BISU

BISU
#19


__ADS_3

...Episode 19...


Tiket sudah di pesan aku dan Kak Dini sudah membereskan semua barang-barang yang akan dibawa. Sebelum pulang, semua pelayan yang ada disitu, ku kumpulkan. Aku mengucapkan terimakasih atas semua yang sudah setia melayaniku dengan baik.


Salah satu pelayan berkata, "Non, jangan lupakan kami disini ya.... kapanpun Anda butuh kami, kami siap melayani." Mendengar perkataan itu, aku merasa sedih harus meninggalkan mereka disini.


Aku mengangguk, dan memeluk mereka satu persatu, kecuali yang pria. Setelah itu aku keluar rumah, pergi ke taman. Tempat yang paling sering aku kunjungi, tempat melukis terbaik bagiku, tempat menghilangkan stress.


Kak Dini memelukku sembari berkata, "Hani jangan pernah merasa kesepian, ataupun sedih. Kakak tetap bekerja untuk Hani, meski kakak sudah tidak bisa tinggal bersama Hani lagi."


"Janji ya, Kak. Jangan berhenti bekerja untukku," tulis ku.


"Pasti, kakak akan menjaga Hani sampai kapanpun."


Semua terasa begitu cepat aku lalui, tapi perjalananku masih sangat panjang. Aku dan kak Dini masuk ke dalam rumah, kemudian kami masuk ke kamar, harus cepat beristirahat, karena besok pukul 7 kami sudah harus di bandara.


Aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tak kunjung tidur. Ada yang mengganjal di pikiranku, Ibu yang belum sempat aku temui, sekarang keberadaannya dimana, sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengannya. Ayah melarang keras aku bertemu dengan ibu.


Kata-kata ayah yang mengatakan bahwa, ibu akan datang dan memanfaatkan aku, sekarang sudah tak bermakna bagiku. Bagiku sekarang aku hanya ingin memeluk ibu, meski dia memanfaatkan aku demi karirnya.

__ADS_1


Besok aku harus pulang, setelah itu aku pasti tidak akan bisa bertemu dengan ibu, karena aku sudah dekat di samping ayah. Aku membayangkan bisa melukis bersamanya, mendapat arahan langsung darinya.


Malam itu, Kak Dini masuk ke kamarku, memanggilku dan mengatakan ada seseorang yang mencarinya. Ia menangis-nangis memaksa agar bisa bertemu dengan aku. Aku langsung keluar, dan menemuinya.


Orang itu adalah wanita yang ku kira ibu. Setelah bertemu dengannya, Wanita itu berkata, "Aku hanya orang suruhan, keluargaku terancam seandainya surat yang ku bawa ini tidak sampai ke tangan Anda." Setelah memberikan sepucuk surat, wanita itu pergi.


Kak Dini langsung menyuruhku masuk kedalam rumah, wajahnya terlihat khawatir. Kami masuk, duduk di ruang tamu, membaca surat yang diberikan kepada ku. "Hani ini ibu, bagaimana kabarmu di Jepang? Ibu ingin sekali bertemu dengan Hani, bakat melukis yang kamu miliki di dapat dari ibumu ini. Jika Hani mau kita bisa tinggal bersama dan menjadi pelukis yang lebih terkenal. Kalau Hani mau, bisa malas surat ini ke alamat yang sudah ibu cantumkan, kita tinggal bersama dengan keluarga baru ibu," isi surat itu.


Aku membacanya sambil meneteskan air mata, menahan emosi yang meledak-ledak. Malam itu aku benar-benar membenci ibu. Awalnya aku sudah tak peduli jika ibu memanfaaatkan aku untuk karirnya, tapi di dalam surat itu ibu sudah memiliki keluarga baru. Tandanya ibu mengkhianati ayah.


Padahal ayah dan ibu belum resmi bercerai, tapi ibu sudah tinggal bersama laki-laki lain. Aku sobek surat itu di depan kak Dini, kemudian berlari sambil menangis masuk ke kamar.


