BISU

BISU
#17


__ADS_3

...Episode 17...


Hal yang paling malas aku lakukan adalah minum obat, sudah bosan sekali setiap hari harus minum obat. Ini ditambah minum obat yang pastinya sangat pahit. "Namanya juga obat sayang... ya pahit," ucap Ayah.


Aku yang akhirnya tak bisa mengelak lagi, mengambil obat itu kemudian meminumnya. Rasanya benar-benar pahit. "Nah kan pinter anak ayah," ucap Ayah sambil tersenyum.


"Oiya sayang, kamu seterusnya tinggal disini ya, sampai lulus SMA," lanjut kata Ayah.


Aku hanya mengangguk, sebenarnya hatiku sangat bersedih harus jauh dengan keluarga tapi, mau tidak mau aku harus nurut dengan Ayah. Setelah minum obat, mataku terasa sangat berat, ngantuk bukan main, tak lama aku tertidur.


Singkat cerita, satu minggu kemudian, Ayah dan Nenek berpamitan pulang, aku tidak bisa mengantarkan mereka berdua ke Bandara. Sebelum ayah pergi banyak sekali pesan yang disampaikannya, yang paling penting adalah ayah mengatakan kalau jangan dekat-dekat kepada wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibuku.


Nenek pun, berkata sama dengan Ayah. Mereka akhirnya pergi, kak Dini merasa sangat sedih kekasihnya harus meninggalkannya lagi. Aku mencubit kak Dini, berkata dengan isyarat, "Kasihan ditinggal ayang beb," Aku melet dan lari masuk ke kamar.


Kak Dini mengejar dan ngomel-ngomel enggak jelas. Sejak hari itu aku selalu nurut apa yang dikatakan ayah, 2 tahun kemudian aku tumbuh menjadi wanita dewasa. Dididik selain menjadi pelukis profesional juga dididik menjadi orang yang siap memimpin banyak perusahaan ayah.


Aku matang dalam banyak bidang perkantoran, mungkin ayah akan menjadikan aku sebagai pewaris tunggal semua perusahaannya. Aku yang memang mempunyai hobby melukis terkadang tak tertarik dengan dunia bisnis. Tapi, mau enggak mau aku harus membantu ayah.


Dihari itu aku sedang melukis, entah sudah berapa banyak lukisan yang telah ku buat. Namaku pun sudah sangat terkenal, mungkin itu yang membuat ibuku mulai mencari keberadaan ku.


Aku bisa mengatakan bahwa ibu mencari ku, karena hari itu ada wanita yang datang berkunjung dan berkata dengan Security bahwa dirinya adalah ibu pemilik rumah ini.

__ADS_1


Kebetulan aku sedang ada acara jumpa vans di salah satu pameran lukisan. Saat aku pulang wanita itu sudah tidak ada, kata Security wanita itu pergi begitu saja.


Aku yang mulai mengetahui sifat ibuku yang begitu buruk, menjadi sangat membencinya. Kak Dini sudah bercerita banyak tentang ibu, ibu yang selama ini aku cari ternyata begitu kejam. Mungkin dulu saat nenek bercerita tentang ibu, aku masih terlalu kecil sehingga tak memperdulikan hal buruk tentangnya.


Waktu itu aku hanya berfikir ingin memiliki ibu dan bertemu dengannya. Sekarang semenjak aku sudah paham sepenuhnya tentang sifat aslinya, jangankan ingin memiliki ibu sepertinya, melihat wajahnya saja aku malas.


Semenjak itu, aku berpesan dengan Security, "Usir saja wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibuku. Walau aku sedang di rumah aku tak mau melihatnya."


Tepat diusia ku 17 tahun, cita-citaku yang ingin menjadi pelukis terkenal sudah tercapai, bagiku melukis adalah duniaku. Aku melukis bukan karena karir tapi, melukis adalah kebahagian dan hidupku.


