
...Episode 12...
Jadi, selama ini ibuku adalah wanita yang aku lukis barusan dan wanita ini pernah aku lihat di Tv. Ibuku ternyata masih hidup. "Aku ingin bertemu ibu." Aku menulis untuk Nenek.
"Suatu hari nanti, Hani pasti bertemu ibu, tapi tidak sekarang," jawab Nenek.
Aku tersenyum, kemudian Kak Dini datang membawa lukisan yang baru aku selesaikan. Lukisan itu terlihat sangat cantik, bingkainya sangat indah. "Ayo kita pasang, lukisan indah Hani," ucap Kak Dini.
Kami masuk ke kamar dan Kak Dini mulai memasang lukisan itu. Di samping lukisan itu sudah ada lukisan ayah. Aku memandangi kedua lukisan, terlihat sangat serasi. Seandainya ibu dan ayah kembali bersama. Mungkin, jika aku tidak ada mereka sekarang masih bersama.
Aku menulis untuk Nenek, "Nek, besok aku mau melukis 1 lagi."
"Siapa yang Hani lukis?," tanya Nenek.
"Hani," lanjut tulis, ku.
"Yah... kirain nenek yang mau dilukis," ucap Nenek.
Aku menulis lagi, "Setelah itu, Nenek, dan Kak Dini juga aku lukis."
"Oke..." ucap Nenek, terlihat sangat bahagia.
"Oiya, tadi ayah nelpon, kalau hari ini ayahmu harus pergi ke luar negeri dan sangat terburu-buru jadi, tidak bisa pamitan dengan Hani, nanti kalau sudah sampai... ayah nelpon Hani,"
"Ayah jahat, pergi enggak pamitan sama aku," tulis, ku.
"Sayang... ayahmu tadi terburu-buru, Hani harus bisa ngertiin ayah ya," ucap Nenek.
Aku hanya mengangguk, tanpa nenek berkata seperti itu sebenarnya aku sudah memaklumi kondisi ayah. Ayah yang selalu sibuk, ayah yang sekarang jarang bertemu denganku, tapi... ayah yang selalu menyayangiku.
"Oke, sekarang Hani makan malam, terus belajar dan ingat langsung tidur," ucap Nenek.
__ADS_1
Aku berjalan ke ruang makan, makan bersama Kak Dini dan Nenek. Setelah makan, aku berjalan masuk ke kamarku. "Hani mau tidur dengan nenek atau Kak Dini?" tanya Nenek.
Dengan bahasa isyarat jariku menunjuk badanku sendiri yang artinya aku ingin tidur sendirian. "Oke kalau mau tidur sendirian," Nenek mengacungkan jempolnya.
"Hani... pintu kamar jangan dikunci," ucap Kak Dini.
Gantian aku yang mengacungkan jempol kepada Kak Dini. Kak Dini hanya tersenyum. Aku masuk dan pintu kamar ku tutup, tapi tidak dikunci, mulai berbaring di kasur. Melihat ke arah lukisan, sambil membayangkan ibu datang pulang dan menemaniku tidur.
Malam ini aku merasa sangat lelah dan ngantuk sekali, mulai memejamkan mata dan langsung tertidur. Keesokan harinya, "Hani... bangun," suara Nenek terdengar.
Aku membuka mata, melihat Nenek sudah ada di depan mataku. "Bangun sayang, ayo siap-siap, mandi, makan, terus berangkat sekolah," ucap Nenek.
Hari ini aku sangat malas berangkat sekolah, harus bertemu dengan anak-anak nakal, aku berkata dengan Nenek dengan bahasa isyarat, "Nek, hari ini aku malas sekolah."
"Loh... cucu Nenek kenapa enggak mau sekolah?"
Lanjut kataku dengan bahasa isyarat, "Malas bertemu dengan anak-anak nakal."
Yah... mau tidak mau aku harus berangkat sekolah, kalau bukan karena ayah dan nenek, aku tidak mau berangkat ke sekolah. Aku bergegas mandi kemudian makan, Kak Dini terlihat sedang memanaskan mobil.
Setalah semua siap, aku berpamitan dengan Nenek, mencium tangannya. Pukul 07.00 tepat aku berangkat ke sekolah, sesampainya di sekolah ternyata Tirta sudah menunggu di depan pintu gerbang.
