BISU

BISU
#8


__ADS_3

...Episode 8...


Semua diam mendengar suara ayah. Aku kaget begitu juga Nenek dan Kak Dini. Baru pertama aku melihat Ayah, membentak seperti itu. Melihat Ayah , aku ketakutan sampai menangis.


Berbalik badan dan memeluk Nenek. "Hani... enggak papa, jangan nangis," ucap Nenek.


Ayah yang pada waktu itu sangat marah, melihatku begitu ketakutan, seketika keluar dari ruangan. Kemudian Nenek menggendongku, keluar ruangan.


Kepalaku menunduk. Wajah, ku sembunyikan di dada Nenek, menangis tersedu-sedu tak berani melihat Ayah. Nenek berjalan ke kamar. "Din, temani Hani di kamar," ucap nenek.


Kak Dini yang juga ketakutan jalan menuju kamar. "Hani... sudah enggak papa, buka matanya," Nenek memegang pipiku.


Aku yang masih menangis dan ketakutan, tak berani membuka mata. Nenek melanjutkan perkataannya, "Hani... ini sudah di kamar, tidak ada ayahmu. Buka matanya lihat Nenek."


Memberanikan diri membuka mata, aku lihat kanan kiri tidak ada ayah. Tetapi, tangisanku tak bisa ku hentikan, dada mulai terasa sesak, nafasku susah dan terisak-isak.


Aku melihat Nenek keluar menemui Ayah. Kak Dini terus menenangkan aku, "Hani... jangan menangis lagi, nanti sakit dadanya." Tangan Kak Dini terus mengelus dadaku.


Di luar terdengar suara Nenek sedang memarahi Ayah, "Lihat anakmu ketakutan!"


"Terserah Hani mau jadi apa, tapi jangan jadi pelukis!" ucap Ayah.


"Jangan karena kesalahan ibunya, kamu patahkan bakat dan kebahagiaan Hani!" Suara Nenek masih terdengar keras.


"Hani anakku Bu, biar aku yang menentukan masa depannya!" Suara Ayah sama kerasnya dengan Nenek.


"Hani cucuku, Hani punya masa depannya sendiri, dan berhak menentukan masa depannya sendiri. Kamu sebagai Ayahnya hanya perlu menyalurkan bakatnya!" ucap Nenek.


"Pokoknya, Hani tak boleh melukis!" jawab Ayah.

__ADS_1


Nenek melanjutkan perkataannya, "Aku sebagai ibumu sangat kecewa, apa ibu pernah memaksa kamu harus jadi apa? Lihat Hani sekarang, melihat ayahnya seperti sesuatu yang menakutkan. Kamu senang?"


Tidak terdengar suara Ayah lagi, tiba-tiba Ayah terlihat di depan pintu kamar. Aku yang masih menangis dan masih trauma kejadian tadi, langsung memejamkan mata.


Mengambil bantal dan menutupi wajahku. Saat mendengar suara langkah kaki Ayah mendekat, aku semakin ketakutan. Ayah seketika merasa sangat bersalah, saat melihatku begitu ketakutan.


"Hani... maafkan ayah" ucap Ayah.


Aku menunjuk-nunjuk pintu kamar, dengan maksud Ayah pergi dari kamarku. Tapi, Ayah tak kunjung pergi, malah terus mendekat. Aku mencoba berteriak, suaraku sedikitpun tidak keluar.


Tenggorokanku mulai sakit, nafasku sangat sesak, melihat kondisiku seperti itu, akhirnya Ayah pergi keluar dari kamar. Kak Dini langsung berkata, "Sudah... Hani jangan menangis lagi, nanti tambah sesak nafasnya...."


Mulai dari kejadian itu aku benar-benar menghindari ayah. Saat sarapan aku tidak mau keluar kamar. Ayah masuk membawakan aku sarapan. "Hani... jangan marah dong sama ayah, nanti ayah sedih," ucap Ayah, merayuku.


Aku hanya diam di dalam selimut, "Hani... ayah punya dongeng baru loh," lanjut kata Ayah.


"Sini ada yang mau ibu bicarakan," terdengar itu suara Nenek.


Seketika aku membuka selimut dan tersenyum, Ayah mendekatiku dan memberikan sarapan. "Maafin ayah, ayah cuma enggak mau liat Hani menjauh karena keasikan melukis." tangan Ayah mengelus kepalaku.


