BISU

BISU
#24 ~Naiknya Sang Penghianat~


__ADS_3

...~Naiknya Sang Penghianat~...


Setelah Pak Roy mengatakan kalimat kasar itu, aku diusir dari ruang rapat. "Pergi dari ruangan ini! Tunggu saja keputusan rapat," ucap Pak Roy, sambil menunjuk ke arah pintu.


Aku tetap berdiri dihadapan mereka, memperlihatkan wajah yang sangat marah, emosiku tak bisa ku bendung. Kak Dini memegang tanganku dan mengajakku pergi dari ruangan itu. Aku tetap bertahan, Kak Dini berbisik, "Hani, lebih baik kita mengalah dulu sampai waktunya tepat."


Aku berjalan mengikuti Kak Dini keluar dari ruangan, berjalan tapi pandanganku tetap mengarah kepada mereka. Mereka yang serakah, mereka sang penghianat. Setelah keluar ruangan kami bergegas menuju rumah sakit.


"Nanti setelah sampai rumah sakit, Hani jangan bilang ke nenek dulu ya. Lebih baik kita sembunyikan kejadian ini dari nenek, kakak enggak mau sakit nenek tambah parah," ucap Kak Dini sambil menyetir.


Aku hanya diam, masih larut dalam emosi, kebencian terhadap mereka yang telah mengkhianati ayah. Kak Andri sengaja tidak masuk ruang rapat, karena kak Andri memiliki rencana untuk mengembalikan kondisi perusahaan sembari menunggu di ketemukannya ayah.


Kak Andri berusaha agar tidak dipecat dari perusahaan untuk mengorek semua informasi dan mengungkapkan kebenaran. Sesampainya di rumah sakit, aku masuk keruangan nenek dirawat, raut mukaku yang terlihat marah ternyata membuat nenek bertanya, "Hani ada apa?"


Aku hanya menggelengkan kepala, "Din ada apa?" tanya Nenek kepada Kak Dini.


"Enggak papa, Nek. Tadi ada seseorang yang buat Hani marah saat di jalan."


"Memangnya apa yang dilakukan orang itu?"


"Ada pria yang menggoda Hani," jawab Kak Dini sambil tertawa.


Emosi yang tak bisa ku tahan akhirnya membuat diriku menangis di hadapan Nenek. "Ya ampun sampai nangis cucu nenek, sudah-sudah jangan menangis. Biar nenek cari pria itu dan memberinya pelajaran haha." Melihat Nenek sudah bisa tertawa amarahku sedikit mereda.


Aku sangat bersyukur nenek sudah biasa lagi meski harus dirawat inap. Hanya Nenek yang ku punya sekarang, aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi. Sudah cukup penderitaan ini, seandainya aku harus menjalani hidup sederhana, setidaknya masih ada keluarga di sampingku.

__ADS_1


Seandainya semua perusahaan milik ayah di ambil alih oleh mereka, aku masih memiliki tabungan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk biaya hidup kami. Setelah obrolan itu, aku menyuapi nenek. Berkata dengan isyarat, "Makan yang banyak ya, Nek."


"Hani juga ikut makan ya," jawab Nenek.


Kak Dini menyembunyikan wajahnya, menghadap membelakangi kami. Tangannya terlihat seperti menghapus air mata. Kemudian Kak Dini keluar dari ruangan. Satu suap, dua suap, Nenek berkata, "Sudah, nenek sudah kenyang."


"Lagi Nek, baru 2 suap," isyarat ku.


"Sudah Hani, Nenek sudah kenyang."


Aku menaruh makanan Nenek di meja, kemudian menyelimuti Nenek, dan memintanya untuk istirahat. Nenek menuruti kemauanku memejamkan matanya. Saat sudah terlelap aku keluar menemui Kak Dini.


Kak Dini yang duduk di kursi tunggu depan ruangan terlihat sedang menangis tersedu-sedu. Sebenarnya aku pun, sangat ingin menangis, tapi menangis tidak akan memecahkan masalah, ditambah air mataku mungkin sudah habis karena terlalu banyak menangis.


Sekarang yang ku rasakan hanya marah, sakit hati, dan ingin membalaskan dendam. Duduk di samping Kak Dini, berkata dengan isyarat, "Apapun yang terjadi, aku akan merebut kembali perusahaan ayah."


Tak lama kemudian ponsel Kak Dini berdering, "Ini Kak Andri nelpon," kata Kak Dini sambil memamerkan ponselnya.


Kak Dini mengangkat telpon itu, "Halo, gimana yang?"


