
...~Tanda Tanya Besar~...
Keesokan harinya, pagi sekali Kak Andri dan Kak Dini datang ke rumah. Aku dan Nenek sudah siap untuk pergi ke pemakaman ayah. Sebenarnya, langkah kakiku sungguh berat untuk pergi ke pemakaman, mungkin aku masih belum percaya kalau ayah sudah tiada.
Kami masuk ke dalam mobil, Lokasi pemakaman lumayan jauh, kami membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di sana. Selam perjalanan Nenek terlihat sangat sedih, aku pun sama. Kami hanya diam, Kak Dini selalu menghibur kami.
Sesampainya di pemakaman itu, Kak Andri berkata di dalam mobil, "Jangan keluar dulu, lihat di makam itu, sepertinya aku kenal dengan pengunjung makam."
Kami melihat ada wanita memakai pakaian hitam dan kerudung hitam, saat kami melihat lebih dekat ternyata dia adalah Ibu. Semua sangat terheran-heran, makam siapa yang didatanginya? Kami menunggu di dalam mobil.
Tak lama kemudian, Ibu berdiri dan berjalan meninggalkan makam itu. Ada mobil di dekat makam, terlihat ada pria yang keluar dari mobil tersebut. Pria tersebut membukakan pintu mobil untuk ibu, tapi sangat mengejutkan bagi Kak Andri.
Kak Andri berkata, "Pria itu adalah kuasa hukum dari pak Hendri, idak salah lagi ia yang memegang surat wasiat."
Setelah mobil Ibu pergi, karena penasaran makam siapa yang dikunjungi ibu, kami langsung menuju makam tersebut. Sesampainya di makam itu, kami terdiam membaca nama yang ada di batu nisan, kakiku terasa sangat lemas, air mata mulai keluar.
Nenek langsung berteriak, "Hendri...."
Ternyata makam yang di datangi Ibu adalah makam ayah, bunga yang ada di atas makam aku buang. menurutku tak pantas seorang yang telah mencelakakan ayah memberi bunga di atas makam ini.
Aku memeluk Nenek, tangisan kami sungguh tidak bisa di tahan lagi. "Sabar ya Nek, Hani, lebih baik kita doakan almarhum Pak Hendri," ucap Kak Dini.
__ADS_1
Kak Andri dan Kak Dini sebenarnya juga terlihat bersedih, air mata juga terlihat di kelopak mata mereka berdua. Bagi kami semua ayah adalah orang yang paling berjasa. Kak Andri yang sudah lama menjadi tangan kanan ayah, Kak Dini yang sudah dianggap sebagai anak sendiri bagi ayah.
Banyak sekali kenangan dengan ayah, itu yang menyakiti hati. Tangis kami bercampur dengan kebingungan, bingung karena kedatangan Ibu kesini. Aku bercerita di depan makam ayah pa saja yang telah ku jalani selama ini tanpa adanya ayah, dengan bahasa isyarat.
Nenek yang melihatku bercerita, tangisannya semakin keras. Setelah semua selesai ku ceritakan, aku mencium batu nisan ayah, di dalam hati berkata,"Sungguh aku sangat merindukan ayah, dan sangat menyayangi ayah."
Kami berdoa bersama agar ayah tenang di sana. Setelah itu kami pulang, Nenek dan aku mulai tenang, meski kami sedih karena harus menerima kenyataan kalau ayah sudah meninggal, tapi kami akan meneruskan perjuangan ayah. Mengambil perusahaan dari tangan-tangan orang kotor.
Sesampainya di rumah, Nenek langsung masuk ke dalam kamarnya, Kak Dini dan Kak Andri langsung pulang karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor. Aku mengecek restauran berjalan dengan aman, setelah itu pergi ke depan pantai sambil membawa peralatan melukis.
Aku ingin melukis senyum ayah yang dulu selalu ada untukku. Hembusan angin pantai dan deburan ombak menemaniku. Aku mulai menggoreskan kuas cat ke selembar kanvas kosong, masih teringat jelas senyuman terakhir ayah saat dia atas mimbar perusahaan waktu itu.
