
...~Kelakuan Bejat Bos~...
Waktu tak terasa cepat berlalu, semakin hari aku semakin dekat dengan Firo. Pria baik dan tulus yang pernah aku temui. Mungkin aku merasa sedikit bersalah, karena diawal menganggap dirinya adalah pria tidak baik bahkan sempat risih melihatnya.
Sejak saat itu Firo selalu menemaniku, mengantarku, dan merayu agar aku mau di operasi. Aku sudah lelah dengan harapan tentang suaraku, lelah harus minum obat lagi, aku lebih memilih untuk tetap seperti ini dan mensyukuri kondisi yang ada.
Mungkin adalah cara tuhan untuk menjagaku, dan sayang dengan aku. Aku memperhatikan banyak orang yang menggunakan mulutnya untuk berkata kotor, kasar, bahkan mulut digunakan untuk merendahkan orang lain, meski tidak semua seperti itu.
Nenek yang sudah siuman mulai bisa berinteraksi, sudah mulai membaik dan boleh pulang. Semua biaya perawatan nenek ditanggung oleh Kak Dini. Aku sangat bahagia meskipun nenek belum bisa berbicara banyak, tapi sudah mengingat semuanya.
Kak Dini hari ini pun kembali ke rumahnya, karena aku sudah lancar membawa mobil. Sudah bisa mengantarkan nenek ke rumah sakit untuk periksa. Harta yang ku punya sekarang hanya mobil. "Hari ini kerja enggak?" chat dari Elma.
Aku balas, "Enggak, aku udah izin dengan Bos, mau menemani nenek di rumah."
"Oke."
Nenek masih terbaring di kasurnya, sedangkan aku beres-beres rumah. Selesai beres-beres rumah aku mempersiapkan makan. Di waktu inilah aku mulai pintar memasak. Hari ini menunya tempe goreng dan sayur bayam, semoga saja nenek suka dengan masakan ku.
Malam yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan masa lalu, berkumpul dengan ayah, bisa berlibur bersama, seandainya waktu bisa diulang, bukan harta yang aku inginkan. Aku hanya ingin keluargaku lengkap kembali. Memang tidak mungkin seseorang bisa hidup tanpa uang, tapi uang bisa di cari kapan saja.
Sedangkan keluarga ketika sudah tidak ada, selamanya akan menghilang. Hanya tersisa kenangan dan bayangan. Ayah, aku berharap semoga masih hidup, bisa kembali dengan kami. "Hani..." lirih suara Nenek memanggilku.
Aku langsung menuju kamar, "Tolong ambilkan nenek minum," ucap Nenek.
Aku segera mengambilkan air minum dan menyuapi nenek. "Nek sekalian makan ya?" ucapku dengan isyarat.
__ADS_1
Nenek mengangguk, di tanganku sudah ada sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk. Satu suap masuk ke mulut Nenek. Saat sedang menguyah terlihat air mata Nenek menetes kemudian Nenek berkata, "Maafkan nenek Hani, saat sedang seperti ini nenek malah merepotkan."
Aku menggelengkan kepala, menaruh pring dan menghapus air matanya dengan tanganku. "Jangan ngomong seperti itu, aku ini cucu Nenek sudah sewajarnya aku mengurus dan merawat Nenek. Hanya tinggal Nenek yang aku punya. Nenek sehat aku sudah sangat bersyukur," ucapku dengan isyarat.
Mengambil makan Nenek dan menyuapinya lagi, alhamdulillah Nenek hari ini makannya banyak. Selesai makan Nenek segera meminum obat, efek obat membuat Nenek tertidur pulas. Rencana ku besok aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku, aku ingin usaha di rumah sehingga aku bisa sambil merawat Nenek.
Sekarang pengunjung wisata mulai ramai di dekat rumah, memiliki rencana ingin membuka warung mie. Selain mie aku juga menyediakan kopi. Surat pengunduran diri sudah selesai ku buat, besok tinggal memberikannya kepada Bos. Tak lupa aku juga menulis semua yang ingin ku bicarakan kepada bos besok.
Oke, semuanya sudah selesai, sekarang waktunya tidur. Lama memejamkan mata, tapi aku tak kunjung tidur. Terbesit di kepalaku keinginan untuk melukis, sudah lama aku tidak melukis karena harus bekerja dan mengurus nenek. Aku melihat jam, ternyata masih jam 9 malam.
Melukis perlu menyiapkan banyak peralatan, aku takut berisik dan mengganggu nenek, Akhirnya aku memutuskan menggambar di buku gambar. Malam itu aku melukis nenek yang masih berbaring, cukup dengan membayangkannya tanganku sudah bisa bergerak melukis dengan detail.
