BISU

BISU
#37 ~Launching Restauran~


__ADS_3

...~Launching Restauran~...


Semakin hari aku dan Firo semakin dekat, ada rasa yang tak bisa ku ungkapkan. Di hatiku sebenarnya masih berharap Erik akan menemui ku kembali. Restauran terus dibangun, menunggu pembangunan yang sedikit memakan waktu yang lama. Aku mengisi hari dengan melukis dan terus melukis.


Setiap libur Firo selalu menyempatkan diri main ke rumah. Ia juga sudah mulai dekat dengan Nenek. "Hani, sepertinya Firo suka denganmu," ucap Nenek.


Aku menggelengkan kepala, lanjut kata Nenek, "Nenek sih beranggapan seperti itu, Hani enggak suka sama Firo?"


"Enggak," jawabku dengan isyarat.


Nenek tersenyum. "Wajahmu memerah," ucap Nenek sambil tertawa kemudian pergi ke kamarnya.


Aku memegang pipiku, sebenarnya jantungku berdebar kencang saat Nenek bertanya barusan. Apa benar aku juga suka dengannya? ah sudahlah lupakan saja, masih banyak yang harus aku kerjakan.


Restauran sebentar lagi selesai dibangun, aku juga harus menyusun perencanaan penjualan. Aku tidak ingin bisnis ini sia-sia, restauran ini harus maju. Saat semua rancangan strategi penjualan sudah selesai ku siapkan, aku pergi melukis lagi.


Dengan melukis banyak sekali ide yang bisa ku dapat, pikiran dan hati menjadi tenang. Satu bulan kemudian restauran sudah selesai dibangun, sungguh indah restauran ini, meski tidak terlalu besar. Dinding aku hias dengan lukisan-lukisanku.


Besok adalah launching restauran ini, aku harus menyiapkan persiapannya. Kak Andri dan Kak Dini akan datang, begitu pula para pegawai yang akan bekerja, baik koki maupun pelayan restauran. Semua kendali restauran ini ada di tanganku.


Akan banyak tamu undangan yang datang, selain mempromosikan restauran, ada peluang untuk memamerkan setiap lukisanku kepada pengunjung. Sudah tidak sabar menunggu hari esok, aku segera cepat-cepat tidur.


Keesokan harinya, aku dan Nenek segera bersiap-siap. Berdandan yang cantik, dan rapih. Tamu satu per satu datang, Kak Dini dan Kak Andri juga sudah datang, membantuku menyambut para tamu. Saat tamu sudah datang semuanya, semua berkumpul di depan restauran melihatku di depan dan Kak Andri untuk meresmikan restauran, pita di depanku mulai ku potong dengan gunting.


Para pengunjung bertepuk tangan, "Dengan ini restauran resmi dibuka," ucap Kak Andri.


Satu per satu orang memberikan selamat dengan bersalaman denganku dan Kak Andri, setelah bersalaman para tamu masuk kedalam restauran, melihat lihat seisi restauran. Mereka kagum dengan hiasan dinding yang penuh lukisan indah.

__ADS_1


Duduk dan memesan menu yang kami sediakan. Aku hanya berdiri memantau semua pergerakan pegawai. Terlihat semua pelayan dan koki bekerja sangat baik, cepat, lincah, dan rapih. "Cie... Bos," ucap Kak Dini.


Aku tersenyum mendengar perkataannya, "Kak Dini dan Kak Andri pulang dulu ya, ada urusan yang sangat penting untuk dikerjakan," ucap Kak Dini.


Terlihat wajah Kak Andri sangat tegang, sebenarnya aku penasaran ada apa, tapi aku tidak bisa ikut campur lebih dalam urusan mereka. Aku hanya bisa mengangguk, "Kalau ada masalah, hubungi kakak," ucap Kak Andri.


Kemudian mereka pergi. Hari ini tamu yang datang adalah tamu undangan, pekerjaan yang sebenarnya adalah hari esok. Aku harus bisa menarik perhatian pengunjung pantai agar bisa masuk dan membeli makanan disini.


Nenek yang sudah tidak bisa berdiri lama, aku suruh masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Buku dan pena selalu di tanganku, karena tidak ada yang paham dengan bahasa isyarat. Saat aku sedang sibuk membantu melayani pengunjung tiba-tiba, terlihat Firo masuk.