"Hani..." ucap Tirta sambil melambaikan tangannya kepada ku.
Aku pun, melambaikan tangan kemudian berlari menghampiri Tirta. "Ayo kita masuk ke kelas," ucap Tirta sambil menggandengku.
Kami berdua berjalan bersama, anak-anak lain hanya melihat kami dengan sinis. Bagiku tak masalah, mereka seperti itu, karena sudah ada Tirta yang bisa melindungi.
Tirta sudah ku anggap seperti saudara sendiri, Sejak saat itu, aku selalu bersama Tirta. Terkadang saat pergi ke panti Tirta ku ajak, saat berlibur dengan nenek dan Kak Dini pun, aku ajak.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa sudah akan lulus SD. Selama 6 tahun ini, aku menghadapi semua cacian dan hinaan dengan sangat sabar. Tapi ada satu hinaan yang paling aku ingat saat sekolah, waktu itu aku duduk di bangku kelas 4 SD, ada temanku yang bernama Novi.
__ADS_1
Novi sejak awal aku masuk sekolah sudah terlihat sangat tidak suka denganku, mungkin puncaknya ketika kelas 4. Hari Senin, ada pengumuman kalau aku menjuarai lomba melukis antar sekolah, Novi yang mendengar itu langsung menyebar fitnah kalau aku curang dalam mengikuti kompetisi.
Kabar itu tersebar sangat cepat, semua anak di sekolah menggunjing diriku, bahkan saat sedang berjalan sendiri, banyak anak mengerubungi dan mengatakan kata-kata menyakitkan, "Bisu curang, bisu curang, bisu curang." cacian itu yang ku dengar.
Mencoba untuk diam saja, tapi kalimat itu sangat menyakitkan. Aku hanya bisa berlari, menangis, dan pergi menuju kamar mandi. Terdengar suara ketukan pintu WC, "Hani... ini bu guru."
Aku keluar dari WC, di depan pintu sudah ada Bu Anika yang kebetulan adalah guru seni lukis. Dia adalah guruku melukis, hari-hariku di sekolah banyak dengannya. Melukis bersamanya, banyak teknik lukis yang ku pelajari dari Bu Anika.
"Hani jangan sedih ibu percaya, Hani tidak curang, tadi ibu sudah bilang ke teman-teman juga," ucap Bu Anika.
Tak lama datang Tirta dan berkata, "Hani, jangan nangis lagi udah aku hajar anak-anak itu," ucap Tirta.
Padahal saat aku keluar dan melihat anak-anak nakal itu tidak ada yang terlihat habis di hajar, Tirta berkata seperti itu agar aku lebih tenang saja. Aku berjalan digandeng oleh Bu Anika dan di sampingku ada Tirta.
Semua anak yang berkata tadi hanya diam dan tak bersuara lagi. "Novi, ikut ibu!" Nada Bu Anika sedikit keras berkata dengan Novi.
"Kenapa sih Bu, Ibu selalu belain anak Bisu Ini!" bentak Novi.
"Novi jaga mulutmu!" tegas kata Bu Anika.
Novi berlari dan berteriak, "Dasar bisu," tangannya menunjukku.
Bu Anika hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berkata, "Hani... jangan dengarkan kata-kata Novi. Hani hebat, dan ibu yakin Hani akan menjadi pelukis terkenal."
Sebenarnya kata-kata Novi sangat menyakitkan bagiku, tapi mendengar perkataan Bu Anika membuatku sedikit tenang. "Ayok kita keruang melukis, ibu ajarkan teknik melukis baru," ucap Bu Anika.
"Aku juga Bu, mau belajar melukis," ucap Tirta.
"Boleh, kita sama-sama melukis."
Kami berjalan menuju ruang melukis, terlihat Novi yang berlari keluar dari ruang melukis. Saat kami masuk semua peralatan melukis sudah berantakan, cat tumpah, kanvas tergeletak di lantai. Bu Anika terlihat sangat marah, "Novi... Novi...." Bu Anika mengelus dadanya.
__ADS_1
Cacian Novi tak berhenti sampai disini, Novi ini adalah anak dari Direktur yayasan sekolah. Tak ada yang berani dengannya.