"Rapatnya sudah selesai, keputusan petinggi perusahaan adalah membekukan semua saham milik Pak Hendri selama 4 bulan, seandainya 4 bulan Pak Hendri tidak diketemukan, semua saham yang dimiliki Pak Hendri akan dialihkan ke nama yang tercantum di wasiat palsu."


"Apa? yang benar saja, Heni adalah pewaris tunggalnya kenapa harus dibekukan!" bentak Kak Dini.


Tanganku mengepal, merasa sangat marah, ingin sekali aku menghajar mereka semua. Aku berkata dengan isyarat kepada Kak Dini, "Kita fokus cari keberadaan ayah, dan orang yang memegang wasiat ayah yang asli. Setelah ayah diketemukan, atau surat wasiat ada, kita bubarkan mereka semua."

__ADS_1


"Mereka sangat licik. Aku akan memantau perusahaan ini dan memantau pergerakan mereka sambil menunggu Pak Hendri diketemukan, posisiku aman, karena aku masih dipekerjakan sebagai manajer," ucap Kak Andri.


"Yasudah, kita harus bisa mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula," jawab Kak Dini.


Telpon dimatikan, Kak Dini menyuruhku agar tidak bertindak gegabah. Marah, bercampur khawatir dengan kondisi ayah dan nenek, hatiku menjadi bimbang.


Singkat cerita, Nenek yang sudah sembuh kembali ke rumah. Sampai detik ini nenek belum tau kejadian yang terjadi di kantor. Setelah hari itu, aku, Kak Dini, dan Kak Andri menyuruh banyak orang untuk mencari ayah dan orang yang memegang surat wasiat asli.


Waktu terus berlalu kami sudah mencari ayah hampir 2 bulan lamanya, tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda atau petunjuk dimana ayah dibawa pergi. Sama halnya orang yang memegang surat wasiat asli. Tapi, Kak Andri menginformasikan, sebelum kejadian ayah mengalami kecelakaan, ada seseorang yang masuk ke dalam mobil ayah.


Orang itu adalah suruhan Pak Roy. Kak Andri berkata lagi kalau Pak Roy sengaja menyuruh orang untuk mencelakakan ayahku. Informasi itu di dapat ketika Kak Andri tidak sengaja mendengar obrolan Pak Roy, dengan salah satu petinggi perusahaan lainnya. Sialnya Kak Andri tidak sempat merekam pembicaraan mereka.


Mendengar itu, hatiku seperti dibakar, lihat saja akan ku buat mereka menyesal karena berani melakukan ini terhadap ayah. Hanya karena jabatan dan harta mereka tega mencelakakan seseorang. Selama pencarian ayah, tak pernah aku menyentuh kuas, melukis seperti biasanya.


Kami masih terus mencari keberadaan ayah, sampai pada akhirnya hampir 4 bulan berlalu. Keputusan hanya tinggal esok, tapi kami belum menemukan ayah dan surat wasiat asli. Malam sebelum hari itu, aku memberanikan diri mengatakan semuanya dengan nenek.


Ketika Nenek mendengar semua itu, kaget bukan main tapi tidak seperti waktu mendengar ayah kecelakaan. Nenek hanya berkata, "Seandainya perusahaan itu dicuri mereka, kita jual rumah ini dan tinggal di tempat yang lebih nyaman. Nenek sudah ada pandangan dimana kita akan pindah, tempatnya sejuk dan bisa menenangkan diri, lokasinya di samping pantai."


Meski aku masih sangat marah dan membenci orang-orang itu, tapi aku bersyukur nenek tidak kecewa ataupun sedih. Justru langsung memberikan solusi terbaik. Aku sudah pasrah karena sudah tidak ada waktu lagi. Besok hanya tinggal menunggu siapa yang akan menggantikan ayah.


Keesokan harinya rapat dimulai, dan dalam rapat itu ada Kak Andri yang selalu melaporkan informasi. Kata Kak Andri rapat dipimpin oleh, salah satu petinggi, bukan Pak Roy. Diputuskan ayahku sudah meninggal dan mewasiatkan seluruh sahamnya kepada Pak Roy. Hal yang membuatku sakit hati bukan karena saham yang diambilnya, tapi kata-kata yang mengatakan ayah meninggal. Sang penghianat sekarang mengambil semuanya.


...****************...


Terimakasih telah membaca karya saya 🙏 Jangan lupa like, dukung, komen, dan follow, serta baca juga karya saya yang berjudul "Cinta Ini Tercipta Dari Kata Seandainya."

__ADS_1


Mohon maaf jika ada kesalahan atau kekurangan 🙏


__ADS_2