Lanjut kata Ayah, "Hani janji tapi ya, kalau melukis jangan jauh-jauh dengan ayah, oke?" Ayah tersenyum, begitu pula aku juga tersenyum dan mengacungkan jempol ku.


"Yasudah, ayah berangkat kerja dulu. Hani di rumah dengan Nenek dan Kak Dini, jangan nakal. Nanti pulang kerja ayah belikan peralatan melukis."


Aku lompat-lompat kegirangan, bahagianya aku mendengar ayah membelikan semua peralatan melukis. Ayah mencium ku dan keluar dari kamar. Wajahnya terlihat bahagia melihat aku bahagia.


Nenek masuk ke kamar bersama Kak Dini, "Cie... Hani, sekarang bisa melukis sesuka hati," ucap Kak Dini.


Aku melet ke Kak Hani. "Hani ingat enggak boleh cuek sama ayah, kalau sudah melukis," ucap Nenek.

__ADS_1


Dengan bahasa isyarat aku berkata, "Pasti Nek, aku sayang dengan ayah."


"Dengan nenek, enggak sayang?" tanya Nenek.


Aku turun dari tempat tidurku dan berlari ke arah Nenek, kemudian memeluknya. "Cucu Nenek yang paling cantik dan pintar, sekarang habiskan sarapannya setelah itu boleh melukis," ucap Nenek.


Cepat-cepat menghabiskan sarapan, mandi kemudian langsung menuju gudang. "Gimana kalau gudangnya di bersihkan dan dirapihkan dulu?" kata Nenek.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, karena menurutku perlu waktu yang lama untuk membereskan gudang itu. "Yasudah, Hani melukis di temani Kak Dini ya... Nenek ke kebun belakang,"


Aku mengangguk, Nenek pergi ke kebun belakang rumah. Seperti biasa, Nenek senang merawat bunga dan pohon-pohon anggurnya. Di ruangan itu aku melihat lukisanku.


Meminta Kak Dini memajang di dinding kamarku. Semua peralatan sudah siap, aku mulai melukis. Sekarang aku ingin melukis ayah. Ayah yang selalu sayang denganku.


Butuh waktu yang lama aku melukis ayah, karena bentuk wajahnya yang sulit di gambar. Saat lukisan ini selesai akan ku pajang di sebelah lukisan wanita yang aku lukis kemarin.


Singkat cerita, seharian aku melukis dan pada akhirnya belum selesai juga. "Hani, sudah dulu melukisnya besok lagi. Sekarang Hani istirahat, sebentar lagi ayah pulang," ucap Nenek.


Aku menuruti apa kata Nenek, berbaring dengan sambil nonton Tv, sedangkan Nenek menyiapkan makan malam ku. Ada tayangan tentang pelukis terkenal yang pulang dari luar negeri setelah lama meninggalkan Negara Indonesia.


Pelukis itu bernama, Mona. Aku sangat kagum melihatnya dan ingin menjadi seperti dia. Wajahnya sangat cantik, aku terus mengikuti beritanya, sampai pada suatu ketika, Nenek datang dan langsung mematikan Tv.


Aku sedikit marah, "Kenapa dimatikan, aku sedang menonton?" berkata dengan bahasa isyarat.


"Boleh melukis tapi jangan lupa makan, kalau ayah tau Hani belum makan pasti ayah marah," ucap Nenek. Terlihat Nenek seperti orang panik, keringat mulai keluar dari dahinya.


Waktu itu aku yang takut tidak boleh melukis lagi, mau tidak mau harus menuruti apa yang dikatakan Nenek. Makan malam ku memang di masak oleh asisten rumah tangga tapi saat memasak selalu di awasi Nenek.


Semua makanan yang akan ku makan harus sehat dan bergizi. Itulah alasan Nenek selalu mengawasi asisten rumah tangga yang khusus bekerja sebagai koki.

__ADS_1


Aku makan hidangan yang sudah disiapkan. Makan bersama Nenek dan Kak Dini. Terdengar suara mobil Ayah di luar. Benar saja Ayah masuk dan membawa banyak sekali peralatan melukis.


*Terimakasih telah membaca karya saya, dan mohon dukungannya, like, komen, favorit. Jika ada kekurangan dari karya saya mohon maaf 🙏*


__ADS_2