"Mbak sini, saya mau pesan makanan," ucap Firo sambil melambaikan tangannya kepadaku.


Dalam hatiku kurang ajar sekali dia, mana sambil senyam-senyum lagi. Aku datang kearahnya, ingin ku tarik telinganya, tapi nanti aku terlihat tidak ramah dengan pengunjung.


"Mau narik telingaku ya? haha tidak bisa, nanti gimana kalau pengunjung lainnya lihat kamu menarik telinga pelanggan?" ucap Firo wajahnya sangat mengesalkan.


Aku berikan menunya, lihat saja setelah ini akan ku tarik telinganya sampai ke kesakitan. "Senyum dong haha," kata Firo.


Dengan terpaksa aku tersenyum dengannya, benar-benar mengesalkan orang ini. Setelah menulis semua pesanannya, Firo memberikan kertas pesanan kepadaku, ia senyum mengejek. Aku tarik kertasnya, Firo malah tertawa.


Memberikan kertas itu pada pelayan, agar diberikan kepada kepala Koki dan segera bisa di siapkan. Biar mulutnya itu tidak banyak bicara lagi. Menunggu sedikit lama akhirnya pesanan Firo sudah siap, pelayan ku suruh memberikannya kepada Firo.


Pelayan itu kembali membawa semua pesanan Firo dan berkata, "Kata pelanggan, Ibu yang suruh mengantarkannya."


Aku ambil pesanannya, aku menuju Firo langsung menghidangkan semua makan di mejanya. Ku tinggalkan sepucuk surat yang isinya, "Jangan kurang ajar, kalau masih mau kesini lagi!"


"Orang gitu aja marah, duduk sini di sebelahku ada yang mau aku omongin, penting" jawab Firo.

__ADS_1


"Apa?" jawabku dengan isyarat.


"Duduk dulu sini." Firo menarik tanganku.


Aku duduk karena penasaran dengan apa yang ingin dia bicarakan, "Tadi aku melihatĀ  Kak Andri sedang bicara dengan seorang pengemis. Tak lama Kak Andri berbicara dengannya, pengemis itu berlari seperti orang ketakutan," kata Firo.


"Terus?" jawabku masih dengan isyarat.


"Aku mencoba mengejar mereka berdua, tapi sepertinya Kak Andri tidak bisa menangkap pengemis itu. Kira-kira ada apa ya?"


Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi. Aku menulis, "Aku juga tidak tau."


Setelah obrolan itu aku pergi meninggalkan Firo dan mengerjakan semua pekerjaanku. Setelah maka, Firo justru membantu di restauran, ikut melayani dan membantuku membawakan makanan. Kami menghabiskan waktu bersama di restauran ini.


Seharian kami bekerja, akhirnya jam tutup datang juga. Sebelum karyawan keluar, mereka aku kumpulkan, dan ku berikan arahan serta evaluasi pekerjaan hari ini.


Firo membantuku membacakan, semua catatan pekerjaan mereka hari ini. Inti dari catatan itu adalah aku berterimakasih atas kerja keras mereka dan memberi sebuah motivasi agar besok lebih semangat lagi.


Setelah itu karyawan pulang, aku dan Firo masih duduk berdua. Firo masih saja membujukku agar mau di operasi. Tapi, aku menolaknya, "Kenapa menolak?" tanya Firo


Aku menulis, "Sebenarnya aku takut."


"Takut apa?"


Aku menulis lagi, "Takut saat aku bisa berbicara, kata-kataku akan menyakitkan orang lain."


"Tidak perlu takut, lebih baik kamu bisa berbicara dari pada harus bertahan dengan keterbatasan mu itu. Bukankah penyakit itu harus di obati, dengan caramu berfikir takut menyakiti hati seseorang karena perkataan, itu sudah membuktikan kalau kamu orang yang baik."

__ADS_1


"Apa kamu bisa menjamin, setelah aku operasi aku bisa berbicara?" lanjut tulisanku.


Firo terdiam, wajahnya terlihat bimbang. Kemudian Firo berkata, "Aku tidak bisa menjaminnya."


__ADS_2