BISU

BISU
#14


__ADS_3

...Episode 14...


Kagetnya aku melihat di gudang itu ada Nenek yang sedang membereskan semua lukisanku. Aku mendatangi Nenek, terlihat Nenek yang juga kaget melihatku masuk dan berkata, "Loh Hani kenapa belum tidur?"


Aku menjawab dengan isyarat, "Aku terbangun, dan mengambil minum di dapur, Nek."


"Nenek juga terbangun, melihat lukisan Hani berantakan, nenek membereskannya. Sekarang sudah beres, ayuk tidur lagi," ucap Nenek.


Aku berjalan ke kemar ditemani Nenek, kemudian aku berbaring tidur lagi. Nenek kembali ke kamarnya. Aku masih penasaran kenapa nenek malam-malam kepikiran membereskan lukisanku. Rasa penasaran itu perlahan hilang larut dengan rasa ngantuk, aku tidur lagi.


Pukul 04.30, Ayah membangunkan aku, menyuruhku bergegas mandi dan bersiap-siap. Kak Dini yang panik karena kesiangan, buru-buru langsung mandi. Aku dengan santainya mandi tak takut terlambat. Setelah semuanya beres, kami pun, sudah sarapan. Ayah mulai menyiapkan mobil untuk mengantar kami berdua ke bandara.


Jam 05.00 kami berangkat, jam 05.30 kami sampai di bandara. Nenek yang selalu menggendongku, memelukku, mencium aku, berpesan jangan sampai telat makan di sana. aku hanya mengangguk dan mencium Nenek.


Turun dari gendongan Nenek aku memeluk Ayah, menciumnya, terlihat air matanya tak berhenti menetes, Ayah tak berkata apa-apa. Aku tau Ayah begitu sedih harus jauh dari anak semata wayangnya. Aku dan Kak Dini mulai berjalan menuju pesawat. Lambaian tanganku untuk Nenek dan Ayah, sama seperti Ayah, aku tak bisa menahan air mataku.


Aku menguatkan diri, aku harus kuat, aku harus bisa mandiri, aku harus menjadi anak yang bisa membanggakan keluargaku. Kata-kata itu yang selalu ku tanamkan dalam hati, saat berjalan menjauh dari Ayah dan Nenek.


Kak Dini menggandeng, menggenggam erat tanganku. Ayah terlihat berlarian mencari tempat yang kiranya bisa melihatku. Sampai pada akhirnya aku sudah tak melihat Ayah lagi, mulai masuk ke pesawat, dan menunggu pesawat terbang.


Memandangi langit lewat jendela pesawat, aku merasa seperti akan pergi dan tak akan kembali lagi. Hati yang awalnya sudah kuat menjadi bimbang, aku tak ingin pergi, aku ingin kembali, aku ingin pulang dan tinggal bersama Ayah.

__ADS_1


Pesawat yang sebentar lagi berangkat, aku sudah tak bisa berbuat apa-apa, menangis, menangis, dan hanya bisa menangis. Kak Dini tak sedikitpun melepaskan genggamannya, mencoba untuk menguatkan aku. Dari matanya seperti berbicara, kamu bisa, kamu kuat....


Anak yang baru berusia 11 tahun harus merantau jauh ke negeri orang, negeri yang belum pernah dilihat, negeri yang orang-orangnya belum pernah aku lihat, bahkan bahasanya belum banyak aku ketahui. Di dalam pesawat hanya terbayang wajah ayah dan nenek.


Lama-kelamaan aku tertidur, Tak terasa sudah lebih dari 7 jam aku di atas ketinggian, Kak Dini membangunkan aku, aku terbangun melihat sekeliling penumpang sudah berdiri mengantri keluar dari pesawat.


Aku telah sampai di Tokyo, Jepang. Ikut berdiri, perlahan berjalan bergantian keluar dari pesawat. Sebelum keluar Kak Dini langsung memakaikan jaket yang super tebal, aku keluar dengan badan terbungkus sangat rapat.


Awalnya aku merasa sangat berlebihan, tapi ketika merasakan suhu di luar ternyata wajar Kak Dini memakaikan jaket ini. Kebetulan aku datang diwaktu musim dingin, Terlihat butiran salju ada di jalan-jalan.


