
...~Bertemu Dengan Pria Tak Jelas~...
Setelah mengatakan namanya, Pria itu memberikan kartu nama dan di dalam kartu itu ada nomer hp. Sebelum Pria itu pergi ia mengatakan, "Tolong hubungi nomer itu, aku berharap bisa menjadi temanmu."
Minumannya ditinggal begitu saja, belum sedikitpun diminum, Pria itu pergi sambil melontarkan senyumnya kepadaku. Aku yang tak mau sembarangan mengenal orang, apalagi dekat dengan orang yang belum aku kenal, kartu namanya ku buang ke dalam kotak sampah.
Tingkahnya seperti buaya darat, mulutnya sangat manis dalam merayu, di tambah wajahnya yang tampan dan profesinya sebagai dokter, yang ada di pikiranku pria itu playboy yang suka mempermainkan hati perempuan. Hari mulai sore, sudah waktunya kami pulang.
Sebelum pulang aku dan Elma membereskan semua barang-barang yang kotor, mencucinya dan menatanya kembali. Saat sedang berjalan keluar tiba-tiba Sofi dengan sengaja bahunya menabrak bahuku, aku terjatuh dan ia berkata dengan sombongnya, "Maaf, kamu tak pantas ada disini haha."
Elma langsung menolongku, aku berdiri dan mendorong bahu Sofi sampai terbentur lantai, sepele bagiku jika ingin menghajarnya. Aku tidak membalas dari tadi karena menghargai karyawan lain, sekarang disini hanya kami bertiga, sekarang waktunya pembalasan,
Aku membalas bukan karena dendam, tapi untuk membela diri dan supaya Sofi tidak menggangguku lagi. Sofi terlihat kesakitan, aku menarik bajunya, menodongkan kepalan tangan kepadanya. Sofi ketakutan, berlari keluar. Elma yang melihat itu kaget, aku yang dari tadi pendiam sekarang seperti preman.
"Jangan khawatir aku ini menguasai karate sampai sabuk hitam, jika hanya melawan dengan kekerasan mudah bagiku," tulis ku untuk Elma.
Elma tertawa, "Hebat banget kawan aku ini," ucap Elma sambil memegang tanganku kegirangan.
Kami keluar, di luar terlihat Bos lewat di depanku dengan mobilnya. Bos berhenti di hadapanku berkata, "Hani, ayo ikut saya. Saya antar pulang."
Aku menggelengkan kepala, tapi sambil tersenyum. Bos berkata lagi, "Yasudah, hati-hati di jalan ya."
Elma yang setiap berangkat dan pulang menggunakan ojek online, aku ajak pulang bersama. Kebetulan jalan ke rumahnya searah dengan aku. Aku chat Kak Dini meminta tolong untuk menjemput ku. Kami menunggu di depan jalan.
__ADS_1
Saat sedang asik mendengarkan cerita Elma sambil menunggu Kak Dini, tiba-tiba ada mobil berhenti di depan. Kaca mobil perlahan terbuka, ternya yang mengendari mobil itu adalah Firo, pria yang memberiku kartu nama saat di restauran.
"Maaf mengganggu, boleh saya antar kamu," ucap Firo kemudian tersenyum.
Jujur aku merasa pria ini aneh, kami belum saling mengenal tapi sudah berani ngajak pulang bareng. Aku menolaknya mentah-mentah, tak sedikitpun senyum untuknya. Wajahku terlihat sangat galak dan menyuruhnya pergi dengan isyarat tangan.
Aku sangat heran, padahal aku sudah terlihat sangat galak, tapi Firo malah tersenyum. Kemudian kaca mobilnya tertutup dan pergi dari hadapan kami. "Hani, bukannya pria itu yang tadi di restauran ya?" tanya Elma.
Aku mengangguk, jari telunjukku ku taruh miring di kening. Maksudku pria itu gila. Elma tertawa, "Nyesel nanti kamu, ganteng loh," ucap Elma.
Aku menggelengkan kepala, berlagak seperti orang jijik. Tak lama kemudian Kak Dini datang, kami naik kedalam mobil. "Haha hebat jua adik aku ini, baru sehari kerja udah dapet teman aja. Oiya, kenalin namaku Dini. Kakaknya Hani," ucap Kak Dini sambil menyetir.
