BISU

BISU
#32 ~Kemunculan Ibu~


__ADS_3

...~Kemunculan Ibu~...


Setelah tersadar, aku sedang diikat, tak bisa bergerak dan hanya bisa menggeliat di sofa ruangan itu. Bos berkata, "Alasan saya menerima kamu bekerja disini sebenarnya karena kecantikan yang kmu miliki dan badan indah mu. Aku sangat ingin merasakan keindahan badan yang kamu miliki haha...."


Seandainya aku bisa bergerak sudah aku patahkan lehernya, rasa marah, takut, bingung bercampur menjadi satu. Aku berharap sebelum orang brengsek ini melakukan hal yang tidak-tidak, sudah ada orang yang menolongku.


Masalahnya di restauran hanya tinggal kami berdua dan ruangan ini di kunci rapat. Aku benar-benar bingung harus melakukan apa, mencoba melepaskan tali, tapi tali sangat kuat.


Menangis, melihat orang ini mulai mendekat dan melepaskan 1 kancing bajuku. Tangannya mulai meraba bagian pinggang menjalar ke atas. Aku memberontak, tiba-tiba suara dobrakan pintu terdengar sangat keras. "Buka pintunya!" suara dari luar.


Orang brengsek ini ketakutan, membuka jendela ruangannya kemudian kabur. Aku hanya bisa meneteskan air mata, ingin sekali berteriak, tapi aku bersyukur ada orang yang datang. Suara diluar, terdengar seperti suara dari Firo. Tidak lama kemudian pintu terbuka dengan cara didobrak.


Benar saja, Firo masuk. "Kurang ajar!" ucap Firo.


Firo langsung membukakan tali yang ada di tangan dan kaki. Lemas, masih merasa trauma atas kejadian barusan. Apa karena aku ini cacat, bisa dilecehkan seperti ini, Bukannya orang yang memiliki kekurangan harusnya dilindungi dan dibela.


Firo mengangkat ku, aku yang masih takut, berlari ke depan, ada rasa curiga dengan Firo. Di dalam pikiran, terbesit mungkin Firo juga mempunyai niat sama dengan Bos brengsek itu. Fro mengejar sampai di depan, "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu!" ucap Firo.


Aku tak menghiraukan kata-katanya, mengambil ponsel dan chat Kak Dini, memintanya untuk menjemput ku. "Tolong jangan berfikir aku ini sama dengan orang itu, aku tulus menolong," Firo yang masih mencoba membujukku.


Saat di perjalanan pulang, Kak Dini selalu bertanya apa yang terjadi, tapi aku tak menjawab, hanya diam dan terus menangis, melihatku seperti orang ketakutan Kak Dini berkata, "Tenangkan dirimu, nanti kalau sudah tenang bicara sama kakak."


Sesampainya di rumah, tak banyak bicara langsung masuk kamar, mengambil selimut berbaring dan menangis. Kak Dini masuk duduk di sampingku, "Apa pria itu tadi berani melecehkan kamu?" tanya Kak Dini

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala, "Terus ada apa denganmu?"


Mengambil buku dan menulis semua yang terjadi sebenarnya, saat membaca tulisanku Kak Dini langsung ingin pergi ingin mencari orang brengsek itu. Aku tari tangannya, menahan agar tidak pergi. Kondisi Kak Dini yang sedang hamil pasti membuatnya sangat lemah, aku takut terjadi sesuatu dengannya jika memaksakan pergi.


Malam tiba Kak Dini memutuskan untuk menginap, Aku sudah mulai tenang, Kak Andri datang membawa kabar yang lebih mengejutkan. "Hani, kakak mau bicara tentang ibumu, tapi ingat setelah mendengar kabar ini jangan bertindak ceroboh. Lebih baik kita tenang dan menunggu waktu yang pas. Janji?" ucap Kak Andri.


