
...Episode 7...
"Semut yang sudah sangat terdesak, bingung, harus bagaimana, akhirnya mencoba menenangkan diri dan tiba-tiba anak semut itu menjadi sangat kuat dan badannya membesar, sebesar cicak. Cicak dihajarnya sampai mati. Setelah cicak itu mati, anak semut kembali menjadi normal. Mulai saat itu anak semut bisa mengendalikan kekuatan di luar nalar. Tamat."
Dongeng itu sudah selesaikan oleh Kak Dini, Lanjut kata Kak Dini, "Hani, meski, anak semut tidak di samping ibunya, dia bisa mengeluarkan semua kekuatan yang ada dalam dirinya. Jadi, Hani harus bisa mandiri dan menjadi orang yang hebat meski tidak ditemani sosok ibu, ya...." Kak Dini tersenyum lebar.
Aku balik tersenyum dan mengangguk dengan Kak Dini. "Kak, aku mau jadi pelukis hebat," tulis ku di buku dan dibaca Kak Dini.
"Amin. Bagus, kejar cita-cita Hani, Kak Dini berdoa supaya Hani bisa menjadi pelukis yang hebat dan terkenal. Sekarang, Hani tidur ya... karena sudah larut malam," ucap Kak Dini.
Aku mulai memejamkan mata, lama... aku memejamkan mata tapi tak bisa tidur. Melihat Kak Dini di sampingku sudah tidur pulas. Dimalam itu, setelah mendengar cerita tentang anak semut.
Aku jadi bertanya-tanya. Wajah ibuku seperti apa? Apakah dia cantik sepertiku? Aku mulai membayangkan mungkin jika ada ibu hidup ini seperti surga. Hatiku mulai goyah, merasa sangat sedih, sangat ingin bertemu ibu. Ibu... apakah kamu ada? Ibu... kenapa pergi? air mataku mulai menetes.
Terdengar suara langkah kaki masuk ke kamarku. Mataku melirik ke arah pintu, ternyata nenek yang masuk. Aku langsung memejamkan mata, pura-pura tidur.
Nenek mendekat ke arahku, mengambil selimut yang terlepas dari badan. Kemudian menyelimuti aku, tiba-tiba terasa sentuhan tangan nenek yang menghapus air mataku.
"Hani... maafin nenek, Hani jangan nangis lagi, Hani harus semangat." Terdengar suara nenek seperti menahan emosi dan tangis.
Tak lama, nenek keluar dari kamarku. Aku membuka mata, sejenak berdoa meminta agar semua orang aku sayangi selalu bahagia dan sehat.
Mencoba untuk memejamkan mata lagi dan berharap bisa langsung tidur. Di malam itu, aku bermimpi bertemu sesosok perempuan, perempuan itu berkata, "Hani, ibu kangen sama kamu."
Tetapi, setelah berbicara seperti itu, ia berjalan meninggalkan aku. Aku berlari mengejar, tapi tak kunjung sampai di tempat perempuan itu berada.
"Hani... Hani...." Suara panggilan itu terdengar di telingaku sangat jelas. Mataku mulai terbuka, ternyata suara panggilan itu berasal dari Kak Dini yang membangunkan aku.
Saat terbangun, aku merasa sangat lelah. Melihat aku yang bangun berekspresi aneh, Kak Dini bertanya, "Hani kenapa?"
__ADS_1
Aku menangis sejadi-jadinya. Kak Dini langsung memelukku dan mengusap-usap punggung. "Jangan nangis sayang, jangan takut, disini ada Kak Dini," ucapnya.
Aku masih menangis, nenek yang mendengar tangisan ku, berlari masuk ke kamar. "Hani kenapa , Din?" tanya nenek kepada Kak Dini.
"Bangun tidur langsung menangis, Nek. Mungkin mimpi buruk," jawab Kak Dini.
Nenek pergi ke dapur dan mengambilkan minum, minum itu diberikan kepadaku. Perlahan aku meminumnya dan mulai tenang. Dengan bahasa isyarat. Aku berkata, "Aku bermimpi bertemu ibu."
Nenek langsung mendekat dan berkata, "Hani ikut nenek yuk, kita melukis di gudang, tapi... Hani mandi dulu terus sarapan."
