
...~Hancur Lebur~...
Setelah restauran tutup, aku segera menyusul Firo di depan pantai. Firo terlihat sedang menatapi, deburan ombak.
Aku tepuk bahunya, Firo menoleh tersenyum kepadaku. "Aku minta maaf atas kejadian hari ini," tulis ku dalam buku.
Setelah membaca tulisanku, Firo berkata, "Kenapa kamu harus minta maaf? Kamu tidak salah, orang brengsek itu saja yang kurang ajar," ucap Firo.
Aku tersenyum, Aku menulis lagi, "Terimakasih sudah membelaku."
"Aku ingin bertanya boleh?" tanya Firo sambil memegang tanganku.
Aku mengangguk, Firo melanjutkan perkataannya, "Mau kah kau menjadi istriku?"
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, aku sangat terkejut. Jantungku berdebar kencang, baru kali ini aku mendengar perkataan seperti itu. Aku bingung akan menjawab apa, hanya terdiam menelan ludah.
"Aku tidak membutuhkan jawabannya sekarang, tapi aku akan menunggu jawabanmu. Yasudah aku pamit dulu." Firo melepaskan tangannya kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Jantungku masih berdebar sangat kencang, sampai-sampai tak sadar aku masih melamun dan tak memperhatikan Firo pergi.
Klakson berbunyi aku baru sadar, Firo sudah pulang. Apa yang aku pikirkan sebenarnya, aku harusnya menjawab mau. Memukul kepala dan menyesali tidak menjawabnya.
Tapi, saat aku pikir-pikir lagi, aku bersyukur Firo mau menunggu, karena aku masih harus menyelesaikan masalahku dengan Pak Roy. Belum di tambah anaknya yang akhir-akhir ini mengganggu terus.
Masuk ke dalam rumah, aku langsung mencari Nenek, ingin menceritakan ini semua. Nenek ternyata sedang masak di dapur, aku membantunya memasak.
Sambil memotong bawang, aku menulis, "Nek, tadi aku di ajak menikah dengan Firo."
"Haaa?" Nenek terkejut saat membaca tulisanku.
Aku menulis lagi, "Tapi, belum aku jawab."
__ADS_1
Nenek tersenyum seraya berkata, "Kamu sudah dewasa, saran nenek cepatlah menikah. Firo orang yang baik, nenek percaya dia bisa menjadi suami yang bisa menerimamu apa adanya dan bisa melindungi mu."
"Aku masih bimbang, aku ingin menyelesaikan masalah ayah terlebih dahulu, setelah itu baru aku akan memikirkan tentang menikah," tulis ku.
Nenek memegang pundak ku, kemudian berkata, "Kalau masih bimbang, jangan dipaksakan. Tinggalkan pekerjaan dapur, mandi dulu sana."
Aku mengangguk, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Saat di kamar mandi, aku berendam sambil memikirkan perkataan Firo. Aku sebenarnya mencintai Firo, tapi kenapa masih mengganjal di hatiku nama Erik.
Setelah mandi, aku makan bersama Nenek. Nenek banyak menasehati aku tentang pernikahan. Sejak itu aku paham bahwa pernikahan tidak semudah yang ku bayangkan.
Keesokan harinya, aku siap dan bersemangat bekerja. Semua karyawan sudah datang, restauran buka lebih awal. Satu persatu pengunjung mulai berdatangan. Sekarang restauran ini sudah banyak yang mengenal.
Meski sudah terkenal dan banyak pelanggan, aku tetap menegaskan kepada koki dan pelayan agar tetap mendahulukan kualitas, baik makanan dan pelayanannya.
"Selamat pagi," ucap salah satu pengunjung dari kejauhan ke arahku.
Aku perhatikan, ternyata pengunjung itu adalah Jeri, anak pak Roy. Aku sudah sangat malas meladeninya, tapi dia selalu datang mencari perhatianku. Tak lama Jeri duduk di kursi tamu, pelayan mendatangiku.
"Bu, ada pelanggan yang ingin berbicara dengan, Ibu. Katanya ada hal yang sangat penting," ucap Pelayan.
Tanganku langsung mengepal dan mengarahkan ke wajahnya. "Jangan galak-galak, aku memiliki informasi yang mungkin sangat penting bagimu," lanjut kata Jeri.
Aku menulis, "Apa?"
