BISU

BISU
#30 ~Perjuangan Firo~


__ADS_3

...~Perjuangan Firo~...


Mobil bergerak tidak seimbang kadang terlalu ke kanan, kadang belok-belok sendiri. Dari wajahnya, Kak Dini terlihat tegang, takut. Tapi alhamdulillah, kami sampai dengan selamat. "Hanya tinggal sering latihan, nanti pasti bisa. Termasuk luar biasa, baru bawa udah bisa jalan. Mulai dari sekarang kamu yang bawa mobil," ucap Kak Dini.


Mengacungkan jempol, aku tersenyum dengannya. Di luar ada Elma yang sedang berjalan menuju restauran, aku bergegas keluar, tanganku melambai. "Makasih Kak," ucapku kepada Kak Dini.


"Iya sama-sama Hani tersayang, ingat banting aja kalau ada yang kurang ajar."


Aku mengangguk, kemudian pergi menghampiri Elma. Kami jalan bersama menuju restauran, saat sedang jalan tiba-tiba Bos jalan di sampingku, berkata, "Semangat hari ini, Hani." Bos tersenyum denganku.


Kesini-kesini aku merasa perlakuan Bos denganku sedikit berlebihan, sepertinya Bos ada maksud lain. Kami masuk ke restauran, dan mulai membereskan semua. mempersiapkan peralatan di dapur. "Kamu tau enggak? Sofi hari ini enggak berangkat," ucap Elma, tertawa-tawa.


Mendengar itu aku sedikit merasa bersalah, apa karena ia takut denganku, atau memang ada sesuatu lain yang membuatnya tidak bisa berangkat hari ini. Aku hanya tersenyum kepada Elma. "Kamu kenapa, harusnya kamu bahagia?"


Aku mengambil buku dan menulis, "Aku merasa, seharusnya aku tidak sekeras itu terhadapnya."


"Enggak papa, untuk pelajaran dia agar tidak seenaknya disini, dari dulu dia itu sok berkuasa, udah kaya Bos aja. Dulu sebelum ada kamu dia itu jadi anak kesayangan Bos," ucap Elma. Matanya terlihat sangat membenci Sofi.


Aku menulis lagi, "Masa iya, dia jadi anak kesayangan Bos?"


"Iya bener, katanya sih Sofi jadi wanita simpanan Bos, tapi jangan bilang sapa-sapa ya," bisik Elma di telingaku.


Aku kaget setengah mati, tapi aku tak langsung mempercayai kabar yang baru katanya. Sebelum aku melihat di depan mataku, dan ada bukti yang pasti aku tidak mempercayai kabar burung. Aku selalu di ajari oleh nenek, sebisa mungkin hindari membicarakan keburukan orang lain, menghindari sifat iri.


Orang yang suka mengatakan keburukan akan lupa dengan kebaikan banyak orang, mungkin ada sifat dengki di dalam dirinya, alangkah sulit hidup ini ketika hati dipenuhi sifat dengki. Orang akan selalu fokus mengoreksi keburukan orang lain dan mencari bahan gosip dengan orang yang sama dengannya.


Dengan kesibukan fokus terhadap orang lain, orang itu akan kehilangan banyak kesempatan untuk maju. Harusnya sudah banyak pekerjaan yang sudah diselesaikan, hanya karena kekurangan orang lain pekerjaannya menghilang. Apa yang aku katakan barusan berbeda kasusnya dengan orang yang memberikan kritik dan saran.

__ADS_1


Seseorang yang memberikan kritik dan saran adalah orang yang perhatian dengan orang lain, karena orang tersebut ingin melihat kemajuan orang lain. Kembali Elma berkata, "Tapi baru katanya sih...."


Aku menulis, "Udah kita kerja aja."


Kami melanjutkan pekerjaan, restauran mulai dibuka. Kami menunggu pengunjung pertama, karena masih terlalu pagi, pengunjung masih belum berdatangan. Kami masih bersantai saja di dapur, koki masih bercanda-bercanda, "Satu porsi pasta!" ucap kepala koki.


Semua langsung bersiap di tempatnya masing-masing. AkuĀ  dan Elma pun sama, sudah siap.Tak perlu menunggu waktu lama, pesanan sudah siap, kali ini yang mengantarkan Elma. Aku menunggu pengunjung berikutnya. Belum selesai Elma mengantarkan pesanan, pengunjung sudah datang lagi.


