BISU

BISU
#27 ~Menjalani Kerasnya Hidup~


__ADS_3

...~Menjalani Kerasnya Hidup~...


Mendengar perkataan Kak Dini, Kak Andri hanya tersenyum. Mereka akhirnya pergi pulang. Aku masuk kedalam rumah, "Besok aku mulai mencari kerja, kebetulan enggak jauh dari sini banyak restauran, aku bisa mendaftar sebagai pelayan," ucapku dengan isyarat kepada Nenek.


"Enggak usah, cari pekerjaan lain saja. Nenek enggak tega lihat cucu nenek yang cantik ini harus jadi pelayan."


"Enggak papa, Nek. Sambil cari pengalaman, sapa tau besok kita punya restauran sendiri," jawabku dengan isyarat. Nenek hanya menggelengkan kepada, setelah bujuk rayuku akhirnya Nenek mengizinkan.


Keesokan harinya, hari yang cerah dengan semangat yang membara, aku mulai berjalan mencari pekerjaan. Aku memesan ojek online, mobil di rumah lama tak terpakai karena tidak ada yang bisa mengendarainya. Tidak terlalu jauh dari rumah sudah terlihat ada restauran, aku masuk dan bertanya dengan Security, aku menulis, "Pak, apakah di tempat ini membuka lowongan pekerjaan?"


Security membaca tulisanku, lalu bertanya, "Anda bisu?"


Aku mengangguk, Security itu kemudian tersenyum, senyumnya terlihat menghina. "Maaf, restauran ini memang membuka lowongan tapi bukan untuk orang seperti Anda. Jadi, silahkan cari tempat lain saja," ucap Security sambil tertawa.


Aku berjalan dengan menunduk, ingin marah pun percuma. Masuk ke restauran lain, hasilnya sama. Semua orang yang ku temui hanya menghina dan menertawakan ku. Mulai putus asa, aku duduk di pinggir pantai yang sangat indah ini, berharap ada yang mau menerima lamaran pekerjaanku.


Hati yang sudah mulai tenang, aku berdiri dan melanjutkan perjalan. Hanya tinggal 1 restauran yang belum ku coba, masuk dan memberikan surat lamaran. Pelayanannya sangat baik dan ramah, tapi restauran itu sedang tidak membuka lowongan pekerjaan.


Semua harapan sudah sirna. Benar kata Nenek, seharusnya aku tidak mencari pekerjaan. Saat sedang berjalan menuju pintu keluar, ada pria mengenakan jas dan berdasi memanggilku, "Nona, tunggu sebentar."


Aku menoleh, Pria itu mendekat. "Apakah Nona mencari pekerjaan?" ucap Pria itu.

__ADS_1


Aku mengangguk, Pria itu berkata, "Kebetulan, saya pemilik restauran ini, sepertinya akan lebih maksimal jika menambah 1 pelayan lagi. Boleh saya lihat surat lamaran Anda?"


Tersenyum lebar, memberikan surat lamaran kepada pemilik restauran. Setelah dibaca, pemilik restauran berkata, "Oke, tak masalah terkait kekurangan Anda, yang penting bisa mengantarkan makanan dengan baik dan membereskan tempat ini. Saya terima lamaran pekerjaan Anda, besok kembali lagi dan mulai bekerja."


Aku mencium tangan pemilik restauran kemudian menulis, "Terimakasih banyak, Pak."


"Iya... sama-sama. besok jam 8 pagi sudah datang."


Aku hormat dengannya, kegirangan, berjalan sambil tertawa gembira. Bergegas pulang tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada nenek. Sesampainya di rumah, kagetnya aku saat masuk melihat nenek yang tergeletak di lantai, berlari menghampiri nenek.


Menepuk pipinya, tapi tak kunjung sadar, ku pegang tangannya ternyata masih ada denyut nadinya. Panik bercampur takut, bingung harus melakukan apa. Jika menghubungi kak Dini waktu untuk ke rumah sangat lama.


Nenek ku baringkan di sofa, kemudian aku keluar berharap ada orang yang lewat dan aku bisa meminta pertolongannya. Melihat kanan dan kiri jalanan begitu sepi, memang sangat jarang aku melihat ada orang yang lewat sini.


