
...~Ancaman Dari Ibu~...
Melihat Firo sudah sangat tidak tahan berdiri, Aku merasa kasihan dan menghampirinya. Dengan isyarat mengatakan kalau sudah selesai. Firo langsung berlari melihat lukisanku. "Boleh tidak lukisan ini untukku?" ucap Firo tangannya sambil memohon.
"Tidak boleh! Lukisan ini akan ku pajang di restauran," tulis ku dalam buku.
"Plis... boleh ya?" Firo masih saja memohon.
Aku menulis lagi, "Tidak boleh!"
"Dasar pelit!" ucap Firo.
Aku membuang muka, kemudian membereskan semua peralatan melukis. "Jangan marah, aku hanya bercanda." Firo menatapku.
Aku menggeleng, dalam hati siap juga yang marah. Justru harusnya aku mengucapkan terimakasih dan maaf tidak bisa memberikannya. "Biar aku bantu," ucap Firo sambil ikut membereskan kuas.
Aku tersenyum dengannya, kami masuk kedalam rumah dan menaruh semua peralatan melukis di dalam ruangan. Kak Dini ku suruh pulang ke rumah tidak usah menginap lagi karena nenek sudah sehat dan aku sudah bisa menunggunya sepanjang waktu.
Kasian Kak Andri harus tinggal sendirian selama Kak Dini masih menginap disini. Tak terasa hari sudah mulai gelap, Kak Andri beserta orang-orang yang dibawanya berpamitan.
"Hani, kakak pulang dulu ya. Sketsa bangunannya sudah jadi besok bisa langsung di kerjakan, soal rencana kita tentang perusahaan, Hani tunggu saja," ucap Kak Andri.
"Jangan nangis ditinggalkan aku," ucap Kak Dini sambil menjulurkan lidah.
Aku mendekatinya dan memegang perut Kak Dini, aku berdoa di dalam hati semoga anak yang ada di kandungannya sehat. Kak Dini tersenyum dan berkata, "Jaga diri baik-baik Tante...." Kak Dini memegang tanganku.
Setelah itu semua pergi termasuk Firo, hanya tinggal aku dan Nenek. Malam datang aku dan Nenek makan bersama, "Hani, tadi bermimpi ibumu datang kesini dan memarahi kamu," ucap Nenek.
__ADS_1
"Lupakan saja mimpi itu, ibu tidak akan pernah kesini," jawabku dengan isyarat.
Setelah menyelesaikan makan, Nenek meminta aku mengantarkannya ke ruang keluarga, Nenek ingin menonton tv. Menonton drama yang dulu sering Nenek tonton. Sedangkan aku mencuci piring di belakang.
Saat sedang sibuk mencuci piring terdengar suara ketukan pintu, "Buka pintunya," suara seperti orang ingin marah-marah.
Aku langsung bergegas menuju pintu, terlihat Nenek mencoba berdiri, "Aku saja, Nek," isyaratku kepada Nenek.
Terkejut dan heran saat membuka pintu ternyata Ibu datang lagi. Ia memaksa masuk, kemudian berkata dengan Nenek, "Bagaimana kabar ibu?"
Nenek benar-benar terkejut melihat orang yang benar-benar ia benci ada di depannya. "KELUAR KAMU DARI SINI, BERANI-BERANINYA KAMU DATANG MENEMUI KAMU!" bentak Nenek.
"Sabar dulu, Bu. Aku kesini untuk silahturahmi dengan anak dan Ibu mertuaku," jawab ibu dengan santainya.
"KELUAR KAMU!" Nenek berteriak dengan kencangnya.
Aku yang tidak mau melihat darah tinggi Nenek naik kemudian jatuh sakit lagi langsung menggeret tangan Ibu dan memaksanya keluar dari rumah. Tapi tanganku di tepis oleh Ibu, Ibu menamparku dengan keras, kemudian berkata, "Beraninya kamu berprilaku tidak sopan dengan ibumu!" ucap Ibu.
"Dengar ya, Bu! Mas Hendri sudah tidak ada lagi, sudah sewajarnya aku yang menggantikannya untuk mengurus anakku," ucap Ibu sambil menunjuk-nunjuk Nenek.
Nenek mulai memegang dadanya seperti sesak nafas, aku langsung berlari ke arah Nenek dan mengangkatnya ke kamar. "Tenang saja Nek, aku akan selalu bersama Nenek. Biar aku urus dulu Nenek lampir itu. Nenek tidur saja," ucapku dengan isyarat.