Kepala koki mulai membaca kertas yang tertulis pesanan pelanggan itu, semua koki yang bertugas mulai menyiapkan pesanan, setelah semuanya siap aku mengantarkannya. Saat aku keluar, ternyata pengunjung itu adalah Firo. Di dalam hati berkata kenapa aku yang harus mengantarkannya,


Aku mulai menaruh pesanan Firo di meja, matanya tak lepas-lepasnya memperhatikanku. Setelah itu Firo tersenyum, "Aku ingin bertemu dengan manager restauran ini," ucap Firo.


Aku mengangguk, tapi sama sekali tidak menatap wajahnya. Aku pergi ke ruangan Bos, menulis, "Bos, ada pengunjung yang ingin bertemu."


"Oke, suruh pelanggan itu menunggu sebentar."


"Oke."


Tanpa basa-basi aku langsung pergi ke dapur, aku sangat heran dengan orang ini, sebenarnya apa yang dia inginkan dariku. Mengintip dari pintu dapur, Bos sedang mengobrol dengan Firo, tatapan Bos terlihat sangat serius. Elma yang baru selesai mengantarkan pesanannya menemui ku di dapur berkata, "Hani, dipanggil Bos di depan."


Aku segera menuju ke tempat Bos, yang masih duduk di sebelah Firo. "Tolong temani Bapak ini, kareena ia ingin bertanya-tanya tentang restauran. Saya masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan," ucap Bos.


Sebenarnya aku sangat risih melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, ini perintah Bos. Masih banyak karyawan yang lebih paham tentang restauran ini, aku disini masih baru. Kenapa harus aku yang disuruh Bos menemani Firo. Kami duduk berdua, aku duduk sedikit menjauh darinya.


"Aku bukan orang jahat, jadi tolong bersikap sedikit baik denganku," ucap Firo.


Aku menulis, "Baik, Pak."

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak ingin bertanya tentang restauran, aku hanya ingin mencari teman makan. Boleh temani saya makan, dan mengobrol dengan saya?"


Di dalam hati ingin mengucapkan kalimat kasar terhadapnya, aku ini pelayan restauran bukan pelayan hidupnya. Aku tidak bisa menolak permintaannya, karena pekerjaan ini sangat berarti bagiku. Aku mengangguk.


"Saya adalah dokter bedah, boleh aku bertanya ?"


Sekali lagi aku hanya mengangguk. "Apakah kondisimu tentang suara, sudah sejak lahir?"


"Iya sudah sejak lahir, ada kerusakan pada pita suaraku," tulis ku.


"Ada pengobatan yang bisa menyembuhkannya, apakah kamu mau?"


"Aku sudah mengikuti berbagai jenis pengobatan, tapi hasilnya tetap nihil, ditambah aku tak memiliki uang banyak jadi, aku tidak mau," lanjut tulis ku.


"Pengobatan seperti apa yang kamu jalani?"


Aku menulis lagi, "Terapi dan meminum obat dalam jangka waktu yang lama."


"Pengobatan yang aku maksud berbeda dengan pengobatan yang pernah kamu jalani, ya mungkin tingkat keberhasilannya 50%, tapi ini peluang yang sangat bagus untuk dicoba. Tidak usah pikirkan biayanya, aku yang akan menanggung semuanya."


Aku menggelengkan kepala tetap menolak keinginannya, aku senang ada orang sebaik dia yang ingin membantuku meski perlakuannya terhadapku sedikit membuat risih, tapi aku tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Sebenarnya aku heran, dia yang baru aku lihat, belum mengenal lebih dalam, tapi sudah sebaik ini menawari bantuan.


"Oke seandainya tidak mau, minimal boleh aku meminta nomer telpon mu?"


Hatiku bimbang, aku tidak mau diganggu dengannya lagi, tapi firasat ku dia adalah orang baik. Aku terdiam, kemudian menulis, "08xxxxxxxxxxx, ini nomerku. Tapi ingat, boleh menghubungiku jika ada sesuatu yang penting saja."


Firo tersenyum lebar, terlihat sangat senang. Kemudian berkata, "Akhirnya... oke siaplah."

__ADS_1


__ADS_2