BISU

BISU
#42 ~Titik Terang~


__ADS_3

...~Titik Terang~...


Mendengar perkataannya itu, aku hanya diam. Memang benar aku akan merebut semua milik ayah tanpa tersisa sedikitpun.


"Bawakan aku semua peralatan melukis, " ucap Ibu kepada pelayannya.


"Baik, Nyonya." Pelayan masuk ke dalam rumah.


"Ada teknik melukis yang ingin ku turunkan kepadamu, lihat baik-baik teknik ini tidak akan bisa dikuasai orang lain," ucap Ibu kepadaku.


Aku penasaran dengan teknik yang dimaksud tersebut, tapi untuk apa Ibu mengajari teknik itu kepadaku. Sebenarnya apa yang diinginkannya dariku. Pelayan datang dengan membawa semua peralatan melukis, semua disiapkan pelayan itu.


Saat semua sudah siap, Ibu langsung mengambil kuasnya dan mulai menggoreskan cat ke kanvas. Tangannya sungguh lemas dan setiap goresannya terasa nyata. Ia menjelaskan tiap detail goresan, tidak pernah terbayang di kepalaku sebegitu hebatnya Ibu dalam melukis.


Setelah selesai, Aku diminta untuk mempraktikkan teknik yang baru Ibu tunjukkan. Aku merasa sangat percaya diri, baru mencelupkan kuas ke dalam cat, Ibu berkata,


"Cara memegang kuas mu salah, kalau memegang kuas dengan cara seperti itu pergerakan tanganmu akan kaku."


Tangannya menuntun tanganku, dari memegang sampai menggoreskan kuas ke kanvas. Ternyata benar, selama ini aku tidak menyadari kalau masih banyak kesalahanku dalam melukis.


"Memang tidak salah kau adalah anakku, semua cepat Hani kuasa dengan mudah. Hanya itu yang ibu punya dalam melukis, Ibu percaya kamu akan menjadi pelukis ternama. Ibu dengar namamu juga sudah dikenal di luar negeri. Ibu mau berkata bukan ibu yang menutup jalanmu di dunia melukis. Setelah kepergian ayahmu, " ucap Ibu, air matanya menetes.


"Maaf ibu, Hani. Ibu sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu, mungkin ibu tidak bisa menceritakan semua alasan tentang penghianatan ibu kepada ayahmu. Nanti pasti kamu akan tau kebenarannya, dan di awal ibu datang ke rumah, bersikap tidak sopan terhadap nenek sebenarnya... ibu hanya ingin tinggal denganmu dan menebus semua kesalahan ibu, tapi ibu tau cara itu salah."


Aku sangat bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Selama ini yang aku tau, Ibu pergi karena malu memiliki anak bisu dan takut kehilangan karirnya, Ibu mengkhianati ayah, dan ibu juga yang salah satu orang yg mencelakakan ayah. Sekarang Ia bilang tidak terlibat dalam kecelakaan ayah, bahasanya seperti ada seseorang yang menekan dirinya.

__ADS_1


Apa semua perkataan dari mulut ibu, adalah alibi agar aku mau tinggal bersamanya atau Ibu benar-benar mengatakan hal sebenarnya. Kepalaku seperti mau pecah memikirkan semua ini.


"Apa alasan kamu mengkhianati ayah dan lebih memilih pak Roy? Apakah karena harta yang ayah miliki? atau memang kamu tidak mencintai ayah?" tanyaku dengan tulisan.


"Sekali lagi ibu minta maaf, ibu tidak bisa mengatakannya, " jawab ibu.


"Dimana orang yang memegang surat wasiat ayah?" tanyaku.


Ibu membaca tulisanku kemudian menjawab, "Tak perlu mencari orang itu, nanti jika sudah waktunya orang itu sendiri yang akan mengantarkan surat wasiat kepadamu."


Setelah mengatakan itu, Ibu berjalan ke arah mobil, di depan mobil ibu berkata, "Nanti malam, kita panggang semua sosis dan daging yang ibu beli, nanti... jangan tanyakan apapun tentang masalah keluarga atau perusahaan. ibu ingin menghabiskan malam di dekatmu."


