BISU

BISU
#39 ~Berita Mengejutkan~


__ADS_3

...~Berita Mengejutkan~...


Saat sudah lebih tenang aku kembali ke dalam. Semua sangat sibuk melayani banyaknya pengunjung. Kembali tersenyum dan menyambut tamu di depan. Meski senyumku palsu, karena banyak sekali sesuatu yang ku pikirkan. Ku lihat dari kejauhan mobil Kak Dini mendekat.


Kak Dini turun bersama Kak Andri, "Halo Bos, gimana aman?" ucap Kak Dini


Dengan bahasa isyarat aku menjawab, "Aman"


Kak Andri hanya tersenyum, mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam restauran. "WOw... ramai sekali." ucap Kak Dini.


"Kami ingin makan, bawakan kami daftar menunya!" ucap Kak Andri kepada pelayan.


Dalam hatiku berkata, "Dia kan sudah tau semua menu yang tersedia, bertingkah selah-olah tidak tau."


"Hani, sini duduk di sebelah kakak. Ada yang ingin kami beritahukan," kata Kak Dini.


Aku duduk, mereka berdua terlihat sangat tegang. "Kamu aja yang ngomong Yang," ucap Kak Dini, tangannya menggenggam tangan Kak Andri.


"Ada apa sih?" tanyaku dengan isyarat.


"Kakak sudah mengetahui informasi terkait ayah Hani, menurut orang suruhan kakak, ayah Hani dipastikan sudah meninggal,"


Mendengar itu, aku menggebrak meja. berkata dengan isyarat "Bohong!"


"Tenang, kakak tau kabar ini sangat mengejutkan dan menghancurkan hati. Tapi, informasi ini benar adanya, bahkan kakak sudah memastikannya sendiri. Jadi, ada saksi yang melihat pak Hendri waktu kecelakaan dibawa oleh orang yang ada di dalam mobil, ada kemungkinan orang tersebut adalah kuasa hukum yang memegang surat wasiat," kata Kak Andri.


Belum selesai Kak Andri berbicara, Kak Dini berkata, "Tadi malam Kak Andri mendapat pesan dari orang yang tidak di kenal melalui chat, isi chat itu adlah memberikan lokasi makam dari ayah Hani."


Aku menutup telinga, rasa sakit hati yang belum hilang karena perlakuan anak pak Roy, ditambah kabar ini hatiku benar-benar hancur. Aku sudah tidak mau mendengarnya, menutup telinga dan keluar restauran.


Aku berlari masuk kedalam kamar, pintu kamar ku kunci. Di dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya. selama ini aku berharap ayah masih hidup dan bisa kembali, berkumpul bersama kami.


Semua harapan itu hilang, jika kabar yang baru ku dengar adalah sebuah kenyataan. "Hani, ada apa?" tanya Nenek di depan pintu kamar.

__ADS_1


Nenek terus mengetuk pintu, memintaku membuka pintu kamar. Aku tidak menghiraukan, untuk kali ini aku hanya ingin sendiri. "Nek, biarkan saja Hani sendiri," terdengar ucap Kak Dini.


"Memangnya ada apa dengan cucuku?" tanya Nenek.


"Nanti aku jelaskan, lebih baik kita biarkan Hani sendiri dulu." ucap Kak Dini.


Setelah itu aku mendengar langkah kaki mereka menjauh dari depan kamar. Hatiku benar-benar hancur, ayah... ayah... hanya kata itu yang bisa ku ucapkan dalam hati. Berjam-jam aku menangis, aku menyadari bahwa menangis tidak akan memecahkan masalah.


Sudah cukup kesedihan ini, aku harus bisa menerima kenyataan. tapi kenyataan ini sungguh sangat berat aku hadapi. Mataku sudah sangat sembab, air mata seperti sudah habis tak mau keluar lagi. terdengar suara Kak Dini dari depan pintu,


"Hani restauran sementara akan di pegang kepala koki, kamu tenangkan dirimu sampai benar-benar sudah tenang. Jika kamu ingin pergi ke makam ayahmu, besok pergi bersama Nenek dan kami berdua. Kaka pamit pulang."


Tak lama kemudian, terdengar suara Nenek, "Hani, buka pintunya. Nenek juga sedih, tapi semua harus kita terima."