Saat melihat nenek yang berbaring di sofa, Kak Dini langsung menghampiri Nenek. "Apa yang terjadi?" tanya Kak Dini.


Aku menggelengkan kepala, Kak Dini mengangkat Nenek masuk kedalam mobil. Kami bergegas ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Dokter langsung memeriksa Nenek. Aku yang hanya bisa menangis duduk di samping Kak Dini, "Jangan khawatir, Nenek pasti baik-baik saja," ucap Kak Dini sambil memelukku.


Tak lama kemudian, Dokter menghampiri kami, "Setelah saya periksa sepertinya pasien mengalami pendarahan di otak karena benturan, untuk lebih pastinya kami akan melakukan scanning, harap bersabar menunggu," ucap Dokter.


Aku memeluk Kak Dini dengan erat, air mata yang tak terbendung, bagaimana jika aku kehilangan Nenek, itu yang selalu terbayang di pikiranku. "Sabar ya, kita tunggu saja," ucap Kak Dini sambil mengelus punggungku.

__ADS_1


Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, Nenek dipindahkan ke ruang pemeriksaan. kami menunggu sudah 1 jam, akhirnya dokter keluar. "Benar seperti dugaan saya, pasien mengalami pendarahan di otak dan harus segera dioperasi.


"Lira-kira berapa biaya operasinya, Dok?" tanya Kak Dini.


"Saya kurang paham kalau soal itu, silahkan ke administrasi untuk menanyakan biayanya."


Dokter itu kemudian pergi, Nenek akan dioperasi setelah biaya dilunasi. Kak Dini dan aku segera ke petugas administrasi untuk menanyakan biaya yang harus dilunasi. Hanya tersisa uang hasil penjualan rumah, mobil, dan tabunganku yang jumlahnya tak banyak.


Jumlah yang harus di lunasi ternyata lumayan besar, tapi tabungan ku dan uang sisa penjualan rumah cukup untuk membayarnya. Aku berkata dengan Kak Dini dengan isyarat, "Antarkan aku ke Bank, aku akan melunasi siang ini juga agar Nenek bisa langsung dioperasi."


Kak Dini mengantarkan ku pergi ke Bank, aku tau Kak Dini sebenarnya ingin membantu tapi, uang yang ia punya pasti tak sebanyak itu. Setelah kami mengambil semua uang sisa hasil penjualan umah dan tabunganku, kami bergegas ke rumah sakit dan melunasi biaya operasi.


Nenek yang sedang berbaring di ruang perawatan, kemudian di pindahkan ke ruang operasi. Sebelum operasi di mulai, aku disuruh menandatangi semua surat perjanjian seandainya ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, kasarnya ngomong seandainya operasi gagal dan Nenek meninggal.


"Kami tidak bisa menjamin keberhasilan operasi karena umur pasien yang sudah lanjut, doakan saja operasi ini berhasil," ucap Dokter dan pergi ke ruangan operasi.


Kata-kata Dokter itu menurutku sangat menyakitkan. Nenek harus sehat lagi, hanya Nenek yang ku punya, aku tidak tau harus bagaimana menjalani hidup tanpa Nenek. "Hani, percaya Nenek akan baik-baik saja," ucap Kak Dini.


Operasi dimulai, aku dan Kak Dini hanya bisa menunggu di luar. Berjalan mondar-mandir, panik, dan tak sabar menunggu. "Hani, sini duduk saja di sebelah kakak," ucap Kak Dini. Terlihat air matanya keluar dari matanya.


Kak Dini juga terlihat sangat khawatir, hanya saja lebih bisa bersikap tenang. Aku duduk di sebelah Kak Dini, memegang tangannya agar aku lebih tenang. Empat jam lamanya kami menunggu akhirnya dokter keluar, terlihat wajah Dokter itu sangat lemas, berkata dengan kami, "Maaf...."

__ADS_1


...****************...


Tunggu episode berikutnya ya.... Terimakasih telah membaca karya saya, jangan lupa like, komen, follow, dan dukung terus setiap episodenya. 🙏


__ADS_2