
...Episode 15...
Mungkin terlalu cepat jika beranggapan hidupku sudah bahagia, meski diwaktu itu aku tidak tau cobaan apalagi yang akan datang dimasa depan, tapi minimal aku telah bersyukur dengan kondisiku sekarang. Dengan rasa syukur ini menjadi modal untuk menghadapi cobaan hidup berikutnya.
Pagi ini, semua pelayan termasuk pengawal, aku kumpulkan. Aku sudah menulis semua pekerjaan yang harus dikerjakan untuk menyambut ayah. Kak Dini membacakannya, inti dari perintahku adalah semua bagian rumah harus dibersihkan. Tak boleh ada debu sedikitpun, terutama kamar yang akan dipakai oleh ayah dan nenek.
Setelah mendengar perintahku, semua bergegas beres-beres rumah. Sedangkan aku duduk di taman sambil melukis. Di sampingku sudah ada sepotong roti dan susu. Sedangkan Kak Dini sibuk ke salon, mulai centil karena pacarnya juga akan datang.
Kak Dini sudah ku anggap sebagai kakak kandungku sendiri, sejak aku kecil ia selalu setia menemaniku. Sekarang aku yang sudah besar sering meledeknya. Tadi sebelum pergi, ku ledek dia, aku menulis, "Sekertaris ayah, punya pacar lagi."
Terdengar sangat jahat caraku bercanda, tapi Kak Dini malah tertawa dan berkata, "Ye... enggak mungkin, Hani iri ya...."
Sialnya, Kak Dini tidak marah malah balik meledek. Setelah mengatakan itu Kak Dini lari sambil tertawa-tawa. Pagi ini aku ingin melukis wajah cerianya, nanti setelah selesai akan ku berikan untuknya sebagai kado ulang tahun. Kebetulan sebentar lagi Kak Dini ulang tahun.
Saat asik melukis tiba-tiba mataku ditutup kedua tangan dari belakang, yang kurasakan ini bukan tangan Kak Dini, tapi sepertinya ku kenal tangan ini. Tak lama orang itu melepaskan tangannya dari mataku, aku menengok kebelakang, "Hani!" teriak Ayah.
Emosi, rindu, sedih, bahagia, bercampur aduk saat aku melihat depan mata sudah ada Ayah dan Nenek. Aku berdiri langsung memeluk Ayah, Menangis di pelukannya, Aku rindu sekali dengan Ayah, Nenek. "Nenek, enggak dipeluk," ucap Nenek.
Aku ke arah Nenek kemudian memeluknya, Nenek berkata, "Cucu nenek sudah besar sekarang, cantik banget." Nenek berkata sambil menghapus air matanya sendiri. Begitu pula Ayah, matanya berkunang-kunang.
"Aku kangen..." ucapku dengan bahasa isyarat.
"Ayah dan Nenek juga kangen banget sama anak ayah yang cantik ini...."
"Hani hebat, bisa dapat banyak penghargaan disini dan menjadi pelukis nomer 1," ucap Nenek.
"Ayah bangga sama Hani... terus buktikan ke dunia kalau anak ayah bisa jadi yang terbaik, dan buktikan kepada ibumu bahwa anaknya jauh lebih hebat!"
Aku tersenyum tapi, air mataku tak bisa berhenti menetes, kemudian aku mengangguk. Ayah mencium keningku. "Sudah nangis-nangisnya, lebih baik kita masuk, Ayah lapar...." Ayah mengelus perutnya.
"Dasar..." ucap Nenek.
Kami masuk, semua pelayan berkumpul menyambut kami. "Siapkan makanan paling enak untuk kami!" Perintah Ayah untuk pelayan.
__ADS_1
Semua pelayan bubar, dan mengerjakan tugasnya masing-masing. Aku menulis, "Yah, Sekertaris Ayah enggak ikut?"
"Tumben nanyain sekertaris ayah, ikut... masih parkir mobil diluar. memang kenapa sayang?"
Aku menulis lagi, "Ditunggu kedatangannya sama Kak Dini."
"Oiya mana ini Dini, disuruh jaga anak ayah, malah kelayapan," ucap Ayah.
"Kemana Kak Dini, Hani?" tanya Nenek.
"Pergi ke salon sendirian, katanya biar keliatan cantik di depan sekertaris ayah," tulisku.
Nenek dan Ayah tertawa terbahak-bahak, "Dasar, liat aja nanti ayah kerjain mereka berdua haha..." ucap Ayah.