Aku bisa menjadi pelukis hebat bukan hanya karena bakat yang diwariskan ibu, tapi juga karena latihan dan kerja kerasku sendiri. Seberapa hebat dan berbakatnya aku, jika tidak pernah latihan, tidak akan pernah menjadi pelukis yang hebat.
Jalan ini masih panjang, masih banyak yang harus aku kerjakan agar menjadi pelukis lebih hebat lagi. Semua orang yang aku kenal dalam pameran lukisan di Jepang sudah lama tidak menghubungiku, bahakan aku hubungi semua tidak merespon, sepertinya mereka memang sudah tidak ingin bertemu bersangkutan denganku.
Keesokan harinya, pagi sekali aku sudah membereskan rumah dan memasak. Sebelum aku berangkat kerja aku menghubungi Kak Dini agar bisa ke rumah. Sehari saja menunggu Nenek, setelah itu hari-hari berikutnya aku yang akan menunggunya.
Aku menulis, "Aku berangkat kerja dulu ya, Nek."
Nenek menjawab, "Iya... hati-hati di jalan." Suara Nenek masih sangat lemas.
Saat aku keluar rumah sudah ada mobil Kak Dini yang barusan saja sampai. "Cie yang mau kerja haha..." ucap Kak Dini. Tawanya sangat meledek.
Aku menulis, "Hari ini terakhir aku bekerja, aku akan keluar dari pekerjaanku dan merawat Nenek."
__ADS_1
Kak Dini menjawab, "Harusnya dari awal seperti itu, kamu enggak pantas kerja di tempat itu. Aku perhatikan bos kami itu sepertinya tidak beres."
Hanya mengangguk kemudian berjalan menuju mobil, tiba-tiba terlihat mobil Firo menuju kesini. Berhenti tepat di depanku, kaca pintu mobilnya terbuka Firo berkata, "Boleh aku antar nyonya?" Firo tersenyum kepadaku.
"Cie... cie," ucap Kak Dini sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku mlototinya, Kak Dini lari sambil menjulurkan lidahnya. Sungguh orang yang sangat menjengkelkan, meski menjengkelkan tapi aku sangat sayang dengannya. Aku menulis untuk menjawab Firo, "Enggak usah, nanti ngerepotin."
"Kecewa jauh-jauh kesini pingin mengantar, tapi di tolak," jawab Firo.
Aku menghargai niat baiknya yang ingin bertemu denganku, jalan menuju pintu mobil dan masuk ke dalam mobil Firo. "Nah gitu dong haha."
Aku menulis, "Jangan senang dulu! aku hanya menghargaimu. Cepat berangkat, sudah mau telat."
"Oke Bos."
Tak butuh waktu lama kami sampai di restauran tempatku bekerja, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku keluar dari mobil, Firo mengikuti aku. "Sudah jangan mengikuti aku, aku mau kerja," tulis ku.
"Yasudah hati-hati." Wajahnya terlihat kesal. Sebenarnya aku bertingkah seperti itu kepada dia hanya untuk membatasi hubungan kami, aku menganggap Firo hanya sebatas teman biasa. Masuk dan seperti biasanya aku bekerja melayani pengunjung-pengunjung.
Hari ini adalah hari terakhirku bekerja, jadi harus semangat. Sebelum aku memberikan surat pengunduran diri kepada Bos, Elma sudah lebih dahulu aku beritahu tentang pengunduran diriku. Elma memintaku agar tidak mengundurkan diri, karena menurutnya hanya aku yang bisa menjadi sahabatnya di restauran.
Aku tetap memutuskan untuk mengundurkan diri. Elma menerimanya, toh rumah Elma juga tidak jauh dari rumahku, masih bisa sering bertemu. Jam pulang datang, aku menghampiri Bos di dalam ruangannya. Pertama ku berikan surat yang berisikan permintaan maaf dan terimakasiH.
Bos sudah sangat baik denganku, sering membela, meski kadang sering dekat-dekat. Bos membaca surat itu, setelah selesai membaca surat yang ku berikan, aku memberikan surat pengunduran diri, "Hani, saya sangat membutuhkan kamu. Tolong jangan berhenti," ucap Bos.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, aku menulis lagi, "Maaf Bos, mau tidak mau aku harus mengundurkan diri, aku harus merawat nenek di rumah yang sedang sakit."
Bos mulai mendekat ke arahku, seperti ingin merayu. Saat di sampingku, Bos mengeluarkan sapu tangannya dari kantung celana, langsung mendekap, menaruh sapu tangan di hidungku. Waktu itu aku langsung tidak sadarkan diri, yang aku ingat sudah ditali di ruangan yang sama.