BISU

BISU
#33 ~Tajamnya Taring Sang Ibu~


__ADS_3

...~Tajamnya Taring Sang Ibu~...


Malam yang berat untuk bisa tertidur, di dalam otak terngiang-ngiang masalah yang terjadi hari ini. Berat dijalani tapi inilah hidup, aku harus lebih kuat lagi. Menunggu balasan chat dari Firo membuatku gelisah, aku takut ia marah.


Lama... ku tunggu balasan chat darinya, tak kunjung dibalas. Berbaring di kasur ditemani oleh kegelisahan, apa rasa gelisah ini adalah salah satu tanda bahwa aku mencintainya?


Selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta, hal yang pernah aku rasakan hanya kagum terhadap teman masa kecil, ya... siapa lagi kalau bukan Erik. Mungkin, sekarang ia sudah lupa denganku.


Meski ia sudah lupa denganku, tapi aku berharap dirinya sudah hidup bahagia, hidup dengan kelurga yang baik, dan bisa menerimanya. Aku percaya, Erik sekarang tumbuh menjadi pria yang tampan.


Memikirkannya membuatku mengantuk ingin tertidur dan berharap bisa bermimpi masa-masa bersamanya. Aku pun, tertidur sambil memeluk bantal guling yang empuk.


Keesokan harinya, pagi buta aku sudah bangun menyiapkan makanan untuk sarapan. Kak Dini masih ngorok, pulas sekali tidurnya. Rencana ku hari ini akan membereskan tempat yang akan di bangun untuk jualan.


Esoknya baru menyuruh tukang bangunan, kak Andri berkata sudah menyiapkan semua terkait pembangunan warung. Bahkan aku di berikan pinjaman uang untuk modal jualan, sekarang waktunya aku membangun bisnisku sendiri.


Selesai memasak, aku langsung beres-beres. Melihat jam tak terasa sudah pukul 06.00, "Hani!" Teriak Kak Dini.


Seperti anak kecil saja, bangun tidur teriak-teriak enggak jelas. Nenek terbangun karena teriakan itu, Nenek ikut memanggilku. Aku abaikan Kak Dini, menuju kamar Nenek.


"Nenek ingin pergi ke kamar mandi," ucap Nenek.


Kagetnya aku setelah berbicara Nenek mencoba berdiri sendiri kemudian berjalan pelan. Aku langsung menuntunnya, aku takut Nenek jatuh. Aku sangat senang karena kondisi kesehatan Nenek berangsur-angsur membaik, setelah mengantarkan Nenek ke kamar mandi, pergi ke dapur dan mengambilkan teh hangat dan sarapan untuk Nenek.


Setelah itu aku pergi ke kamar untuk menemui Kak Dini yang masih teriak-teriak memanggilku, sesampainya di kamar Kak Dini berkat, "Ambilkan bos minum!"


Dalam hatiku malas amat mengambilkan minum untuknya, sehatwalafiat, punya kaki dan tangan. Aku mendekat dan mencubit tangannya, "Kurang ajar!" ucap Dini, kemudian bangun.

__ADS_1


Aku lari terbirit-birit, karena cubitan Kak Dini lebih sakit dari pada aku. Dia tidak mungkin berlari mengejar, soalnya ada bayi di perutnya. "Awas kamu ya!" teriak Kak Dini.


Saat sedang melanjutkan beres-beres, Kak Dini menghampiriku, ingin membantu tapi ku tolak. Dia tidak boleh terlalu letih, kasian bayinya. Aku suruh duduk, diam, dan hanya boleh menonton saja.


Jam 7 tepat, terdengar suara ketukan pintu. Aku membuka pintu, ada tamu seorang wanita yang mukanya tak asing. Setelah aku ingat-ingat ternyata dia adalah ibuku.


Ku tutup lagi pintu, pintu yang belum sepenuhnya tertutup di tahan dengan tangannya. Kemudian dengan paksa membuka pintu. Aku terjatuh, Kak Dini langsung menghampiri. "Siapa kamu?" tanya Kak Dini, wajahnya terlihat sangat marah.


"Harusnya saya yang bertanya, siapa kamu!" bentak Ibu.


