
...~Keputusan Yang Mengejutkan~...
Setelah lama berfikir akhirnya aku memutuskan untuk bercerita dengan Nenek. Malam itu Nenek berkata, jangan mau menikah hanya karena alasan dunia. Aku tak mendapat restu oleh Nenek jika menikah dengan Jeri.
Kepalaku tambah pusing, "Ayah... apa yang harus ku lakukan?" Aku berbaring sambil menatap lukisan ayah.
Mencoba untuk tidur, tapi mataku seperti terganjal, tak mau terpejam. Malam semakin larut, aku masih memikirkan tawaran Jeri. sampai terbesit di dalam pikiran, aku akan menikah dengannya kemudian langsung menceraikannya.
Jika dipikir-pikir Jeri pun tidak bodoh, seandainya menikah pun rekaman itu pasti masih disimpan sampai malam pertama lewat. Terus memikirkannya membuatku gila.
Terpaksa malam ini aku harus minum obat tidur. Mengambil obat di laci, kemudian meminumnya. Tak lama kemudian mataku menjadi sangat berat.
"Hani, bangun sudah pagi!"
Mata yang masih sangat berat aku terbangun mendengar suara Nenek. Menarik selimut dan tidur lagi.
"Cucu nenek kenapa jadi malas-malasan seperti ini?" kata Nenek sambil mengelus rambutku.
Mataku terbuka, Nenek berkata, "Lupakan kata-kata nenek tadi malam, nenek akan mendukung semua keputusanmu."
Hari ini aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar, restauran ku pasrahkan kepada kepala koki. Mempersiapkan semua alat lukis di dalam kamar, seharian aku ingin melukis. Berharap dengan melukis aku akan mendapat pencerahan.
Lukisan yang menggambarkan semua masalahku, aku ingin melukis burung merpati yang terbang mencari pasangannya. Entah sudah berapa banyak karya lukisanku, tapi semua tidak bisa dipamerkan. Mulai mengeluh dengan keadaan ini.
Selama aku melukis nenek keluar masuk melihatku sambil membawa makanan dan minuman. Tak terasa waktu berlalu, hari sudah siang. Nenek masuk mengatakan kalau Firo datang.
Dengan bahasa isyarat aku berkata, "Suruh pulang saja, hari ini aku tidak ingin bertemu dengan siapapun."
Nenek keluar dan menyampaikannya kepada Firo. Dari jendela aku mengintip Firo yang pergi. Wajahnya terlihat kecewa. "Maafkan aku." ucapku dalam hati.
Melanjutkan lukisanku, tampak cantik saat matahari ku lukis. Setelah lukisan itu selesai, aku memandanginya. Seandainya aku bisa menjadi burung, terbang bebas mengelilingi dunia. Dunia yang penuh dengan drama.
Tak lama Nenek keluar, nenek masuk lagi dan berkata, "Ada anak Pak Roy datang. Katanya ada yang mau dibicarakan, penting."
Berat sekali aku ingin bertemu dengannya, tapi dia ingin membicarakan tentang rekaman itu. Dengan sangat terpaksa aku keluar dan menemuinya. Buku dan pena tak lupa ku bawa.
__ADS_1
Jeri sudah duduk di depan rumah, "Duduk ada yang aku ingin tunjukkan kepadamu!"
Jeri mengeluarkan ponselnya, kemudian suara rekaman terdengar. Suara itu adalah suara obrolan Pak Roy dengan orang yang mencelakakan ayah. Di dalam pembicaraan mereka lengkap membahas tentang rencana kecelakaan sampai surat wasiat yang dipalsukan.
Reflek tanganku menyerobot ingin mengambil hp Jeri. Tapi dengan sangat cepat Jeri memasukkan di dalam kantong celananya.
"Jika kamu ingin rekaman ini, sekarang kamu harus mau menikah denganku. setelah malam pertama terlewat aku akan memberikannya kepadamu." Jeri menatapku sambil tersenyum.
Senyumnya benar-benar menjijikkan, aku sangat ingin menamparnya.
"Apa tidak bisa kamu berikan saja rekaman itu tanpa harus menikah denganku?" tulisku kemudian menunjukkannya kepada Jeri.
"Oh... tidak bisa. Syarat jika ingin mendapat rekaman ini, kamu harus menikah denganku," ucapnya sambil memegang tanganku.
