
...~Ibu~...
Pujian demi pujian ku dapatkan dari mulut manis Firo tentang lukisan yang baru saja ku buat. Firo tidak tau, lukisan itu adalah ekspresi kesedihanku. Setelah membereskan semuanya, kami masuk ke dalam restauran.
Duduk di kursi pengunjung, Firo berkata dengan pelayan, "Aku mau pesan pasta, jangan lama-lama ya mbak,."
"Baik, Tuan." Pelayan tersenyum denganku.
Aku heran kenapa ia malah tersenyum denganku, padahal Firo yang memesan makanan. Senyum pelayan seperti mengejekku, berani-beraninya mengejek bos.
"Kita sudah mengenal lama, boleh aku bertanya?" ucap Firo.
Aku mengangguk, Firo melanjutkan perkataannya, "Apakah kamu sudah memiliki kekasih?"
Aku menulis, "Selama ini belum ada pria yang membuatku tertarik."
"Sungguh?" Firo berkata pipinya mengkerut.
Lanjut tulisku, "Ada satu pria yang membuatku tertarik."
Firo tersenyum lebar kemudian berkata, "Siapa pria itu?"
"AYAHKU!" tulis ku dengan sangat jelas.
Sebenarnya aku ingin berkata bahwa pria itu adalah dia, tapi nanti kepalanya membesar. Aku merasa setiap di samping Firo, masalah terasa sangat ringan, dan saat dekat dengannya, aku sangat nyaman.
Biar ku simpan perasaan ini sampai waktu yang tepat. Aku penasaran dengan keluarga Firo, bertanya dengan menulis, "Dimana ayah dan ibumu?"
Firo menjawab, "Ibu dan ayahku sudah tidak ada. Aku hidup sebatang kara."
"Maaf," ucapku dalam ulisan berikutnya.
"Enggak papa, santai saja."
Pesanan datang, Firo langsung menyantap makanan yang dipesannya. Setelah menghabiskan makan, ia pamit pulang. Terlihat kekecewaan di wajahnya.
__ADS_1
Sebelum pergi ia berkata, "Aku berharap, ada wanita sepertimu yang bisa menerimaku." Firo langsung tancap gas.
Ada rasa tidak enak hati, aku tau dia sedang mengungkapkan perasaannya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara tentang cinta karena ada hal lebih penting yang harus aku selesaikan. Malam tiba, aku tidur bersama Nenek.
Mata Nenek terlihat sembab, pasti seharian Nenek menangis. Aku menciumnya kemudian tidur. Keesokan harinya, datang ibu bersama dengan bodyguard. "Sehari saja kamu tinggal bersama ibu, jika kamu tidak mau, ibu akan menutup restauran ini."
"Kurang puas apa kamu, sudah mencelakakan anakku, sekarang kamu mau ambil cucuku!" bentak Nenek.
Dengan tatapan yang tajam aku menolak ajakannya, "Ibu tau pemilik restauran ini adalah Andri, kamu mau lihat Andri di pecat dari perusahaan?" ancam Ibu.
Nenek berseru, "Jangan mau, Hani!"
Mendengar ancaman itu aku merasa takut, "SEHARI SAJA!" bentak Ibu.
Aku menulis untuk Nenek, "Nek aku tak mau lihat keluarga Kak Andri ikut merasakan kekejaman orang ini, biarkan aku tinggal bersamanya sehari aja."
"Jangan sakiti cucuku, ingat hanya sehari!" bentak Nenek kepada Ibu.
Aku benar-benar diposisi yang tidak menguntungkan, mau tidak mau aku harus menuruti kemauannya. Menyiapkan baju yang akan ku bawa, kemudian aku pergi menuju ibu. Kami menuju mobil, masuk dan pergi kerumahnya.
Ibu melanjutkan perkataannya, "Ibu tidak pernah mencelakakan ayahmu, terserah mau percaya atau tidak."
Mataku melotot, aku menulis, "Kalau bukan Anda, terus kenapa kemarin anda datang ke makam ayah?"
"Ibu tidak bisa menjelaskannya," Wanita itu tersenyum denganku.
