
...~Kedekatanku Dengan Firo~...
Kak Andri datang bersama orang yang bertanggung jawab atas pembangunan restauran. Ia membawakan banyak sekali makanan, katanya sih untuk istri dan anak yang masih diperut ibunya.
Mereka mesra sekali, Kak Andri memegang perut Kak Dini kemudian berkata, "Anak papa enggak nakal kan?"
Aku sangat iri dengan mereka berdua, jadi teringat kenangan bersama ayah. Orang yang datang bersama Kak Andri mulai survei lokasi dan menggambar rancangan bangunannya.
Kak Andri memanggilku, ia berkata ada yang ingin ia bicarakan perihal orang yang merusak mobil ayah sebelum kejadian ayah kecelakaan.
Kami masuk ke dalam rumah, sedangkan Kak Dini menemani Nenek. "Hani, kakak sudah menyelidiki siapa orang yang mencelakakan ayahmu. Orang itu adalah seorang pengemis yang disuruh Pak Roy. Pak Roy memberikan banyak uang dan tempat tinggal sebagai imbalan atas keberhasilannya mencelakakan ayahmu."
Darahku seperti naik ke atas otak semua, jantungku berdebar kencang, emosi yang benar-benar memuncak. Kak Andri melanjutkan perkataannya, "Kakak sudah tau lokasi orang ini, hanya saja kita belum bisa ke sana, karena kita belum memiliki bukti kuat untuk mengungkapkan kasus ini. Tetap tenang dan bersabar."
Aku hanya terdiam, menahan emosi yang sudah memuncak. Ingin sekali aku membalas orang ini. Hanya karena uang orang buta akan kebaikan dan tega mencelakakan orang lain.
Setelah tenang aku mengangguk, aku serahkan semuanya dengan Kak Andri. "Hani... ada temanmu datang," teriak Kak Dini dari luar.
"Yasudah kita keluar, ingat jangan melakukan apapun sampai waktunya tepat," ucap Kak Andri.
Kami keluar, kukira Elma eh ternyata Firo yang datang. Firo terlihat sok akrab dengan Nenek. Melihatku sudah datang, ia mendekat dan mengatakan, "Bos mu sudah ku bereskan, ia mengakui semua kesalahannya. Hanya tinggal melaporkannya ke polisi agar dia mendapat hukuman yang setimpal."
Aku menjawab dengan bahasa isyarat, "Tak perlu melaporkannya ke polisi, bawa saja kesini."
Kak Dini menerjemahkan bahasa isyarat dari ku, setelah mendengar perkataan Kak Dini, Firo langsung pergi ke tempat orang brengsek itu. Lihat saja akan ku beri dia pelajaran sampai tak berani melakukan hal senonoh terhadap wanita.
Kak Dini sibuk dengan suaminya, Aku menyiapkan alat lukis dan melukis di samping Nenek. Sudah lama aku tidak melukis seperti ini, hari yang sangat cerah, pemandangan yang indah cocok sekali jika melukis keindahan alam.
Gemericik ombak membuat hatiku sangat bewarna, goresan tiap goresan kuas mulai terlihat di kanvas. Lukisan ku akan ku pajang, di dinding restauran jika sudah selesai terbangun.
Aku berharap restauran yang akan kami buka akan ramai pengunjung karena konsep keindahan ini. Sudah banyak lukisan yang ada di ruangan melukis ku, ada lukisan tentang keindahan alam, bahkan ada juga yang bertemakan hantu.
__ADS_1
Lukisan yang paling aku sukai dari semua lukisan yang pernah ku buat adalah, lukisan kupu-kupu yang sedang hinggap di tangan seorang pria. Lukisan itu aku buat saat bersama dengan Erik.
Pria yang ada di lukisan itu adalah Erik. Sedang fokus melukis sambil mengobrol dengan Nenek, datang Firo dengan orang yang dulu ku anggap bos.
Aku langsung berhenti melukis, mendatangi orang brengsek ini, "Maaf Hani, aku menyesal," ucap pria brengsek itu.
Aku langsung memukulinya tanpa ampun, saat sudah puas pria itu ku suruh lari ke laut dan mengatakan "Aku tobat."