Setelah mengambil semua koper dan barang-barang kami, Kak Dini mengajakku menunggu di lobby. Ada 2 orang mendatangi kami, berkata, "Hani?"


"Silahkan ikut dengan kami, semua sudah disiapkan."


Kami menuju keluar, diluar sudah ada mobil yang sudah menunggu, kami naik mobil itu. Dua orang itu adalah orang suruhan ayah, mereka ditugaskan untuk menjagaku serta mengantarkan kami kemanapun kami pergi.


Aku merasa seperti permaisuri, kemana aku pergi selalu dijaga, sebelum aku lapar makanan sudah disajikan. Kami pergi menuju rumah siap huni yang sudah disiapkan oleh ayah. Sesampainya di rumah itu, mata tak berkedip, kagum bukan main melihat kemegahan rumah ayah yang ada di Tokyo.


Rumah yang ada di Indonesia bahkan kalah megah dengan rumah yang ada disini. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Kak Dini sama sepertiku, kagum melihat rumah itu. Halamannya sangat luas, rumah yang dikelilingi taman bunga dan banyak pohon-pohon buah.


Kami berjalan menuju pintu masuk, semua pelayan sudah berkumpul berbaris menyambut kedatangan kami. Semua orang yang ada di rumah ini adalah orang asli Indonesia yang bekerja untuk ayah.

__ADS_1


Salah satu pengawal itu ada yang ditugaskan khusus sebagai penerjemah bahasa, benar-benar dibuat nyaman aku tinggal disini. Semua sangat loyal dan patuh terhadap perintah.


Aku dibimbing disini menjadi wanita yang sangat berwibawa, tidak sekolah seperti anak pada umumnya, sekolahku di rumah, guru yang mendatangiku. Tetapi, aku di masukkan sekolah khusus seni dan berkumpul bersama dengan anak-anak berbakat lainnya.


Sekolah ini hanya fokus dengan pengembangan bakat setiap anak. Sudah tidak diajarkan lagi tentang pelajaran-pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan bakat masing-masing.


Hal yang benar-benar wajib aku lakukan di Tokyo adalah mengikuti semua proses pengobatan pemulihan pita suara. Setiap hari aku harus minum obat, menjalani terapi, dan lain-lain.


Bakat melukis semakin terasah dan semakin baik setelah 1 tahun aku disini. Aku bisa mengatakan lebih baik, karena aku mendapat penghargaan sebagai pelukis termuda paling berbakat di negara ini. Lukisanku banyak yang pamerkan, bahkan terjual dengan harga yang sangat fantastik.


Jalan 3 tahun, aku sudah seperti artis. Namaku banyak jadi bahan pembicaraan orang-orang. Bukan bahan gunjingan, tapi pujian yang ku terima. Selama 3 tahun ini aku juga selalu mencari keberadaan ibu, tapi hasilnya nihil.


Walaupun jauh dari ayah dan nenek, setiap hari mereka selalu menelpon dan bertanya kabar. Besok ayah dan nenek datang ke Tokyo untuk menghadiri pameran akbar yang diadakan khusus untuk lukisan-lukisanku.


Hatiku sangat bahagia mendengar ayah dan nenek akan datang, rasa rindu yang sudah tak tertahan lagi ingin melihat mereka berdua. Ingin memeluk, ingin menciumnya. Umurku sudah beranjak dewasa sudah mengerti tentang jatuh cinta, Kak Dini mendengar sekertaris ayah akan ikut juga, tertawa bahagia.


Tapi sayang kebahagian itu tak selengkap apa yang diharapkan oleh ayah mengenai suaraku, Sudah 3 tahun pula aku mengikuti program pengobatan, tapi hasilnya masih belum memuaskan.


Dari hasil pengobatan itu aku hanya bisa mengeluarkan suara sangat kecil itu pun, seperti suara burung. Ayah mengetahui tentang suaraku, dengan hasil yang seperti itu, ayah sudah cukup senang dan tak menuntut terlalu banyak.


Semua kesedihan yang disebabkan oleh kekuranganku, seperti hinaan, cacian, dan kesedihan-kesedihan lainnya, lama-kelamaan luntur hilang. Aku menjadi wanita yang lebih kuat dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2