"Tapi, sebelum aku mengatakannya, aku ingin meminta maaf atas semua perlakuanku yang ke kekanak-kanakan kemarin." Jeri tersenyum.
Aku sedikit heran, sekarang Jeri sungguh berbeda dari sebelumnya. Tata bicaranya sungguh sangat sopan dan nada bicaranya sangat lembut.
Jeri melanjutkan perkataannya, "Aku memiliki bukti terkait kejahatan ayahku terhadap ayahmu. Sebenarnya aku hanya anak angkat dari ayahku, sekarang aku telah dibuangnya, diperlakukan kasar, tadi malam aku merekam semua pembicaraan ayah dengan orang yang telah merusak mobil ayahmu sebelum kecelakaan itu terjadi."
Belum selesai Jeri bercerita, tangannya langsung aku tarik. Aku mengajak Jeri mengobrol di ruangan pribadiku.
__ADS_1
Aku menulis, "Lanjutkan ceritamu!"
"Jadi, ayahku telah lama merencanakan semuanya, aku dengar dia sengaja menutup semua agensi pameran melukis untuk anak pak Hendri. Sengaja merebut istrinya hanya karena nafsu belaka. Sebenarnya aku sangat membenci ayah," Kata Jeri.
"Dimana rekaman itu?" tanyaku dengan tulisan.
"Sabar, aku belum selesai bercerita. Aku mendapatkan informasi esok dia telah merencanakan penutupan restauran ini, izin restauran akan dicabut. Kamu tau sendiri ayahku bisa melakukan banyak hal karena teman-temannya adalah orang berpengaruh."
Mendengar rencana itu, aku sangat marah, tanganku mengepal sangat erat.
Jeri melanjutkan perkataannya, "Tapi jangan khawatir rencana penutupan restauran ini dibatalkan, karena aku mengancam berkata akan membeberkan semua rahasianya. Ayah sangat marah denganku sampai-sampai aku di tampar dan di sekap di ruangan," lanjut kata Jeri.
Aku menulis, "Lebih baik kamu berikan bukti rekaman itu."
"Aku bilang sabar, aku kabur dengan membawa banyak uang. Sebenarnya ayah sudah banyak berjasa bagiku, tapi aku tidak mau ayah terjerumus lebih dalam lagi."
Aku menggebrak meja, dengan isyarat meminta rekaman itu.
"Oke... oke... langsung saja ke intinya, jika kamu ingin rekaman itu, kamu harus mau menikah denganku. Aku janji akan selalu menyayangimu dan menjadi suami yang baik untukmu," ucap Jeri sambil memegang tanganku.
Aku langsung melepaskan tangannya, mataku melotot ke arah wajah Jeri. Caranya benar-benar kampungan.
"Pikirkan baik-baik, aku tunggu jawaban darimu. Setelah menikah denganku semua yang dimiliki ayahmu pasti akan kembali lagi. Karir melukis mu juga akan bersinar kembali, aku pamit." Jeri pergi dari ruangan.
Amarahku sudah tak tertahankan lagi, aku tidak membayangkan memiliki suami sepertinya. Air mata menetes deras, ingin sekali menghajarnya sampai puas.
Tidak lama Jeri pergi, Firo masuk ke dalam ruangan pribadiku. "Kenapa menangis? Kurang ajar apa yang dikatakan laki-laki brengsek itu?" nada bicara Firo sangat keras.
Aku hanya menggelengkan kepala, kemudian aku menyuruh Firo keluar dari ruangan ku. "Bilang kepadaku, aku hajar lagi orang itu!" ucap Firo.
Sekali lagi dengan bahasa isyarat aku menyuruhnya keluar. Firo keluar, pintu ku kunci rapat-rapat. Menangis sebisaku, air mata yang bercampur dengan rasa kekesalan. Bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Sungguh aku tidak ingin menikah dengan Jeri, tapi di kepalaku hal yang paling penting adalah ayah. Kemarin Firo, sekarang Jeri. Aku juga bingung apa yang dia harapkan dariku, aku ini hanya wanita bisu. Masih banyak wanita yang lebih baik, jika dibandingkan dengan diriku ini.
Meletakkan kening di meja, aku terus menangis dan berharap ada malaikat yang menolongku. Memilih menikah dengan Jeri dan bisa menyelesaikan masalah ayah atau menikah dengan Firo? Sungguh pilihan yang sangat berat.