
...Episode 20...
Dengan respon yang dingin, kemudian aku hanya tersenyum. "Hani... lapar?" tanya Kak Dini.
Aku menggelengkan kepala, kemudian menoleh ke arah jendela. Kak Dini diam tak berbicara lagi, tapi tangannya menggenggam tanganku. Aku mencoba untuk menenangkan diri, melupakan semua masalah yang membebani diriku.
Suasana hati yang bimbang, bingung, sedih, membuat semuanya terasa sangat sulit untuk dilupakan. Seandainya saja ada Erik yang bisa menghiburku. Aku melihat ini selalu ku bawa kemanapun aku pergi.
Alangkah indahnya kupu-kupu yang ada di dalam gantungan kunci ini. Sama indahnya kenangan ku dengan Erik. Aku bertanya-tanya, bagaimana keadaannya sekarang, dimana dia berada, pasti Erik sekarang sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya.
Sudah tidak pernah mengirimi aku surat, apakah dia sudah lupa denganku, atau malah membenciku. Aku berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengannya lagi. Aku ingin bercerita banyak dengannya, meminta pendapatnya, dan hal yang paling aku harapkan adalah bisa hidup bersamanya.
Jalanku masih panjang, entah cobaan apa lagi yang akan ku hadapi. Mau tidak mau, aku harus menerima semua keadaan. Ayah berkata kepadaku, semua saham miliknya akan diberikan kepadaku. Sebenarnya aku tidak mau sibuk dengan pekerjaan kantor, aku ingin setiap hari hanya melukis dan melukis. Tapi keputusan ayah sudah bulat, karena aku adalah anak tunggal pewaris perusahaan.
Ada 1 rekan kerja ayah, orang ini bernama Pak Roy. Pak Roy adalah orang kedua yang memiliki saham terbesar setelah ayahku, sahamnya 30%. Tentu jauh dari saham milik ayah yang sampai 60%.
Dengan saham itu, hak sepenuhnya ada di tangan ayah, yang aku dengar Pak Roy sangat dekat dengan ayah. Bisa dibilang sahabat ayah sejak kecil. Aku mendengar dari Kak Dini, Pak Roy orang yang paling menentang ayah dalam pengalihan saham milik ayah.
Dalam rapat petinggi perusahaan, ayah mengatakan akan mengalihkan sahamnya kepada anaknya yaitu aku. Pak Roy lalu berkata bahwa aku belum layak memegang perusahaan.
Pak Roy juga berkata kalau aku masih terlalu muda, dan belum banyak pengalaman. Tapi, ayah tetap kekeh dengan keputusannya, tidak ada yang bisa menghalangi atau membatalkan keputusan ayah. Ayah kemudian bilang, kalau aku sudah matang, berpengalaman, dengan bukti suksesnya aku dalam menangani masalah yang ada disalah satu perusahaan di Jepang.
__ADS_1
Semua petinggi perusahaan hanya diam, mau tidak mau setuju dengan keputusan ayah. Kak Dini bisa bercerita denganku, karena mendapat informasi dari kak Andri yang setiap hari menemani ayah di kantor. Bahkan setiap rapat kak Andri ikut berdiri di belakang ayah.
Katanya, setelah itu Pak Roy pergi ke luar negeri dan mengelola salah satu perusahaan yang ada disitu. Setelah rapat itu hubungan ayah dan Pak Roy sedikit merenggang. Ayah tak peduli dengan hal itu, bagi ayah yang terpenting adalah aku, anaknya.
Setelah lama diperjalanan akhirnya pesawat sampai dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma. Aku dan Kak Dini turun dari pesawat kemudian mengambil semua barang-barang.
"Hani...." Ayah memanggilku, aku berlari ke arahnya dan langsung memeluk Ayah serta Nenek. Aku sangat rindu dengan mereka, air mataku terus jatuh, tak tertahan lagi. Sama dengan Ayah, matanya terus meneteskan air mata, begitu pula Nenek.
Ayah membawa banyak pengawal, semua pengawalnya disuruh membawakan barang-barang yang ku bawa. Kak Dini terlihat ingin mendekati Kak Andri, tapi malu-malu.