Benar kata Nenek, ku membuka pintu dan langsung memeluk Nenek. "Sudah jangan bersedih lagi, masih ada nenek disini. Besok kita akan menemui ayah ya," ucap Nenek.


Aku tau Nenek sebenarnya lebih terpukul mendengar kabar tentang ayah, karena nenek adalah ibunya. Tapi, nenek bisa menahan sekuat itu atas kesedihannya dan hal yang baru aku sadari, jika aku terus bersedih maka, nenek pun akan ikut terus bersedih.


Hari mulai sore, sudah waktunya menutup restauran. Semua karyawan terlihat masih beres-beres. Aku masuk ke restauran, semua karyawan berkumpul. Memberikan ku semangat, sungguh hatiku terasa sedikit lebih lega saat mendengar perkataan mereka.


Aku mengambil buku dan menulis, "Terimakasih, mungkin besok saya belum bisa bekerja, tolong gantikan saya."


"Siap, Bu."


Aku menulis lagi, "Tolong sampaikan ucapan terimakasih dengan yang lain."


Kepala koki langsung berkata, "Perhatian untuk semua karyawan, Bu Hani mengucapkan terimakasih atas kerja kerasnya hari ini dan besok kita harus lebih semangat lagi."


"Siap...." Semua karyawan menjawab dengan kompak.


Satu persatu mereka berpamitan pulang, restauran sekarang sudah kosong. Aku menguncinya dan kembali ke dalam rumah. Hari ini, terasa sangat melelahkan padahal aku tidak bekerja penuh, mungkin karena tenagaku habis untuk menangis.


Seharian ini juga, aku tidak melihat Firo. Biasanya Firo selalu ke rumah. Apa dia marah denganku, apa mungkin dia sangat sibuk hari ini. baru menutup pintu, terdengar sura klakson mobil. Saat aku tengok ternyata itu mobil Firo. Sungguh panjang umur orang ini.

__ADS_1


"Jangan kunci pintunya, aku kangen sama wanita galak," ucap Firo sambil memarkirkan mobilnya.


Aku tutup pintunya mendengar perkataannya yang menggelikan itu, dari luar Firo berkata lagi, "Kejam sekali, aku punya informasi penting."


Pintu ku buka lagi dan tersenyum dengannya "Giliran ada informasi penting aja... senyum denganku," ucap Firo.


Ku persilahkan Firo duduk di kursi depan rumah, aku duduk di sampingnya menunggu informasi yang dimaksud. "Nungguin ya...? Hahaha." Firo meledekku.


Kesal aku tarik telinganya. "Aduh... iya ini aku mau kasih tau. Tadi aku sedang menangani salah satu pasien, ternyata pasien ini mengenalmu. Dia bilang tolong sampaikan salam dari saya, dan bilang maaf."


Aku berlari ke dalam rumah mengambil buku yang ku taruh di meja ruang tamu, keluar sambil menulis, "Siapa nama pasien ini?"


"Sebentar aku ingat-ingat dulu," Firo memegang kepalanya sambil mengingat.


"Aku lupa, karena banyak sekali pasien yang aku tangani seharian ini," ucap Firo.


"Ingat-ingat lagi, aku sangat membutuhkan informasi darinya," tulis ku.


"Besok aku cari datanya, sekarang aku benar-benar lupa. Memangnya ada apa sih?" tanya Firo.


"Mungkin orang itu ada sangkut pautnya dengan kejadian kecelakaan ayahku," jawabku dengan tulisan.


"Oke besok akan ku cari tau lagi namanya, kebetulan orang ini besok kan datang lagi. Ia mengidap penyakit leukimia.


"Jam berapa orang itu datang ke rumah sakit?" tanyaku dengan tulisan.


"Sekitar jam 10 sampai jam 12."


"Apa kamu benar-benar tidak mau di operasi?" tanya Firo.


"Enggak!" tegas dalam tulisanku.


"Ayolah, aku ingin kamu bisa berbicara, dengan kamu bisa berbicara, lebih memudahkan mu dalam berkomunikasi."

__ADS_1


Aku menulis lagi tapi dengan huruf besar semua, "ENGGAK!"


Firo terlihat kecewa, aku tersenyum karena wajahnya terlihat sangat imut.


__ADS_2