"Jangan lah, biarin aja mereka masih kasmaran," ucap Nenek sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah obrolan singkat itu, seketika Kak Dini masuk, entah tidak sadar atau pura-pura tidak tau, berjalan dengan PD nya sambil bernyanyi-nyanyi tidak jelas melewati kami yang sedang makan.
Kak Dini menengok ke arah kami, kaget bukan main sampai-sampai Kak Dini terjatuh. "Maaf Nek, kok enggak mengabari dulu kalau mau kesini?" ucap Kak Dini.
"Enggak sopan kamu Din!" bentak Ayah.
Kak Dini terlihat sangat ketakutan, sambil berkata maaf, maaf, dan maaf. Aku hanya tersenyum-senyum menatap wajah Kak Dini yang ketakutan dan melet ke arahnya. Aku tau Ayah sedang mengerjainya, jadi aku ledek sekalian dia.
"Sebagai hukumannya, kamu pergi ke parkiran belakang, cuci mobil saya!" Ayah berbicara masih dengan nada yang keras.
"Izin sebentar Pak, saya mau ganti pakaian dulu...." Wajah Kak Dini terlihat sangat sedih, sebenarnya aku kasian tapi tak apalah sesekali.
"Enggak usah, langsung ke parkiran!"
"Baik Pak," berjalan kepalanya menunduk tak berani menatap wajah Ayah.
Kasian Kak Dini, padahal barusan selesai perawatan kulit, terus rambutnya terlihat indah, bajunya baru, pulang-pulang disuruh cuci mobil.
__ADS_1
Ayah mengajak aku dan Nenek, membututi Kak Dini dari belakang. "Pelan-pelan jalannya sampai Dini tau kita sedang mengerjainya," ucap Ayah.
Berjalan pelan dan mengintip di belakang tembok sebelah parkiran, Kak Dini terlihat sangat kesal, mengisi air, dan membanting-banting lap di body mobil. Mulutnya menggerutu. Ayah tertawa-tawa melihatnya. "Tau enggak Hani, di dalam mobil ada Sekertaris ayah sedang tidur, sepertinya kelelahan," ucap Ayah.
Aku terus melihat tingkah Kak Dini yang lucu itu, terdengar suara bantingan lap sangat keras, tiba-tiba sekertaris ayah keluar dari mobil. Kak Dini terlihat sangat kaget, "AA..." teriak Kak Dini.
Sekertaris Ayah menyuruh Kak Dini diam, "Jangan berisik, nanti Tuan kesini!" ucap Sekertaris Ayah.
Oiya... Sekertaris Ayah bernama Andri. Kak Andri ini adalah orang kepercayaan Ayah, bisa dibilang Kak Andri adalah tangan kanan Ayah. Selain cerdas, ulet dalam bekerja, Kak Andri juga ahli beladiri. Kak Andri inilah yang selalu melindungi Ayah.
Melanjutkan Kak Dini yang masih bengong, bingung melihat Kak Andri. "Boleh aku bantu sayang..." ucap manis Kak Andri.
Tadi Kak Dini terlihat sangat sangar sekarang centilnya bukan main, "Boleh sayang..." jawab Kak Dini dengan centilnya.
Pasangan yang sangat aneh, tapi serasi. "Oh... kalau gini caranya enggak boleh dibiarin. Malah bermesraan," ucap Ayah. Ayah mulai keluar.
"Hayo... ngapain!" teriak Ayah.
"Enggak kok Pak, ini Sekertaris Bapak dari tadi godain saya aja," ucap Kak Dini.
"Mana ada, kamu yang godain saya," balas Kak Andri.
Kak Dini menginjak kaki Kak Andri. Kak Andri kesakitan, dan berkata, "Iya Pak, maaf saya salah."
"Kamu ini Ndri, garang kalau berantem, tapi di depan perempuan lemah banget haha..." ucap Ayah tertawa terbahak-bahak.
Kak Andri terlihat malu, Ayah berbicara lagi, "Saya cuma bercanda, tadi Hani minta untuk mengerjai Kak Dini."
Tanganku reflek mencubit Ayah. Ayah kesakitan, "Aku enggak minta gitu, Ayah yang punya rencana," kataku dalam bahasa isyarat kepada Kak Dini.
"Hani nakal ya... sini Kak Dini semprot pakai air," Kak Dini mendekat sambil mengarahkan air selang ke arahku.
Aku lari tapi masih terkena air, kesal aku ambil selangnya kemudian menyemprotkannya ke baju Kak Dini, kami semua tertawa bersama diparkiran.
__ADS_1