Tangan ayah mencolek Kak Andri, menyuruhnya untuk mendekati Kak Dini. Kak Andri kemudian berjalan mendekati Kak Dini dan langsung memeluknya. Tangis Kak Dini ikut pecah, menangis seperti anak kecil.
Sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah, perjuangannya menunggu sangatlah luar biasa. Cuma hanya karena aku, mereka harus menunda pernikahan begitu lama. Sempat-sempatnya Kak Dini menangis di pelukan Kak Andri, menjulurkan lidahnya kepadaku.
Aku memberikannya kepada Kak Andri, Kak Andri hanya tertawa-tawa. Buku itu di rebut Kak Dini dan membacanya. Terlihat kesal, Kak Dini mengejar-ngejar ku. "Sudah-sudah, ayo kita pulang merayakan kepulangan anak ayah," ucap Ayah.
Kami bergegas masuk kedalam mobil, Nenek terlihat sangat pucat, aku bertanya dengan isyarat, "Nenek enggak papa? Nenek sakit?"
"Enggak sayang, nenek cuma kelelahan, kurang tidur. Memikirkan cucu nenek yang akan pulang, saking bahagianya malah enggak bisa tidur," jawab Nenek.
Nenek terus memelukku saat diperjalanan. Nenek bercerita kalau hari pernikahan Kak Dini sebentar lagi. Minggu depan Kak Dini akan melaksanakan resepsi pernikahan dengan Kak Andri.
__ADS_1
Kami harus bersiap-siap, Kak Dini tidak memiliki siapa-siapa lagi, kamilah keluarganya. Ayah pun sudah mempersiapkan semuanya, baik gedung, dan lain-lain.
Secara mereka berdua adalah orang yang banyak berjasa, Kak Andri yang setia bekerja dengan ayah, dan Kak Dini yang sudah bekerja keras menjagaku selama ini. Dari umurku 5 tahun sampai 18 tahun, Kak Dini setia bekerja untukku.
Ayah juga menganggap mereka berdua sebagai anaknya sendiri, acara pernikahan dibuat sangat mewah dan megah. Sesampainya kami di rumah, aku benar-benar terkejut, rumah yang sudah lama aku tinggalkan sekarang benar-benar berubah.
Banyak sekali taman bunga, ditambah kebun buah sekitar rumah, rumah yang benar-benar indah. Tapi, aku merasa sedikit panas, mungkin karena suhu udara di Jepang lebih rendah jika di bandingkan dengan Indonesia.
Mata di tutup, di arahkan berjalan ke suatu tempat dengan Ayah. Saat aku membuka mata ternyata di depanku sudah banyak sekali makanan enak yang tidak aku jumpai di Jepang.
Kami makan bersama, semuanya terlihat sangat bahagia. Disela-sela makan, Ayah berkata, "Hani, mulai dari sekarang Hani akan menggantikan posisi ayah di perusahaan. Ayah percaya dengan kemampuan Hani."
Aku tidak mau mengecewakan Ayah, mengangguk dengan wajah yang bersemangat. Ayah tersenyum melihatku dan berkata, "Ini baru anak Ayah."
"Hani kan baru pulang, biar Hani istirahat dulu jangan memikirkan urusan perusahaan," ucap Nenek.
"Pasti, tidak harus terburu-buru, ayah hanya memberitahukan Hani agar Hani siap. Mungkin setelah pernikahan Dini, Hani mulai masuk ke kantor," jawab Ayah.
"Sudah jangan memikirkan itu lagi, kita bersenang-senang hari ini. Oiya di belakang rumah ada pohon durian yang berbuah, setelah makan kita cari yang matang gimana?" ucap Nenek.
Nenek tau saja buah yang aku sukai, lama sekali aku tidak makan durian, apalagi hasil metik sendiri. Aku bergegas menyelesaikan makan, dan menarik tangan nenek, mengantarkan aku ke pohon durian itu.
__ADS_1
"Aku juga ikut," ucap Kak Dini, berjalan sambil menggandengku.