
...Episode 13...
Sebenarnya Novi dulu adalah anak yang sangat pendiam, semenjak perhatian Bu Anika lebih kepadaku, Novi mungkin merasa terpinggirkan dan timbul rasa iri terhadapku. Rasa iri itulah yang mungkin membuat Novi membenci diriku.
Semenjak kejadian itu, Bu Anika justru lebih memperhatikan aku, selalu ada saat aku kesulitan di sekolah, membela dan melindungi ketika ada anak yang menghina.
Di kelas 6 ini aku sudah banyak mendapat penghargaan dan mendali lomba melukis, namaku mulai dikenal. Tapi aku sedikit keberatan terhadap berita diluar sana yang mengatakan, *Anak bisu yang memiliki bakat melukis luar biasa*. Bagiku kalimat itu sedikit menyakitkan meski itu sebuah kenyataan.
Ujian semakin dekat, aku mulai berfokus pada pelajaran yang akan diujikan. Ayah selalu mengatakan jadilah nomer 1, dengan begitu aku tidak akan direndahkan. Singkat cerita ujian sudah aku lewati dan di hari pengumuman kelulusan aku mendapat rangking umum.
Hari itu adalah hari yang paling istimewa, Ayah, Nenek, Kak Dini, ikut mendampingiku menghadiri acara tersebut. Ayah maju ke depan, Air matanya mulai terlihat, terharu karena anak tersayangnya mendapat prestasi luar biasa.
Selain prestasi akademis, aku dinobatkan sebagai anak paling berbakat dalam bidang seni lukis. Prestasiku itu yang membuat aku mendapat beasiswa melanjutkan sekolah di SMP ternama.
Tapi, Ayah punya rencana lain. Aku tidak diperbolehkan lanjut sekolah ke SMP itu, Ayah akan mengirim ku ke luar negeri. Usia yang masih sangat muda, aku harus berpisah dengan Ayah dan Nenek, sedikit keberatan dan merasa belum waktunya aku pergi jauh dengan mereka berdua.
Ayah memaksa aku berangkat ke luar negeri, ternyata fokusnya bukan untuk sekolah, tapi menjalani pengobatan pita suara yang rusak. Setelah dipelajari ternyata bisu yang aku derita bukanlah kelainan genetik, tetapi hanya kerusakan pita suara yang mungkin masih bisa diobati.
Meski aku pergi dengan Kak Dini, tetap saja aku merasa belum bisa jauh dari Ayah dan Nenek. Aku berkata dengan isyarat, "Yah, aku mau pergi, tapi dengan Nenek."
Ayah menjawab, "Sayang, Nenek sudah tua, kasian Nenek."
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan Ayah, aku memeluk Nenek. "Hani... sudah besar pasti bisa hidup mandiri, nenek tunggu di rumah ya?," ucap Nenek.
Hatiku sangat sedih, sebentar lagi aku harus jauh dari orang yang selalu ada untukku, menyayangiku, dan membelaku. Aku akan di kirim ke Negara Jepang, dengan teknologi medis yang dikembangkan di sana mungkin saja aku bisa sembuh. Tapi seandainya tidak sembuh aku akan membuat prestasi di Negara itu, terutama seni lukis.
Saat aku sedang menghabiskan waktuku di rumah bersama Nenek, Nenek berbisik di telingaku, "Ibumu ada di sana," Kemudian Nenek tersenyum denganku.
Tak tau harus mengatakan apa, intinya setelah aku mendengar itu, aku merasa sangat bersemangat ingin cepat-cepat berangkat. "Hus... jangan sampai ayahmu tau ya," ucap Nenek.
Aku mengangguk, diam seketika. "Tapi, aku pasti sangat merindukan Nenek di sana," kataku dengan isyarat.
"Ada ini...." Nenek memamerkan HP, Bagiku tetap saja. Aku kan, ingin memeluk Nenek, mencium Nenek, Nenek melanjutkan ucapannya, "Sudah Hani, jangan sedih gitu, Nenek juga jadi sedih...."
Aku mencium Nenek dan tersenyum. Semua berkas sudah Nenek siapkan semua, hanya tinggal pasport. Ayahmu yang mengurus pasport nanti kalau sudah selesai Hani bisa langsung berangkat.
