar-benar ku cintai dan aku tau dia juga sangat mencintaiku. Tuhan apakah ini jalanmu? Apakah ini takdirku? Apakah aku tidak layak untuk bahagia?
Pertanyaan itu hadir disaat aku benar-benar sudah putus asa. Aku hanya bisa berharap setelah ini kehidupanku menjadi lebih baik. Walau aku tau semua kelakuan pria yang akan menjadi suamiku.
Semenjak hari itu, Firo tidak pernah datang ke rumah lagi. Restauran sudah ku pasrahkan kepada kepala koki. Nenek, Kak Dini, dan Kak Andri menyiapkan acara pernikahanku. Acara pernikahan yang sangat sederhana, bahkan pengantin pria pun datang sendirian tanpa kedua orang tuanya.
Keesokan harinya. Nenek masuk ke kamarku.
"Hani... Pengantin pria sebentar lagi datang, ayo kita keluar," ucap Nenek.
Aku menoleh ke arahnya, Nenek tiba-tiba mendekatiku.
"Jangan nangis, Hani cantik sekali hari ini," Nenek menghapus air mataku.
Nenek berkata jangan menangis, tapi terlihat dari mata indahnya air mata menetes deras. Nenek memelukku erat dan berkata, "Cucu nenek kuat, ayo keluar."
Nenek menggandeng ku keluar, aku menahan semua kesedihanku. Seandainya jika boleh memilih aku tidak ingin menikah dengan Jeri. Aku hanya ingin menikah dengan Firo.
Langkah kakiku terasa sangat berat, sesampainya di ruangan tempat dilaksanakannya ijab kobul, di situ sudah ada Jeri dan sebagian tamu yang datang. Tamu-tamu itu adalah karyawan restoran dan teman-teman Kak Dini, sebagian teman-temanku.
Aku duduk disebelah Jeri. Penghulu sudah siap di hadapan kami. Tatapanku terus menghadap ke bawah. Sekeras apa aku menahan air mata, tapi tak bisa ku tahan. Waliku bukan keluarga, tapi menggunakan wali hakim.
Setelah mengucap 2 kalimat syahadat, penghulu berjabat tangan dengan Jeri. Wajah Jeri terlihat sangat bahagia.
"Saya terima nikah dan kawinnya...."
Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu masuk, "Berhenti!"
Semua mata tertuju ke pintu masuk, ternyata suara itu berasal dari mulut Firo. Firo datang bersama dengan kuasa hukum ibu.
Semua orang yang hadir bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Firo mendekat ke arahku, tapi Jeri menghadangnya. Pukulan langsung menuju ke wajah Firo.
__ADS_1
Firo bangun dan menghajar Jeri sekuat tenaga.
"Hentikan pernikahan ini, akulah yang akan menikahi Hani." Firo berbicara dengan sangat lantang. Matanya melotot, wajahnya terlihat sangat serius.
"Berdiri kau!" Firo memegang kerah baju Jeri dan memaksanya berdiri.
"Dengar, kami sudah memiliki semua bukti-bukti terkait ayahmu, kau ikut terlibat. Pulanglah lihat ayahmu sedang ditangkap polisi!" Tubuh Jeri terpental karena dorongan dari tangan Firo.
"Lihat saja akan ku balas!" Jeri lari terbirit-birit sepertinya ingin melarikan diri dari kejaran polisi.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah ku dan Firo.
"Lihat mataku, aku sangat menyayangimu!" ucapnya sambil memegang tanganku.
Aku menangis sejadi-jadinya memeluk Firo.
"Apa kamu masih simpan gantungan kunci itu?" Firo tersenyum kepadaku. Aku tidak mengerti yang ia bicarakan,
"Gantungan kunci apa?" tanyaku dengan bahasa isyarat.
Bulu kudukku merinding, tak percaya, dan tak menyangka. Air mata terus menetes. Setelah mengatakan itu Firo tersenyum sambil mendekap aku sangat erat.
"Ya, aku Erik. Sudah lama aku mencarimu."
Aku terus memukuli bahunya, air mata masih terus keluar dan masih tidak percaya.
