BISU

BISU
#6


__ADS_3

...Episode 6...


Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya, Kak Dini keluar dari kamar. Nenek langsung berkata, “Din, hari ini kamu ditugaskan ayah Hani untuk mengantarkan kami ke panti asuhan, untuk lokasinya nanti nenek yang memandu.”


“Siap Nek,” jawab Kak Dini.


Aku mendekati Kak Dini dan menulis di buku, “Sebelum sampai di sana, aku mau beli ice-cream banyak, Kak Dini anterin aku dulu ke minimarket ya.”


“Oke siap Hani.”


Kemudian kami berangkat. Ditengah perjalanan kami berhenti di minimarket, disitu aku membeli banyak sekali ice-cream untuk anak-anak panti yang ada di sana, termasuk Erik. Sesampainya di panti, kami sudah disambut oleh kepala panti.


“Selamat datang Hani, gimana kabarnya?”


“Baik, Bu. Dimana Erik?” tulis ku.


“Erik ada itu di taman sedang membaca buku, dia pintar loh Hani. Dengan waktu yang singkat sudah bisa membaca, walaupun untuk menulis masih berantakan haha.” Ibu panti tertawa denganku.


Semua anak-anak panti mengerubungi Nenek dan aku. Kak Dini mulai mengeluarkan ice-cream yang aku beli tadi. “Siapa yang mau ice-cream?” teriaknya Kak Dini menawarkan ice-cream.


“Aku mau… aku mau… aku mau…” suara saut-sautan dari anak-anak  panti


“Tapi… bilang makasih dulu ke Hani, karena hani yang membelikan ice-cream ini.”


Serentak dan kompak anak-anak panti mengatakan, “Terimakasih, Hani!”


Aku hanya melontarkan senyum lebar kepada anak-anak panti itu. Nenek dan Kak Dini mulai membagikan ice-cream, aku mengambil 2 buah ice-cream dan pergi ke taman, mendatangi Erik yang sedang membaca buku.


Sesampainya di taman, aku tersenyum kagum melihat Erik sedang mengeja setiap kata yang ada di buku yang ia pegang. Aku duduk disebelahnya dan memberikan ice-cream yang aku pegang. Erik menerimanya dan mengucapkan terimakasih denganku.


“Jangan bersedih lagi, aku sekarang jadi temanmu,” tulis ku dibuku.


Erik dengan perlahan mengeja tulisanku, setelah membaca tulisanku iya mengatakan, “Aku kangen dengan ayah dan ibuku.”

__ADS_1


Aku memegang kepalanya dan menulis lagi, “Sudah jangan bersedih, disini ada aku. Setiap minggu aku akan kesini menemanimu.”


Sembari kami memakan ice-cream, Erik menceritakan semua kenangan-kenangan bersama keluarganya. Ibu dan ayahnya sangat menyayanginya.


Hari-harinya selalu ditemani ayah dan ibu. Wajar, sekarang Erik sekarang merasa rindu dan sangat sedih. Aku ingin sekali menghiburnya, menggandeng tangannya dan mengajak Erik bermain dengan yang lain.


Erik menolak karena tidak ada anak panti yang mau bermain dengannya, tapi aku memaksa dan akhirnya ia mau bertemu dengan anak-anak yang lain.


Anak-anak panti yang melihat Erik mendekat merasa takut. Erik selalu kasar dengan anak-anak panti lainnya. Aku menulis dalam buku, ku, “Kamu minta maaf ya, sama temen-temen kita disini!”


Erik menurut denganku, dan meminta maaf dengan yang lainnya. Untung teman-teman yang lain mau memaafkan Erik dan mulai mau menemaninya.


Kami bermain bersama, disaat aku sedang duduk dan melihat Erik bersama dengan teman-teman yang lain bermain lempar bola, tiba-tiba Erik menarik ku dan mengajakku bermain. Aku bermain bersama dengan mereka.


“Tangkap ini, Hani!” Erik melemparkan bola ke arahku.


Aku yang tidak pernah bermain bola merasa kebingungan dan bukannya aku tangkap bola itu mengenai kepalaku. Aku terjatuh, Erik dan teman-teman yang lain bergegas menolongku.