Kak Dini menjawab, "Siap, Nek. Ilmu karate Hani juga sudah lumayan, kalau ada yang nakal langsung banting aja haha...."
Tak lama Ayah datang berkata, "Semua sudah siap, besok pagi Hani bisa langsung berangkat, tiket pesawat juga sudah ayah pesankan, tempat tinggal di sana juga sudah siap."
"Din, kamu sudah siap?" tanya Nenek.
"Sudah Nek, semua barang yang akan dibawa sudah masuk koper semua," ucap Kak Dini.
__ADS_1
"Sini sayang...." Ayah memanggilku dan menyuruhku mendekat.
Aku langsung mendekat, Ayah memelukku dan menciumiku, "Ingat... di sana jangan nakal, makan yang teratur, dan dengarkan semua kata Dokter, Ayah tidak bisa menemanimu, pekerjaan ayah banyak sekali. Nanti kalau ada waktu luang, ayah dan Nenek pasti datang ke sana," ucap Ayah.
Aku hanya mengangguk dan memeluk Ayah. Malamnya aku harus tidur lebih awal karena pesawat berangkat pukul 07.00. Minimal, subuh sudah berangkat dari rumah.
Malam itu, ada sesuatu yang lupa ku bawa. Aku mencarinya dan ku masukkan ke dalam koper. Foto ibu yang akan menjadi petunjukku di sana. Aku tau ayah sangat membenci ibu, tapi demi diriku lukisan ibu tak pernah disentuhnya. Semenjak ada lukisan ibu di kamarku Ayah jarang sekali mau masuk ke kamarku.
Aku mulai terlelap, malam itu aku bermimpi wanita yang ingin menculik ku waktu itu, wanita itu masih memanggil-manggil namaku. Panggilannya seolah sudah sangat mengenal diriku, mukanya masih tak terlihat jelas, akhir kalimatnya berkata bahwa dirinya adalah ibu kandungku.
Di dalam mimpi itu, ia berkata sebagai ibuku, meminta maaf, karena telah meninggalkan aku, ia ingin kembali dan tinggal bersamaku. Lucunya di mimpi itu aku bisa berbicara, aku berkata kepada wanita itu bahwa aku tak mau tinggal bersamanya dan aku tak percaya bahwa dirinya adalah ibuku.
Wanita itu memaksa aku untuk ikut bersamanya, bahkan aku diiming-imingi melukis sesuka hati jika ikut bersamanya. Yang membuatku sangat heran adalah wanita itu sering sekali ada di dalam mimpiku, bahkan setiap mimpinya serupa.
Aku mulai terbangun, melihat di sebelahku ternyata ada ayah. Aku melihat wajah ayah, bagiku tak ada orang yang bisa bersaing dengannya, bersaing menjadi org tua yang baik. bersaing pun tal pantas apalagi digantikan.
Aku hanya ingin bertemu dengan ibu, bukan ingin tinggal dengannya, apalagi meninggalkan ayah demi tinggal bersamanya. Ayah bagiku segalanya. Aku akan terus bersamanya. Seandainya aku boleh menolak agar tidak jadi berangkat aku akan langsung membatalkan keberangkatan. Sayang ayah tetap memaksaku tetap berangkat apapun yang terjadi.
Aku memandangi terus wajah Ayah, terlihat tidurnya sangat pulas, tapi air mata tiba-tiba menetes dan terdengar suara dari mulutnya, "Hani... Hani... jangan pergi dengan wanita jahat itu...."
Setelah mendengar itu aku merasa sedikit bingung, kenapa mimpiku bersangkutan dengan mimpi Ayah. Apa benar wanita yang akan menculik aku adalah ibuku. tapi, sepertinya tidak mungkin, karena kata nenek, ibuku ada di luar negeri.
__ADS_1
Aku melihat jam masih pukul, 02.00 pagi. Masih terlalu pagi untuk bangun. Aku pergi ke dapur mengambil air minum, saat sedang minum terdengar suara dari gudang yang aku pakai untuk melukis setiap harinya, berjalan perlahan ke arah gudang, kagetnya aku setelah melihat apa yang ada di depan mataku.