"Namaku Elma, Kak."
Aku menjewer telinganya dari belakang, "Aduh... tuh liat galak banget dia ini," sambil kesakitan Kak Din masih bisa mengejekku.
Elma tersenyum melihat kelakuan kami, kemudian berkata, "Santai aja, Kak. Justru Hani yang melindungi ku. Benar kata Kakak Hani galak banget, tapi baik kok."
Aku tersenyum dengan Elma. Di dalam mobil kami tertawa bahagia, bercanda, dan bercerita pengalaman masing-masing. Sesampainya di depan rumah Elma, kami diajak mampir, tapi kami tidak mau. Aku harus bergantian menunggu Nenek di rumah sakit.
Aku dan Kak Dini bergegas pulang ke rumah, Sesampainya di rumah aku mandi dan beres-beres, kemudian pergi ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit, Kak Dini ku suruh pulang untuk istirahat. Kondisi Kak Dini yang sedang hamil muda tak boleh terlalu letih.
"Enggak papa jaga sendirian?" tanya Kak Dini.
__ADS_1
Aku mengangguk, Kak Dini kemudian pergi pulang. Saat berjalan menuju ruangan tempat nenek dirawat, aku berpapasan dengan Firo. "Loh, ketemu lagi kita," ucap Firo.
Aku mengabaikannya, terus berjalan menuju ruangan nenek. Firo menggunakan pakaian dokter. Ternyata Firo bekerja di rumah sakit ini. Saat berjalan mengabaikannya terkadang aku melihat kebelakang melihatnya, Mata Firo selalu menatapku, senyumnya selalu ada saat aku berbalik.
Aku hanya menggelengkan kepala, segera menuju ruangan nenek. Sesampainya di ruangan, aku langsung duduk di sebelah nenek. Tangannya ku genggam, aku hanya berharap nenek cepat siuman. Singkat cerita aku menunggu Nenek semalaman, menginap di rumah sakit. Keesokan harinya, aku yang harus bekerja bergegas siap-siap pulang.
Kak Dini sudah sampai di rumah sakit, menungguku di luar ruangan. Sebelum keluar aku mencium kening Nenek di dalam hati berkata, "Aku sayang Nenek."
Kemudian aku keluar dan menemui Kak Dini, "Sudah waktunya kamu bisa mengendarai mobil, nanti berangkat kerja kamu yang bawa," ucap Kak Dini.
Ada benarnya juga, memang sudah waktunya aku harus bisa mengendarai mobil agar tidak merepotkan orang lain dan saat mendesak terjadi sesuatu aku tidak kebingungan. Dengan semangat aku mengangguk. Kami pulang dulu, aku mandi kemudian siap-siap.
Saat semuanya sudah beres kami masuk ke dalam mobil, sebelum aku yang mengendari Kak Dini memberikan penjelasan bagaimana caranya mengendarai mobil. Sebenarnya aku sudah sedikit paham, hanya saja belum pernah mempraktekkannya.
Setelah memberikan penjelasan, aku disuruh langsung mengendarainya. "Jangan gugup!" ucap Kak Dini.
Pelan-pelan aku mulai menginjak kopling mobil dan menggerakkan persneling ke arah gigi 1, gas ku injak pelan dan kopling ku lepaskan perlahan. Mobil berjalan, aku sangat kegirangan bahagia, ternyata aku bisa juga mengendari mobil.
Laju mobil sangat pelan, "Masukkan ke gigi 2," kata Kak Dini.
Ku coba memasukkan gigi 2, saat menginjak gas dan melepaskan kopling tiba-tiba mobil ngadat dan mati. "Salah masuk gigi, barusan gigi 3 yang kamu masukkan, Injak koplingnya lagi!"
Aku menginjak koplingnya, kemudian Kak Dini mempraktekan cara masukkan tiap gigi, aku yang langsung paham langsung menghidupkan mobil lagi. Mobil berjalan lagi, kadang saat sedang mengoper gigi mataku fokus melihat persneling, saat disitulah Kak Dini berkata, " Kalau nyetir fokus ke depan liat kondisi jalan, dan jangan lupa pakai spionnya."
__ADS_1