Mendengar perkataan nenek yang mengajakku melukis, seketika kesedihanku hilang. Aku bergegas mandi dan sarapan. Selesai sarapan Aku pergi ke gudang bersama Kak Dini.
Di gudang sudah ada nenek yang sedang mempersiapkan peralatan melukis. Aku mulai duduk di depan kanvas, mengambil kuas dan cat.
"Hani ingin melukis apa?" tanya Nenek.
"Ibu." jawabku dengan bahasa isyarat.
Nenek pergi ke belakang rumah, aku ditemani Kak Dini. Mulai menggoreskan kuas di kanvas, coretan demi coretan tertuang dalam kanvas. Kak Dini menontonku sambil tersenyum-senyum.
Kak Dini, memberikan semangat. Aku pun, tersenyum balik. Saat aku melukis, hidupku terasa sangat indah, hatiku merasa sangat bahagia. Ibu yang ada dalam mimpiku terus aku bayangkan.
Dari bayangan itu, tanganku mulai bergerak dengan sendirinya, menggambar bentuk muka wanita itu. Rambutnya lurus, bulu matanya lentik, bola matanya besar, dan wajahnya yang tirus.
Tanpa belajar, tak tau teknik melukis, tak paham paduan warna. Dalam lukisan itu, hanya warna hitam yang aku gunakan. Lukisanku ini menggantikan sosok ibu yang tak pernah kulihat.
Terus menggoreskan kuas dalam kanvas, akhirnya bentuk muka mulai terlihat. Terlihat sangat cantik meski masih ada coretan yang berantakan. Ekspresi Kak Dini melihat lukisanku terlihat sangat kagum dan bangga.
Kak Dini hanya diam saat aku sedang melukis, tak berbicara sedikit, pun. Mungkin karena takut mengganggu konsentrasi ku. Aku mulai melukis alisnya, tak terlalu tebal.
__ADS_1
Sudah hampir 3 jam, aku melukis. Hanya tinggal membuat bibirnya, bibir yang ku ingat sama seperti bibirku. Aku tetap fokus dan Kak Dini masih menontonku.
Seandainya ibu ada di sini, aku ingin sekali melukis ditemani ibu. Di ajarkan caranya melukis yang baik. Seandainya itu terjadi, pasti lukisanku menjadi sangat indah.
Jika saja pada waktu itu ibu tak pergi, aku tak perlu sembunyi-sembunyi melukis. Lukisan wanita yang ku buat sudah hampir selesai, sebelum aku menyelesaikannya, aku istirahat sejenak minum dan duduk bersama Kak Dini.
"Hani senang melukis?" tanya Kak Dini.
Aku mengangguk. Aku berlari ke kamar, mengambil buku dan pena. "Kak, lukisanku bagus enggak?" tulis ku.
Kak Dini berkata, "Bagus banget... kalau sering latihan pasti bisa lebih bagus. Memang wanita yang di lukis Hani, siapa?"
Aku menulis lagi dibuku, "Ibu."
Kak Dini tersenyum membaca tulisanku. Kemudian berkata, "Cantik sekali, ibu Hani."
"Aku berharap dia melihat lukisanku," lanjut tulis ku.
"Semoga, suatu saat ibu Hani bisa melihat lukisan yang Hani buat amin...." Kak Dini mengusap kepalaku.
Setelah beristirahat aku melanjutkan lukisan ibu, aku menyebut wanita yang ada di lukisan itu adalah ibu, padahal aku tak pernah sekalipun melihat wajahnya.
Nenek masuk dan ikut menonton aku melukis. "Cucu nenek, pintar sekali melukisnya," ucap Nenek.
Aku menengok ke arahnya dan tersenyum malu. Nenek berdiri di belakangku, "Boleh nenek memangku Hani?" tanya Nenek.
Aku langsung turun dari kursi, dan menepuk-nepuk kursi, dengan maksud nenek duduk di kursi itu. Nenek paham dengan bahasa isyarat itu. Ia duduk, dan aku melukis sambil dipangkunya.
Satu coretan lagi, lukisan itu benar-benar selesai. Tinta yang sudah mulai mengering di kuas, aku celupkan lagi kuas yang ku pegang ke dalam tinta.
__ADS_1
Ujung kuas mulai ku letakkan ke kanvas, mulai tergores oleh tinta.
"HANI... BUANG KUASNYA!" Ayah berteriak di depan pintu dengan kerasnya.