Aku mengangguk. Kak Andri melanjutkan perkataanya, "Tadi saat di kantor, seperti biasa kakak memata-matai pergerakan pak Roy untuk mencari informasi dan bukti, kakak mendengar dari mulutnya, ia berkata sebenarnya ibumu sudah lama menjadi wanita simpanan pak Roy. Ibumu pergi menemui Pak Roy dan tinggal bersamanya di luar negeri,"


Belum selesai Kak Andri berbicara, aku berdiri ingin pergi ke tempat pak Roy. "Hani! diam dulu, tadi kakak udah bilang jangan ceroboh!" ucap Kak Andri


Aku duduk lagi, dan Kak Andri melanjutkan ceritanya, "Tenang! Sebenarnya yang membeli rumah peninggalan ayahmu, adalah pak Roy. Beliau menyuruh bahannya untuk mendatangi Nenek dan membayar mahal rumah itu. Sekarang rumah itu sudah ada penghuninya, ya... ibumu sudah kembali lagi."


Aku menggebrak meja, langsung menuju mobil. Akan ku beri pelajaran perempuan kejam itu, beraninya memperlakukan ayah seperti hewan peliharaan. Kak Dini mengejar berkata, "Kamu ingin lihat semua rencana kita gagal? Hani jika kamu langsung menemui ibumu Pak Roy akan curiga dengan Kak Andri!" ucap Kak Dini, matanya melotot ke arahku.


Aku diam, berfikir memang seharusnya aku tenang dan tidak bertindak ceroboh hanya karena emosi. Masalah datang bertubi-tubi, nasib yang aku jalani benar-benar menguras kesabaran. Sudah tak memikirkan masalah tadi di restauran, semuanya terfokus pada masalah ibu.


Hatiku seperti dibakar, apa belum puas ia menyakiti ayah, sampai-sampai ingin memanfaatkan anaknya seperti ini. Aku tau perempuan kejam itu hanya ingin aku melukis untuknya, dan karya yang aku ciptakan akan diakui sebagai karyanya sendiri.


"Hani... Hani!" Suara Nenek terdengar memanggil.


Bergegas menuju kamar Nenek, "Ada apa, Nek?" ucapku dengan isyarat.


"Ada apa, kok berisik sekali di depan?" tanya Nenek.

__ADS_1


"Enggak papa, Nek . Tadi aku dan Hani sedang bergurau," ucap Kak Dini.


"Oh, kirain ada apa. Tolong ambilkan nenek minum."


Aku pergi ke dapur dan mengambilkan minum nenek, saat sedang mengambilkan air minum, Kak Andri pamit pulang karena besok harus bekerja. Sebelum Kak Andri pergi, ia berpesan agar aku tidak melakukan apapun, menunggu instruksinya.


Akan ku ambil semua milik ayah, bukan karena aku haus akan harta, tapi karena apa yang dimiliki ayah tidak pantas dipegang oleh orang seperti mereka.


Jangankan perusahaan, 1 rupiah pun, tak rela ku berikan kepada mereka. Malam itu aku tidur dengan Kak Dini. Aku mengobrol dengan isyarat, "Salah enggak kalau aku menganggap kebanyakan laki-laki itu bajingan?"


"Kak Andri juga laki-laki, apa kamu menganggap kak Andri bajingan juga?" tanya Kak Dini.


Jawabku, "Tentu tidak, Kak Andri baik. Sebenarnya aku merasa bersalah tadi bersikap kasar dengan Firo, padahal dia yang menyelamatkanku."


"Mending kamu chat, minta maaf dan ucapkan terimakasih."


"Aku kan perempuan, masa aku yang chat duluan!"


"Kamu suka sama Firo?" tanya Kak Dini.


Aku menggelengkan kepala, menjewer Kak Dini.


"Kalau enggak suka, pasti enggak ada pikiran gengsi hanya untuk minta maaf dan berterimakasih."

__ADS_1


Aku diam, malu, apa ia aku ini suka dengan Firo. Memang wajahnya tampan, sering menolongku, selalu ada di setiap aku membutuhkannya. Ah... tidak mungkin aku suka dengannya.


Benar kata Kak Dini, aku harus meminta maaf dan terimakasih dengannya. mengambil ponsel, kemudian chat, "Maaf sebelumnya, tadi aku panik, takut, tidak bermaksud kasar. Terimakasih sudah menolongku."


__ADS_2