BISU

BISU
#25 ~Aku Sang Pemilik Yang Terusir~


__ADS_3

...~Aku Sang Pemilik Yang Terusir~...


Setelah resmi memiliki sepenuhnya perusahaan Pak Roy, datang menemui ku. Iya berkata, "Semua sudah selesai, kamu tidak berhak datang ke kantor lagi!"


Nenek menjawab dengan santai, "Manusia serakah, pasti akan ada balasan yang kamu terima dari semua yang kamu lakukan."


Aku yang masih sangat membencinya karena tau dia adalah dalang dibalik kecelakaan ayah, ingin sekali membanting orang ini sampai tersungkur. Aku berjalan mendekat dengan tangan yang sudah mengepal, mataku melotot, terlihat Pak Roy yang mulai menjaga jarak. Langkahku dihentikan oleh Nenek, "Hani, sudah biarkan saja dia. Lebih baik kita diam dan bersabar, agar hati kita tenang, tidak terbebani."


"Iya benar! dengarkan perkataan nenekmu haha," ucap Pak Tio, tawanya sangat membuatku muak.


"Lebih baik Anda pergi!" ucap Nenek.


Pak Tio kemudian pergi sambil tertawa-tawa. Setelah Pak Tio pergi, Nenek mengumpulkan semua pelayan dan orang-orang yang bekerja di rumah ini. Nenek berkata dengan mereka tentang masalah yang sedang dihadapi, pada intinya mereka diberhentikan bekerja.


Semua pelayan memaklumi dan menerima keputusan nenek dengan baik. "Pesangon untuk kalian, akan saya berikan setelah rumah ini terjual," ucap Nenek.


"Nek, saya mewakili teman-teman meminta maaf juga jika ada kesalahan, kami akan selalu doakan yang terbaik untuk Non Hani dan Nenek." Banyak pelayan yang menangis karena perpisahan itu.


"Terimakasih, atas kerja keras kalian. Pesangon saya akan transfer ke rekening kalian masing-masing, tapi tolong bersabar," ucap Nenek, berlinang air mata.

__ADS_1


Semua orang yang bekerja kemudian pergi membereskan semua barang-barangnya, kebanyakan dari mereka pulang ke rumahnya masing-masing yang ada di kampung. Satu-persatu dari mereka berpamitan, memeluk dan memberikan semangat kepada kami.


Semuanya sudah pergi, hanya tinggal aku dan nenek yang ada di rumah sebesar ini. Aku melihat saldo tabunganku, ternyata jumlahnya sidah banyak berkurang, karena untuk menggaji orang-orang yang mencari ayah.


Tak lama kemudian Kak Dini datang, "Loh, pada kemana orang-orang di rumah?" tanya Kak Dini.


"Sudah nenek berhentikan semua, kami sudah tidak bisa menggaji mereka. Din, maaf kamu juga sudah tidak bisa bekerja dengan kami, kamu lebih paham kondisinya," ucap Nenek.


"Nek, aku ini sudah menganggap Nenek dan Hani sebagai keluargaku. Keluarga ini sudah banyak membantuku, sekarang gantian aku dan Andri yang akan membantu Nenek dan Hani, jadi jangan berfikir aku bekerja dan minta gaji lagi," ucap Kak Dini.


Kak Dini mendekatiku, mencubit pipiku, dan berkata, "Jangan cemberut terus, jangan khawatir semuanya akan teratasi. Untuk orang-orang suruhan yang mencari keberadaan ayah sudah dikurangi jumlahnya dan gaji di tanggung Andri, sekarang kamu fokus hidup bahagia dengan Nenek."


Aku memeluk Kak Dini, "Terimakasih banyak Kak," ucapku dengan isyarat.


"Bisa Nek, lebih baik jual lewat sosmed aja Nek. Nanti aku bantu promosikan," ucap Kak Dini.


"Sip lah, yasudah nenek mau buat sarapan dulu."


Aku berjalan menggandeng Nenek, dan meminta agar bisa membantunya masak. Aku yang dari kecil belum pernah ke dapur untuk masak, memegang pisau pun tak bisa. Sekarang aku ingin belajar, karena aku adalah wanita, suatu saat akan menjadi ibu rumah tangga, meski aku tidak tau siapa pria yang mau dengan orang sepertiku.