Aku melepaskan dekapannya dan berkata dengan isyarat, "Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?!"
"Aku ingin mendapatkan hatimu kembali dengan cara berusaha, bukan dari suatu kenangan masa lalu."
Aku memeluknya kembali, Kak Dini mendatangi kami dan berkata, "Kita bicarakan soal ini di dalam saja, lebih baik sekarang kondisikan tamu dan membahas soal Pak Roy."
Untuk menghargai tamu yang sudah datang, semua tamu dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan. Semua dikondisikan oleh kepala koki ku, karyawan yang paling aku banggakan.
__ADS_1
Sedangkan aku, Firo, Kuasa hukum ibu, Nenek, Kak Andri, dan Kak Dini masuk ke dalam untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi begini, sebelum ke Pak Roy, aku akan menyampaikan pesan dari ibumu terlebih dahulu. Ini surat dari ibumu." Kuasa hukum ibu menyerahkan sepucuk surat kepadaku.
Aku tak diperbolehkan membukanya sekarang, Kuasa hukum ibu menjelaskan masalah tentang Pak Roy.
"Ibumu sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, Ia berusaha terus mengumpulkan semua bukti-bukti terkait kejahatan Pak Roy. Hari ini semua bukti kuat sudah terkumpul berkat ibumu. Sebelum kepergiannya, ibumu juga menyiapkan semua masa depan anaknya, terkait melukis.
Semua orang yang ia kenal dalam dunia melukis dikumpulkan olehnya, dan diminta untuk membantumu memulihkan karir melukis Hani. Selain itu, karena terbukti surat wasiat yang digunakan Pak Roy palsu dan surat wasiat asli sudah ada di tanganku, Semua aset dan saham perusahaan milik ayahmu akan kembali di tanganmu.
Mulai besok, kamu adalah presiden direktur perusahaan ayahmu."
Semua terkejut, aku pun masih bingung sebenarnya apa yang terjadi oleh ibu.
Aku menulis dalam buku dan menunjukkannya pada kuasa hukum ibu," Tadi Anda bilang sebelum kepergian ibuku. Memangnya ibu pergi kemana?!"
"Ibumu telah tiada, sebenarnya setelah pergi meninggalkan Hany. Ibumu menderita penyakit parah. Hidupnya tak bertahan lama, ibumu sudah lama merencanakan ini semua demi anak tersayangnya. Almarhum tak ingin menceritakan tentang penyakitnya, yang aku tau sebelum ia pergi ke luar negeri, beliau ingin bertemu dengan Hani bagaimanapun caranya. Beliau sangat bahagia saat bisa bertemu dengan Hani, bisa tinggal bersama **** hanya 1 malam."
Semua tubuhku terasa sangat kaku, keringat keluar. Aku melihat Nenek meneteskan air matanya, aku tau yang dirasakan oleh Nenek. Aku pun merasakan itu, rasa penyesalan, dan bersalah karena sudah menganggap ibuku orang yang jahat.
Aku mendekap Nenek, air mata kami menetes deras. Emosi meluap-luap bukan karena sakit hati, tapi aku marah dengan diriku sendiri. Mataku terasa berkunang-kunang. Kepalaku sangat pusing, tiba-tiba semua terasa gelap.
Waktu itu aku pingsan, saat terbangun aku sudah ada di rumah sakit. Di sampingku Firo duduk tertidur sambil memegang tanganku. Aku mengelus rambutnya, meski banyak kesedihan yang kurasakan aku merasa tenang saat ada di sampingnya.
Firo terbangun, "Kamu tidak papa?" tanya Firo.
Aku mengangguk, meminta Firo mengambilkan pena dan buku. Aku menulis, "Aku ingin pergi ke makam ibu dan ayah."
"Nanti kita ke sana saat kamu sudah baikan," jawab Firo.
Aku menulis lagi, "Aku sudah baikan."
"Kamu ini masih seperti dulu, masih egois. Besok kita ke sana ya."
__ADS_1
"Nenek dimana?" tulis ku.
"Semua sedang mengurusi rapat perpindahan semua saham milik ayahmu. Aku dengar semua petinggi perusahaan dipecat semua."