Diperlakukan seperti itu, aku merasa seperti wanita rendahan yang tak punya harga diri. Ingin melawan tapi tak bisa. Hatiku masih bimbang.
"Aku tunggu keputusanmu malam ini, lewat malam ini, jangan harap kamu mendapatkan rekaman ini." Jeri pergi begitu saja.
Ia masuk ke dalam mobil dan lewat di depanku sambil tersenyum seraya berkata, "Nanti malam aku kesini lagi!"
"Hani, bagaimana kalau kita melupakan saja tentang masalah ayahmu dan mengikhlaskannya saja, dengan begitu kita bisa hidup tenang," ucap Nenek sambil mengusap air mataku.
Dengan bahasa isyarat aku menjawab, "Nek... seandainya Pak Roy tidak dilengserkan dari jabatannya, ia akan menutup restauran ini juga, karir melukis ku benar-benar akan hancur dan ia tidak akan melepaskan kita begitu saja."
Nenek ikut meneteskan air mata, "Semangat cucu nenek," ucap Nenek.
Aku dan Nenek masuk ke dalam rumah. Duduk di depan tv sembari tidur di pangkuan Nenek. Tak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Hani...." suara Kak Dini terdengar dari depan pintu.
Kak Dini masuk kemudian mendatangi kami. Melihatku masih menangis Kak Dini berkata, "Siapa yang berani membuat adikku menangis?!"
Aku diam, terlihat Nenek menoleh ke arah Kak Dini. "Dini... lebih baik diam dulu," ucap Nene.
Seketika Kak Dini diam, duduk di sampingku seraya berkata, "Hani kenapa?"
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala. Nenek berkata, "Lebih baik kita ceritakan masalah ini kepada Kak Dini dan Kak Andri ya?"
Aku masih menggelengkan kepala.
"Ada apa ini? Kamu sudah enggak mau cerita lagi dengan aku? Apa aku sudah tidak penting lagi?" tanya Kak Dini dengan tatapan marah.
"Bisa diam tidak?!" bentak Nenek.
Kak Dini merayuku agar mau menceritakan masalah ini. Akhirnya aku menyuruh Nenek menceritakannya. Lantas Nenek menceritakannya semua.
"Kurang ajar pria itu!" ucap Kak Dini dengan nada kerasnya.
Nenek kaget kemudian berseru, "Jangan teriak-teriak!"
"Jangan mau Hani, kita masih bisa mencari barang bukti sendiri," kata Kak Dini sambil memegang tanganku.
Aku duduk langsung berkata dengan isyarat, "Tidak ada jalan lain!" tatapanku sangat serius.
Kak Dini diam, kemudian keluar rumah. Masuk lagi membawa Kak Andri.
"Aku sebenarnya tak ingin menceritakan ini, tapi aku harus bercerita sekarang. Orang-orang yang ku suruh mencari barang bukti semuanya menghilang tak ada kabar. Perjuangan kita selama ini sia-sia jika orang-orang itu tidak ada lagi," kata Kak Andri sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu enggak bilang sama aku?!" bentak Kak Dini.
"Maaf, aku enggak mau lihat Hani putus asa."
Perkataan Kak Andri membuatku semakin yakin, kalau aku harus menikah dengan Jeri. Setelah obrolan panjang dan diskusi yang rumit akhirnya semua setuju kalau aku menikah dengan Jeri.
Aku mengambil ponselku, mengetik pesan untuk Firo yang isinya aku mengajak ia bertemu sore ini di pinggir pantai. Lukisanku yang pernah diminta Firo, aku ambil dan membungkusnya. Setelah selesai membungkusnya, Firo datang. Ia menungguku di depan pantai.
Aku bergegas menghampirinya, sambil membawa lukisan itu. Semua kata-kata yang ingin ku utarakan telah ku tulis di selembar kertas. Menatap wajahnya, aku menulis, "Ini hadiah untukmu, buka surat itu di rumah jangan di sini!" Aku memberikan lukisan itu dan surat yang telah ku tulis.
"Apa ini jawabanmu?" tanya Firi.
Aku mengangguk, Firo langsung pamit pulang tak sabar ingin membuka surat dariku. Setelah Firo pergi, aku masih di depan pantai, memandangi laut yang begitu luas, melihat matahari mulai terbenam.
__ADS_1