__ADS_1


Singkat cerita setelah hari itu, rumah kami sudah dibeli oleh seseorang. Kami diberi waktu 1 minggu untuk membereskan semua barang-barang dan pindah dari rumah ini. Aku menghubungi pekerja yang ada di Jepang, semua aman karena rumah itu berstatus kepemilikan milik perusahaan termasuk yang bekerja yang menggaji perusahaan.


Kami sibuk membereskan semua barang, Nenek mulai mentransfer pesangon pelayan yang telah berada di kampung. Semua sudah beres, aku, Nenek, dan Kak Dini berangkat ke tempat yang sudah di siapkan oleh Nenek. Mobil-mobil peninggalan ayah juga sudah dijual, hanya tinggal 1 yang sengaja tidak dijual untuk kendaraan kami di sana.


Kami pergi menggunakan mobil itu, seperti biasa Kak Dini yang menyetirnya. Untuk sampai ke lokasi tujuan membutuhkan waktu yang sedikit lam, sekitar 5 jam. Saat diperjalanan aku terus memandangi jalan, teringat ayah, aku meminta Kak Dini mampir ke toko bunga dan menuju lokasi ayah kecelakaan.


Bunga sudah ku beli, kami bergegas pergi ke lokasi kecelakaan. Sesampainya di sana, aku tak bisa membendung air mata, menaruh bunga untuk penghormatan ayahku, nenek memelukku dari belakang berkata, "Kita bisa menjalani ini semua, doakan ayah baik-baik saja dan bisa hidup bersama kita lagi." Air mata Nenek terlihat ikut menetes.


Perasaaan ibu yang hancur melihat anaknya harus menerima takdir menyedihkan ini. Setelah menaruh bunga, kami melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil, Kak Dini tak berhenti-hentinya berbicara, entah meledek, bernyanyi, melawak, aku tau Kak Dini sedang menghibur kami.


Sedikit demi sedikit suasana hatiku mulai lebih baik, karena tingkah Kak Dini yang lucu. Nenek pun, ikut tertawa terbahak-bahak, sedih kami sudah terobati. Aku tidak tau apa yang akan terjadi denganku jika tak ada Kak Dini, saat kondisi seperti ini.


Tak terasa air laut sudah terlihat, kami sudah hampir sampai ke tempat tinggal baru kami. Warna laut yang indah, udara yang sejuk, tambah membuatku bahagia. Di dalam pikiranku aku bisa bebas melukis disini. Tanpa ada yang mengganggu dan tempat yang sangat cocok untuk melukis.


Di tempat ini aku percaya bisa menghasilkan karya-karya yang luar biasa, saat karyaku sudah banyak aku akan mengikuti pameran lagi. Orang yang dulu membantu memamerkan lukisanku di Jepang, sudah tidak bisa dihubungi. Entah aku heran cobaan ini datang dengan kompaknya.


Karena aku yang tak bisa datang ke Jepang lagi, aku akan membangun karir melukis ku kembali dari nol, tempat ini akan menjadi saksi perjalanan pelukis bisu. Sesampainya di rumah kami yang baru, aku melihat semua pemandangan yang indah, pasir pantai yang bersih, ombak pantai yang tak terlalu tinggi ada di belakang rumah.


Rumah yang tak terlalu besar tapi terlihat sangat minimalis, lantai 2, dan di lantai 2 itu memiliki dinding kaca yang mengarah ke laut. Rumah yang benar-benar cocok untuk melukis. "Gimana Hani, senang tidak bisa tinggal disini?" tanya Nenek.

__ADS_1


Aku mengacungkan jempol, tersenyum dengan Nenek, langsung berlari ke pantai. Kak Dini mengikuti ku, Nenek tersenyum, duduk di kursi bawah pohon, menonton kami bermain di laut.


Aku melambai ke Nenek, meminta Nenek ikut bermain bersama di pantai ini. Tapi Nenek menolak, wajar saja menolak, pinggang Nenek akan terasa sakit saat terlalu lama berdiri. Meski seperti terusir dari rumah yang lama, tapi aku tak menyesal karena bisa tinggal di tempat yang indah ini.


__ADS_2