"Oh... Anda, wanita yang meninggalkan keluarganya demi karir!" balas bentak Kak Dini.


"Kurang ajar, tidak pantas orang asing berbicara seperti itu denganku!"


Ibu mendekat ke arahku, bertingkah manis ingin menolong dan mengatakan maaf. Aku tampil tangannya, mataku melotot ke arah wajah wanita yang tak pantas disebut ibu.


Awalnya aku sangat ingin menghormatinya dan sudah memaafkan tindakannya meninggalkanku. Tapi, saat aku dengar wanita ini mengkhianati ayah, amarahku memuncak.


Aku berdiri, menggandeng tangannya berjalan keluar seolah-olah aku mau ikut bersamanya. Sampai di depan pintu, dorong keluar dan menutup pintu dari dalam.


"Dasar anak durhaka! Lihat saja kamu akan kembali dengan ibu, jika kamu tidak mau akan ku hancurkan rumah ini!" teriak Ibu.


Sungguh wanita yang sangat kejam, aku berharap dia pergi, tidak kembali lagi. Suara kaki terdengar, sepertinya Ibu pergi. Mengintip dari jendela, ternyata benar wanita itu pergi.


"Ingat ya Hani, jangan sampai mau ikut bersamanya!" ucap Kak Dini.


Tanpa diberi tahu aku juga tidak akan ikut bersama wanita kejam itu. Nenek memanggilku, berkata, "Tadi Nenek dengar ada suara bising di luar, ada apa?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala, Kak Dini di belakangku berkata, "Aku tadi bergurau dengan Hani, Nek."


"Oh kirain ada apa, yasudah tolong tuntun nenek ke depan, nenek ingin berjemur."


Kami menuntun Nenek ke depan untuk berjemur. Sebelum keluar, Kak Dini memastikan kalau ibu sudah benar-benar pergi. "Kamu ini ngeliatin apa, Din?" tanya Nenek.


"Enggak ngeliatin apa-apa, Nek."


Nenek berjemur dengan santai ditemani Kak Dini, sedangkan aku yang sudah selesai membereskan rumah, sekarang membereskan lokasi calon warung.


Udara diluar sangat sejuk, pengunjung pantai mulai berdatangan. Kak Andri kebetulan hari ini sedang libur kerja, ia sedang menuju kesini, berlibur sambil merancang gambar bangunan yang akan dibangun.


Diawal aku yang hanya ingin membuat warung kecil-kecilan, sekarang berubah menjadi restauran. Usaha ini berubah bukan atas kemauanku, tapi karena Kak Andri.


Tadi sebelum ibu datang, Kak Dini menyampaikan pesan dari Kak Andri, aku akan di buatkan restauran. Semua modal akan di tanggung oleh Kak Andri.


Kak Andri bilang, sepenuhnya aku yang akan mengelola restauran ini. Karyawan sudah di siapkan. Hanya tinggal menunggu restauran selesai dibangun.


Semua sudah selesai aku bereskan, aku mandi, selesai mandi, menuju ke tempat Nenek berjemur. "Hani, gantian jaga Nenek, kakak mau mandi dulu. Sebentar lagi suamiku datang," ucap Kak Dini.


Sok manis sekali, wanita kasar ini. Biasanya juga jarang mandi. "Sombong amat yang punya suami," ucapku dengan isyarat.


Nenek tersenyum melihat kami selalu berantem. Anehnya Nenek takut jika melihat kami diam-diaman, enggak berisik. Katanya sih, kalau kami saling diam tandanya kami benar-benar sedang marahan.


Seingat ku, kami belum pernah musuhan. Berantem karena kami saling perhatian dan saling menyayangi. Setelah itu, Kak Dini berbalik badan mengibaskan rambutnya dan pergi masuk.


"Lihat, Nek. Cucu nenek yang satu itu mulai berani sombong," ucapku dengan isyarat.

__ADS_1


"Nenek senang melihat kebahagiaan kalian." Nenek tersenyum denganku.


Aku memeluk Nenek dari belakang, aku sangat bersyukur Nenek bisa cepat sembuh. Padahal Dokter bilang, Nenek membutuhkan waktu yang lama, sampai nenek bisa kembali normal lagi.


__ADS_2