BISU

BISU
#45 ~Goresan Hati~


__ADS_3

...~Goresan Hati~...


Setelah Jeri pergi, aku langsung mengangkat Firo yang masih kesakitan. "Kamu ini mukul kuat banget!" ucap Firo.


Aku tertawa, mengajak Firo masuk ke ruangan. Aku mengambil obat oles, perlahan aku usap lukanya. Sebenarnya aku juga sedikit menyesal memukulnya sangat kuat. Mau bagaimana lagi aku sangat kesal melihat tingkah kekanak-kanakan mereka.


"Aduh... pelan-pelan," ucap Firo.


Dalam hatiku, manja sekali pria satu ini. Ku usap lagi dengan obat, tapi ku tekan dengan kuat. Firo teriak kesakitan, aku tertawa melihatnya.


"Kasar sekali!" bentak Firo.


Aku diam dan keluar dari ruangan, merasa aneh saja, Firo yang tak pernah membentak ku, sekarang berani membentak. Sekuat apa diriku, aku tetaplah wanita. Tak lama kemudian Firo keluar.


"Maafkan aku," ucapnya sambil menggenggam tanganku.


ku lepaskan tangannya, kemudian ku suruh ia pergi. Firo terus merengek meminta maaf, tapi aku mengabaikannya. Mungkin karena lelah Firo pergi dari restauran. Perasaanku benar-benar hancur saat dibentaknya.


Langit semakin gelap, hari ini lumayan banyak pengunjung. Aku sangat beruntung memiliki karyawan yang sangat cekatan dalam bekerja, tanpa harus disuruh mereka sudah paham akan pekerjaannya.


Sabtu dan minggu kami membuka restauran sampai pukul 10.00 malam. Menjelang pukul 07.00 tamu semakin ramai berdatangan, kebanyakan dari mereka adalah pengunjung dari luar kota yang memang tujuannya berlibur.


Pelayan mulai kewalahan, aku harus ikut turun tangan. Aku mengantar satu persatu pesanan, tak sedikit pengunjung yang memberikan tip, uang tip ku terima, tapi ku kumpulkan dan ku bagi rata dengan pelayan. Koki sudah ada jatahnya sendiri dariku.


Meski aku sudah ikut membantu, kami masih kewalahan, karena tamunya begitu banyak. Firo muncul lagi, membawa bunga dan mendatangiku. Bunga itu diberikannya kepadaku, sambil mengatakan maaf.


Bunga ku terima, aku menulis, "Jika ingin aku maafkan, bantu aku mengantarkan semua pesanan!"


"Oke," jawab Firo.


Sebenarnya aku merasa khawatir, tangannya pun sangat halus, apa bisa Firo bekerja sebagai pelayan. Firo jalan menuju dapur, salah satu pelayan menjelaskan bagaimana cara melayani pelanggan. Fori langsung berkata paham, dan mengambil pesanan.

__ADS_1


Ia berjalan bak layaknya pelayan sungguhan, ternyata Firo sangat lihai dalam melayani pelanggan. Sangat ramah dan mengasikkan bagi tamu. Ternyata kedatangan Firo sangat membantu kami. Pengunjung mulai berhenti berdatangan.


Pesanan terakhir aku yang mengantarkan, kagetnya aku ternyata yang memesan makanan ini adalah Pak Roy. Dari tadi aku tidak memperhatikan wajah-wajah pengunjung, kalau aku tau dia masuk ke restauran pasti ku tolak.


Dia tersenyum kemudian berkata, "Bisa juga kamu ya dalam berbisnis."


Aku taruh pesanannya, kemudian langsung pergi ke dapur. Dari kejauhan Pak Roy berkata, "Jangan sombong, kamu harus melayani pelanggan dengan baik haha...."


Tadi siang anaknya sekarang ayahnya, kepalaku benar-benar pusing saat melihat kedua orang itu. Hatiku seperti terbakar, saat melihat wajah Pak Roy. Selalu teringat kejadian kecelakaan yang menimpa ayah.


Firo mendatangiku, berkata, "Siapa orang itu?"


Aku menjawab dengan menggelengkan kepala, aku tidak ingin Firo terlibat dalam masalah ini. Air mata mulai menetes, karena menahan emosi yang membara.