Seandainya aku tau, senyum itu adalah senyum terakhirnya, akan ku balas senyuman itu dengan pelukan. Sungguh takdir benar-benar tidak bisa ditebak, aku sempat bertanya, apakah Tuhan sayang denganku? Jika Tuhan menyayangiku, apakah takdir ini salah satu bentuk sayangnya Tuhan?
Hal yang harus aku percaya, Tuhan tidak akan memberikan suatu ujian diluar batas kemampuan kepada makhluk-Nya. Goresan demi goresan sudah ku tuangkan dalam kanvas, mulai terlihat nyata senyum ayah pada lukisan ini.
Suatu saat lukisan ini akan dikenal oleh orang banyak, aku yakin itu. Sebenarnya ada salah satu pameran lukisan yang meminta agar lukisanku ikut kedalam pameran itu, tapi aku masih menolaknya. Bukan karena aku sombong, tidak mau mengikuti pameran kecil, tapi karena aku belum siap melihat orang lain hancur karena ku.
Jika aku memaksakan diri untuk ikut pameran itu dan di ketahui ibu, maka akan berdampak negatif pada panitia penyelenggara pameran. Menunggu waktu yang pas untuk melanjutkan karir sebagai pelukis, sampai waktu yang tepat itu hadir aku akan menjadi orang sukses di bidang bisnis lebih dahulu.
Saat aku memiliki uang banyak, akan ku lawan ibuku sendiri. Tidak munafik hidup di negeri ini sangat membutuhkan uang dalam segala hal. Memang uang bukan prioritas ku, tapi uang akan ku jadikan senjata melawan orang-orang jahat.
__ADS_1
Mencari orang kuat sebagai proteksi ancaman ibu, dan membuat pameran besar, semua lukisanku akan ku pamerkan disitu, itulah rencana kedepannya. Tak terasa, aku sudah menyelesaikan lukisan ayah, sungguh karya yang luar biasa. Lukisanku seperti hidup, saat orang lain melihat lukisan ini, sosok ayah seperti tersenyum dengan nyatanya.
Hari sudah mulai sore, astaga aku lupa kalau aku sudah ada janji dengan Firo. Membuka ponselku ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Firo. Baru saja mau menelpon balik, eh... ternyata mobil Firo terlihat di depan.
Firo turun dari mobil, langsung menghampiriku. "Aku telpon tidak di angkat-angkat!" ucap Firo.
Aku jawab dengan tulisan, "Maaf aku sibuk tadi. Bagaimana dengan orang itu?"
"Laki-laki itu tidak kembali lagi, padahal hari ini ia harus melakukan kemoterapi," jawab Firo.
Aku semakin bingung dengan kasus ayah, siapa orang itu bisa-bisanya berkata maaf, memangnya ada salah apa denganku, ditambah ibu bersama dengan orang yang memegang surat wasiat. Jika orang itu bersama ibu, tandanya mereka bersekongkol mencelakakan ayah.
Pak Roy, ibu, petinggi perusahaan, dan kuasa hukum, adalah dalang dibalik kematian ayah. Terus apa hubungannya, pengemis yang dikejar kak Andri waktu itu, dan pasien Firo dengan kasus ini. Kepalaku benar-benar pusing memikirkannya.
Surat wasiat akan sangat sulit untuk didapatkan, hanya ada satu cara untuk membuktikan kejahatan mereka semua yaitu terus memantau sambil merekam pembicaraan mereka. "Yasudah, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanyaku dengan tulisan kepada Firo.
"Tumben jinak hari ini, mau menanyakan tentang pekerjaanku juga lagi haha... kesurupan apa kamu?" ucap Firo.
Aku menulis lagi, "Jangan menjengkelkan!"
"Maaf... semua lancar, aku lihat restauran ramai pengunjung. Aku ingin makan, masuk yuk."
__ADS_1
"Sebentar, aku bereskan alat lukis dulu," jawabku di dalam tulisan.
Firo membantu membereskan alat-alat lukis, saat melihat lukisanku, Firo berkata, "Sungguh indah lukisan ini!"