Rasa marah dan sakit hati masih menyelimuti, aku tidak menatapnya lagi. Hanya diam dan menahan Emosi. Kami sampai di rumahnya, rumah itu bukan rumahku dulu, entah berapa banyak rumah yang sudah diberikan oleh pak Roy untuknya. Semua pemberian dari pak Roy adalah milik ayahku.
Dasar wanita tak tau diri, aku dipersilahkan masuk. Semua pelayan menyambut dengan baik. Aku berfikir pelayanan ini adalah sebuah rayuan agar aku mau terus tinggal bersamanya. Tapi maaf orang sepertiku tidak akan tinggal bersama wanita ini.
Jika bukan karena Kak Andri aku tidak akan mau tinggal bersamanya, walau hanya sehari. Tas yang ku bawa dibawakan pelayan, salah satu pelayan berkata denganku, "Biar saya antar ke kamar nyonya, silahkan ikuti saya."
"Tidak usah, Hani malam ini tidur bersamaku."
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Aku langsung menarik tangan pelayan yang akan pergi setelah ibu berkata seperti itu, menulis, "Antarkan aku ke kamar itu, aku tidak ingin tidur bersamanya!"
Pelayan bingung, ibu mengambil buku yang ku pegang kemudian berkata, "Turuti kata ibu, jika kamu tidak ingin orang terdekatmu celaka!"
Aku sangat ingin menamparnya, tapi sungguh aku tak berdaya. "Antarkan ke kamar saya," ucap Ibu kepada Pelayan. Dengan sangat terpaksa aku mengikuti langkah kak pelayan itu, Rumah ini sungguh besar kamar ada di lantai 2. Hanya melihat kamar kemudian keluar lagi.
Aku keluar pergi ke taman sedangkan Ibu pergi dengan sopirnya, Salah satu pelayan ku panggil. Banyak yang ingin ku tanyakan dengan pelayan ini.
Aku menulis, "Sudah lama bekerja untuk Ibu?"
Pelayan itu menjawab, "Sudah Nyonya, setiap ibu pindah rumah saya selalu di ajaknya, dan melayaninya di manapun."
"Apakah kamu kenal dengan pak Roy?" tulis ku.
"Saya tau, Ia adalah suami sirih Ibu. Tapi setau saya pak Roy jarang sekali menemui ibu, sekali saya lihat Ibu dan pak Roy berkelahi hebat."
"Apa yang mereka bicarakan?" tanyaku.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak berani mengatakan pembicaraan mereka."
Aku menulis lagi, "Bilang saja tidak papa, aku anaknya."
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa mengatakannya." Pelayan itu pergi begitu saja.
Sial, sungguh susah mencari informasi disini. Tidak lama kemudian Ibu pulang membawa banyak sekali makanan. "Hani, ibu bawa sosis, dan lain-lain. Ayo kita bakar-bakaran nanti malam."
Kadang aku bingung kebaikannya hari ini adalah sebuah rekayasa atau memang tulus ingin memperlakukan aku dengan baik. Aku tak menghiraukan Ibu, tapi ibu mendekat duduk di sampingku.
"Sehari ini saja, bisakah Hani berpura-pura baik dengan ibu?" terdengar perkataannya benar-benar tulus.
Aku masih tetap menghiraukan perkataannya. Ibu tersenyum, kemudian berkata, "Ada banyak hal yang ingin ibu ceritakan dengan Hani, tapi sepertinya waktu ibu tidak cukup. Ibu hanya ingin mengatakan Maaf telah menelantarkan, Hani."
Air matanya mulai menetes, Ibu yang kejam sekarang dengan gampangnya meminta maaf setelah semua yang ia lakukan kepadaku dan keluarganya sendiri.
Air mata yang keluar dari matanya belum seberapa jika dibandingkan kesedihanku selama ini karena semua yang ia pernah lakukan. Bujuk rayunya tidak akan mempan denganku.
__ADS_1
"Hani, suatu saat kamu akan mengerti apa yang ibu rasakan selama ini. Ibu janji setelah ini, ibu tidak akan mengganggumu, dan ibu tau kamu ingin mengambil semua milik ayahmu dari tangan Roy. Sudah lupakan saja, saat ini ibu hanya ingin menikmati hari bersamamu," ucap Ibu.