Kak Dini menghampiriku di kamar, memelukku mengatakan, "Kakak kan, sudah bilang jangan bersedih lagi, orang yang dari awal tidak ada di kehidupan Hani tidak pantas membuat anak kebanggaan kakak menangis, lupakan saja ibumu itu, benar kata ayah jangan menemuinya apalagi tinggal bersamanya."


Aku mengangguk, meminta Kak Dini tidur bersamaku. Aku merasa kesepian, ingin cepat-cepat pulang, tinggal bersama ayah. Mataku sangat berat, mungkin karena terlalu banyak menangis. Aku pun, tertidur lelap.


Keesokan harinya, semua pelayan sudah berbaris, sebagian pelayan terlihat menangis melihatku dan Kak Dini berjalan meninggalkan rumah. Aku hanya berpesan kepada mereka, agar selalu menjaga kesehatan dan menjaga rumah. Suatu saat ketika aku ingin berlibur, tempat yang pertama akan aku kunjungi adalah rumah ini.


Sopir pribadiku sudah siap, pelayan mulai membawa barang-barang yang akan ku bawa pulang. Semua sudah masuk ke dalam mobil. Aku membuka jendela mobil dan melambaikan tangan ke pada mereka semua.

__ADS_1


Mobil mulai berjalan, saat di perjalanan aku selalu memandangi jalan, melihat banyak sekali gedung-gedung besar. Aku merasa baru kemarin aku datang, tak terasa sudah lebih dari 6 tahun aku tinggal disini.


Banyak sekali ilmu yang ku dapat, disinilah aku menempa semua pengetahuan, keterampilan melukis, dan mendapat prestasi dalam dunia seni lukis. Ada beberapa karya lukisanku yang sengaja di pamerkan tapi tidak untuk di jual. Mungkin lukisan-lukisan itu yang akan menjadi peninggalanku disini.


Sampailah kami di Bandara, sembari menunggu jadwal penerbangan, aku menyempatkan diri menggambar di buku gambar. Kali ini aku menggambar Gunung Fuji. Aku pernah sekali ke tempat itu, alamnya yang indah membuat aku ingin melukisnya.


Menunggu selama 1 jam, akhirnya pesawat yang akan ku tumpangi akan segera berangkat. Kami langsung menuju pesawat, semua persyaratan sudah diurus oleh Kak Dini. Saat di perjalanan aku hanya memandangi awan di ketinggian.


Sungguh indah ciptaan Tuhan, melihat indahnya langit, aku berpikir apakah aku tidak bisa hidup seperti kebanyakan orang. Memiliki keluarga yang lengkap, dan harmonis. Aku sudah tidak peduli tentang harta, untukku harga sesungguhnya adalah keluarga.


Keluarga yang dipenuhi kasih sayang, keluarga yang selalu bahagia. Sempat terbesit dalam pikiranku, ayah harusnya menikah lagi. Menikah dengan wanita yang baik, wanita yang bisa menemaninya, dan menggantikan sosok ibu di keluarga ini.


Tapi, pasti ayah menolak untuk menikah lagi, karena ayah sudah menganggap bahwa semua wanita sama saja. Padahal, aku kan juga wanita, tapi aku tidak seperti ibu. Aku takut suatu saat nanti ketika aku sudah tidak bisa menemani ayah, ayah akan merasa kesepian di masa tuanya.


Sejak membaca surat dari ibu, aku ingin membuktikan kepadanya, bahwa karirnya dalam melukis benar-benar tidak berarti dan aku akan melampauinya. Memang benar pemberitaan ibu yang sudah redup karirnya dalam melukis, tapi itu hanya di Indonesia.


Sedangkan karirnya di luar negeri masih sangat baik, itu yang dikatakan Kak Dini. Hanya tinggal sedikit lagi aku bisa melampaui ibu. Lihat saja ibu yang sombong meninggalkan keluarganya demi prestasinya, akan hancur oleh anaknya sendiri.


Kak Dini yang melihatku selalu memandangi langit dari jendela berkata, "Hani... Kak Dini sebentar lagi menikah," Kak Dini meledekku, berkata sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2