"Jujur saja, siapa orang itu? Biar ku hajar orang itu jika berani melukaimu. " ucap Firo.


Aku memegang tangannya sambil menggelengkan kepala, kepala koki ikut bertanya, "Ibu kenapa?"


Aku menulis, "Orang itu yang telah mencelakakan ayahku, jika kamu berurusan juga dengannya, mungkin kamu juga akan celaka. Jadi, tetaplah di sini!"


"Kurang ajar!"


Aku menulis lagi, "Jika kamu masih ingin mengenalku, diam dan berpura-pura tidak tau!"


Firo takut dengan ancaman yang ku berikan, duduk menahan amarahnya. Sebenarnya aku heran kenapa Firo terlihat sangat marah. Firo mendengus, tangannya mengepal.


"Diam saja di sini!" tulis ku.


Firo diam, matanya memerah menahan emosi. Kepala koki kembali ke tempatnya. Pak Roy memanggil salah satu pelayan.


"Makanan apa ini? Lihat ada semut di atas makanannya!" bentak Pak Roy.

__ADS_1


"Akan kami ganti yang beru," ucap Pelayan sambil mengambil piring makanan di atas meja.


"Tidak usah! Selera makan saya sudah hilang!" Pak Roy berdiri, melemparkan uang ke wajah pelayan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Semua pengunjung melihatnya, mereka menggelengkan kepala.


"Apa lihat-lihat?" ucap Pak Roy kepada pengunjung lainnya.


Para pengunjung hanya diam, mungkin karena malas meladeni orang gila. Firo yang melihatnya, sudah tidak bisa menahan amarahnya, berlari ke arah Pak Roy kemudian menarik bajunya.


"Berbicara sekali lagi, ku hajar kau!" tangan Firo sudah mengepal.


"Beraninya! Anda tidak tau siapa saya? Lepaskan tangan Anda jika tidak ingin restauran ini saya bakar!" ucap Pak Roy.


Firo melepaskan tangannya dari baju Pak Roy. Aku berlari mendatangi mereka berdua. Menggenggam tangan Firo kemudian menariknya ke dapur lagi. Firo berjalan, tapi tatapannya terus ke wajah Pak Roy.


Pak Roy berkata sambil mengusap bajunya, "Dasar sampah, beraninya berprilaku kasar denganku."


Pak Roy akhirnya pergi meninggalkan restauran, ku paksa Firo duduk dan diam di kursi. Jika Firo melakukan hal yang sembrono, bukan hanya dia yang terancam, tapi semua rencana yang sudah disusun juga akan berantakan.


Setelah situasi dan kondisi sudah terkendali, aku mulai bekerja kembali. Pelayan yang batu saja kena semprot oleh Pak Roy seperti biasa saja. Aku bersyukur psikisnya tidak terganggu setelah mendapat perlakuan seperti itu.


Firo masih duduk di kursi, tak lama kemudian Firo keluar. "Aku ingin mencari udara segar di depan pantai," ucap Firo.


Aku mengangguk, setelah restauran tutup aku akan menyusulnya. Banyak hal yang ingin aku ceritakan dengannya. Waktu terasa begitu cepat, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 09.00 malam.


Sebentar lagi kami akan tutup, kebetulan sudah tidak ada pengunjung datang, hanya tersisa beberapa orang yang masih menikmati hidangan. Aku menyerahkan sisa pekerjaan kepada pelayan, sedangkan aku masuk kedalam ruangan.


Beristirahat sejenak, meluruskan kaki, dan menenangkan hati. Hari terasa sangat melelahkan, energi yang ku miliki seperti terkuras habis. Sambil meminum air, aku memandangi foto ayah.


Tak bisa berkata-kata apalagi, hanya bisa merindukannya, dan memeluk fotonya. Aku sangat ingin ayah ada disini, menceritakan semua masalahku. Dulu ayah selalu mendongeng sebelum aku tidur, sekarang aku ingin yang mendongeng untuk ayah. Tersenyum melihat wajah ayah yang tampan.


Berkata dalam hati, "Ayah anakmu baru saja bertemu dengan orang yang menyakitimu, orang itu juga menyakiti perasaanku sekarang. Tapi jangan khawatir anakmu ini kuat, ayah. Berbahagialah di alam sana."

__ADS_1


__ADS_2