BISU

BISU
#36 ~Mulai Membangun~


__ADS_3

...~Mulai Membangun~...


Keesokan harinya, aku bangun melihat di sampingku sudah tidak ada Nenek. Langsung bangun dari tempat tidur, dan keluar mencari Nenek. Terdengar berisik dari arah dapur, aku segera pergi ke dapur. Ternyata Nenek sedang masak.


Langsung mendatangi Nenek dan menyuruhnya beristirahat saja, tapi Nenek menolaknya. "Nenek sudah sehat, jenuh tiduran terus di kamar, " ucap Nenek sambil memotong bawang.


"Kata dokter, Nenek harus istirahat total," ucapku dengan isyarat.


"Nenek udah sehat, Hani."


Nenek memang orangnya sangat keras kepala, jika sudah bilang tidak ya tidak. Aku membantu Nenek, saat kami sedang memasak Nenek membahas soal ibu. "Dulu Ibumu tidak seperti itu, dia orang yang lembut, penyayang, Nenek juga kaget kenapa ibumu bisa menjadi orang yang sangat jahat," kata Nenek sambil menangis.


Aku berkata dengan isyarat, "Jangan menangis, Nek."


"Nenek ini bukan sedih, mata Nenek kena bawang."


Aku tertawa, ku kira Nenek menangis karena sedih, ternyata karena terkena bawang haha. Nenek ikut tertawa. Kami memasak bersama dengan canda dan tawa. "Assalamu'alaikum." Sepertinya itu suara Kak Dini.


Aku keluar membukakan pintu, benar saja perempuan galak ini datang lagi. Padahal sudah ku suruh jangan terlalu sering kesini, bukan karena tidak boleh, tapi aku kasian dengan Kak Dini. Dia masih mengandung pasti cepat lelah.


Kak Dini datang bersama dengan Kak Andri. Kemudian aku lihat ada mobil lagi di belakang mobil Kak Andri. Banyak sekali orang yang datang. "Hani, restauran kita mulai hari ini akan di bangun, " ucap Kak Andri.


Material bangunan mulai berdatangan. Semua soal pembangunan ku serahkan semua pada Kak Andri, aku hanya menonton dan menunggu saja. Kak Dini pergi ke dapur menemui Nenek. "Nek, jangan lelah-lelah, Nenek kan belum sehat banget," ucap Kak Dini.


"Dari tadi udah aku bilangin, tapi Nenek keras kepala," ucapku dengan isyarat kepada Kak Dini.


"Nenek ini sudah sehat, sudah jangan banyak bicara, sini kalau mau bantu," jawab Nenek.


Kalau Nenek sudah berbicara seperti itu, kami benar-benar sudah tidak bisa apa-apa. Kak Dini membuatkan kopi untuk para pekerja, aku menyiapkan kue, sedangkan Nenek membuat sarapan.


Aku hanya berharap ibu tidak akan kembali lagi dan tidak mengganggu kami. Kami sudah hidup bahagia, aku tidak akan rela jika kebahagiaan ini harus hilang karena wanita jahat itu.

__ADS_1


"Nek, ada tamu enggak tadi malam?" tanya Kak Dini.


"Ada, kenapa kamu tanya tentang itu, Din?" tanya Nenek.


Mendengar itu Kak Dini langsung menatapku, aku mengangguk kepadanya. "Jadi wanita itu kembali lagi?" tanya Kak Dini.


"Jadi, sebelumnya sudah pernah datang kesini?" ucap Nenek.


"Iya Nek, wanita itu membujuk Hani agar mau ikut dengannya, wanita yang benar-benar kasar. Apa benar itu ibu Hani, Nek?"


"Iya benar, dia adalah ibu Hani. Nenek juga heran kenapa dia kembali dan menginginkan Hani, " jawab Nenek.


"Aku dengar kalau ibu Hani, akan memanfaatkan Hani agar mau melukis untuknya," kata Kak Dini.


"Hani, jangan sampai kamu pergi bersamanya!" bentak Nenek.


Di dalam hati berkata, siapa juga yang mau tinggal bersamanya. Aku menjawab dengan mengangguk, berjalan mendekat Nenek kemudian memeluknya. Menggunakan isyarat berkata, "Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama Nenek."


Kak Dini tersenyum dan berkata, "Aku enggak di ajak pelukan apa?"