Benar saja, pria itu berlari ke laut sambil teriak-teriak, "Aku tobat."
Aku tertawa, merasa tingkahnya sangat lucu dan kekanak-kanakan, padahal aku yang menyuruhnya. Firo, Nenek, dan semua orang yang melihatnya ikut tertawa.
Terlihat dari wajah mantan bos ku itu sangat ketakutan, masih untung aku tidak melaporkannya ke polisi, kalau aku laporkan mungkin saja restauran miliknya akan di tutup dan dia akan dipenjara.
Aku hanya kasian dengan anak dan istrinya, jika mengetahui kelakuan suaminya pasti sangat bersedih. Anak-anaknya yang masih kecil pasti butuh biaya yang banyak untuk sekolah dan lainnya.
Sudah puas, pria itu ku suruh pulang dan mencium kaki istrinya. Meski aku tidak memantaunya tapi terserahlah dilakukan atau tidak urusan dia.
Aku jawab dengan isyarat, "Dia menghinaku bisu."
Nenek tersenyum, "Sabar ya sayang," ucap Nenek sambil memegang bahuku.
Aku mengangguk, Firo mendekat ikut duduk di sampingku. "Indah sekali lukisan mu," ucap Firo.
Aku hanya membalas perkataannya dengan senyuman, melihatku tersenyum Firo mengatakan, "Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini."
Aku langsung menampol mulutnya, "Aduh." Firo kesakitan, aku tertawa.
"Cucu nenek kasar sekali ya, enggak boleh seperti itu sayang," kata Nenek.
Aku tersenyum dan mengangguk dengan Nenek, "Hani, tolong tuntun nenek masuk ke kamar. Nenek sudah lelah ingin istirahat," ucap nenek.
__ADS_1
Aku langsung memapah Nenek pergi ke kamar, aku lihat Firo masih memegangi mulutnya, sepertinya benar-benar sakit. Nanti aku akan meminta maaf dengannya.
Setelah mengantarkan Nenek, aku kembali ke tempat tadi. Aku membawakan Firo minum, "Makasih," ucap Firo dengan sinis.
Aku membawa buku dan menulis, "Maaf aku hanya bercanda."
"Bercanda-beranda, lihat nih mulutku bengkak," ucap Firo.
Aku menulis lagi, "Sudah seperti perempuan saja suka marah-marah."
Firo langsung tersenyum dan berkata dengan manisnya, "Aku enggak marah, kok...."
Berasa pingin menampol mulutnya lagi saat melihat tingkah sok manisnya itu. "Jangan ganggu aku saat sedang melukis, cukup nonton saja jangan berkomentar," tulis ku.
"Oke," jawab Firo.
Aku melanjutkan melukis, awalnya Firo diam, lama kelamaan mulutnya mulai bergerak, berkata, "Harusnya seperti ini." Tangannya menunjuk lukisanku.
Aku malah di ajari dengan dokter bedah satu ini, bukannya aku tidak menerima masukan darinya, tapi masukannya itu bisa merusak nilai keindahan dari lukisan.
Aku menulis lagi dalam buku, Sudaha ku katakan diam! kalau berani bicara lagi ku siram kau dengan cat."
Firo seketika langsung diam, tapi menggerutu, "Galak amat jadi perempuan." lirih ucapnya.
Tak terasa aku melukis sudah menghabiskan waktu 3 jam, Firo hanya diam menonton. Mungkin karena bosan melihatku melukis, Firo pergi ke bibir pantai, melihat pemandangan laut yang begitu indah.
Diam-diam aku menambahkan sosoknya yang sedang berdiri di dalam lukisan. Terlihat sangat indah dan estetik. Saat Firo bergerak akan kembali, aku menyuruhnya tetap diam dengan isyarat.
Pegal-pegal lah di sana, untung saja ia nurut semua perkataan ku. Sudah cukup lama Firo berdiri, dari kejauhan ia teriak "Sudah belum?"
Aku kan tidak bisa mengeluarkan suara, jadi tetap diam, Padahal lukisannya sudah selesai. Sekarang aku yang mengerjainya, paling pulang dari sini pijat, karena kakinya pasti pegal-pegal.
__ADS_1