“Maaf, aku nggak sengaja, kamu enggak papa, kan?” tanya Erik.


“Tunggu sebentar, kakak ambilkan obat luka,” ucap Kak Dini.


Kepalaku tergores dan sedikit mengeluarkan darah. Erik yang melihatku kesakitan, terlihat benar-benar merasa bersalah.


“Aku tidak apa-apa, jangan khawatir,” tulis ku untuk Erik.


Setelah di obati, Kak Dini berkata, “Sudah diobati, lukanya juga gak parah. Yang lain bisa lanjut main lagi, biar Hani duduk dan menonton saja ya…”


Anak -anak yang lain melanjutkan bermain, sedangkan Erik duduk di sampingku. Erik mengajakku jalan-jalan dilingkungan sekitar panti. Kami berjalan berdua dan melihat banyak kupu-kupu di taman.


“Maaf, aku beneran nggak sengaja tadi,” ucap Erik, menundukkan kepalanya.


“Iya nggak papa, aku yang nggak bisa nangkap bolanya. Jadi, kamu nggak salah kok,” tulis ku.

__ADS_1


Erik kemudian mulai tersenyum lagi, dan memberikan gantungan kunci yang didalamnya ada gambar kupu-kupu. Aku sangat suka dengan gantungan kunci itu.


“Kalau ada yang nakal sama kamu, nanti aku tonjok.” Erik mengatakan itu.


Aku hanya tersenyum karena merasa memiliki kakak laki-laki yang sedang melindungi ku. Tak lama kami berjalan-jalan Kak Dini memanggilku.


“Hani, sudah sore waktunya kita pulang!” kata Kak Dini.


“Kamu udah mau pulang ya… minggu depan kamu kesini lagi, kan?” tanya Erik.


Aku mengangguk, tapi didalam hatiku aku sangat ingin datang kesini setiap hari, ayah pasti tidak mengizinkan. Aku dan Erik bergegas mendatangi Nenek dan Kak Dini.


“Sudah sore, kami harus pulang. Ayo Hani salim dengan Ibu panti!” ucap Nenek.


Aku kemudian bersalaman Ibu panti, dan Ibu panti itu berkata, “Iya deh… Hani mau pulang ya, hati-hati di jalan.”


Tak lupa aku pun, berpamitan dengan Erik. “Aku pulang ya…” tulis ku dibuku.


“Iya, jangan lupa kesini lagi. Aku tunggu.”


Membalas dengan senyuman, kemudian aku pergi masuk ke mobil. Saat mobil mulai berjalan, aku selalu melihat kebelakang. Di sana, ada Erik yang juga memandangiku di mobil.


Selalu teringat dan terngiang di telingaku, kata-kata Erik yang akan melindungi ku. Sesampainya di rumah, aku mengambil gantungan kunci yang diberikan Erik kepadaku. Gantungan itu aku pasang di tas yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi.


Malam itu ayah tidak pulang ke rumah. Ayah pergi keluar kota untuk urusan pekerjaannya. Kak Dini yang melihatku tidur sendirian, mendatangiku dan berkata, “Kak Dini, boleh tidur di kamar Hani?” tanya Kak Dini.


Aku hanya menganggukkan kepala. Kemudian Kak Dini tidur di sebelahku, sambil memeluk. Terlihat air matanya menetes ketika melihat wajahku.


“Kak Dini juga dari kecil tidak punya ibu. ibu kakak meninggal saat, kakak berusia 3 tahun. Disini ada kakak, jika, Hani merasa kesepian, panggil kakak.” Pelukan Kak Dini semakin erat.


Aku melepas pelukan Kak Dini dan mengambil buku. “Biasanya sebelum tidur ayah membacakan dongeng untukku. Kak Dini mau nggak bacakan dongeng untukku?” tulis ku dibuku itu.


“Boleh, dimana buku dongengnya?”

__ADS_1


Aku mengambilkan buku dongeng yang belum selesai ayah bacakan untukku dan memberikan kepada Kak Dini. Sebelum Kak Dini bercerita, aku membuka halaman yang belum diselesaikan. “Oke, dengar baik-baik ya… Hani!” ucapnya, dan langsung bercerita.


__ADS_2