"Ih... Nenek jahat ya," ucap Kak Dini.


"Haha... sini, semua cucu nenek yang paling berharga," ucap Nenek sambil memeluk kami.


Kami melanjutkan semua pekerjaan dapur, saat semuanya sudah beres, aku dan Kak Dini mengeluarkan semua ke depan. Setelah itu aku sarapan bersama Nenek. Kak Dini tak ikut sarapan, katanya sih sudah sarapan.


Selesai sarapan, pergi mandi, setelah semuanya beres aku hanya bersantai. Seperti biasa aku pergi ke depan pantai, membawa peralatan melukis. Hari ini aku akan melukis, rumah klasik. Lukisan ini yang akan menjadi bukti kalau aku pernah merasakan kesederhanaan.


Apa hidup sederhana itu buruk? Apakah dengan hidup seadanya orang akan menderita? Jawabannya ada diri masing-masing. Tapi bagiku, sederhana bukan berarti miskin, sederhana bukan berarti menderita, miskin adalah orang yang tidak mau berusaha. Selagi masih ada keluarga, keluarga adalah harta sesungguhnya.


Aku mulai melukis, saat sedang serius melukis, tiba-tiba datang Firo. Firo membawa banyak sekali makanan. Aku mengabaikannya, bukan karena aku tidak suka ia datang, tapi aku masih sangat serius melukis tidak bisa diganggu.

__ADS_1


"Hani, jangan sombong dong. Masa ada tamu dicuekin," ucap Firo wajahnya menghalangiku melukis.


Aku coret wajahnya dengan cat, mengganggu saja. Firo mencolek cat yang ku pegang dan mencoret wajahku. Aku marah, dengan isyarat ku suruh pergi dia. "Maaf, aku hanya bercanda, " ucap Firo.


Wajah Firo terlihat sangat ketakutan, padahal aku juga tidak serius marah. Aku suruh dia duduk di sebelahku, ku suruh dia menonton saja sampai aku selesai melukis.


Sudah lama menonton, Firo jenuh, pergi melihat-lihat orang sedang membangun. Merasa tidak enak hati dengan Firo aku segera menyelesaikan lukisan ini. Tak terasa hari sudah siang, akhirnya lukisan ini selesai juga.


Firo sedang bersantai di bawah pohon sambil memainkan ponselnya. Aku dorong dia, Firo terkejut kemudian berkat, "Mentang-mentang udah selesai melukisnya, berani iseng."


"Apalah pria suka ngambek," tulis ku.


"Biarin aja."


"Kamu enggak kerja apa?" lanjut tulis ku.


"Sedang cuti, niatku ingin berlibur ke sini menikmati pemandangan bersama wanita galak." Matanya mengarah kepadaku.


"Maaf... maaf, kamu kesini waktunya kurang tepat. Semua masih pada sibuk."


Setelah membaca tulisanku Firo hanya tersenyum. "Aku jadi teringat masa kecilku dulu saat melihat pantai ini, dulu aku sering sekali ke pantai bersama keluarga, " ucap Firo.


Aku tersenyum kemudian duduk disampingnya, tiba-tiba tangan Firo menggenggam tanganku sambil berkata, "Jangan takut, mulai dari sekarang aku akan menjagamu."


Genggaman tangannya terasa sangat nyaman, Aku jadi teringat Erik saat mendengar kata-kata itu. Aku mencoba melepaskan tangannya, tapi digenggam sangat erat, "Jangan lepaskan, aku tidak akan membiarkanmu melepaskan tanganmu, " ucap Firo sambil menatap wajahku.


Tangan kiri ku langsung melayang mendarat di telinganya, menarik telinga sampai ke pasir pantai. "Aduh!," Firo teriak kesakitan.


Mataku melotot menyuruhnya melepaskan tanganku, setelah lepas aku menulis, "Jangan kurang ajar!"


"Iya maaf, galak banget jadi perempuan."

__ADS_1


Nenek memanggil kami berdua, kami segera menuju tempat Nenek. "Kita makan siang dulu," ucap Nenek.


"Yes, makan. Nek, dari tadi aku tidak ditawari makan atau minum oleh cucu Nenek ini," ucap Firo matanya mengarah tajam ke wajahku. Tanpa basa-basi aku tarik lagi telinganya.


__ADS_2