Sama seperti halnya keluargaku, mereka semua adalah hidupku, kecuali wanita yang tidak memiliki hati itu, yaitu ibuku. Hari ini aku melukis bukan tentang keindahan alam, bukan tentang kecantikan atau ketampanan seseorang, tapi melukis wanita yang sangat menyeramkan.


Apakah bisa disebut seorang ibu apabila meninggalkan anaknya hanya karena karir, ditambah meninggalkan karena malu memiliki anak bisu. Lihat anak bisu ini sudah menjadi anak yang kuat, dan tak pantang menyerah.


Terkadang aku melihat berita banyak bayi yang dibuang dengan alasan tak jelas, hamil diluar nikah, anak yang tidak berdosa ditinggalkan begitu saja oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab.


Kadang ada orang tua yang tega membunuh anaknya sendiri karena alasan ekonomi, mungkin sejak aku lahir aku selalu tercukupi, tapi aku masih bisa merasakan kesedihan sebagai anak yang di telantarkan.


Justru aku merasa hidup bukan karena apa yang aku punya dari segi ekonomi, tapi karena kasih sayang ayah dan nenek. Aku percaya seandainya ayahku adalah orang yang tidak kaya pasti masih memberikan kasih sayangnya kepadaku.


Suatu saat aku akan membuat panti asuhan sendiri, menampung anak-anak terlantar dan memberikan kasih sayang yang tidak didapatkan dari orang tuanya.

__ADS_1


Lukisan ini sudah selesai, aku menyuruh kak Dini untuk membingkai dan membungkusnya. Kemudian diberikan kepada security agar nanti diberikan kepada wanita itu.


Kak Dini yang selalu setia menemaniku, umurnya semakin bertambah, sudah waktunya ia menikah. Aku pernah berkata dengannya, aku ini sudah besar jangan mengkhawatirkan ku lagi, dan aku menyuruhnya untuk segera menikah.


Hubungannya dengan kak Andri sudah terlalu lama, hanya karena tugas yang diberikan untuk menjagaku, menghambat mereka untuk menikah. kak Dini hanya menjawab bahwa dirinya belum mau menikah, padahal aku tau kak Dini sudah sangat ingin menikah.


Wanita mana yang belum mau menikah di umurnya sekarang. Umurnya sekarang sudah hampir 35. Setelah ku paksa-paksa cepat menikah, akhirnya kak Dini berkata akan menikah saat aku sudah lulus SMA.


Terkadang saat aku sedang sendirian dan melihat begitu romantisnya kak Dini dengan kak Andri, teringat Erik yang dulu berjanji akan menemui ku lagi. Sudah 12 tahun aku tak mendengar kabarnya, hadiah yang diberikannya masih ku simpan.


Aku kangen ingin kembali ke rumah, berkunjung ke panti yang dulu sering aku kunjungi dan panti itu juga tempat aku bertemu dengan Erik. Mungkin setelah aku lulus SMA, ayah akan mengizinkan untuk pulang dan menetap di Indonesia.


Hari terus berlalu, wanita yang mengatakan dirinya adalah ibuku kembali datang, Security langsung memberikan lukisan itu, dan mengatakan jangan pernah kembali lagi.


Wanita itu menerima lukisan yang kuberikan kemudian pergi begitu saja. Aku hanya mengintip di jendela, sepertinya ada pesan yang disampaikan kepada Security.


Benar saja setelah wanita itu pergi jauh, Security menghadap dan memberi tau bahwa wanita itu berpesan, maafkan ibumu. Entah kenapa air mataku keluar, padahal aku sangat membencinya.


Tapi, mendengar pesan itu aku merasa sangat sedih dan merasa sangat bersalah. Aku tau maksud kedatangannya adalah untuk meminta bantuan, karena karirnya sudah hancur atas pemberitaan tentang dirinya yang pernah meninggalkan anaknya ini.


Semenjak berita itu muncul, semua jalan melukisnya tertutup, semua pameran menolak lukisannya, bahkan ia membuka pameran sendiri tak ada yang datang.

__ADS_1


__ADS_2