Setelah itu ibu pergi lagi. Sebenarnya aku ingin menggeledah semua isi kamarnya, tapi aku selalu dipantau oleh pelayan. Bosan dan bingung melakukan apa, aku memutuskan untuk melukis lagi. Jujur saja aku masih sangat penasaran dengan teknik yang baru diajarkan oleh Ibu.


Meski aku masih membencinya, tapi teknik ini benar-benar membantu untuk memperbaiki cara melukis yang selama ini aku pakai. Aku melukis wajah Ibu. Dengan lukisan ini, aku gambarkan semua kekecewaan yang kurasakan selama ini.


Aku menulis, "Nanti setelah aku pergi, serahkan lukisan ini untuk Ibu."


Pelayan membaca dan mengiyakan. Aku masuk ke dalam rumah. Suara mobil terdengar, Ibu pulang. Ibu masuk dan berkata, "Hani... sebentar lagi kita keluar ya."


Aku mengangguk. Ibu pergi mandi, aku juga pergi mandi. Setelah selesai mandi, kami keluar dengan membawa banyak sekali bahan makanan yang akan dipanggang. Ibu memanggang ayam dengan tangannya sendri, setelah matang diberikannya ayam panggang itu kepadaku.


"Selama ini, kamu belum pernah makan masakan ibu. Makanlah," ucap Ibu sambil memberikan sepotong ayam.


Aku mengambil sepotong ayam panggang darinya, kemudian ku makan. Ibu berkata lagi, "Jika ada orang yang berkata kalau kamu tidak pernah makan masakan ibu, bilang aku pernah makan masakan ibu kandungku."

__ADS_1


Mendengar perkataannya hatiku terenyuh, ada rasa yang tak bisa ku ucapkan, sesungguhnya apa yang telah terjadi denganku, apakah ini suasana yang aku cari sejak lama?


Air mataku seketika menetes, berkata dalam hati, aku ingin memeluknya. Ibu tersenyum. Aku menoleh membuang muka.


Seandainya ibu tidak bersama orang-orang jahat yang mencelakakan ayah. Mungkin aku bisa maafkan kesalahannya karena telah meninggalkanku. Terlihat ibu sangat menikmati malam ini, ia terus memanggang makanan untukku.


Aku yang sudah cukup makan sepotong ayam, terus ditawari makan. Aku menulis, "Sudah cukup. Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?"


"Ibu hanya ingin bertemu denganmu, hari ini ibu bisa bertemu denganmu. Apakah kamu ingat, saat kamu masih kecil pergi ke suatu tempat bersama Dini, ada wanita yang menarik tanganmu? itu ibu, sudah sangat lama ibu ingin tinggal bersamamu," ucap ibu tangisnya pecah.


Sambil menangis ibu berkata lagi, "Maafkan ibu... maafkan ibu, Nak. Ibu berbuat kasar waktu itu, ibu sudah bingung harus bagaimana lagi, agar bisa bersamamu."


Ibu langsung memelukku, "Kamu mau memaafkan ibu?" tanya Ibu.


Aku menggelengkan kepala, ibu berkata, "Enggak papa seandainya kamu belum bisa memaafkan ibu, ibu berharap suatu saat kamu bisa memaafkan ibumu yang jahat ini."


Aku melepaskan pelukan Ibu kemudian pergi masuk ke dalam rumah. Aku tidak mau tidur bersamanya, berbaring di sofa sambil memejamkan mata.


Tak lama Ibu masuk, berkata, " Hani, tidurlah bersama ibu."


Mataku tetap terpejam, terasa kain menyelimuti tubuhku. "Selamat malam anakku," ucap Ibu.


Setelah itu terdengar suara langkah kaki Ibu menjauh, aku membuka mata. Ibu sudah tidak ada di hadapanku. Sekarang hatiku benar-benar seperti teriris, air mata terus menetes.


Tiba-tiba aku terbangun, ternyata semalam aku ketiduran. Membuka mata, melihat di sebelahku ada wajah Ibu. Ibu tertidur duduk di sebelahku. Sungguh sebenarnya aku atau dia yang jahat, saat melihatnya seperti ini aku merasa diriku benar-benar kejam.

__ADS_1


Ibu terbangun, "Maaf, ibu semalam tidak bisa tidur, jadi ibu duduk di sini. Jika kamu ingin pulang pagi ini, segera mandi dan sarapan sopir ibu yang akan mengantarkan, " ucap Ibu.


__ADS_2