Aku keluar dan menemui Ibu, Aku menyuruhnya keluar dari rumah. Ibu memberontak tak mau pergi, "Ayo Hani, ikut ibu! Ibu pastikan hidupmu dan karirmu akan indah," ucap Ibu sambil memegang tanganku.
Kata-katanya mulai manis membujuk aku agar mau ikut dengannya. Ibu melanjutkan perkataanya, "Tinggalkan aja tua bangka itu, kita hidup bahagia."
Mendengar Ibu mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan, aku merasa sangat sakit hati, tanganku reflek menampar pipinya. Jika karena tamparan ini aku menjadi anak durhaka, maka ibu lebih dulu menjadi anak durhaka.
__ADS_1
Aku sangat ingin menghormati Ibu meski ia sudah berprilaku buruk denganku, tapi hari ini aku benar-benar merasa bahwa dia tak pantas disebut ibu. "Kurang ajar! berani sekali kamu menampar ibumu." Ibu mengangkat tangannya ingin menamparku, tapi aku tepis tamparannya.
Mataku melotot, menyuruh ia pergi. Ibu berjalan ke arah pintu, sebelum pergi Ibu berkata, "Jika kamu tidak mau tinggal bersama ibu, lihat saja ibu pastikan hidupmu dengan nenekmu itu akan sengsara!"
Aku tak peduli dengan semua ancamannya, jika memang aku harus menderita, aku ikhlas . Hal terpenting adalah aku masih bisa hidup bersama Nenek.
Ibu pergi, aku mengunci pintu. Perlahan aku duduk bersender di pintu, air mata tak bisa ku bendung. Aku yang selama ini sudah menguatkan diri sekarang harus menangis lagi karena ibuku sendiri.
Alangkah beruntungnya anak-anak lain, keluarga lain yang masih lengkap bisa bersama dengan orang tuanya, memiliki ibu dan ayah yang baik dan perhatian. Duduk meringkuk seperti orang yang sudah putus asa, bingung harus melakukan apalagi agar ibu tidak datang lagi ke rumah ini.
Aku puas-puaskan menangis, agar hatiku menjadi lega dan sedikit lebih tenang. Setelah tenang aku menghapus air mataku kemudian menghampiri Nenek di kamar.
Nenek terlihat sedang menangis, "Hani." Nenek memanggilku, tangannya melambai kepadaku.
Aku mendekat, Nenek langsung memelukku. Tangisnya semakin keras saat di pelukanku. Aku tak tahan lagi, emosiku naik, sakit hatiku menjadi-jadi, saat melihat Nenek menangis seperti itu.
Tanganku menggenggam mengingat semua perlakuan ibu kepada Nenek. Sekuat apa aku menahan air mata ternyata tak bisa. Air mataku bukan kesedihan, tapi kemarahan yang meledak-ledak.
Malam ini aku tidur bersama Nenek, menemaninya takut terjadi apa-apa. Nenek yang sudah lebih tenang akhirnya tidur juga. Aku mengambil buku gambar, emosi, amarah, rasa benci terhadap ibu, aku tuangkan dalam gambar.
Aku gambar wajah Ibu dengan bentuk yang sangat buruk, bahkan wajahnya abstrak. Gambar yang mencerminkan keburukan dari seorang ibu yang jahat. Semua milik ayah sudah di ambilnya bersama pria lain, sekarang menghina aku anaknya dan Nenek.
Lihat saja, aku percaya akan ada balasan setiap perlakuannya. Kalau saja ayah ada disini pasti sudah habis orang-orang jahat itu. Ayah kembalilah, lindungi kami dari orang-orang jahat itu, kembalilah hidup bersama kami, hidup yang lebih bahagia.
Setelah selesai menggambar, aku merobeknya kecil-kecil sampai tak terlihat lagi bentuk gambar. Ini adalah caraku melampiaskan emosi. Mataku lelah, dan terasa sangat berat. Aku mencoba memejamkan mata, baru terpejam sudah terbayang ada ayah di depanku, aku bangun lagi.
Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Memejamkan mata kembali, tak lama kemudian aku tertidur.
__ADS_1
...******...
Terimakasih telah membaca karya saya, jangan lupa follow, like, komen, dan dukung terus 🙏